(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "ebook tauhid dan jihad_1"

IUEKA. YANG TERASING 



Kumpulan Fiqih dan Analisa Jihad 



ĕ 










idhohulloh 







Foraffi mm AI-Busyro 
Forum Islam Al-Busyro 

Jumadil Ula 1432 H - Aprll 201 1 M 



Muqaddimah 

Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah, hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan dan 
memohon ampunan dan hanya kepada-Nya kita berlindung dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan- 
amalan kita. Barangsiapa yang Allah berikan hidayah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan 
barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang bisa memberikannya hidayah. Aku bersaksi tiada Ilah 
yang berhak disembah kecuali Allah, tiada sekutu baginya dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah 
hamba dan Rasul-Nya. 

Allah bertirman; 

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, 
niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan 
Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang 
besar. " (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71). 

Dan firman-Nya; 

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang 
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain 
itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti 
hawa najsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di 
antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu 
dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, 
maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu 
diberitahukan-Nya kepadamu apayang telah kamu perselisihkan itu, " (QS. Al-Maidah [5] : 48) 

Dalam muqaddimah ini sangat penting bagi saya untuk menjawab tiga pertanyaan berkaitan erat 
dengan kitab ini: Siapa yang menulisnya? Mengapa kitab ini ditulis? Dan untuk siapa kitab ini ditulis? 

Adapun yang menyusun kitab ini adalah seorang lelaki yang menganggap dirinya berkewajiban 
untuk ambil bagian dalam peperangan ini. Ia mengharap untuk bisa menghabiskan sisa umurnya dalam 
rangka membantu urusan Islam menjalani peperangan melawan para thaghut - thagut baru. 

Kitab ini ditulis sementara ia dalam kondisi sebagai orang yang sedang ditindas para thaghut 
tersebut. Akan tetapi meskipun demikian — dengan karunia dari Allah— ia masih bisa merasakan nikmat. 
Nikmat itu adalah nikmat kemuliaan untuk menghadapi musuh-musuh yang sangat rakus dan serakah, yang 
tidak rela seorang pun melainkan harus menjadi orang yang hina, taat dan tunduk kepada mereka. 

Kitab ini ditulis sebagai usaha menghidupkan kesadaran umat Islam mengenai peranan, kewajiban 
dan beban yang ada pada diri mereka. Sebagai penerang disaat thagut-thagut berusaha menghilangkan 
pembatas antara wali-wali Allah dan musuh-musuh-Nya, dan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara 
hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang diwajibkan. Dimana thagut-thagut tersebut juga mengkaburkan 
rambu-rambu islam yang telah ditentukan dan diincar, serta menyamakan antara keteguhan, kesabaran dan 
kekokohan dengan menyerah, tawar menawar dan kemunduran. 

Saya susun kitab ini dengan selalu memohon pertolongan kepada Allah — karena Dialah sebaik-baik 
Penolong— . Dan sebagian besar dari tulisan ini adalah petikan khotbah-khotbah para mujahid yang 
bertebaran, sehingga saya berusaha merangkumnya menjadi sebuah kitab yang teratur, dengan maksud, agar 
para pembaca mengetahui, bahwa manhaj yang diusung oleh orang-orang yang dilabeli oleh kuffar sebagai 
"teroris" adalah manhaj yang benar-benar berasal dari agama ini. Saya percaya, dengan ijin Allah, bahwa 
tulisan ini akan menemukan orang-orang yang mau menerimanya dengan penuh kerelaan dari kalangan 
generasi muda pejuang Islam; generasi muda mujahid yang selalu merasa gelisah karena kerinduannya 
untuk segera membela agama ini dan berlomba-lomba dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi 
untuk menggapai keridhaan Rabb mereka dan kesuksesan meraih syahadah (mati syahid) di jalan-Nya. 

21 Al- Ghuroba 



Saya tulis kitab ini di waktu perlawanan umat Islam semakin meningkat menghadapi musuh- 
musuhnya dan permusuhan musuh-musuhnya juga semakin meningkat terhadapnya. Dengan kitab ini saya 
ingin menjelaskan beberapa perselisihan yang masih berlangsung, yang mana perselisihan tersebut selalu 
berujung kepada perpecahan hingga memunculkan sikap ashobiyah (fanatisme golongan). Saya juga ingin 
memberi peringatan kepada para pembaca terhadap bahaya musuh-musuh Islam yang sangat nampak dan 
begitu nyata, agar jangan sampai para pembegal ayat, penjual fatwa, dan munafiqun menghalang-halangi 
para pembaca dalam meniti jalannya menuju Allah. 

Saya tulis kitab ini atas perintah Allah yang dibebankan kepada setiap manusia; 
"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah 
kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya, " lalu mereka 
melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. 
Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. " (QS. Ali Imran: 187) 

Dan firman-Nya; 
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar. " 
(QS. Al-Ahzab: 70). 

Serta demi mengamalkan sabda Nabi, 
"Semoga Allah menjadikan wajah seseorang bercahaya ketika ia mendengar perkataanku, lalu ia 
memahaminya kemudian menyampaikannya sebagaimana ia mendengarkannya. Barangkali orang yang 
menyampaikan lebih paham daripada orang yang mendengarkan, dan barangkali orang yang membawa 
pemahaman akan menyampaikan kepada orang yang lebih paham dari dirinya. " 

Saya sangat ingin mengatakan semua apa yang ingin saya katakan tanpa bermaksud sedikitpun untuk 
mencari muka dan mengecoh, karena saya telah berjanji kepada Rabbku, jangan sampai diriku menjadi 
orang yang terlambat dalam membela agama-Nya. 

Kitab ini bukan saya tujukan untuk para pakar yang berada di pusat-pusat studi dan penelitian. Juga 
bukan untuk orang-orang yang hanya mencari hiburan, bersikap berlebih-lebihan (tanaththu') dan orang- 
orang yang telah tumbang di kancah perjuangan. Serta bukan untuk para kritikus dan orang-orang yang 
hanya duduk-duduk berpangku tangan tidak berjihad, dan bukan juga untuk para wartawan dan orang-orang 
yang hanya mencari harta dengan membaca kitab ini. 

Kitab ini ditulis bagi orang-orang yang mau maju berkorban dengan penuh ketenangan, berlomba- 
lomba mempersembahkan pengorbanan dan tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari siapa 
pun. 

Kitab ini ditulis bagi para kekasih pemilik kemuliaan, yang jasad mereka terkoyak peluru-peluru 
kezhaliman dan kesewenang-wenangan. Leher-leher mereka digantung di tiang gantungan para boneka dan 
pengkhianat. Tubuh-tubuh mereka dicambuk dengan cambuk orang-orang munafik dan para oportunis, dan 
diri mereka dilemparkan dalam gelapnya penjara orang-orang murtad dengan kemurtadan model baru. 

Kitab ini kupersembahkan kepada orang-orang yang darah mereka menjadi korban akibat fatwa- 
fatwa para munafikun. Kehormatan mereka dikotori akibat ulah para ulama penguasa yang rela menjual 
kemuliaan mereka kepada orang-orang yang berjiwa rakus demi mendapatkan gaji, pinjaman, kedudukan 
dan berbagai gelar. 

Kepada orang-orang yang tidak akan engkau dapatkan dalam kantor-kantor majelis fatwa, 
departemen agama, surat kabar munafik, partai-partai pemalsu dan tempat-tempat mesum. Akan tetapi 
engkau akan menemukan mereka dalam halaqah-halaqah (majelis) ilmu yang bermanfaat, jamaah-jamaah 
kaum muslimin, tepi-tepi desa, kepadatan kota, penjara-penjara penguasa zhalim, ruang-ruang pengadilan 

3lAl-Ghuroba 



militer. Yaitu orang-orang yang selalu bersabar dan menguatkan kesabaran, belajar dan mengajar, 
berdakwah dan beri'dad (melakukan persiapan untuk berjihad) serta selalu bergerak membawa agama ini di 
atas jalan dakwah dan jihad. 

Dan saya adalah orang yang paling bahagia ketika kalian mau membaca kitab ini dengan sabar dan 
banyak mengambil faidah darinya, insya Allah. Juga ketika kalian mau menasihati saya saat kalian 
menemukan kesalahan didalamnya serta kalian mau mendukung saya saat mereka menemukan kebenaran di 
dalamnya. 

Apabila ada kebaikan dari perkataan saya dalam buku ini, maka itu berasal dari taufiq (bimbingan) dan 
anugerah Allah, apabila ada kesalahan maka itu berasal dari diri saya dan dari setan. Allah berfirman, 

"Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan, selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak 
ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya 
kepada-Nya-lah aku kembali. " (QS. Huud: 88) 

Sungguh kan kuperangi selain-Mu selama Engkau beri aku umur ... 
Dan sungguh kan kujadikan perang terhadap mereka terus menerus ... 
Kan ku permalukan di hadapan manusia ... 
Dan kan kucabik-cabik kulit mereka dengan lisan ini ... 



Semoga Allah Jalla wa Alaa membalas kebaikan orang yang 

menyebarkan buku ini tanpa merubah isinya 
dan tidak mempergunakannya untuk kepentingan komersil 



4lAl-Ghuroba 



KECINTAANKU KEPADA KEBENARAN 
MELEBIHI KECINTAANKU KEPADA PARA ULAMA 

Allah berfirman; 

"Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. "(Q.S Al- 

Jatsiyah :20) 

Dan firman-Nya; 

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang 

mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. " (Q.S Al-Ahzab : 

21) 

Dan firman-Nya; 

"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama 
dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan 
dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekajiran) mu dan telah nyata antara kami dan 
kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali 
perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku 
tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya 
kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada 
Engkaulah kami kembali, " (Q.S Al-Mumhatanah : 4) 

Sesungguhnya umat islam di Indonesia saat ini terpecah menjadi jam'ah-jam'ah dan partai-partai, 
masing-masing mempunyai metode tersendiri dalam memperbaiki umat ini. Masing-masing dari mereka 
mengusung ulama-ulama yang "sejalan" dengan pemikiran mereka. Namun sayangnya, ada segelintir orang 
diantara mereka yang menabur perpecahan dengan cara menanamkan sikap fanatisme dan kebencian. Yang 
diajarkan bukanlah untuk mencintai kebenaran, melainkan membenci ulama yang dinilai bersebrangan 
dengan pemikiran mereka, yang diajarkan bukanlah untuk mencintai kebenaran, melainkan membenci 
jam'ah-jam'ah atau partai-partai diluar jam'ah mereka. Bahkan ada yang dengan lantangnya meneriakkan 
bahwa yang tak sependapat dengan mereka telah menyimpangi ahlus sunnah wal jam'ah. 

Sesungguhnya Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz, Syaikh 
Taqiyuddin An-Nabhani,Syaikh Hasan Al-Banna,dan ulama-ulama yang menjadi rujukan kita semua adalah 
para ulama diantara ulama-ulama terbaik yang dimiliki umat islam. Tak seorangpun mengingkari keutamaan 
mereka selain orang yang mendustakan atau arogan. Mereka telah mengabdikan dirinya untuk mendalami 
hadits Rasulullah dan bekerja keras untuk menyebarkan sunah, memberantas bid'ah serta menyebarkan ilmu 
salaf di tengah umat. Saya berdoa semoga Allah membalas semua jasa mereka dengan sebaik-baik balasan. 

Namun Allah enggan untuk menjadikan seorang manusia selain para rasul-Nya sebagai seorang yang 
maksum (bebas dari kesalahan). Mereka para ulama-ulama itu adalah manusia juga, mereka kadang benar 
dan kadang salah. Orang yang mengikuti tulisan-tulisan mereka tentu akan menemukan ada juga kesalahan 
atau ketergelinciran di dalamnya. 

Kami, Insyallah, kami bukanlah orang-orang yang mencari-cari ketergelinciran orang, membesar- 
besarkannya dan banyak menyebut-nyebutnya. Karena itu, bukan termasuk kebiasaan kami mencari 
ketergelinciran-ketergelinciran tersebut. Tetapi bila kami mendapati ketergelinciran dalam pelajaran atau 
pembahasan mereka, kami berpaling dari kesalahan yang kami dapatkan dan kami beramal dengan yang 
benar. Dan kami mengingatkan kesalahan tersebut dalam sebagian majlis kami dan umat dengan bahasa 
yang baik dan metode yang santun, bukan meributkannya. 

Berangkat dari sini, saya memberanikan diri untuk merangkum lembaran-lembaran ini meskipun harus 
melewati kesulitan yang berat, karena saya tak pernah sekalipun menginginkan mengambil sikap 
membantah atau menentang mereka. 

Namun kebenaran yang diajarkan oleh Dien kami menyatakan, kebenaran lebih kami cintai 
melebihi para ulama dan masayikh kami serta seluruh umat manusia. 

5lAl-Ghuroba 



Dalam kesempatan ini saya ingin menerangkan bahwa ketika kami berbeda pendapat dengan mereka 
dalam sebagian persoalan, kami berlepas diri kepada Allah Ta'ala dari orang-orang yang memusuhi mereka 
dan membenci mereka disebabkan mereka berpegang teguh dengan As Sunah dan membela aqidah yang 
benar. Saya memohon kepada Allah semoga perbedaan kami dengan mereka tetap berada dalam koridor 
ahlu sunah wal jama'ah, ahlul haq wal 'adl, mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas jalan 
Rasulullah dan para sahabatnya. 

Sungguh kebenaran hanya pada Allah dan Rasulnya.. tidak dimonopoli oleh sebuah jam'ah, partai, 
organisasi, maupun seorang ulama. 



6lAl-Ghuroba 



DEMOKRASI 

& 
PANCASILA 



7lAl-Ghurob 



Aku bertemu dengannya di lorong penjara, lalu aku membuang muka dan menyelesaikan 
keperluanku, lalu aku kembali dan aku bertemu dengannya lagi ditempat yang sama ketika aku 
hampir melewatinya tiba-tiba.. 

Dia berkata: Apa ini tidak ada salam tidak ada kalam ?? 

Aku jawab : Apakah diantara kita harus ada salam? 

Dia berkata: Apakah aku ini thaghut ha?!! 

Aku jawab : Oh... tidak! Kamu harus tahu betul bahwa kami tidak mengatakan kalian itu para 

thaghut.... Supaya lebih jelas lagi, kalian itu adalah penolong-penolong thaghut, kalian adalah 

tentara thaghut dan kalian itu pembantu thaghut! 

Dia berkata: Demi Allah Wahai syaikh! Sungguh aku tetap mencintaimu walau apapun yang kamu 

katakan tentangaku. 

Aku jawab: Sedangkan aku, aku telah menipumu jika aku katakan padamu bahwa aku 

mencintaimu, Tidak!! Demi Allah aku tidak mencintaimu selama kamu masih memakai baju ini 

(seragam polisi) dan selama kamu masih melindungi undang-undang demokrasi ini! akan tetapi 

Demi Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia sungguh aku menginginkan kamu supaya mendapat 

kebaikan.... Dan aku berharap kamu mendapat hidayah. 

Dia berkata: Wahai syaikh!! Demi Allah aku juga melakukan shalat dan menbaca Al Qur'an dan 

sudah umrah dua kali. 

Aku jawab: Sedangkan untuk shalat dan bacaan Al Qur'anmu serta ibadah-ibadah lainnya maka 

tidak akan diterima jika tidak dengan adanya tauhid, Allah Swt berfirman: 

"Dan kami hadapkan apa yang telah mereka kerjakan lalu kami jadikan amalan tersebut seperti 

debu yang berterbangan"; Bukankah suci (bersih)nya badan dari najis dan dengan wudhu adalah 

syarat sahnya shalat?? 

Dia berkata: Ya! 

Aku katakan: maka yang paling besar urusannya dalam hal ini adalah syarat dan sebelum syarat. 

Syarat tauhid adalah "bersihnya jiwa (hati) dari syirik" maka Allah tidak akan menerima shalat, 

tidak juga puasa, tidak juga haji dan umrah tanpa adanya syarat ini, untuk itu kamu hendak pergi 

untuk umrah dengan membawa kesyirikan bersamamu, dan kamu juga akan kembali dengan 

membawa air zam-zam, siwak, barang-barang dan juga membawa syirik itu, kamu berangkat pergi 

dan pulangdengan kesyirikan, karena umrah, haji dan amal-amal kebaikan lainnya kadang-kadang 

dapat menghapus dosa-dosa kecuali syirik itu, maka wajib untuk melepaskan diri darinya dan 

meninggalkan dari setiap apa saja yang disembah selain Allah sebelum melakukan shalat, puasa 

dan haji. 

Dia berkata: Syirik Ya syaikh! Antum mengatakan kami ini beribadah kepada selain Allah ! ! 

Walaupun kami tidak shalat untuk selain Allah ! ! Haram ya syaikh anda mengatakan kami ini 

musyrik.... 

Aku jawab: Ya! Mungkin kamu tidak shalat untuk selain Allah, tidak berpuasa untuk selain Allah 

dan tidak berhaji untuk selain Allah! Akan tetapi kamu mengikuti pembuat syariat, perintah dan 

larangan secara mutlak dari selain Allah! 

Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi 

Penjara Suwaaqah - Urdun - 1416 H 

Akhir bulan Rabi'ul Awwal tahun 1416 H 



8lAl-Ghurob 



DEMOKRASI 

Demokrasi berasal dari kata demos artinya rakyat dan kratein yang berarti pemerintah. Awalnya 
terdapat dalam praktek negara kota (polis) di kota Yunani Athena pada tahun 450 SM. Demokrasi dapat 
diartikan pemerintahan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebuah sistem pemerintahan 
dimana rakyat sebagai pemegang kekuasaan yang dijalankan oleh wakil-wakil rakyat yang dipilih dalam 
pemilu. Kriteria demokrasi terdiri dari: 

1 . Pemerintahan oleh rakyat dengan partisipasi rakyat penuh dan langsung 

2. Kesamaan warga negara di depan hukum 

3. Adanya pluralisme, penghargaan atas perbedaan 

4. Penghargaan terhadap pribadi untuk mengekspresikan ke-pribadian individu 

Penggunaan kata demokrasi belum muncul di UUD 1945 (asli) sampai akhirnya istilah tersebut 
muncul pada amendment pertama UUD45 (th 1999) yaitu pada pasal 18, 28i, 28j dan pasal 33. Meski 
demikian, secara tidak langsung sistem demokrasi secara explisit tergambar di UUD 1945 (asli) misalnya 
pada bab I tentang kekuasan dan kedaulatan khususnya dimana pasal 1 menjelaskan bahwa Indonesia adalah 
negara republik dengan kedaulatan adalah di tangan rakyat. Keberadaan DPR pun sebagai penyeimbang 
dalam Trias Politika makin kuat kedudukannya setelah ditetapkan pada pasal 19 - 22 di UUD 1945 
ammandement pertama (th 1999) meski sebelum kurun waktu itu DPR hampir dikatakan selalu tunduk pada 
kebijakan Presiden. 

Dalam sidang BPUPKI 1 Juni 1945 Soekarno antara lain mengatakan: "Ibaratnya badan perwakilan 
Rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 
utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. dengan sendirinya 
hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula " . Dia juga mengatakan 
"Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara islam dan saudara-saudara kristen bekerjalah sehebat- 
hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara 
Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar dari pada utusan- 
utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang kristen, itu adil, -fairplayl. " 

MUSYAWARAH DALAM DEMOKRASI 

Musyawarah bukanlah ciri khas demokrasi. Demokrasi adalah sistem pemerintahan sedangkan 
musyawarah metode pengambilan keputusan. Secara fakta, musyawarah itu terjadi dan dilakukan dimana 
saja, baik itu di sistem demokrasi, di dalam sistem Islam, ataupun di dalam komunisme sekalipun. Bahkan di 
sistem kerajaan feodal, theokrasi ataupun di himpunan masyarakat terasing pun terjadi musyawarah. 

Karena itu tidak boleh mengatakan bahwa musyawarah adalah ciri khas demokrasi sebab musyawarah 
itu terjadi di sistem mana saja, lalu kemudian menyimpukan bahwa Islam itu sesuai dengan demokrasi, 
mengikuti dengan logika/mantiq berikut: 

• Premis A : musyawarah adalah ciri khas demokrasi 

• Premis B : islam itu mengutamakan musyawarah 

• Konklusi : Islam itu sama dengan demokrasi 

Penarikan kesimpulan berdasarkan logika mantiq ini sangat salah luar biasa. Kesimpulan yang 
dibangun dari premis premis yang salah jelas melahirkan kesimpulan yang salah. Kesalahan premis A sudah 
dijelaskan diatas. Kesalahan premis B yaitu "islam itu mengutamakan musyawarah" juga sangat jelas 
bertentangan dengan realitas bahwa musyarawah itu dalam Islam hanya pada hal hal terbatas saja, yaitu pada 
aktMtas mubah bukan musyarwarah dalam menentukan hukum. Innal hukum illa lillah. Hukum hanyalah 
milik Allah 

9lAl-Ghuroba 



Umat Islam diperbolehkan bermusyawarah untuk menentukan bentuk masjid, hiasannya, tempat 
wudhu, dll, namun umat Islam tidak boleh bermusyawarah untuk menentukan arah kiblat. Arah kiblat adalah 
menghadap makkah (nash syara). Akurasinya diserahkan kepada ahli yang mengerti bagaimana cara 
menentukan sudut kiblat, bukan hasil musyawarah berapa derajat yang paling baik untuk kiblat. 

Demikian pula dalam hukum pribadi ataupun hukum publik. Tidak ada musyawarah apabila 
menyangkut masalah penetapan hukum. Penentuan hukum harus diserahkan kepada ahlinya yaitu para 
mujthahid. Umat diperbolehkan mengkuti pendapat mujtahid madzhab tertentu, demikian pula khalifah 
diwajibkan mengikuti pendapat mujtahid madzab tertentu atau dia menentukan hukum sendiri bila levelnya 
adalah seroang mujthahid. Lalu dia pilih hukum hukum yang perlu diadopsi oleh Negara untuk diterapkan 
pada publik. 





Islam 


Demokrasi 


Kedaulatan 


Kedaulatan di Tangan Syara 


Kedaulatan di tangan rakyat 


Kekuasaan 


Kekuasaan di Tangan Umat Islam 


Kekuasan di tangan rakyat (Islam/Kafir) 


Baik Buruk 


Baik buruk ditentukan Allah SWT 


Baik buruk tergantung kemauan rakyat 



DEMOKRASI ADALAH AGAMA 

Ajaran-ajaran demokrasi atau dien (agama) demokrasi ini semuanya kontradiktif dengan dien kaum 
muslimin, Al Islam. Sebagian orang merasa aneh saat saya menyebut demokrasi sebagai dien (agama) 
padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan : 



"Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja (dienal malik). 
[12]: 76) 



" (QS. Yusuf 



Undang-undang telah Allah namakan sebagai "dien" (agama/jalan hidup yang ditempuh), 
sedangkan demokrasi itu memilliki undang-undang selain Islam. Jadi dien (agama) kafir itu bukan 
hanya Nashrani, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, Shinto, dan Majusi saja..., akan tetapi Demokrasi 
adalah sebuah agama, Nasionalisme adalah sebuah agama, Kapitalisme adalah sebuah agama, 
Sekulerisme adalah sebuah agama. 

Islam adalah agama kaum muslimin, sedangkan Demokrasi adalah agama kaum musyrikin, baik 
kaum musyrikin yang mengaku Islam atau yang mengaku bukan Islam. Untuk benar-benar mengetahui 
kekufuran agama Demokrasi ini, maka saya akan kupas ajaran-ajarannya itu dengan membandingkannya 
dengan ajaran Islam. 

KESESATAN AJARAN DEMOKRASI 

Dikarenakan rakyat adalah yang berdaulat dan yang berkuasa, maka sumber hukumnya pun adalah 
rakyat yang diwakili oleh wakil-wakil mereka di Parlemen (MPR/DPR). Dan bila anda membuka Konstitusi 
(Undang Undang Dasar) semua negara yang bersistem Demokrasi, maka pasti mendapatkan bahwa 
kekuasaan Legislatif (Tasyri'iyyah/pembuatan hukum) ada di tangan majelis rakyat, ada juga yang 'bebas' 
seperti di negara-negara barat, dan ada yang terbatas seperti di negara-negara Arab dan negara timur yang 
mana Raja, Amir, dan Presiden sangat menentukan, dan tidak lupa juga bahwa demokrasi atau aspirasi 
rakyat ini tidak semuanya digulirkan, kecuali bila sesuai dengan Undang Undang Dasar. 

Padahal sumber/kekuasaan /wewenang hukum itu di dalam dien Al Islam ada di Tangan Allah, 
sebagaimana firman-Nya : 

"...keputusan itu hanyalah kepunyaanAllah... " (QS. Yusuf [12] : 40) 



lOlAl-Ghuroba 



Dan firman-Nya; 

"...menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah... " (QS. Al An'am [6] : 57) 

Allah menjelaskan bahwa Dia-lah yang menciptakan dan yang memilih apa yang Dia kehendaki serta 
bahwa manusia tidak punya hak untuk memilih setelah Allah menentukan, 

Allah berfirman : 

"Dan Dia-lah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak diibadati melainkan Dia, bagiNya-lah segala puji di 
dunia dan di akhirat, dan bagiNya-lah segala penentuan dan hanya kepadaNya-lah kamu 
dikembalikan" (QS. Al Qashash [28] : 70) 

Juga dalam firman-Nya; 

"Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, 
sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan 
janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu 
sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain, tidak ada Tuhan (yang berhak 
disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, 
dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan" . (QS. Al Qashash [28] : 87-88) 

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : 
"Sesungguhnya Allah-lah yang memutuskan dan hanya kepada-Nyalah putusan itu (disandarkan)" 

Itu semua adalah dienullah (agama) yang dianut oleh kaum muslimin. Allah Subhanahu Wa Ta 'ala 
berfirman : 

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari 
padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" (QS. Ali Imran [3] : 85) 

Apakah sama antara dua dien ini wahai saudaraku. . .? 
Dan apa yang anda pilih, Islam ataukah Demokrasi. . .? 

Bayangkan saja... bila yang menjadi sumber hukum itu adalah manusia yang sangat penuh dengan 
kekurangan dan keterbatasan, apa jadinya hukum yang diundang-undangkan itu ? Bulan ini dibuat dan 
diibadati, namun beberapa bulan berikutnya dihapuskan atau direvisi, karena sudah tidak relevan lagi. 

Tadi telah dijelaskan bahwa sumber hukum agama Demokrasi adalah rakyat, maka sudah pasti 
hukum yang dipakai adalah bukan hukum Allah, tapi hukum rakyat (wakilnya) atau hukum yang 
disetujui oleh mereka, juga dikarenakan agama Demokrasi ini adalah menyatukan semua pemeluk 
agama yang beraneka ragam dan mengakuinya serta menampung semua aspirasinya, sedangkan untuk 
kesatuan mereka ini dibutuhkan hukum yang mengikat semua dan disepakati bersama, padahal para 
pemeluk agama selain Al Islam tidak akan rela dengan hukum Islam sehingga disepakatilah hukum 
yang menyatukan mereka, dan itu bukan hukum Allah, tapi hukum wali-wali syaitan. 

Sungguh ini adalah kerusakan yang besar, kekafiran yang nyata serta kemurtadan yang nampak 
jelas bagi pemeluk Islam yang ridha dengannya atau mendukungnya apalagi menerapkan atau 
melindunginya. Padahal Allah berfirman : 

" ...barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apayang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah 
orang-orang yang kafir ". (QS. Al Maidah [5] : 44) 

lllAl-Ghuroba 



Bila saja orang yang menuruti atau meridhai satu hukum yang menyelisihi aturan Allah, Allah telah 
menwonisnya musyrik, maka apa gerangan dengan Demokrasi yang seluruhnya adalah bukan hukum Allah. 
Kalau memang ada satu macam atau beberapa macam hukum yang ada dalam Demokrasi itu serupa dengan 
ajaran Islam, tetap saja itu tidak disebut hukum Allah dan tidak merubah kekafiran penganut dien 
Demokrasi. Andai ada orang Nashrani yang jujur dan amanah, apakah itu bisa menyebabkan dia itu 
disebut muslim karena jujur dan amanah itu ajaran Islam ? Sama sekali tidak, karena jujur dan 
amanahnya itu bukan atas dorongan tauhid, tapi kepentingan lain, maka begitu juga dengan Demokrasi. 

Oleh sebab itu para ulama tetap ijma atas kafirnya orang yang menerapkan kitab Undang-undang 
hukum Tartar (Yasiq/Ilyasiq) yang dibuat oleh Jengis Khan, padahal sebagiannya diambil dari 
syari'at Islam. 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata : "Siapa yang meninggalkan syari'at paten yang diturunkan kepada 
Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada yang lainnya berupa 
hukum-hukum (Allah) yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang 
yang berhukum kepada Ilyasiq dan lebih mengedepankannya atas hukum Allah ? Siapa yang melakukannya 
maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin". [Al Bidayah Wan Nihayah : 13/119]. 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang Yasiq/Ilyasiq : "Ia adalah kitab undang-undang hukum yang 
dia (Raja Tartar, Jengis Khan) kutip dari berbagai sumber ; dari Yahudi, Nashrani, Millah Islamiyyah, dan 
yang lainnya, serta di dalamnya banyak hukum yang dia ambil dari sekedar pandangannya dan 
keinginannya, lalu (kitab) itu bagi keturunannya menjadi aturan yang diikuti yang lebih mereka kedepankan 
dari pada al hukmu bi Kitabillah wa sunnati Rasulillah shalallahu 'alaihi wasallam. Siapa yang melakukan 
itu, maka wajib diperangi hingga kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, selainnya tidak boleh 
dijadikan acuan hukum dalam hal sedikit atau banyak". Ini dikarenakan Allah berfirman; 

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan 
janganlah kamu mengikuti hawa najsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka 
tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu... " (QS. Al Maidah 
[5]: 49) 

Dalam ayat itu, Allah mengatakan "menurut apa yang diturunkan Allah", dan tidak mengatakan 
"menurut seperti apa yang diturunkan Allah". 

Dalam ajaran tauhid, orang tidak dikatakan muslim, kecuali dengan kufur kepada thaghut 
(sesembahan selain Allah) yang di antaranya berbentuk undang-undang buatan manusia , sedangkan 
Demokrasi mengajak orang-orang untuk beriman kepada thaghut, padahal Allah berfirman : 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang 
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada 
thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu... " (QS. An Nisa [4] : 60) 

Lihatlah realita para demokrat serta para pendukungnya justru adalah sebagaimana yang Allah 
firmankan : 

"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan 
kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat- 
kuatnya dari (mendekati) kamu". (QS. An Nisa [4] : 61) 

Jika ada yang serupa dengan ajaran Islam dalam hukum mereka itu, tidak lebih dari apa yang tidak 
bertentangan dengan selera dan kepentingan mereka, dan itu setelah proses tarik menarik dan diskusi 
panjang antara mengiakan dengan tidak, tak ubahnya dengan orang-orang yang Allah firmankan : 

12lAl-Ghuroba 



"Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara 
mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk 
(kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu 
karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau- 
kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang 
zhalim ". (QS. An Nur [24] : 48-50) 

Demokrasi adalah agama yang melindungi semua agama, mengakui serta menjamin kebebasannya. 
Orang Nashrani bila mau masuk Islam maka Demokrasi mempersilahkan dan mengakuinya, dan begitu juga 
orang Islam jika ingin masuk Nashrani atau agama lainnya, maka dien Demokrasi tidak mempersalahkannya 
apalagi memberikan sanksi terhadapnya. 

Dari itu berarti agama Demokrasi telah menghalalkan pintu-pintu kemurtadan serta 
menggugurkan hukum-hukum yang berkaitan denganya, padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi 
wasallam bersabda : "Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ". 

Andai seorang muslim karena ghirahnya sangat tinggi lalu dia membunuh orang murtad, maka 
tentulah dia mendapat hukuman. Begitu juga agama demokrasi memberikan kebebasan untuk mengeluarkan 
tikiran dan pendapat, walaupun tikiran dan pendapat itu adalah kekuturan. 

Jadi Demokrasi membuka pintu kekufuran dari berbagai sisi. Dari sinilah rahasia kenapa sanksi- 
sanksi yang bersifat keagamaan ditiadakan dan tidak diberlakukan, karena itu bertentangan dengan 
kebebasan berkeyakinan. 

Saat seorang bapak meninggal dunia dan si anak telah murtad, maka hukum demokrasi masih 
menetapkan warisan baginya. 

Saat si suami murtad, sedangkan isteri masih muslimah..., namun agama Demokrasi tidak 
mengharuskan pisah (fasakh) di antara keduanya. 

Allah dan Rasul-Nya dibiarkan dihina siang dan malam, dan ajaran Islam dicemoohkan dan 
dilecehkan dengan dalih kebebasan mengeluarkan fikiran dan pendapat. Memang Demokrasi itu 
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi semua faham dan aliran kecuali Tauhid, karena seandainya 
ada muwahhid yang mencela dan menghina atau berupaya membunuh thaghut mereka, tentulah dia 
dikenakan pasal hukuman, padahal itu ajaran Tauhid. 

Begitulah kebebasan yang dimaksud oleh dien Demokrasi. . . 

Hal yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah bahwa agama Demokrasi memiliki ajaran bahwa al haq 
(kebenaran) itu bersama suara rakyat atau mayoritasnya. Adapun yang diinginkan oleh mayoritas, maka itu 
adalah kebenaran yang harus diterima dan diamalkan meskipun jelas-jelas bertentangan dengan Tauhid. 

Oleh karena itu setiap partai politik yang ingin menguasai Parlemen dan Pemerintahan pasti dia 
mencari dukungan sebanyak-banyaknya dari rakyat, kemudian setelah itu mereka bisa menerapkan putusan 
apa saja meskipun melanggar aturan Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala dan Rasul-Nya shalallahu 'alaihi 
wasallam, asal tidak melenceng dari Tuhan mereka tertinggi yang padahal mereka sendiri yang 
membuatnya, yaitu Undang Undang Dasar. 

Padahal kebenaran itu hanyalah bersumber dari Allah, baik mayoritas menyukainya atau tidak. 
Allah berfirman : 



13lAl-Ghuroba 



"Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu- 
ragu". (QS. Ali Imran [3] : 60) 

Juga firman-Nya: 

"Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu- 
ragu". (QS. Al Baqarah [2] : 147) 

Dikarenakan kebenaran adalah datang dari Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala lewat lisan Rasul-Nya, 
maka bila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu putusan atau hukum, tidak boleh manusia 
mempertimbangkan antara menerima atau tidak serta tidak ada pilihan lain kecuali menerima dan 
tunduk kepadanya. 

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, 
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang 
lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah 
dia telah sesat, sesatyang nyata" . (QS. Al Ahzab [33] : 36) 

Dan firman-Nya Subhaanahu Wa Ta 'ala : 

" ...sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka... " (QS. Al Qashash [28] : 68) 

Para ahli tafsir menyatakan bahwa bila Allah telah menentukan sesuatu, maka manusia tidak dapat 
memilih yang lain lagi dan harus mentaati dan menerima apa yang telah ditetapkan Allah. 

Namun agama Demokrasi mengatakan lain, rakyat bebas memilih apa yang mereka inginkan dan 
mereka memiliki pilihan. Tapi bila rakyat (wakil-wakil mereka tentunya) atau mayoritasnya menentukan 
sesuatu, maka tidak ada pilihan lagi kecuali mengikutinya, karena Tuhan yang berhak menetapkan 
ketentuan dalam ajaran Demokrasi adalah para wakil rakyat itu, bukannya Allah Subhaanahu Wa 
Ta'ala. 

Bila ajaran Demokrasi memiliki tolak ukur kebenaran itu berdasarkan pada suara aghlabiyyah 
(mayoritas), sehingga apapun yang disuarakan oleh mereka, maka itulah kebenaran yang mesti diikuti, 
padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menghati-hatikan dari mengikuti keinginan mayoritas 
manusia... 

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan 
menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan 
mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) " (QS. Al An'am [6] : 1 16) 

Ini dikarenakan mayoritas (manusia) musyrik... 

"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan 

mempersekutukan Allah" . (QS. Yusuf [12] : 106) 

Mayoritasnya tidak beriman... 

"Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya". (QS. 
Yusuf [12] : 103) 

Mayoritasnya benci akan kebenaran... 

" ...dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu". (QS. Al Mukminun [23] : 70) 

Mayoritasnya tidak mengetahui kebenaran... 

"...akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" . (QS. Al Jaatsiyah [45] : 26) 

14lAl-Ghuroba 



Mayoritasnya tidak memahami kebenaran... 

"...tetapikebanyakanmerekatidakmemahami(nya)". (QS. Al Ankabut [29] : 63) 

Mayoritas mereka itu tidak bersyukur... 

" ...akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur" . (QS. Al Mukmin/Ghafir [40] : 61) 

Itulah sifat-sifat mayoritas orang yang dijadikan Tuhan (arbaab) dalam agama Demokrasi ; 
musyrik, kafir, sesat, bodoh, kurang akal, benci terhadap kebenaran, tidak mau bersyukur lagi 
menyesatkan. Allah berfirman; 

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Arbaab (Tuhan) selain Allah 
dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah 
Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang 
mereka persekutukan" . (QS. AtTaubah [9] : 31) 

Dalam ayat ini Allah menamakan orang-orang alim dan para rahib Yahudi dan Nashrani sebagai ARBAAB 
(TUHAN!), saat ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam di hadapan 'Adiy Ibnu 
Hatim ~saat itu asalnya Nashrani kemudian masuk Islam~, maka dia langsung mengatakan : "Kami tidak 
pernah sujud dan shalat kepada mereka...", maka Rasulullah menjelaskan makna "mereka menjadikan para 
rahib dan alim itu sebagai Arbaab" : " Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan kemudian 
kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan terus 
kalian ikut mengharamkannya ?",maka 'Adiy menjawab : "Ya, benar". Dan Rasulullah berkata : "Itulah 
bentuk ibadah kepada mereka" . [Atsar ini dihasankan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah] 

Setelah penjelasan itu semua, kini jelaslah, demokrasi adalah sebuah agama, dan agama selain islam adalah 
thagut yang harus dikufuri, demokrasi adalah thagut-thagut baru yang muncul saat ini, maka.-.apakah kamu 
tidak memikirkan ? 

Dimanakah para ulama ? 

Dimanakah MUI? 

Apakah hal ini hanyalah urusan yang kecil? 

Hingga engkau lewatkan begitu saja ? 

Apakah hari ini adalah hari dimana Allah mewajatkan para ulama ? 

Sehingga tak ada lagi ilmu dan umat ini dipimpin oleh orang-orang yang bodoh? 



15lAl-Ghuroba 



PANCASILA SESUAI DENGAN AJARAN ISLAM? 

Pancasila -yang notabene hasil pemikiran manusia- adalah dasar negara ini, negara ini dan aparatnya 
menyatakan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup, dasar negara serta sumber kejiwaan masyarakat dan 
negara Indonesia, bahkan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Oleh sebab itu 
pengamalannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia dan setiap penyelenggara negara yang 
secara meluas akan berkembang menjadi pengamalan Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan serta 
lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah. (Silahkan lihat buku-buku PPKn atau yang 
sejenisnya). 

Jadi dasar negara RI, pandangan hidup dan sumber kejiwaannya bukanlah Laa ilaaha illallaah, tapi 
falsafah syirik Pancasila yang digali dari bumi Indonesia. 

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman: 

"Itulah Al Kitab (Al Qur'an) tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk (pedoman) bagi orang- 
orang yang bertaawa" .(Al Baqarah: 2) 

Tapi mereka mengatakan: Inilah Pancasila, tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk 
(pedoman) bagi bangsa dan pemerintah Indonesia. 

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman: 

" Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia." (Al An'am: 153) 

Tapi mereka mengatakan: Inilah Pancasila Sakti yang lurus, maka hiasilah hidupmu dengan moral 
Pancasila. 

Dalam rangka menjadikan generasi penerus bangsa ini sebagai orang yang Pancasilais (musyrik), para 
thaghut menjadikan PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) atau Pendidikan Kewarganegaraan 
atau Tata Negara atau Kewiraan sebagai mata pelajaran bagi para siswa atau mata kuliah wajib bagi para 
mahasiswa. Siapa yang tak lulus dalam matpel atau matkul ini, maka jangan harap dia lulus dari 
lembaga pendidikan yang bersangkutan. 

Dalam kesempatan ini, marilah kita kupas beberapa butir dari sila-sila Pancasila yang sempat 
(bertahun-tahun) wajib dihafal, diujikan dan dijadikan materi penataran P4 di era ORBA: 

Sila ke-1 Butir ke-1: 
Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang beradab 

Ya, beradab menurut ukuran isi otak mereka, bukan beradab sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. 
Contoh: Ada orang yang murtad dari Islam, lalu ada mushm yang menegakkan hukum Allah Subhaanahu 
Wa Ta'aalaa dengan membunuhnya, maka orang yang membunuh demi menegakkan hukum Allah ini jelas 
akan ditangkap dan dijerat hukum thaghut lalu dijebloskan ke balik jeruji besi. 

Berdasarkan butir ini, seorang muslim pun tidak bisa nahi munkar, contoh: jika seorang muslim 
melihat syirik -sebagai kemunkaran terbesar dilakukan, misalnya ada yang menyembah batu atau arca, 
minta-minta ke kuburan, mempersembahkan sesajen atau tumbal, maka bila ia bertindak dengan 
mencegahnya atau mengacaukan acara ritual musyrik itu, maka sudah pasti dialah yang ditangkap dan 
dipenjara (dengan tuduhan mengacaukan keamanan atau merusak program kebudayaan dan pariwisata), 
padahal nahi munkar adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya dalam agama Islam. Lalu apakah arti 
kebebasan yang disebutkan itu? Bangunlah wahai kaum muslimin, jangan kau terbuai sihir para thaghut. . . 

16lAl-Ghuroba 



Sila ke-1 Butir ke-2: 
Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya 

Pancasila memberikan kebebasan orang untuk memilih jalan hidupnya. Seandainya ada muslim yang 
murtad dengan masuk Nasrani, Hindu atau Budha, maka berdasarkan Pancasila itu adalah hak asasinya, 
kebebasannya, dan tidak ada hukuman baginya, bahkan si pelaku mendapat jaminan perlindungan. Hal ini 
jelas membuka lebar-lebar pintu kemurtadan, sedangkan dalam ajaran Tauhid, Rasulullah bersabda: 

"Siapa yang merubah dien (agama)nya, maka bunuhlah dia" (Muttafaq 'alaih) 

Di sisi lain banyak orang muslim tertipu, karena dengan butir ini mereka merasa dijamin 
kebebasannya untuk beribadat, mereka bertikir kanbisa adzan, bisa shalat, bisa shaum, bisa zakat, bisa haji, 
bisa ini bisa itu, padahal kebebasan ini tidak mutlak, kebebasan ini tidak berarti kaum muslimin bisa 
melaksanakan sepenuhnya ajaran Islam, lihatlah apakah di Indonesia bisa ditegakkan had? Apakah kaum 
muslimin bebas untuk ikut serta di front jihad manapun? Tentu tidak, karena dibatasi oleh butir Pancasila 
yang lain. 

Sila ke-2 Butir ke-1: 

Mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban antara 

sesama manusia 

Maknanya adalah tidak ada perbedaan di antara mereka dalam status derajat, hak dan kewajiban dengan 
sebab dien (agama), sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa bertirman: 

"Katakanlah: Tidak sama orang yang buruk dengan orang yang baik, meskipun banyaknya yang buruk 
menakjubkan kamu , \ (Al Maaidah: 100) 

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan yang bisa melihat, tidak pula kegelapan dengan cahaya, dan 
tidak sama pula tempat yang teduh dengan yang panas, serta tidak sama orang-orang yang hidup dengan 
yang sudahmati". (Faathir: 19-22) 

"Maka apakah orang yang mu'min (sama) seperti orang yangfasiq? (tentu) tidaklah sama... "(As Sajdah: 
18) 

"Maka apakah Kami menjadikan orang-orang Islam (sama) seperti orang-orang kajir. Mengapa kamu 
(berbuat demikian): Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu memiliki sebuah 
Kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu baca, di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang 
kamu sukai untukmu? " . (Al Qalam: 35-38) 

Sedangkan Pancasila menyamakan antara orang-orang Islam dengan orang-orang kafir. 

Jika kita bertanya kepada mereka: Apakah kalian mempunyai kitab yang kalian pelajari tentang itu? 

Mereka menjawab: Ya, tentu kami punya, yaitu buku PPKn dan buku-buku lainnya yang di dalamnya 
menyebutkan: Mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban antara sesama manusia. 

Wahai orang yang bertikir, apakah ini Tauhid atau kekatiran. . . .? 

Sila ke-2 Butir ke-2 
Saling mencintai sesama manusia 



17lAl-Ghurob 



Pancasila mengajarkan pemeluknya untuk mencintai orang-orang Nasrani, Budha, Hindu, Konghucu, 
kaum sekuler, kaum liberal, para demokrat, para quburiyyun, para thaghut dan orang-orang kafir lainnya. 
Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa menyatakan: 

"Engkau tidak akan mendapati orang-orang yang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berkasih 
sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka itu adalah ayah-ayah 
mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau karib kerabat mereka" (Al 
Mujaadilah: 22) 

Pancasila berkata: Haruslah saling mencintai, meskipun dengan orang non muslim (kafir)! 

Namun Allah menwonis: Orang yang saling mencintai dengan orang kafir, maka mereka bukan 
orang Islam, bukan orang yang beriman. 

Jadi jelaslah bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa mengajarkan Tauhid, sedangkan Pancasila 
mengajarkan kekafiran. Dia berfirman: 

"Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai auliya yang 
mana kalian menjalin kasih sayang terhadap mereka". (Al Mumtahanah: 1) 

"Sesungguhnya orang-orang ka/ir adalah musuh yang nyata bagi kalian ". (An Nisaa: 101) 

Renungilah ayat-ayat suci tersebut dan amati butir Pancasila di atas. Lihatlah, yang satu arahnya ke timur, 
sedangkan yang satu lagi ke barat. 

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman tentang ajaran Tauhid yang diserukan oleh para Rasul: 

"...Serta tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian 
beriman kepada Allah saja "(Al Mumtahanah: 4) 

Namun dalam ajaran thaghut Pancasila: Tidak ada permusuhan dan kebencian, tapi harus toleran dan 
tenggang rasa dengan sesama manusia apapun keyakinannya. 

Apakah ini tauhid atau syirik? Ya tauhid, tapi bukan tauhidullah! 

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: 

"Ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allahdan benci karena Allah". 

Namun seseorang yang beriman kepada Pancasila akan mencintai dan membenci atas dasar Pancasila. 
Dia itu miTmin (beriman), tapi bukan kepada Allah, namun iman kepada Pancasila. Inilah makna 
yang hakiki dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun Yang Maha Esa dalam agama Pancasila bukanlah 
Allah, tapi itulah Garuda Pancasila yang melindungi pemuja batu dan berhala !! ! 

Sila ke-3 Butir ke-1 
Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi 

atau golongan 

Inilah yang dinamakan dien (agama) nasionalisme yang juga merupakan salah satu bentuk ajaran 
syirik, karena menuhankan negara (tanah air). Dalam butir di atas disebutkan bahwa kepentingan nasional 
harus didahulukan atas kepentingan apapun, termasuk kepentingan golongan (agama). Jika ajaran Tauhid 
(dien Islam) bertentangan dengan kepentingan syirik dan kekufuran negara, maka Tauhid harus mengalah. 



18lAl-Ghuroba 



Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman: 

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya ". (Al Hujurat: 1) 

"Katakanlah: Bila ayah-ayah kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, karib 
kerabat kalian, harta yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya dan rumah- 
rumah yang engkau sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari jihad di jalan-Nya, 
maka tunggulah.... " 
(At Taubah: 24) 

Maka dari itu jika nasionalisme adalah segalanya, maka hukum-hukum yang dibuat dan diterapkan 
adalah yang disetujui oleh kaum kafir asli dan kaum kafir murtad. Syari'at Islam yang utuh tak mungkin 
ditegakkan, karena menurut mereka syari'at (hukum) Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa sangat-sangat 
menghancurkan tatanan kehidupan yang berdasarkan paham nasionalis. 

Sebenarnya jika setiap butir dari sila-sila Pancasila itu dijabarkan seraya ditimbang dengan Tauhid, 
tentulah membutuhkan waktu dan lembaran yang banyak. Penjabaran di atas hanyalah sebagian kecil dari 
bukti kerancuan, kekafiran, kemusyrikan dan kezindiqan Pancasila sebagai hukum buatan manusia yang 
merasa lebih adil dari Allah. Uraian ini insya Allah telah memenuhi kadar cukup sebagai hujjah bagi para 
pembangkang dan cahaya bagi yang mengharapkan lagi merindukan hidayah.Maka setelah mengetahui 
kekafiran Pancasila ini, apakah mungkin bagi seseorang yang mengaku sebagai muslim masih mau 

melantunkan lagu: "Garuda Pancasila... akulah pendukungmu sedia berkorban untukmu ?' 

Sungguh, tak ada yang menyanyikannya, kecuali seorang kafir mulhid atau orang jahil yang sesat, yang 
tidak tahu hakikat Pancasila.ini hanyalah ringkasan kecil dari kekafiran-kekafiran nyata yang beraneka 
ragam. Setelah mengetahui hal ini, apakah mungkin seorang muslim: 

Loyal (setia) kepada NKRI dan rela berkorban untuknya? 

Melantunkan lagu: "Bagimu negeri...jiwa raga kami" 

Bersumpah setia kepadanya hanya karena menginginkan harta dunia yang hina? 

Menjadi aparat keamanan yang melindungi Negara Republik Indonesia? 



19lAl-Ghuroba 



SYUBHAT 
SEPUTAR DEMOKRASI 



20IA1-Ghuroba 



MENGGUNAKAN DEMOKRASI 
UNTUK MASHLAHAT UMAT? 

Mereka mengatakan: Sesungguhnya masuk parlemen/dinas-dinas pemerintahan itu mengandung banyak 
maslahat. 

Majelis(parlemen/dinas-dinas) itu pada dasarnya adalah mashlahat mursalah, dan: Bisa dakwah kepada 
agama Allah, bisa menyampaikan yang haq, Merubah sebagian kemungkaran dan meringankan sebagian 
tekanan terhadap dakwah dan untuk tidak membiarkan tempat-tempat dan majelis-majelis itu dipenuhi 
orang-orang nasrani, atau komunis atau yang lainnya...Ini adalah untuk mashlahat tahkiim syarii'at Allah 
(pemberlakuan hukum Islam) dan penegakkan dien-Nya (penegakkan ajaran-Nya) lewat 
MPR/DPR/Parlemen dan mashlahat- mashlahat (dakwah) lainnya.. 

Maka kami katakan: 

Siapa yang berhak menentukan maslahat-maslahat agama-Nya dan hamba-hamba-Nya, serta 
mengetahuinya dengan sebenar-benarnya? Allah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui?? Atau kalian 
dengan anggapan-anggapan baik kalian dan maslahat-maslahat yang kalian klaim?? 

Adapun dalam ajaran dan agama demokrasi adalah tidak adanya tempat bagi ayat-ayat Al-qur'an yang 
terang ini, karena manusia menurut mereka (demokrasi) adalah penentu hukum buat dirinya. ... 

Apakah masuk akal wahai orang-orang yang berakal! Kalian menghancurkan maslahat yang agung 
lagi menyeluruh, kemudian kalian bersekongkol dengan thaghut-thaghut itu di atas ajaran bukan ajaran 
Allah (demokrasi), kalian menerima dan menghormati hukum yang bukan hukum-Nya subhaanahu wa 
ta'aala (yaitu undang-undang dasar), dan kalian mengikuti arbaab musyarri'iin(tuhan-tuhan para pembuat 
hukum dan perundang-undangan) yang bermacam-macam di samping Allah Yang Maha Esa lagi Maha 
Perkasa...?? Kalian dengan perbuatan ini hancurkan maslahat terbesar dalam kehidupan yaitu tauhid dan 

kufur terhadap thaghut demi mencapai maslahat parsial yang hanya sekedar perkiraan yang tidak 

jelas??? 

Dan bagaimana sebagian di antara kalian berani mengklaim bahwa majelis-majelis syirik ini adalah 
bagian dari mashalih mursalah. Sesungguhnya maslahat mursalah menurut ulama yang memakainya adalah: 
(Maslahat yang tidak diakui dan tidak digugurkan oleh syari'at). Maka apakah kalian mengklaim bahwa 
syari'at tidak menggugurkan kekafiran dan kemusyrikan, serta tidak membathilkan setiap ajaran yang 
bertentangan dengan dienul Islam.. 

Kemudian saat kalian berusaha menggolkan parsial-parsial dan far'iiy-far'iiy itu - seperti orang yang 
berusaha menggolkan undang-undang haramnya pornografi - kepada apa kalian menyandaran tuntutan- 
tuntutan kalian akan haramnya pornografi itu, dan dengan apa kalian berdalil dan memberikan alasan 
hukum?? Apakah kalian mengatakan: Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman, Rasulullah shallallaahu 'alaihi 
wa sallam bersabda?? 

Tidak diragukan lagi kalian pasti akan mengatakan: Sesuai dengan pasal dua dan pasal 24. . . dan pasal 

25 . . . .dan hal serupa berupa hukum-hukum dan perundangan kafir dan sesat ini maka apakah setelah ini 

ada kekafiran, syirik dan ilhaad?? Dan apakah masih ada tersisa bagi orang yang meniti jalan ini ashlu dien, 
millah, dan tauhidnya..????? 

"Apakah kalian tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang 
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kalian ? Mereka hendak berhakim kepada 
thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan 
mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. " (Qs: An-Nisaa': 60) 



21lAl-Ghuroba 



Berilah kami jawaban....apakah mungkin membuat undang-undang atau hukum di sarang-sarang 
paganisme ini selain melewati jalan-jalan (jalur-jalur) kemusyrikan dan kekuturan..??? 

Apakah kalian tidak mengetahui bahwa itu adalah jalan kekariran dan sudah dibentengi...karena 
kalau seandainya itu berhasil -ini hanya mengandai-andai - maka itu tidak akan menjadi hukum 
Allah, akan tetapi itu adalah hukum undang-undang, hukum rakyat, dan hukum mayoritas. Dan tidak 
akan menjadi hukum Allah kecuali saat adanya berserah diri dan menerima sepenuhnya akan firman Allah, 
dada lapang untuk menerima syari'at-Nya dan untuk menghamba kepada-Nya subhaanahu wa ta'aala. 
Adapun saat menerima penuh ajaran demokrasi, syarTat undang-undang, dan hukum rakyat serta hukum 
mayoritas, maka itu adalah hukum thaghut meskipun pada saat yang bersamaan sesuai dengan hukum Allah 
dalam beberapa bentuknya, karena Allah subhaanahu wa ta'aala telah berfirman: 

"Keputusan itu hanyalah milik Allah" (Qs: Yusuf: 40) 

Allah tidak mengatakan: Keputusan itu hanyalah milik manusia," dan Allah subhaanahu wa ta'aala juga 
berfirman: 



"Dan hendaklah kalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah" (Qs: 
Al-Maa-idah:49) 

Allah tidak mengatakan: "menurut seperti apa yang Allah turunkan," atau,"dan hendaklah putuskan 
di antara mereka menurut apa yang ditegaskan oleh hukum dan undang-undang buatan," justru itu adalah 
ucapan kaum musyrikin dari kalangan budak-budak demokrasi dan para penyembah undang-undang bumi. 

Kemudian dimana kalian? Apakah kalian masih menutup telinga? Apakah kalian mengubur kepala 
kalian dalam pasir? 

Apakah kalian masih belum percaya bahwa majelis-majelis ini adalah bola mainan di tangan thaghut, 
dia bisa membukanya, menutupnya, mengaktifkannya, dan membubarkannya kapan saja dan saat dia suka, 
dan sesungguhnya tidak akan ada undang-undang yang dibuat sehingga disahkan dan disetujui oleh thaghut. 
Maka kenapa kalian masih tetap bersikukuh di atas kekufuran yang jelas ini...dan ngotot di atas kehinaan 
yang nampak ini..?? 

Kemudian setelah ini semua jelas tetap saja kalian bisa mendapatkan orang-orang itu dengan 
lugasnya meneriakan dan mengatakan: Bagaimana majelis-majelis ini kita biarkan bagi orang-orang 
komunis atau nasrani atau orang-orang kafir lainnya. . . .?? 

Bila kalian tergolong orang-orang kafir mulhid, maka senanglah kalian dengan keikut sertaan dan 
ikut ambil bagian....silahkan ikut serta bersama mereka dalam kekafiran dan kemusyrikannya bila kalian 
mau, akan tetapi ketahuilah bahwa kebersamaan kalian bersama mereka dalam keadaan ini tidak hanya 
terbatas di kehidupan dunia, namun sebagaimana apa yang Allah subhaanahu wa ta'aala firmankan dalam 
surat An Nisaa setelah menghati-hatikan dari majelis-majelis seperti ini dan Dia memerintahkan untuk 
menjauhi para pelakunya serta tidak duduk bersama mereka, karena kalau tidak mau menuruti perintah-Nya 
maka orang yang duduk itu adalah sama seperti mereka, Dia berfirman seraya menghati-hatikan: 

Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam 
Jahannam (An Nisaa: 140) 

Apakah setelah penjelasan panjang ini semua kalian masih belum yakin bahwa itu adalah 
kemusyrikan yang terang dan kekafiran yang jelas.?? Apakah kalian tidak mengetahui bahwa itu adalah dien 
selain dienullah?? Apakah belum yakin bahwa sesungguhnya itu adalah millah bukan millah tauhid?? Apa 
alasannya kalian bersemangat di atasnya?? 



22lAl-Ghuroba 



Tinggalkan itu buat mereka, ya tinggalkan itu, jauhilah, dan biarkanlah buat para pemeluk ajarannya, 
ikutilah millah Ibrahim yang murni sedang dia bukan tergolong orang-orang musyrik, dan katakanlah 
sebagaimana yang dikatakan oleh cucunya, Yusuf 'alaihissalam pada saat dia dalam keadaan lemah tertindas 
di balik jeraji besi penjara: 

Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedangkan 
mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan 
ya'qub. Tidaklah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. (Yusuf: 37- 
38) 

Wahai saudara-saudaraku...jauhilah thaghut, dan majelis-majelisnya, berlepas dirilah darinya dan kafirlah 
kalian terhadapnya selama keadaan majelis-majelis seperti itu. . . 

Ini adalah kebenaran yang nyata, cahaya yang terang benderang, akan tetapi kebanyakan manusia tidak 
mengetahuinya. . . 

Jauhilah hal itu wahai saudara-saudaraku, berlepas dirilah dari orang-orangnya dan dari kemusyrikannya 
sebelum kesempatan berakhir...dan sebelum datang suatu hari di mana hal itu (meninggalkan dan 
menjauhinya) adalah angan-angan kalian terbesar dan tertinggi, akan tetapi kesempatan sudah tiada, pada 
hari itu penyesalan tidak berguna lagi bagi kalian, tidak pula mengaduh dan mengeluh, semua tiada 
manfaatnya. 

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti " Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan 
berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami". Demikian Allah memperlihatkan 
kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar 
dari api neraka. (Al Baqarah: 166-167) 



23lAl-Ghuroba 



BERHUKUM DENGAN DEMOKRASI KAFIR, TAPI TIDAK MENGELUARKAN DARI ISLAM? 



Ada sebagian orang yang berdalih dengan pendapat Ibnu Abbas(sahabat Rasulullah) dalam menafsirkan 
firman Allah : 

" Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang 
kafir."[QS. Al Maidah :44]. 

Ibnu Abbas mengatakan bahwa kekafiran yang dimaksud diatas ialah, 'Kufrun duna kufrin' atau," Bukan 
kufur yang kalian maksudkan.". 

Atau lebih tepatnya, kekafiran yang tidak menyebabkan murtad.. sehingga konsekuensinya, pemerintah atau 
ulil amri tidak boleh diperangi dan harus taat kepada demokrasi! (dijelaskan pada Bab Jihad) 

Maka kami akan menjelaskannya.. 

Saya katakan sesungguhnya kebenaran yang kami yakini, bahwasanya pendapat Ibnu Abbas dalam 
persoalan ini tidak mungkin dimaksudkan terhadap para penguasa hari ini yang menyingkirkan syariat Islam 
untuk menjadi hukum yang berlaku atas hamba-hamba Allah dan mereka menggantinya dengan hukum- 
hukum buatan manusia, mereka mewajibkan rakyat untuk tunduk dan berhukum dengannya. Sesungguhnya 
maksud dari perkataan beliau " kufrun duna kufrin " adalah seorang qadhi dan amir yang didorong oleh 
syahwat dan hawa nafsunya untuk menetapkan hukum di antara manusia dalam satu atau lebih kasus dengan 
selain hukum Allah, namun dalam hatinya ia masih mengakui bahwa dengan hal itu ia telah berbuat maksiat . 

Ketika kami mengatakan hal ini, kami sama sekali tidak mendatangkan pendapat yang baru. Kami 
meyakini bahwa pendapat ini adalah pendapat yang ditunjukkan oleh nash-nash syar'i yang lurus dan 
merupakan pendapat para ulama salaf dan ulama sesudah mereka . 

Marilah kami tunjukan nash-nash tersebut. . . 

Apa kalian tahu? bahwa ada beberapa atsar dari Ibnu Abbas mengenai ayat ini, sebagiannya memvonis 
kafir secara mutlaq atas orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, sementara sebagian atsar 
lainnya tidak menyebutkan demikian. Karena itu, dalam menafsirkan ayat tersebut ada penjelasan rinci 
yang sudah terkenal. 

l.Imam Waki' meriwayatkan dalam Akhbarul Qudhah 1/41," menceritakan kepada kami Hasan bin Abi 
Rabi' al Jurjani ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdu Razaq dari Ma'mar dari Ibnu Thawus dari 
bapaknya ia berkata," Ibnu Abbas telah ditanya mengenai firman Allah, " Dan barang siapa tidak 
memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir. "Beliau menjawab, 
"Cukuplah hal itu menjadikannya kafirr 

Sanad atsar ini shahih sampai kepada Ibnu Abbas, para perawinya adalah perawi Ash Shahih selain 
gurunya Waki', yaitu Hasan bin Abi Rabi' al Jurjani, ia adalah Ibnu Ja'd al 'Abdi. Ibnu Abi hatim 
mengatakan perihal dirinya," Aku telah mendengar darinya bersama ayahku, ia seorang shaduq." Ibnu Hiban 
menyebutkannya dalam Ats Tsiqat. [lihat Tahdzibu Tahdzib 1/515], dalam At Taqrib 1/505 Al Hafidz 
mengomentarinya," Shaduq." 

Dengan sanad imam Waki' pula imam Ath Thabari (12055) meriwayatkannya, namun dengan lafal, " 
Dengan hal itu ia telah kafir." Ibnu Thawus berkata, " Dan bukan seperti orang yang kafir dengan Allah, 
malaikat dan kitab-kitab-Nyar 

Riwayat ini secara tegas menerangkan bahwa Ibnu Abbas telah memyonis kafir orang yang berhukum 
dengan selain hukum Allah tanpa merincinya , sementara tambahan u Dan bukan seperti orang yang kafir 
dengan Allah, malaikat dan kitab-kitab-Nya bukanlah pendapat Ibnu Abbas, melainkan pendapat Ibnu 
Thawus. 



24lAl-Ghuroba 



2-. Memang benar, ada tambahan yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas dalam riwayat yang lain, yaitu 
riwayat Ibnu Jarir Ath Thabari (12053) menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami 
Ibnu Waki' ia berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Sufyan dari Ma'mar bin Rasyid dari 
Ibnu Thawus, dari ayahnya dari Ibnu Abbas," 

" Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang 
kafir." Q.S Al-Maidah:44 

Ibnu Abbas berkata, " Dengan hal itu ia telah kafir, dan bukan kafir kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab dan 
rasul-rasul-Nya." 

Sanad atsar ini juga shahih, para perawinya adalah para perawi kutubus sitah selain Hanad dan Ibnu 
Waki'. Hanad adalah As Sariy al Hafidz al qudwah, para ulama meriwayatkan darinya kecuali imam 
Bukhari. [Tadzkiratul Hufadz 11/507]. Adapun Ibnu waki' adalah Sufyan bin waki' bin Jarrah, Al Hafidz 
berkata dalam At Taqrib 1/312, "Ia seorang shaduq hanya saja ia mengambil hadits yang bukan riwayatnya, 
maka haditsnya dimasuki oleh hadits yang bukan ia riwayatkan. Ia telah dinasehati, namun ia tidak 
menerima nasehat tersebut sehingga gugurlah haditsnya." Hanya saja ini tidak membahayakan, karena 
Hanad telah menguatkannya. 

Kesimpulannya , tambahan ini dinisbahkan kepada Thawus dalam riwayat Abdu Razaq dan dinisbahkan 
kepada Ibnu Abbas dalam riwayat Sufyan Ats Tsauri. Akibatnya ada kemungkinan ini bukanlah perkataan 
Ibnu Abbas, tetapi sekedar selipan dalam riwayat Sufyan. Ini bisa saja terjadi, terlebih Waki' dalam 
Akhbarul Qudhat telah meriwayatkan atsar ini tanpa tambahan. Namun demikian hal inipun belum pasti. 
Boleh jadi, tambahan ini memang ada dan berasal dari Thawus dan Ibnu Abbas sekaligus, dan inilah yang 
lebih kuat. Wallahu A'lam. 

3- Al Hakim[II/313] telah meriwayatkan dari Hisyam bin Hujair dari Thawus ia berkata, " Ibnu Abbas 
berkata, " Bukan kufur yang mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari 
milah.Maksudnya adalah Kufur duna kufrin." 

Al Hakim mengatakan, " Ini adalah hadits yang sanadnya shahih." Atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi 
Hatim sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir [11/62] dari Hisyam bin Hujair dari Thawus dari 
Ibnu Abbas mengenai firman Allah, "Dan barang siapa tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka 
adalah orang-orang kajir. " Beliau berkata, "Bukan kekufuran yang mereka maksudkan. " 

Hisyam bin Hujair seorang perawi yang masih diperbincangkan. Ia dilemahkan oleh Imam Ahmad bin 
Hanbal dan Yahya bin Ma'in dan lain-lain.[Tahdzibu Tahdzib VI/25].Ibnu 'Ady menyebutkannya dalamAl 
Kamil fi Dhu'afai Rijal [VII/2569]. Demikian juga oleh Al Uqaily dalamAl Dhu'afa al Kabir [IV/238]. 

Tidak ada yang mentsiqahkannya selain ulama yang terlalu mudah mentsiqahkan (mempercayai) seperti 
Al 'Ijli dan Ibnu Sa'ad. Imam Bukhari dan muslim meriwayatkan darinya secara mutaba'ah, bukan secara 
berdiri sendiri. Imam Bukhari tidak meriwayatkan darinya kecuali haditsnya dari Thawus dari Abu Hurairah 
(6720) tentang kisah sulaiman dan perkataannya," Saya akan mendatangi 90 istriku pada malam hari ini...'''' 
Beliau telah meriwayatkannya dengan nomor (5224) dengan mutaba'ah Ibnu Thawus dari ayahnya dari Abu 
Hurairah. 

Adapun imam Muslim, beliau meriwayatkan darinya dua hadits. Pertama, hadits Abu Hurairah di atas 
dengan nomor 1654 juga secara mutaba'ah dari Ibnu Thawus dari bapaknya pada tempat yang sama. Hadits 
yang kedua, adalah hadits Ibnu abbas," Mu'awiyah berkata kepadaku," Saya diberi tahu bahwa saya 
memendekkan rambut Rasulullah di Marwah dengan gunting..." Beliau meriwayatkan dengan nomor 1246 
dari sanad Hisyam bin Hujair dari Thawus dari Ibnu Abbas. Sanad ini mempunyai mutaba'ah dalam tempat 
yang sama dari sanad Hasan bin Muslim dari Thawus. Abu Hatim berkata," Haditsnya ditulis." [Tahdzibu 
Thadzib VI/25]. Maksudnya dilihat terlebih dulu apakah ada mutaba'ahnya sehingga haditsnya bisa 
diterima, atau tidak ada mutaba'ah sehingga ditolak ? 

25lAl-Ghuroba 



Maka saya katakan, "Hadits ini di antara hadits-hadits yang setahu kami tidak ada mutaba'ahnya. Dalam diri 
saya ada keraguan tentang keshahihannya meskipun dishahihkan oleh Al Hakim, karena ia terkenal terlalu 
memudahkan dalam menshahihkan hadits, semoga Allah merahmati beliau. 

4- Ibnu Jarir (12063) meriwayatkan dari sanad Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, ia bekata, " jika ia 
juhud (ingkar) terhadap apa yang diturunkan Allah maka ia telah kajir, dan barang siapa mengakuinya 
namun tidak berhukum dengannya maka ia adalah dholim danfasiq. " 

Sanad ini munqathi' (terputus) karena Ali bin Abi Thalhah belum mendengar dari Ibnu Abbas sebagaiamana 
ia juga masih diperbincangkan. [Tahdzibu Tahdzib IV/213-2141. Dalam sanad ini juga terdapat rawi 
bernama Abdullah bi Sholih sekretaris Al Laits, ia diperselisihkan namun sebagian besar ulama 
melemahkanny a . 

Saya katakan, dengan demikian apa yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat 
ditinjau dari segi sanadnya ada yang shahih dan ada yang tidak shahih. Sanad yang shahih ; sebagian 
mengandung pengkatiran secara mutlaq terhadap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah tanpa 
merincinya, sementara sebagian lain mengandung tambahan "dan bukan seperti orang yang kajir kepada 
Allah, Malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya" , meskipun tambahan ini juga merupakan perkataan Ibnu 
Thawus sebagaimana telah dijelaskan di atas. 

Dengan demikian, pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas tak kosong dari kritikan, diterima dan 
ditolak. Dengan demikian, kalau ada seorang muslim yang berpegangan dengan riwayat Ibnu Abbas yang 
telah pasti tentang katirnya orang yang berhukum dengan selain hukum Allah secara mutlaq maka dengan 
alasannya tersebut ia tidak melakukan suatu kesalahan. Demikian kami katakan, meskipun kami cenderung 
menetapkan tambahan tadi dari Ibnu Abbas sebagaimana telah kami sebutkan. 

Atsar Ibnu Abbas bukanlah satu-satunya pendapat dalam masalah ini, tapi ada sebagian orang / 
jama'ah yang telah menganggap atsar Ibnu Abbas sebagai satu-satunya pendapat salaf dan para ulama tafsir, 
bahkan pendapat seluruh firqah najiyah dalam masalah ini. Namun realita berkata lain, karena telah nyata 
adanya perbedaan pendapat di antara ulama salaf dalam masalah ini. Sebagian di antara mereka 
membawanya kepada kekufuran akbar tanpa merincinya. 

Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan dalam tafsirnya (12061) : menceritakan kepadaku Ya'qub bin 
Ibrahim ia berkata menceritakan kepadaku Husyaim ia berkata memberitakan kepadaku Abdul Malik bin 
Abi Sulaiman dari Salamah bin Kuhail dari Alqamah dan Masruq bahwa keduanya bertanya kepada Ibnu 
Mas'ud tentang uang suap, maka beliau menjawab," Harta haram." Keduanya bertanya," Bagaimana jika 
oleh penguasa?" Beliau menjawab," Itulah kekafiran." Kemudian beliau membaca ayat ini: 
" Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang 
ka/ir. " 

Atsar ini sanadnya shahih sampai Ibnu Mas'ud, para perawinya tsiqah para perawi kutubus sitah. [Tahdzibu 
Tahdzib VI/240,VI/41 -42,111/497-498,11/380]. 

Abu Ya'la dalam musnadnya (5266) meriwayatkan dari Masruq," Saya duduk di hadapan Abdullah 
Ibnu Mas'ud, tiba-tiba seorang laki-laki bertanya," Apakah harta haram itu ?" Beliau menjawab," Uang 
suap." Laki-laki tersebut bertanya lagi," Bagaimana kalau dalam masalah hukum." Beliau menjawab," Itu 
adalah kekururan." kemudian beliau membaca ayat: 

"Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang 
yang kajirT 

Atsar ini juga diriwayatkan oleh Al Baihaqi (X/139), Waki' dalam Akhbarul Qudhat 1/52, dan 
disebutkan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Al Mathalibu Al 'Aliyah 11/250, beliau menisbahkannya kepada Al 
Musaddad. Syaikh Habibur Rahman Al A'dzami menukil perkataan imam Al Bushairi dalam komentar 

26lAl-Ghuroba 



beliau atas kitab Al Mathalibu Al 'Aliyah, " Diriwayatkan oleh Al Musaddad , Abu Ya 'la dan Ath Thabrani 
secara mauqufdengan sanadyang shahih, juga diriwayatkan oleh Al hakim dan Baihaqi dari sanad ini... " 

Atsar ini juga disebutkan oleh Imam Al Haitsami dalam Majmauz Zawaid IV/199. Beliau berkata," 
Diriwayatkan oleh Abu Ya'la, sementara guru Abu Ya'la ; Muhammad bin Utsman tidak saya ketahui. " 
Syaikh Habibur Rahman Al A'dzami dalam komentarnya atas kitab Al Mathalibu Al 'Aliyah 11/250 
berkata sebagai jawaban atas pernyataan imam Al Haitsami," Jika ia tidak mengetahui Muhammad bin 
Utsman maka tidak berbahaya, karena Fitha gurunya memiliki mutaba'ah dari Syu'bah dalam riwayat Al 
Hakim dan Al Baihaqi, sementara Muhammad bin Utsman mempunyai mutaba'ah dari Maki bin Ibrahim 
dalam riwayat Al Baihaqi. .." 

Saya katakan, "Ini kalau dianggap shahih riwayat Abu Ya'la dari perkataan Abu Ya'la, "Telah 
menceritakan kepadaku Muhammad bin Ustman dari Umar, " kalau tidak maka syaikh Al A'dzami telah 
menyebutkan dalam tempat yang sama bahwa riwayat yang bersambung adalah telah menceritakan 
kepadaku Muhammad telah menceritakan kepadaku Utsman bin Umar." Muhaqiq Musnad Abu YaTa telah 
tegas menyatakan bahwa yang benar adalah Muhammad dari Utsman bin Umar. Adapun yang ada dalam 
musnad adalah penyimpangan, kemudian beliau berkata," Utsman bin Umar adalah Al Abdi." [lihat 
Musnad Abu YaTa dengan tahqiq :Husain Sualim Asad IX/173-174]. Saya katakan, " Utsman bin Umar 
Al Abdi seorang perawi tsiqah, termasuk perawi kutubus sitah." [Tahdzibu Tahdzib IV/92-93]. 
Ath Thabrani dalam Al Mu'jamu Al Kabir [IX/229 no. 9100] meriwayatkan dari Abul Ahwash dari Ibnu 
Mas'ud ia berkata, " Uang suap dalam masalah hukum adalah kekuiuran dan ia uang haram di antara 
manusia." Al Haitsami dalam Majma' [IV/199] berkata," Para perawinya perawi kitab ash shahih." 

Waki' dalam Akhbarul Qudhat 1/52 meriwayatkannya dengan lafal, "Hadiah atas vonis (yang 
menguntungkan) adalah kekururan, ia uang haram di antara kalian." 

Saya katakan," Atsar dari Ibnu Mas'ud ini membedakan antara uang suap yang terjadi di antara sesama 
manusia dengan yang terjadi di antara para penguasa atau qadhi saja. Yang pertama sekedar uang haram, 
sementara yang kedua telah kafir. Tak diragukan lagi maksud beliau adalah kafir akbar, dengan dua alasan : 

Satu. Beliau menyebutkannya secara mutlaq tanpa ada ikatan. Kata kufur jika disebutkan secara mutlaq 
maka maknanya adalah kafir akbar, sebagaimana sudah dimaklumi bersama. 

Dua. Beliau menyebutkannya sebagai lawan dari uang haram, sementara melakukan suap yang merupakan 
sebuah harta haram adalah kafir asghar. Dengan demikian, kebalikannya adalah kafir akbar. Al Jashash 
dalam Ahkamul Qur'an II/433 berkata," Ibnu Mas'ud dan Masruq telah mentakwilkan haramnya hadiah 
bagi penguasa atas penanganan perkaranya. Beliau mengatakan," Sesungguhnya menerima uang suap bagi 
para penguasa adalah kekatiran." 

Perbedaan pendapat yang kami jelaskan ini juga dikuatkan oleh apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim 
dalam Madariju As Salikin 1/336-337, di mana beliau mengatakan," Ibnu Abbas berkata," Bukanlah 
kekajiran yang mengeluarkan dari milah, tapi jika ia mengerjakannya berarti telah kajir namun bukan 
seperti orang yang kajir kepada Allah dan hari akhir." Demikian juga pendapat Thawus...Ada yang 
mentakwil ayat ini kepada makna para penguasa yang meninggalkan berhukum dengan hukum Allah karena 
juhud (mengingkari). Ini adalah pendapat Ikrimah, dan pendapat ini lemah karena mengingkari itu sendiri 
merupakan kekatiran baik ia sudah berhukum maupun belum. Ada juga yang mentakwilnya dengan makna 
meninggalkan berhukum dengan seluruh kandungan kitabullah...ada juga yang mentakwilnya dengan 
berhukum dengan hukum yang bertentangan dengan nash-nash secara sengaja, bukan karena salah dalam 
mentakwil. Ini disebutkan oleh Imam al Baghawi dari para ulama secara umum. Ada juga yang 
mentakwilnya bahwa ayat ini untuk ahlul kitab...sebagian lainnya membawa makna ayat ini kepada 
kekafiran yang mengeluarkan dari milah. " 

Pendapat yang dinukil oleh Ibnu Oayyim ini secara tegas menerangkan bahwa pendapat Ibnu Abbas 
yang dijadikan patokan oleh sebagian orang bukanlah satu-satunya pendapat dalam masalah ini. Sebagian 
salaf ada yang membawa kekafiran dalam ayat ini kepada makna kafir yang mengeluarkan dari milah, 
sementara sebagian lainnya tidak demikian. 

27lAl-Ghuroba 



Dengan ini semua, kalau ada yang berpendapat bahwa setiap orang yang berhukum dengan selain hukum 
Allah telah kafir dengan kafir akbar yang mengeluarkan dari milah , maka ia telah mempunyai ulama salaf 
yang lebih dulu mengatakan hal itu . Wallahu A'lam. 

Hal ini kami sampaikan, meskipun kami sendiri meyakini bahwa pendapat yang benar dalam masalah ini 
bahwa kata "kafir" tersebut mengandung dua macam kekatii an ; kafir asghar dan kafir akbar sesuai 

kondisi orang yang berhukum dengan selain hukum Allah. Jika ia berhukum dengan selain hukum Allah ; ia 
mengakui wajibnya berhukum dengan hukum Allah, mengakui perbuatannya tersebut adalah maksiat dan 
dosa dan berhak dihukum, maka ini kafir asghar. Namun apabila ia berhukum dengan selain hukum Allah ; 
karena menganggap remeh hukum Allah, atau meyakini selain hukum Allah ada yang lebih baik, atau sama 
baik atau ia boleh memilih antara berhukum dengan hukum Allah dan hukum selain Allah, maka ini kafir 
akbar. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Oayyim, sebagaimana akan saya jelaskan nanti. Dan ini pulalah 
makna dari pendapat Ibnu Abbas di atas. 

Namun kami tetap mengatakan atsar ini adalah untuk seorang penguasa yang memutuskan sebuah kasus 
atau lebih dengan selain hukum Allah dalam kondisi syariat Islam menjadi satu-satunya syariat yang 
berkuasa, jadi yang terjadi adalah "penyimpangarT dari syariat Allah. Adapun orang-orang yang 
menetapkan undang-undang dan memutuskan perkara di antara manusia dengan undang-undang ketetapan 
mereka tersebut yang tidak mendapat izin Allah, maka perbuatan mereka ini kafir akbar mengeluarkan dari 
milah, dikarenakan mereka telah memasuki wilayah kekuasaan khusus bagi Allah yaitu tasyri' (pembuatan 
syariat). 

Kami katakan ," Ketika kami membedakan antara penguasa yang berhukum dalam satu kasus atau lebih 
dengan selain hukum Allah, dengan penguasa yang menetapkan undang-undang selain Allah, dan kami 
membawa pendapat Ibnu Abbas untuk makna al qadha' (memutuskan suatu perkara), bukan untuk masalah 
tasyri' (membuat atau menetapkan undang-undang ), pendapat yang kami pegangi ini bukanlah takwil 
serampangan, justru hal ini berarti membawa lafadz kepada makna asalnya dalam pengertian secara bahasa. 

Karena makna Al hukmu ( berhukum, memutuskan perkara ) secara bahasa adalah al qadha', 
sebagaimana disebutkan dalam Al Qamus IV/98. 

Secara istilah Al Qur'an, terkadang bermakna al qadha' sebagaimana firman Allah: 

" Maka putuskanlah perkara di antara mereka dengan hukum Allah." [QS. Al Maidah :49]. 

Dan firman-Nya: 

Dan janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil dan kalian 
membawanya kepada para hakim. "[QS. Al Baqarah :188]. 

Terkadang dalam Al Qur'an bermakna qadar (taqdir), itulah yang disebut para ulama dengan istilah hokum 
kauni syar'i. Sebagaimana firman Allah Ta'ala: 

" Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir sampai ayah mengizinkanku untuk kembali atau 
Allah memberi keputusan kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Hakim yang sebaik-baiknya.. /QS. Yusuf 
:108]. 

Terkadang bermakna tasyri', itulah yang disebut oleh para ulama dengan istilah hukum syar'i, sebagaimana 
firman Allah Ta'ala: 

"Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang Ia kehendaki. "[QS.A1 Maidah:l]. 
Perkataan Ibnu Abbas berkenaan dengan firman Allah: 

28lAl-Ghuroba 



"Dan barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah 
orang-orang yang kafir... " [QS. Al Maidah: 44] 

Ketika kami mengatakan bahwa "al hukmu" yang dimaksud dalam atsar Ibnu Abbas adalah al qadha' 
dan bukan makna tasyri', maka kami sama sekali tidak menakwil. Karena takwil yang dimaksud di sini 
adalah memalingkan lafal dari makna dhahirnya. Apakah kami memalingkan lafal ini dari dhahirnya ? 
Ataukah kami kembalikan kepada makna asalnya yaitu al qadha ? 

Bahkan saya mendapati perkataan Ibnu Abbas sendiri yang menunjukkan beliau membawa makna al 
hukmu kepada makna al qadha' secara mutlaq. Yaitu dalam riwayat ath Thabrani dalam Al Mu'jamu Al 
Kabir X/226 no. 10621, dari Ibnu Buraidah Al Aslami ia berkata," Seorang laki-laki mencela Ibnu Abbas. 
Maka Ibnu Abbas menjawab, "Anda mencela saya padahal saya mempunyai tiga sifat ; Saya membaca satu 
ayat Al Qur'an lalu saya ingin agar manusia bisa memahami maknanya sebagaimana saya memahaminya, 
saya mendengar ada seorang hakim dari hakim-hakim kaum muslimin yang adil dalam hukumnya maka 
saya senang karenanya padahal barangkali tak sekalipun aku akan mengadukan permasalahanku kepadanya , 
dan aku mendengar hujan jatuh di salah satu negeri kaum muslimin maka aku senang karenanya padahal aku 
tidak mempunyai hewan ternak di negeri tersebut." 

Al Haitsami dalam Majmauz Zawaid IX/284 berkata, "Para perawinya adalah perawi kitab ash shahih." 
Saya katakan, "Bukti (kebenaran yang saya sampaikan ini) adalah perkataan beliau "seorang hakim dari 
hakim-hakim kautn muslimin''' serta perkataan beliau "padahal barangkali tak sekalipun aku akan 
mengadukan permasalahanku kepadanya^. Hal ini jelas menunjukkan bahwa beliau membawa makna al 
hukmu kepada makna al qadha' secara mutlaq. Bagaimanapun keadaannya, sebuah lafal jika mempunyai 
beberapa makna, maka memilih salah satu maknanya sama sekali tidak dianggap sebuah takwil . 

Sesungguhnya yang membawa kami untuk membedakan antara seorang penguasa yang membuat serta 
menetapkan undang-undang selain syariat Allah untuk hamba-hamba-Nya dan mewajibkan mereka 
berhukum dengannya , dengan seorang penguasa yang memutuskan suatu perkara di antara rakyatnya 
dengan selain hukum Allah, padahal mereka telah menetapkan syariat Allah sebagai hukum. Kami 
nyatakan penguasa pertama telah kafir keluar dari milah sementara penguasa kedua berada di antara dua 
kemungkinan ; kafir asghar atau kafir akbar. Kami membawa perkataan Ibnu Abbas kepada penguasa 
yang kedua. Kami katakan ada banyak dalil yang menjelaskan dalam permasalahan ini, di antaranya : 

Dalil-dalil yang menegaskan bahwa 
tasyri' selain dari Allah adalah kafir akbar 

Sesungguhnya nash-nash syariat telah menunjukkan bahwa siapa yang menetapkan undang-undang 
untuk manusia selain hukum Allah dan mewajibkan mereka untuk berhukum dengannya, ia telah melakukan 
kafir akbar yang mengeluarkannya dari milah, berdasar beberapa dalil berikut ini : 

(a). Di antaranya firman Allah : 

"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. 
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) 
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benarberiman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu 
adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. " [QS. An Nisa' :59]. 

Ayat yang mulia ini telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengembalikan urusan mereka saat terjadi 
perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini menerangkan bahwa mereka tidak beriman kepada Allah 
dan Rasul-Nya jika tidak melakukan perintah ini. Sebabnya adalah karena ayat ini menjadikan pengembalian 
urusan kepada Allah dan rasul-Nya — sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qayyim, '"Sebagai tuntutan dan 
kewajiban dari iman. Jika pengembalian urusan kepada Allah dan rasul-Nya ini hilang maka hilang pulalah 
iman, sebagai bentuk hilangnya malzum (akibat) karena laiimnya (sebabnya) telah hilang. Apalagi antara 
dua hal ini merupakan sebuah kaitan yang erat, karena terjadi dari kedua belah pihak. Masing-masing hal 
akan hilang dengan hilangnya hal lainnya..." [A'lamul Muwaqi'in 1/84]. 



29lAl-Ghuroba 



Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, "Maksudnya kembalikanlah perselisihan dan halyang 
kalian tidak ketahui kepada kitabullah dan sunah rasulullah. Berhukumlah kepada keduanya atas persoalan 
yang kalian perselisihkan " Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir ". Hal ini menunjukkan bahwa 
siapa tidak berhukum kepada Al Qur'an dan As Sunah serta tidak kembali kepada keduanya ketika terjadi 
perselisihan maka ia tidak beriman kepada Allah dan tidak juga beriman kepada hari akhir. "[Tafsir Al 
Qur'an Al 'Adzim 1/519]. 

Lalu saya bertanya kepadamu, "Apa yang dilakukan oleh para penetap undang-undang? Bukankah 
mereka mengembalikan seluruh perselisihan dan perbedaan pendapat di antara mereka kepada selain 
kitabullah dan sunah Rasulullah ?" 

Di antaranya juga adalah tirman Allah: 

" Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang 
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu. Mereka hendak berhakim kepada 
thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan 
mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.'''' [QS. An Nisa' :60]. 

Ayat ini mendustakan orang yang mengaku beriman namun pada saat yang sama mau berhukum dengan 
selain syariat Allah. Ibnu Qayyim dalam A'lamul Muwaqi'in 1/85 berkata, " Lalu Allah Subhanahu wa 
Ta'ala memberitahukan bahwa siapa saja yang berhukum atau memutuskan hukum dengan selain apa yang 
dibawa Rasulullah, berarti telah berhukum atau memutuskan hukum dengan hukum thagut. Thaghut adalah 
segala hal yang melewati batas hamba, baik berupa hal yang disembah, diikuti, atau ditaati. Thaghut setiap 
kaum adalah sesuatu yang mereka berhukum kepadanya selain Allah dan rasul-Nya, atau sesuatu yang 
mereka sembah atau sesuatu yang mereka ikuti tanpa landasan dari Allah atau mereka mentaatinya dalam 
hal yang mereka tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah ketaatan yang menjadi hak Allah." 

Ibnu Katsir saat menatsirkan ayat ini mengatakan dalam tatsirnya 1/520," Ini merupakan pengingkaran 
Allah terhadap orang yang mengaku beriman kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasulullah dan para 
nabi terdahulu, namun pada saat yang sama dalam menyelesaikan perselisihan ia mau berhukum kepada 
selain kitabullah dan sunah rasul-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam sebab turunnya ayat ini ; seorang 
shahabat anshor berselisih dengan seorang yahudi. Si Yahudi berkata,"Pemutus perselisihanku denganmu 
adalah Muhammad." Si shahabat Anshar berkata," Pemutus perselisihanku denganmu adalah Ka'ab bin Al 
Asyraf." Ada juga yang mengatakan ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang munafiq yang 
menampakkan keislaman mereka namun mau berhukum kepada para pemutus hukum dengan hukum 
jahiliyah. Ada yang mengatakan selain ini. Yang jelas, ayat ini lebih umum dari sekedar alasan-alasan ini. 
Ayat ini mencela orang yang berpaling dari Al Qur'an dan As Sunah dan malahan berhukum kepada selain 
keduanya. Inilah yang dimaksud dengan thaghut dalam ayat ini." 

Lalu tirmanNya; 

" Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim 
dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka 
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." [QS. An Nisa': 65]. 

Dalam ayat ini Allah telah meniadakan iman, bahwa orang yang tidak menjadikan Rasulullah sebagai 
pihak yang memutuskan perkara yang mereka perselisihkan tidaklah beriman. 

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tatsirnya 1/521," Allah Ta'ala bersumpah dengan Dzat-Nya yang Mulia 
dan Suci bahwasanya seseorang tidak beriman sampai ia menjadikan Rasul sebagai hakim dalam seluruh 
urusan. Apa yang diputuskan Rasul itulah kebenaran yang wajib dikuti secara lahir dan batin." 

Imam Ibnu Qayim juga berkata mengenai ayat ini : 

" Allah bersumpah dengan Dzat-Nya atas tidak adanya iman pada diri hamba-hamba-Nya sehingga mereka 
menjadikan Rasul sebagai hakim/pemutus segala persoalan di antara mereka, baik masalah besar maupun 

30IA1-Ghuroba 



perkara yang remeh. Allah tidak menyatakan berhukum kepada Rasulullah ini cukup sebagai tanda adanya 
iman, namun lebih dari itu Allah menyatakan tidak adanya iman sehingga dalam dada mereka tidak ada lagi 
perasaan berat dengan keputusan hukum beliau. Allah tetap tidak menyatakan hal ini cukup untuk 
menandakan adanya iman, sehingga mereka menerimanya dengan sepenuh penerimaan dan ketundukan." 
[A'lamul Muwaqi'in 1/86]. 

Lalu firmanNya; 

"Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari. Dan siapakah yang lebih baik hukumnya dari Allah bagi kaum 
yangyakin ?"[QS.AlMaidah:50]. 

Allah Azza Wa Jalla menyebutkan hukum jahiliyah yaitu perundang-undangan dan system jahiliyah 
sebagai lawan dari hukum Allah, yaitu syariat dan system Allah. Jika syariat Allah adalah apa yang dibawa 
oleh Al Qur'an dan As Sunah, maka apalagi hukum jahiliyah itu kalau bukan perundang-undangan yang 
menyelisihi Al Qur'an dan As Sunah ? 

Perhatikanlah ayat yang mulia ini, bagaimana ia menunjukkan bahwa hukum itu hanya ada dua saja. Selain 
hukum Allah, yang ada hanyalah hukum Jahiliyah. Dengan demikian jelas, para penetap undang-undang 
merupakan kelompok orang-orang jahiliyah; baik mereka mau (mengakuinya) ataupun tidak. Bahkan 
mereka lebih jelek dan lebih berdusta dari pengikut jahillliyah. Orang-orang jahiliyah tidak melakukan 
kontradiksi dalam ucapan mereka, sementara para penetap undang-undang ini menyatakan beriman dengan 
apa yang dibawa Rasulullah namun mereka mau mencari celah. 

Dalam tafsirnya 11/68, Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: 

"Allah mengingkari orangyang keluar dari hukum Allah yang muhkam yang memuat segala kebaikan dan 
melarang segala kerusakan, kemudian malah berpaling kepada hukum lain yang berupa pendapat- 
pemdapat, hawa najsu dan istilah-istilah yang dibuat oleh para tokoh penguasa tanpa bersandar kepada 
syariah Allah. Sebagaimana orang-orang pengikut jahiliyah bangsa Tartar memberlakukan hukum ini yang 
berasal dari system perundang-undangan raja mereka, Jengish Khan. Jengish Khan membuat undang- 
undang yang ia sebut Ilyasiq, yaitu sekumpulan peraturan perundang-undangan yang diambil dari banyak 
sumber, seperti sumber-sumber Yahudi, Nasrani, Islam dan lain sebagainya. Di dalamnya juga banyak 
terdapat hukum-hukum yang murni berasal dari pikiran dan hawa najsunya semata. Hukum ini menjadi 
undang-undang yang diikuti oleh keturunan Jengis Khan, mereka mendahulukan undang -undang ini atas 
berhukum kepada Al Qur'an dan As Sunah . Barang siapa berbuat demikian maka ia telah kafir, wajib 
diperangi sampai ia kembali berhukum kepada hukum Allah dan rasul-nya, sehingga tidak berhukum 
dengan selainnya baik dalam masalah yang banyak maupun sedikit . " 

Lalu bukankah para penguasa kita hari ini menetapkan undang-undang dengan mengambil dari berbagai 
perundang-undangan Barat yang kafir ? Mereka mewajibkan rakyat untuk taat dan tunduk kepada undang- 
undang mereka, tanpa terkecuali kecuali apa yang mereka namakan hukum ahwal syakhsiyah (nikah, cerai, 
rujuk — pent), itupun tak lepas dari kejahatan mereka, mereka memasukkan di dalamnya hukum-hukum 
mereka yang bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunah. 

Kami katakan tidak ada perbedaan antara Tartar dengan para penguasa kita hari ini, justru para penguasa 
kita hari ini lebih parah dari bangsa Tartar! 

Ibnu Katsir berkata tentang peristiwa tahun 694 H," Pada tahun itu kaisar Tartar Qazan bin Arghun bin 
Abgha Khan Tuli bin Jengis Khan masuk Islam dan menampakkan keislamannya melalui tangan amir Tuzon 
rahimahullah. Bangsa Tartar atau mayoritas rakyatnya masuk Islam, kaisar Qazan menaburkan emas, perak 
dan permata pada hari ia menyatakan masuk Islam. Ia berganti nama Mahmud. .." 

Beliau juga mengatakan dalam Bidayah wa Nihayah, "Terjadi perdebatan tentang mekanisme 
memerangi bangsa Tartar, karena mereka menampakkan keislaman dan tidak termasuk pemberontak. 
Mereka bukanlah orang-orang yang menyatakan tunduk kepada imam sebelum itu lalu berkhianat. Maka 
syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Mereka termasuk jenis Khawarij yang keluar dari Ali dan Mu'awiyah 
dan mereka melihat diri mereka lebih berhak memimpin. Mereka mengira lebih berhak menegakkan 
31lAl-Ghuroba 



dien dari kaum muslimin lainnya dan mereka mencela kaum muslimin yang terjatuh dalam kemaksiatan 
dan kedzaliman, padahal mereka sendiri melakukan suatu halyang dosanya lebih besar berlipat kali dari 
kemaksiatan umatlslam lainnya^ 

Maka para ulama dan masyarakat memahami sebab harus memerangi bangsa Tartar. Syaikhul Islam 
Ibnu Taimiyah mengatakan kepada masyarakat, "Jika kalian melihatku bersama mereka sementara di atas 
kepalaku ada mushaf, maka bunuhlah aku. "[Al Bidayah wan Nihayah XIV/25, lihat juga Majmu' 
FatawaXXVIII/501-502,XXVIII/509dst]. 

Maksud dari disebutkannya peringatan ini adalah menerangkan tidak benarnya alasan orang yang 
mengatakan para penguasa hari ini menampakkan Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat sehingga 
tidak boleh memerangi mereka. Bangsa Tartar juga demikian halnya, namun hal itu tidak menghalangi 
seluruh ulama untuk menyatakan kekafiran mereka dan wajibnya memerangi mereka, disebabkan karena 
mereka berhukum dengan Alyasig yang merupakan undang-undang yang paling mirip dengan undang- 
undang demokrasi yang hari ini menguasai mayoritas negeri-negeri umat Islam. 



32lAl-Ghuroba 



ANSHAR THAGUT 



33lAl-Ghurob 



Di tahanan Al Jifr Ash Shahraawi, ketika beberapa tentara dari kantor daerah memukuli beberapa teman- 

teman kami dengan tongkat besar dan mendera mereka dengan kabel listrik.... 

Teman kami itu berkata kepada mereka: Tidakkah kalian takut kepada Allah? Tidakkah kalian tahu disana 

ada adzab dan hisab? Dan sesungguhnya penjara neraka jahannam lebih besar dari pada penjara kalian 

ini...? 

Berkata salah seorang diantara mereka sambil menderanya dengan bengis: Tidak!! Aku tidak takut!!! 

Karena aku anti (punya penghalang) duduk di neraka jahannam... 

Teman kami tadi berkata: Jangan kalian katakan: Kami tidak masuk ke dalam negara yang bathil 

sebagaimana yang selalu kalian katakan, dan kalian beralasan bahwa kalian hanyalah seorang hamba yang 

diperintah, karena kalian disini adalah alat dari alat-alat thaghut dan tangan yang digunakan untuk 

menyiksanya kami.... Lihatlah kepada atasan kalian yang berpergian ke Amerika dan dia tidak mengetahui 

keberadaan kalian, sedangkan kalian disini menindas dan meyiksa kami, kalian akan membawa dosa 

perbuatan kalian, maka jangan kalian katakan kami tidak memasukinya, pada hari kiamat nanti sebagian 

mengingkari sebagian yang lainnya dan sebagian akan berlepas diri dari sebagian yang lainnya.... Maka 

mengapa kalian tidak berlepas diri dari mereka sekarang saja.... 

Berkata salah seorang diantara mereka: Diam saja kamu dari membicarakan kekuasaan atasanku, jika 

kamu tambah satu kalimat saja maka aku akan membuatmu dishalati dua rakaat untuk dia.... 

Ketika mereka sedang menyiksa, teman kami itu bertanya tentang kiblat untuk shalat wajib, maka 

interogator (penyiksa) itu menjawab dengan berkata: Bagi kami tidak ada kiblat dan disini tidak ada 

shalat... 

Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi 
Penjara Al Jifr Ash Shahraawi - Urdun - 1416 H 



34lAl-Ghurob 



PEJUANG DEMOKRASI 

ANSHAR THAGUT 

Yang dimaksud dengan Anshar Thaghut adalah orang-orang yang membela-bela atau berjuang atau 
berperang untuk membela dan mempertahankan thaghut, baik dengan lisan, tulisan ataupun dengan kekuatan 
(senjata). 

Anshar Thaghut Dengan Lisan & Tulisan 

Yaitu para pembela thaghut yang berjuang membela thaghut dengan lisan, dan kelompok yang 
masuk di dalamnya adalah 'ulama-'ulama suu' (jahat) yang membela-bela thaghut dengan menyatakan 
bahwa pemerintah (Thaghut) adalah pemerintah Islam atau Amirul Mu'minin atau pemimpin kaum 
muslimin yang wajib diberikan loyalitas, sedangkan orang yang memberontak terhadap thaghut ini atau 
orang yang berusaha untuk menjatuhkannya, maka mereka katakan sebagai bughat (pembangkang) atau 
sebagai Khawarij. Atau para Mujahidin yang berupaya untuk menjatuhkan dan memeranginya, mereka 
(ulama-ulama suu') katakan sebagai bughat atau Khawarij. Maka 'ulama yang seperti ini termasuk dalam 
barisan anshar thaghut. 

Juga masuk ke dalam bagian ini adalah para i'lamiyyun seperti orang-orang media yang membela 
thaghut dengan lisan dan atau tulisannya, yang menyebarkan paham (isme) thaghut atau membela sistem 
thaghut dengan lisannya melalui media-media mereka, baik itu televisi, media cetak, radio atau melalui apa 
saja yang membela-bela thaghut dan mengokohkan sistem thaghut, maka ini termasuk anshar thaghut. 

Anshar Thaghut Yang Membela 
Dengan Senjata Atau Dengan Fisiknya 

Dalam kelompok ini masuk di dalamnya aparat-aparat thaghut yang memang secara sengaja mereka 
dibentuk dan diadakan untuk tujuan mengokohkan atau untuk menjadi aparat pelindung yang menegakkan 
hukum thaghut ini, atau untuk mengokohkan singgasana thaghut atau sistemnya. 

Jika kita meninjau Undang Undang Dasar 1945 yang ada di negeri ini, maka kita akan mengetahui 
bahwa aparat kepolisian itu adalah sebagai aparat keamanan yang menegakkan keamanan dan penegak 
hukum. Mereka adalah sebagai aparat thaghut yang menegakkan hukum thaghut ini dan mereka juga yang 
menghadang orang-orang yang berupaya untuk merongrong hukum thaghut ini atau melanggar hukum 
thaghut ini. 

Kemudian aparat militer atau tentara, mereka adalah sebagai pelindung yang menjaga serangan dari 
luar dan yang mengokohkan pemerintah kafir ini, juga yang menghadang segala penyerangan, baik itu 
penyerangan dari kelompok orang-orang yang bertauhid atau pun dari kelompok lainnya. Jadi, tentara atau 
aparat militer dibuat dan dibentuk sebagai pelindung yang melindungi negara kafir ini dan termasuk di 
dalamnya sistem thaghut ini berikut para thaghutnya. 

Begitu juga Badan Intelejen Negara, mereka yang mengokohkan thaghut ini dengan fisiknya, atau 
memata-matai kaum muslimin (tajassus 'alal muslimin) maka mereka ini termasuk anshar thaghut. 
Kelompok atau front atau barisan atau apa saja yang mana mereka menggunakan fisik dan senjatanya dalam 
rangka mengokohkan sistem thaghut ini, baik itu undang-undangnya atau sistem demokrasinya atau 
pemerintahan kafirnya ataupun falsafah syiriknya, maka mereka itu termasuk barisan anshar thaghut. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam banyak ayat Al Qur'an telah menggolongkan atau telah 
menyamakan thaghut bersama ansharnya di dalam hukum atau sanksi di dunia dan sanksi di akhirat. 



35lAl-Ghuroba 



Sanksi di dunia ini adalah sebagaimana saat Allah menghancurkan Fir'aun bersama bala tentaranya. 
Fir'aun adalah thaghutnya, kemudian bala tentaranya adalah ansharnya. Allah telah menghancurkan mereka 
semua, Allah menyamakan mereka semua dan tidak memilah-milah antara Fir'aun dengan tentaranya atau 
thaghut dengan ansharnya, Allah Ta 'ala mengatakan : 

"Maka Kami siksa dia (Fir'aun) dan bala tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang 
dia melakukan pekerjaan yang tercela ". (Adz Dzaariyaat : 40) 

Di sini Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menyamakan Fir'aun dengan bala tentaranya (ansharnya) 
dalam hukum atau sanksi yang diberikan kepada mereka di dunia ini. 

Kemudian dalam masalah hukum atau vonis di akhirat yang berkaitan dengan masalah dosanya, 
maka Allah menyamakan mereka, yaitu Fir'aun dengan tentaranya atau thaghut dengan ansharnya, Allah 
Subhanahu Wa Ta 'ala mengatakan : 

"Sesungguhnya Fir'aun dan Haaman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah ". (Al Qashash 
:8) 

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Fir'aun (thaghutnya), Hamman (dia adalah menterinya) atau 
para pejabat yang ada di sekelilingnya, dan para tentara-tentaranya; seperti polisi atau aparat militernya, 
bahwa mereka adalah orang-orang yang bersalah. 

Dalam dua ayat di atas Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menyamakan mereka (thaghut dan 
ansharnya) dengan hukum atau sanksi, baik itu di dunia maupun di akhirat. Dalam surat Adz Dzaariyat 
dikisahkan bahwa Allah menenggelamkan mereka semua tanpa memilah-milah mana thaghut atau mana 
yang ansharnya, dan di dalam surat Al Qashash Allah juga menwonis mereka sebagai orang-orang yang 
bersalah. 

Fir'aun dan para pejabat bawahannya serta bala tentaranya atau thaghut dan ansharnya Allah samakan 
dalam vonis di dunia dan akhirat, dikarenakan si thaghut ini tidak bisa menjalankan kekuasannya atau 
melaksanakan hukum-hukum bathilnya, kekafiran dan kezhalimannya tanpa ansharnya itu. Thaghut hanya 
memerintahkan atau menginstruksikan saja sedangkan ansharnyalah yang langsung melaksanakan 
kezhalimannya. Tanpa ada anshar di sekeliling thaghut, maka si thaghut tidak akan bisa berbuat apa-apa. 
Ansharnyalah yang mengokohkan thaghut berikut sistemnya. 

Seandainya ada sekelompok masyarakat yang ingin membunuh thaghut yang mana padahal dia hanya 
sendirian, sebelum berhadapan dengan thaghut maka sekelompok masyarakat ini akan berhadapan dengan 
ansharnya terlebih dahulu, ansharnyalah yang pertama kali menghalangi sekelompok masyarakat itu untuk 
membunuh thaghutnya. Jadi thaghut ini dilindungi oleh ansharnya. Anshar ini sebagai pasak atau pengokoh 
singgasana thaghut dan pemerintahannya, dengan anshar inilah si thaghut itu melaksanakan kebathilannya. 
Dengan sebab inilah Allah menwonis para anshar ini sebagai autad (pasak), Allah Subhanahu Wa Ta'ala 
mengatakan : 

"Dan Fir'aun yang mempunyai autad/pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang 
dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan 
kepada mereka cemeti 'adzab" (Al Fajr : 10-13) 

Di sini Allah Subhanahu Wa Ta'ala menetapkan bahwa Fir'aun kokohnya adalah dengan autad 
(pasak/paku), tanpa ada anshar maka kekuasaan thaghut tidak akan berlangsung lama. Kokohnya sistem 
thaghut ini adalah karena adanya anshar di sekeliling thaghut. Sehingga sanksi yang akan mereka terima 
adalah sama, baik itu thaghutnya maupun ansharnya, dan begitu juga dalam sisi kebersalahannya. . . 



36lAl-Ghuroba 



Maka dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa status anshar thaghut itu sama dengan 
thaghutnya, yaitu KAFIR. Anshar thaghut mendapatkan vonis seperti apa yang diterima oleh thaghutnya. Di 
dunia dia divonis kafir dan di akhirat juga dia kekal di dalam api neraka (jika tidak bertaubat hingga ajal) 

DALIL-DALIL TENTANG KEKAFIRAN ANSHAR THAGUT 

I. Dari Alqur'an 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : 

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut, 
maka perangilah wali-wali syaitan itu " (An Nisa : 76) 

Dalam ayat ini secara jelas Allah menetapkan vonis bahwa orang yang berperang di jalan Allah maka 
dia adalah orang yang beriman, sedangkan orang yang berperang di jalan thaghut adalah orang kafir. 

Orang yang berperang, baik itu berperang dengan lisan, tulisan atau dengan senjata dan fisiknya. Jika 
dia berperang atau melakukan pembelaannya di jalan Allah, maka dikatakan sebagai orang-orang yang 
beriman, dan orang yang berperang atau melakukan pembelaan di jalan thaghut, maka itu adalah orang kafir. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memvonis secara sharih (jelas dan gamblang) bahwa orang yang berjuang 
dalam rangka mengokohkan sistem thaghut atau membela thaghut adalah orang kafir, baik itu dengan 
lisan/tulisan seperti para 'ulama suu' atau orang-orang media ataupun orang yang terjun dengan fisik dan 
senjata seperti aparat tentara dan polisi atau orang-orang intelejen atau yang sejenisnya, Allah Subhanahu 
Wa Ta'ala mengatakan tentang orang ini : "maka perangilah wali-wali syaitan itu". 

Dari ayat ini diambil kaidah baku, bahwa hukum asal pada anshar thaghut adalah hukumnya kafir. 
Atau hukum asal pada orang yang menampakkan sikap pembelaan terhadap thaghut adalah adalah hukum 
kafir. Atau hukum asal dari barisan anshar thaghut adalah hukum kafir. 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : 

"Barangsiapa yang tawalliy kepada mereka (orang kafir) maka ia termasuk golongan mereka " (Al Maidah 
:51) 

Di antara makna tawalliy adalah :A1 Mahabbah (Kecintaan), Al Mudlaharah atau An Nushrah 
(Pembelaan), Al Muwaffaqah (Menyetujui), Al Mutaba'ah (Mengikuti) 

Para ulama menjelaskan bahwa barang siapa membela mereka atas kaum muslimin maka dia 
termasuk golongan mereka 

Anshar thaghut yang membela-bela dengan lisan/tulisan atau dengan fisik dan senjata ini, baik itu 
dalam rangka untuk memerangi kaum muslimin mujahidin atau tawalliy kepada hukumnya itu sendiri 
berupa sikap setuju dan mengikutinya. Orang yang tawalliy kepada mereka, Allah vonis bahwa dia termasuk 
golongan mereka, yaitu kafir sama halnya dengan mereka. Barangsiapa tawalliy kepada orang kafir apa saja 
keyakinannya, maka dia sama kafirnya dengan orang kafir tersebut. 

Allah Subhanahu Wa Ta 'ala berfirman : 
"Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada 
cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan (thaghut), yang 
mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran), mereka itu adalah penghuni neraka; 
mereka kekal di dalamnya " 
(Al Baqarah : 257) 

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan bahwa orang yang walinya atau 
pemimpinnya adalah thaghut, maka dia adalah orang kafir, sedangkan bagi anshar thaghut pemimpin 

37lAl-Ghuroba 



mereka yang mereka bela-bela adalah thaghut, maka Allah mencap kafir orang yang menjadikan thaghut 
menjadi walinya. 

Allah Subhanahu Wa Ta 'ala berfirman : 

"Barang siapa yang mana dia itu musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan 
Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kajir" . (Al Baqarah : 98) 

Ayat ini berkenaan dengan orang-orang Yahudi, di mana ketika mereka mengetahui bahwa yang turun 
membawa wahyu kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam adalah malaikat Jibril, maka orang-orang 
Yahudi tidak menyukainya. Mereka mengatakan bahwa "itu (Jibril) adalah musuh kami". Padahal malaikat 
adalah rasul Allah dan mereka hanya memusuhi Jibril saja, akan tetapi mereka Allah vonis dengan ayat ini. 

Orang yang memusuhi satu rasul Allah, baik itu rasul dari kalangan malaikat atau manusia, maka 
sesungguhnya orang itu telah menjadi musuh Allah, musuh rasul-Nya, musuh malaikat-malaikat-Nya, maka 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala menwonisnya sebagai orang kafir. 

Bentuk permusuhan macam apa yang lebih dahsyat daripada sikap thaghut dan ansharnya yang mana 
mereka meninggalkan ajaran Allah dan justeru malah membuat ajaran atau hukum sendiri yang diambil dari 
orang-orang yang jahat, mereka memerangi wali-wali Allah yang akan menegakkan hukum Allah, mereka 
memenjarakannya, menyiksanya, membunuhnya, mempersempit hidupnya, dan malah memberikan 
keleluasaan bagi orang-orang bejat, para pelacur, para penjudi dan orang-orang durjana, orang-orang kafir, 
orang-orang murtad dan orang zindiq untuk merusak ajaran Allah dan merusak di muka bumi ini... bentuk 
permusuhan terhadap Allah macam apa yang lebih dahsyat dari sikap macam tadi...??! Di sini Allah 
mengatakan bahwa orang yang seperti itu adalah orang-orang kafir. 

Sedangkan anshar thaghut, mereka dibuat dalam rangka mengokohkan hukum thaghut dan dalam 
rangka mengokohkan ajaran yang dimusuhi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Oleh karena itu anshar 
thaghut dan orang-orang yang semacam mereka, Allah katakan bahwa mereka adalah musuh bagi Allah dan 
mereka adalah orang-orang kafir. 

Jadi, ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa siapa yang memusuhi satu rasul Allah, maka itu artinya 
memusuhi semua malaikat dan memusuhi semua para rasul. Sebagaimana Allah juga mengatakan : "Kaum 
Nuh telah mendustakan semua rasul" di surah as-syuara', padahal kita mengetahui sebelum Nabi Nuh belum 
ada rasul karena beliau adalah rasul pertama, tapi Allah memvonis bahwa kaum Nabi Nuh mendustakan para 
Rasul. Orang mendustakan Nabi Nuh maka itu telah mendustakan seluruh rasul-rasul Allah yang akan diutus 
setelahnya. 

II. Dalil Dari As Sunnah 

Ketika perang Badr, kita mengetahui bahwa di antara kaum musyrikin ada orang-orang yang mengaku 
Islam yang tidak hijrah, kemudian mereka dipaksa untuk ikut berperang di barisan kaum musyrikin dalam 
rangka memerangi kaum muslimin, yang mati dari barisan kaum kafir Quraisy sebanyak 70 orang dan yang 
menjadi tawanan adalah 70 orang. Dan di antara mereka terdapat Al 'Abbas (paman Rasulullah), kemudian 
ketika ditangkap Al ' Abbas mengatakan : "Ya Rasulullah, saya ini dipaksa ", maka Rasul berkata : "Zhahir 
kamu di barisan kaum musyrikin memerangi kami, adapun rahasia bathin kamu maka urusan itu atas Allah, 
tebus diri kamu dan dua keponakanmu ". 

Maksud perkataan diatas ialah, "kami melihat kamu berada di barisan kaum musyrikin yang 
memerangi kami, maka kami anggap kamu memerangi kami, adapun apa sesungguhnya niat kamu berada di 
barisan tersebut, apakah dengan maksud memerangi kami atau tidak, kami serahkan kepada Allah!" 



38lAl-Ghuroba 



Di sini Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memperlakukan Al ' Abbas sebagai orang kafir dengan 
menawannya dan menyuruh Al 'Abbas untuk menebus dirinya sendiri, padahal Al 'Abbas mengatakan 
bahwa "saya ini dipaksa ". 

Bila saja orang yang berada dibarisan kaum musyrikin untuk memerangi kaum muslimin dengan 
kondisi dipaksa adalah diperlakukan sebagaimana halnya orang kafir (secara hukum dunia), maka apa 
gerangan dengan orang yang berada dibarisan kaum musyrikin atau di barisan thaghut tanpa dipaksa tapi 
penuh ikhlas dan dengan sukarela ???, bahkan dengan cara menyuap agar mereka bisa masuk ke dalam 
barisannya, mereka mendaftarkan diri dengan mendatangi setiap Kodim atau Polda untuk menjadi calon 
anshar thaghut, dan ketika sudah masuk menjadi anshar thaghut mereka merasa bangga dengan Korps-nya 
atau bangga dengan seragamnya ??? maka mereka lebih katir lagi. . . ! 

Ini adalah nash hadits dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang memperlakukan Al 'Abbas 
sebagai orang kafir karena berada di barisan kaum musyrikin dalam rangka memerangi kaum muslimin di 
Badr, meskipun Al ' Abbas ini dalam kondisi dipaksa. 

Jadi hukum orang yang berada di barisan kaum musyrikin adalah kafir, sebagaimana juga apa yang 
menimpa pasukan yang akan menginvasi Ka'bah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala membenamkan mereka 
semuanya mulai dari barisan paling depan hingga paling belakang, Allah membenamkan mereka semua 
dengan tanpa memilah-milah antara yang dipaksa dengan yang tidak atau orang yang sedang musafir dalam 
perjalanannya dan berpapasan dengan pasukan mereka, dan dengan tanpa memilah mana orang yang kafir 
dan mana orang yang muslim, padahal Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang menyembunyikan 
keimanan di antara mereka dan Maha Mampu untuk memisahkan mereka, Rasul mengatakan tentang kisah 
ini : "Mereka dihancurkan semuanya dan Allah membangkitkan berdasarkan niatnya". 

Begitu juga bila seandainya ada salah seorang dari barisan thaghut itu yang menyembunyikan 
keimanannya, namun dia belum berlepas diri dari barisannya karena menunggu suatu moment tertentu dan 
waktu yang tepat, maka kaum mujahidin tidak disalahkan bila dia (orang yang menyembunyikan keimanan 
itu) tertembak oleh pasukan mujahidin. Jika saja Allah Maha Kuasa dan Maha Mampu tidak memilah-milah 
orang yang berada di barisan kaum musyrikin yang memerangi kaum muslimin, maka apa gerangan dengan 
seorang mujahid yang hanya manusia biasa yang tidak mengetahui hal yang ghaib ? 

III. Dalil Dari Ijma-Ijma dari para shahabat 

Ketika terjadi riddah (kemurtaddan) di kalangan kabilah-kabilah Arab, di antaranya kelompok 
Tulaihah Al Asadiy dan kelompok Musailamah Al Kadzdzab si nabi palsu. Di sini thaghutnya adalah 
Tulaihah dan Musailamah sedangkan ansharnya adalah para pengikutnya. Di dalam Tarikh disebutkan 
bahwa pengikut Musailamah Al Kadzdzab berjumlah sekitar 100.000 orang. 

Khalifah Abu Bakar dan semua shahabat ijma (sepakat) bahwa para pengikut Musailamah dan para 
pengikut nabi-nabi palsu yang lainnya adalah orang-orang murtad. Padahal kita mengetahui bahwa 
kebanyakan para pengikut Muslilamah adalah tertipu oleh seorang da'i yang diutus oleh Rasulullah ke 
Yamamah tapi kemudian dia malah membelot kepada Musailamah dengan membenarkan apa yang 
diucapkan Musailamah dan bahkan bersaksi di hadapan masyarakat Banu Hanifah (di Yamamah) bahwa 
benar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam telah menyertakan Musailamah dalam kenabian, 
masyarakatnya pun mempercayainya dan akhirnya mereka ikut mendukung Musailamah. Akan tetapi para 
shahabat ijma bahwa mereka yang mengikuti Musailamah itu divonis murtad. 

Sahabat ijma atas kafirnya mereka, bahkan para sahabat memerangi mereka sampai akhirnya mereka 
terdesak dalam peperangan, kemudian datang utusan Buzakhakh kelompok Tulaihah Al Asadiy kepada 
Khalifah Abu Bakar untuk meminta damai. Abu Bakar radliyallahu 'anhu tidak menerima permintaan damai 
mereka kecuali dengan syarat-syarat tertentu, dan di antara syarat yang diutarakan oleh Abu Bakar dan 
disepakati oleh para shahabat yang harus mereka terima adalah mereka harus bersaksi bahwa "orang yang 

39lAl-Ghuroba 



mati di barisan mereka (para pengikut Musailamah) itu adalah masuk neraka ", ini adalah di antara syarat 
yang harus mereka terima. 

Ini merupakan ijma dari para sahabat atas kekafiran atau kemurtaddan anshar thaghut Musailamah Al 
Kadzdzab dan yang lainnya. 

Dan dalam kisah ini ada sekelompok kaum muslimin dalam barisan anshar Musailamah, tapi mereka 
tidak cepat bergabung dengan barisan kaum muslimin padahal ada kemampuan untuk bergabung karena 
kekuatan pasukan kaum muslimin yang mendominasi, di antara kelompok itu adalah Muja'ah Ibnu Murarah. 
Dia tidak mengingkari Musailamah dan tidak cepat bergabung dengan pasukan kaum muslimin, dia ada di 
antara tawanan pasukan Khalid ibnul Walid, Muja'ah mengatakan : "Saya ini muslim dan saya tidak pernah 
merubah keyakinan saya", maka Khalid berkata : "Kamu ini sudah berubah dari sebelumnya" , Muja'ah 
mengatakan : "Jika seandainya musailamah itu nabi palsu maka itu urusan dia, karena seseorang tidak 
memikul dosa orang lain ", kemudian kata Khalid : "Kenapa kamu tidak mengingkari seperti Tsumamah 
dan Al Yasykuriy ?, jika kamu tidak mampu, lalu kenapa kamu tidak cepat bergabung dengan kami ketika 
mendengar pasukan kami datang ? ". Di sini Khalid ibnu Walid memperlakukan Muja'ah yang ada di 
barisan Musailamah sebagai orang kafir dengan menjadikannya tawanan, padahal Muja'ah tidak 
mendukungnya dan hanya berada di barisan Musailamah. 

Yang menjadi inti di sini adalah sikap atau ijma shahabat atas kekafiran Musailamah dan ansharnya, 
dan ketika mengambil perjanjian damai dengan mereka, maka disyaratkan bahwa mereka harus bersaksi 
bahwa orang-orang yang mati di antara mereka adalah calon penghuni neraka. Ini adalah vonis kafir di dunia 
dan di akhirat. 



Ini adalah ijma para shahabat yang berlandaskan kepada nash tentunya. 



IV. Kaidah Fiqh (Qowa'id Fiqhiyyah) 

Dalam kaidah fiqh ini dikatakan bahwa Thaifah Mumtani'ah Bisy Syaukah (kelompok yang memiliki 
kekuatan dan melindungi diri dengannya),maka status individu dalam kelompok ini adalah sama seperti 
status kepala atau pimpinannya. 

Ini berlaku dalam segala hal, jika pimpinannya adalah muslim bughat (pemberontak) maka 
bawahannya juga bughat. Seperti kelompok Mu'awiyyah ibnu Abu Sufyan radliyallahu 'anhum, beliau 
waktu itu membangkang dan tidak mau membai'at terhadap Ali, maka setiap individu dalam kelompok yang 
membangkang ini disebut bughat, bukan hanya Mu'awiyyah (sebagai pemimpinnya) yang di sebut bughat. 
Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan tentang kabar kematian 'Amar 
radliyallahu 'anhu : "Kamu akan dibunuh oleh kelompok yang membangkang (baghiy) " dan Amar waktu 
perang Shiffin ini berada di pihak Ali dan terbunuh oleh pasukan Mu'awiyyah radliyallahu ta'ala 'anhum 
ajma 'in. 

Jika ada sebuah kelompok Khawarij di Darul Islam dan mereka melindungi diri dengan kekuatan 
pasukannya, maka pimpinan dan seluruh bawahannya adalah Khawarij. 

Juga seperti kelompok Musailamah Al Kadzdzab, dia murtad di wilayah Darul Islam dan dia 
melindungi diri dengan pasukannya, maka setiap individu yang ada di dalam kelompoknya adalah murtad 
sama seperti pimpinannya.Jika thaifah mumtani'ah ini ada di luar Darul Islam seperti thaghut (pemerintah) 
sekarang, di mana mereka yang memegang kekuasaan, pimpinannya adalah thaghut maka setiap individu 
atau person-person dari ansharnya seperti polisi atau tentara atau intelejennya adalah sama kafirnya seperti 
thaghut pimpinannya. 

Ini adalah empat dalil yang menunjukan bahwa anshar thaghut itu statusnya adalah kafir sama dengan 
thaghut pimpinannya itu sendiri. 

40IA1-Ghuroba 



41lAl-Ghuroba 



HUKUM BEKERJA DI NEGARA DEMOKRASI 

Dalam masalah ini, ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya merupakan kekuturan, ada pekerjaan- 
pekerjaan yang sifatnya dosa besar, dan ada pula pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya tidak masuk ke dalam 
dua kategori ini. Kita akan merincinya dan menyebutkan contoh-contohnya. 

I. Dinas yang mengandung pembuatan hukum. 

Orang yang membuat hukum atau dia bagian dari lembaga yang membuat hukum, maka 
pekerjaannya dan orang-orang yang tergabung di dalamnya adalah orang-orang kafir. Seperti orang-orang 
yang ada di lembaga legislatif dari kalangan anggota-anggota parlemen, karena di antara tugas parlemen itu 
adalah membuat hukum, maka pekerjaan ini adalah merupakan pekerjaan kekufuran dan orangnya adalah 
orang kailr. Adapun dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta 'ala : 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang 
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada 
thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu.... " (An Nisa : 60) 

Coba perhatikan, kenapa Allah meminta kita untuk MEMPERHATIKAN iman seseorang? Bukankah 
iman itu hanya Allah yang tahu (seperti kata para murjiah), itu karena bahwa tanda-tanda orang yang tidak 
beriman adalah dari perilakunya. Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan bahwa orang 
yang membuat hukum yang dirujuk selain Allah disebut thaghut, orang yang merujuk kepada selain hukum 
Allah disebutkan dalam ayat itu bahwa imannya bohong dan hanya klaim, dan yang dirujuk tersebut, yaitu si 
pembuat hukum ini yang Allah katakan sebagai thaghut -maka seperti yang telah kita ketahui- adalah lebih 
kafir daripada orang kafir 'biasa'. 

Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta 'ala dalam surat yang lain : 

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain 
Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, Padahal mereka tidak diperintahkan 
kecuali mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain 
Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". (At Taubah : 31) 

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis : 

1 . Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib 

2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib 

3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah 

4. Mereka telah menjadi musyrik 

5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab. 

Ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di hadapan 'Adiy ibnu Hatim 
(seorang shahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), 'Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat 
ini dengan vonis-vonis tadi, maka 'Adiy mengatakan : "Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah 
shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami", Jadi maksudnya dalam benak orang- 
orang Nashrani adalah; kenapa Allah menwonis kami telah mempertuhankan mereka atau apa bentuk 
penyekutuan atau penuhanan yang telah kami lakukan sehingga kami disebut telah beribadah kepada mereka 
padahal kami tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka?. Maka Rasul 
mengatakan : "Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah 
haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan apa yang 
Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?". Lalu 'Adiy menjawab : "Ya", Rasul berkata lagi 
: "Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib)." 

Jadi bentuk peribadatan di sini adalah ketika alim ulama itu membuat hukum di samping hukum Allah, 
kemudian hukum tersebut diikuti dan ditaati oleh para pengikutnya, maka si alim ulama atau pendeta 
tersebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala cap mereka sebagai Arbab atau sebagai orang yang memposisikan 

42lAl-Ghuroba 



dirinya sebagai tuhan selain Allah, sedangkan orang yang memposisikan dirinya sebagi pembuat hukum atau 
sebagai tuhan selain Allah, maka dia itu adalah orang kafir. Maka berarti pekerjaan ini adalah pekerjaan 
kekafiran. 

Dan dalil yang lain adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta 'ala : 

"Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah (syuraka) yang menetapkan aturan agama bagi 

mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah? ". (Asy Syuura : 21) 

Dalam ayat ini Allah mencap para pembuat hukum selain Allah sebagai syuraka (sekutu-sekutu) yang 
diangkat oleh para pendukungnya sebagai sekutu Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sedangkan orang yang 
memposisikan dirinya sebagai sekutu bagi Allah adalah orang kafir. 

Ini adalah pekerjaan pertama yang merupakan kekafiran; yaitu orang yang pekerjaannya adalah 
membuat hukum atau menggulirkan atau menggodok undang-undang, seperti para anggota dewan 
perwakilan dan yang serupa dengannya atau apapun namanya. 

II. Pekerjaan yang tugasnya bersifat pemutusan dengan selain hukum Allah. 

Orang yang pekerjaannya adalah memvonis dan menuntut dengan selain hukum Allah, seperti para 
jaksa dan hakim. Mereka menuntut dan memutuskan di persidangan, si jaksa yang menuntut dan si hakim 
yang memutuskan, sedangkan kedua-duanya adalah memutuskan dengan selain hukum Allah. 

Pekerjaan semacam ini, pemutusan dengan selain hukum Allah ini merupakan pekerjaan kekafiran dan 
orangnya telah Allah cap secara tegas dan jelas sebagai orang kafir, zhalim, dan fasiq dalam satu surat : 

"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang- 
orang yang kajir " 
(Al Maidah : 44) 

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah 
orang-orang yang zalim ". 
(Al Maidah : 45) 

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah 
orang-orang yangfasik ". 
(Al Maidah : 47) 

Sedangkan kita mengetahui bahwa para hakim dan para jaksa ketika memutuskan atau ketika 
menuntut mereka memutuskan dan menuntutnya dengan selain hukum Allah, yaitu dengan hukum 
jahiliyyah (UU), maka pekerjaannya adalah pekerjaan kekafiran. 

III. Pekerjaan yang bersifat nushrah (pembelaan/perlindungan) bagi sistem thaghut 

Ini adalah sebagaimana yang sudah dijabarkan sebelumnya, anshar thagut,yakni diantaranya; tentara, 
polisi, atau badan-badan intelejen. Maka <fea/(bentuk) dari pekerjaan ini adalah kekafiran karena mereka 
memberikan nushrah (pertolonganj terhadap thaghutnya dan terhadap sistemnya itu sendiri, maka berarti ini 
pekerjaan kekafiran dan orangnya adalah sebagai orang kafir, sebagaimana yang Allah katakan dalam 
firman-Nya; 

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan 
thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan (wali-wali) syaitan itu" (An Nisa : 76) 

IV. Setiap pekerjaan yang bersifat tawalliy kepada hukum thaghut 

43lAl-Ghuroba 



Orang yang <feaf(bentuk)pekerjaannya tawalliy (mencurahkan loyalitas) kepada sistem thaghut, yaitu 
melaksanakan hukum-hukum thaghut secara langsung, seperti aparat thaghut yang bekerja di departemen 
kehakiman, dinas mereka langsung tawalliy kepada hukum thaghut. Dinas seperti ini adalah dinas kekafiran. 

Dan dinas yang seperti ini juga adalah kejaksaan. Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, 
dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelis thaghut ini. Dia 
tawalliy penuh kepada sistem ini karena kegiatan-kegiatan angota DPR/MPR tidak akan terlaksana tanpa 
ada pengaturan dari mereka. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : 

"Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, 
syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang 
demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang 
benci kepada apa yang diturunkan Allah : "Kami akan mematuhi kamu dalam sebagian urusan ", sedang 
Allah mengetahui rahasia mereka ". 
(Muhammad : 25-26). 

Orang yang mengatakan kepada orang kafir atau thaghut "kami akan mentaati kalian dalam sebagian 
urusan kekaiiran" telah Allah vonis kafir, sedangkan orang-orang yang tawalliy tadi, ternyata mereka justru 
mengikuti sepenuhnya kekafiran ini, mengikuti thaghut sepenuhnya dalam melaksanakan hukum-hukum 
kekafiran (hukum thaghut). 

V. Orang yang bersumpah untuk loyal kepada thaghut (sistem/hukum/undang-undang) 

Setiap orang yang bersumpah untuk loyal kepada undang-undang, apapun dinasnya, walaupun dia 
bekerja di dinas pendidikan umpamanya, atau dinas pertanian, atau dinas perhutanan, akan tetapi jika dia 
bersumpah untuk loyal kepada undang-undang atau kepada sistem thaghut, maka apapun bentuk 
pekerjaannya jika dia melakukan sumpah, maka dia kafir dengan sebab sumpahnya, bukan dengan sebab 
bentuk pekerjaannya. 

Ini berbeda dengan dengan jenis pekerjaan yang sebelumnya, di mana yang menyebabkan kekafiran 
adalah dzat pekerjaannya, seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap 
kafir, begitu juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka bersumpah ataupun tidak, maka mereka tetap 
orang kafir. 

Sedangkan di sini, orang menjadi kafir bukan dengan sebab dari sisi pekerjaannya, tapi dari sisi 
sumpahnya, apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir. 
Jika saja Allah menwonis murtad orang yang menyatakan akan taat, setia dan akan mengikuti hanya dalam 
sebagian kekafiran, maka apa gerangan dengan orang yang menyatakan dalam sumpahnya; Seperti yang 
ada pada Sumpah Pegawai Negeri Sipil RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 1975 pasal 6 
yang berbunyi : 

"Demi Allah, Saya Bersumpah :Bahwa saya untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil akan setia 
dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah; 

Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas 
kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab. 
Bahwa saya akan senantiasa menjungjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai 
Negeri serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya 
sendiri, seseorang atau golongan; 

Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu menurut sijatnya atau menurut perintah saya haruus 
merahasiakan; Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan 
Negara. " 

44lAl-Ghuroba 



Ini lebih kafir daripada orang yang Allah vonis murtad dalam surah Muhammad tadi. Jika saja mengikuti 
sebagiannya saja Allah vonis murtad, maka apa gerangan dengan orang yang mengatakan akan setia dan 
mengikuti sepenuhnya ...?!! 

Ini adalah di antara pekerjaan-pekerjaan atau dinas-dinas yang Allah vonis kafir pelakunya, dan 
pekerjaan ini merupakan pekerjaan kekafiran di dinas thaghut tadi. 

VI. Pekerjaanyangmubah 

Seandainya tidak ada kelima hal tadi, terus pekerjaannya juga bukan pekerjaan yang haram, maka itu 
adalah pekerjaan yang mubah (yang boleh-boleh saja) seperti di dinas kesehatan, di pertanian, di kelautan, 
atau dinas-dinas yang bukan merupakan kekufuran dan bukan merupakan keharaman. 

Para ulama mengatakan bahwa jika dinas tersebut milik thaghut maka minimal hukumnya makruh, 
tidak dikatakan mubah karena minimal dia dekat dengan thaghut. Hukumnya makruh tapi dengan syarat 
dia tetap menampakkan keyakinannya. Dalil dalam hal itu adalah hadits yang diriwayatkan Al Bukhari 
dalam Shahih-nya pada Kitab Al Ijarah bab "Apakah seseorang boleh mengupahkan dirinya bekerja 
pada orang musyrik di negeri harbiy" : Dari Khabab radliyallahu 'anhu, berkata : "Saya adalah pandai 
besi, kemudian saya bekerja untuk Al 'Ash Ibnu Wail, sehingga terkumpul hak upah saya di sisinya, 
kemudian saya mendatanginya untuk meminta upah itu darinya" , maka ia (Al 'Ash ibnu Wail) berkata : 
"Tidak, demi Allah. Saya tidak akan membayar upahmu sampai kamu kajir kepada Muhammad !", maka 
saya berkata : "Demi Allah, tidak akan saya lakukan sampai kamu mati kemudian dibangkitkan sekalipun ", 
ia berkata : "Apa saya akan mati kemudian dibangkitkan ?", saya berkata : "Ya !", dan ia berkata : "Ya, 
berarti di sana saya akan memiliki harta dan anak, kamudian saya akan membayar upahmu ". 

Di sini Khabab menampakkan keyakinannya. Jadi dalam dinas-dinas seperti kesehatan dan yang 
lainnya yang sifatnya mubah-mubah saja dengan syarat tetap menampakkan keyakinan di tengah mereka, 
Akan tetapi jika seandainya dinas-dinas yang mubah ini di dalamnya ada sumpahnya, maka dia kafir 
karena sebab sumpahnya bukan karena dzat pekerjaannya. 

Dan yang harus dikertahui juga adalah jika dia bekerja di dinas-dinas yang mubah tadi lalu dia 
sebelumnya bersumpah, maka dia kafir karena sumpahnya, karena secara hukum thaghut ketika diangkat 
menjadi PNS, maka dia diambil sumpahnya sesuai dengan undang-undang yang berlaku di dinas 
kepegawaian yaitu bahwa semua PNS di Indonesia ini harus bersumpah ikrar setia! 



45lAl-Ghuroba 



MENYIKAPI MEREKA YANG BEKERJA 
SEBAGAI PEGAWAI NEGARA 

Berdasarkan hukum demokrasi di Indonesia, PNS harus disumpah, akan tetapi antara disumpah atau 
tidak dalam praktiknya, maka itu urusan dia dengan dengan Allah, jika kita tidak tahu apakah dia itu 
mengikrarkan sumpah atau tidak, maka dia tidak bisa dikafirkan, karena dzat pekerjaannya bukan 
pekerjaan kekufuran , kecuali bila kita mendengar saksi dari dua orang laki-laki muslim yang adil atau 
pengakuan dari dia langsung, maka kita nasihati agar dia berlepas diri dari sumpahnya. Ini berbeda dengan 
tentara atau polisi atau aparat lainnya dimana kita bisa langsung mengkafirkan mereka, juga seperti anggota 
MPR/DPR karena dzat pekerjaannya merupakan kekafiran , kita tidak bisa menghukuminya sebagai orang 
muslim sampai dia keluar dari pekerjannya dan melepaskan segala atribut pekerjaannya. 

Jika orang bekerja di dinas-dinas keharaman atau yang mubah tadi, lalu dia pernah bersumpah dan 
setelah kita nasihati, lalu dia menyatakan keberlepasan diri dari sumpahnya, dia bertaubat dari sumpah 
kekufurannya, dia ikrarkan dua kalimah syahadat, maka dia dihukumi sebagai orang muslim, walaupun dia 
tidak keluar daripada kedinasannya, karena kekafirannya disebabkan oleh sumpahnya, bukan karena 
dinasnya. 

Jadi, di sini dibedakan antara kekafiran yang disebabkan oleh dzat pekerjaannya dengan kekafiran yang 
diakibatkan oleh sumpah untuk setia dan loyal kepada thaghut. 

Dalam realita masyarakat banyak terdapat PNS, tetapi kita tidak mengetahui secara individu dari 
mereka apakah si fulan ini sumpah ataukah tidak, maka kita tidak bisa mengkafirkannya meskipun pada 
hakikat sebenarnya dia itu telah bersumpah, karena yang mengetahui dia mengaikrarkan sumpah atau tidak 
hanyalah Allah, sedangkan kita tidak tahu. Bila kita melihat dzat pekerjaannya bukan kekufuran, maka dia 
tidak boleh dikafirkan, karena kita menghukumi secara zhahir sedangkan urusan bathin maka itu urusan 
Allah. 

Kemudian, bagi orang yang telah bekerja di dinas kekafiran akan tetapi dia sudah pensiun atau sudah 
berhenti dari pekerjaannya, baik berhentinya karena dipecat atau karena mengundurkan diri atau karena 
selesai masa jabatannya, maka bagi orang-orang semacam ini; maka selama dia menampakkan keislaman, 
lalu tidak muncul dari sikap atau dari ucapan dia hal-hal yang menunjukan bahwa dia itu masih 
menginginkan perbuatannya itu atau masih membanggakannya atau membolehkannya atau menganjurkan 
agar orang masuk ke dalamnya, maka orang seperti itu kita hukumi secara dunia dia itu muslim, sedangkan 
masalah bathinnya itu urusan dia dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Demikianlah bagaimana menyikapi orang-orang semacam itu, karena ketika kita mengkafirkan orang- 
orang yang bekerja di dinas-dinas kekafiran adalah karena pekerjaannya, jika dia sudah berhenti dan 
meninggalkan pekerjaannya apapun faktor yang membuat dia berhenti, maka apabila tidak muncul dari 
ucapannya atau perbuatannya hal-hal yang menunjukan bahwa dia masih menginginkannya atau 
membanggakannya dan dia menampakkan keislaman, maka dia dihukumi muslim kembali secara hukum 
dunia, adapun masalah bathinnya maka perhitungannya itu di sisi Allah. Ini sebagaimana dalam hadits dari 
Imam Muslim yang diriwayatkan dari Abu Malik Al Asyja'iy : "Barangsiapa yang mengucapkan Laa 
ilaaha illallaah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah darah 
dan hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah Ta'ala'% karena kadar minimal adalah 
meninggalkannya. 

Dan terakhir, ketika para shahabat memperlakukan keluarga atau anak isteri anshar tahghut, seperti 
kelompok Musailamah Al Kadzdzab adalah sebagai orang kafir. Mungkin ada pertanyaan kenapa kita 
sekarang tidak memperlakukan anak isteri anshar thaghut ini sebagai orang kafir ?. Ini karena bahwa anak 
isteri anshar thaghut bisa dikatakan kafir bila dalam konteks muwajahah (konfrontasi) antara 
kelompok Islam dengan kelompok kafir, itu juga dengan dua syarat : Pertama, kaum muslimin 

46lAl-Ghuroba 



memiliki kekuatan dan mendominasi penuh terhadap orang kafir tersebut. Ke dua : ada 
kemungkinan untuk bergabung kepada kelompok Islam tersebut. 

Dikarenakan pada waktu itu kekuatan kaum muslimin sangat mendominasi, maka seandainya mereka 
(keluarga anshar thaghut) mau membelot, mereka bisa bergabung dengan kaum muslimin, dan ketika 
mereka tidak melakukannya di mana waktu itu dalam konteks sedang muwajahah, maka mereka dihukumi 
kafir murtad. Sebagaimana Rasulullah sebelumnya saat Futuh Mekkah, maka orang yang ada di kota 
Mekkah semuanya diperlakukan sebagai orang kafir. Saat itu kekuatan kaum muslimin berada di atas 
kekuatan orang kafir, dan orang yang mengaku muslim yang ada di tengah mereka bisa bergabung dengan 
kaum muslimin jika mau. Dan ketika tidak bergabung maka dihukumi kafir oleh Rasulullah shalallahu 
'alaihi wa sallam. 

Berbeda halnya jika dua syarat ini atau salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi seperti saat sekarang 
ini di mana kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki dominasi, maka dari itu kita 
tidak mengkaiirkan anak isteri anshar tahghut, dan ini seperti isteri Fir'aun, dimana Allah mengatakan 
tentangnya dalam surat At Tahrim bahwa isteri Fir'aun adalah seorang mu'minah. Kenapa mu'minah? 
Kenapa tidak dihukumi seperti isteri Musailamah umpamanya ? Karena kaum muslimin pada saat itu (yang 
dipimpin Nabi Musa) tidak memiliki dar (wilayah) dan tidak mendominasi kekuatannya sehingga ia tidak 
bisa membelot atau bergabung dengan kaum Nabi Musa. 

Jadi jika dua syarat ini tidak terpenuhi, maka kita memperlakukan orang yang menampakkan 
keislaman di tengah orang-orang kafir sebagai orang muslim. Orang muslim dimana saja adalah orang 
muslim, baik itu di darul harbiy ataupun di darul Islam. 



47lAl-Ghuroba 



NABI YUSUF ADALAH ANSHAR THAGUT? 

Mereka mengatakan: Bukankah Yusuj pernah menjabat sebagai menteri di sisi raja kafir yang tidak 
berhukum dengan apa yang Allah subhaanahu wa ta'aala turunkanlDengan demikian bolehlah ikut serta 
dalam pemerintahan kafir, bahkan bolehlah masuk menjadi anggota dalam parlemen dan majelis 
permusyawaratan/perwakilan rakyat dan yang sebangsanya. 

Kita jawab: 

Pertama : Sesungguhnya berhujjah dengan syubhat ini untuk bisa masuk dalam perlemen-parlemen 
pembuat hukum dan kebolehannya adalah batil dan rusak, karena parlemen-parlemen syirik ini berdiri di 
atas dasar agama/paham yang bukan agama Allah subhaanahu wa ta'aala, yaitu agama demokrasi. 

Apakah ada orang yang berani yang mengatakan bahwa Yusuf 'alaihissalam telah mengikuti agama 
selain agama Islam, atau (apakah ada yang berani mengatakan bahwa) Yusuf bersumpah untuk menghormati 
undang-undang kafir? Atau dia membuat hukum sesuai dengan undang-undang itu?..sebagaimana keadaan 
orang-orang yang terpedaya dengan parlemen-parlemen itu...??? 

Bagaimana itu boleh dikatakan sedangkan Yusuf dengan terang-terangan mengumumkan pada saat dia 
tertindas: 

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedangkan 
mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan 
ya'qub. Tidaklah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. (Q.SYusuf: 
37-38) 

Dan dia juga berkata: 

"Hai kedua penghuni penjara manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah 
Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ? Kalian tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah 
nama-nama yang kalian dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan 
pun tentang nama-nama itu. Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan 
agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak 
mengerti. "(Q.S Yusuf 39-40) 

Apakah Yusuf mengumumkan itu dan terang-terangan menyatakannya sedangkan dia dalam masa 

ketertindasan kemudian dia justru menyembunyikannya atau melanggarnya setelah Allah memberikan 

kepadanya kekuasaan??!! 

Dari sinilah diketahui bahwa berdalih dengan kisah Yusuf 'alaihissalam atas bolehnya (masuk) 
parlemen adalah tidak benar sama sekali. 

Kedua: Sesungguhnya orang yang menjabat jabatan menteri pada pemerintahan-pemerintahan yang 
berhukum dengan selain apa yang Allah subhaanahu wa ta'aala turunkan ini wajib atas dia untuk 
menghormati undang-undang mereka, dia harus loyalitas dan ikhlas bekerja untuk thaghut yang padahal itu 
adalah sesuatu yang paling pertama Allah perintahkan untuk kufur kepadanya, Dia subhaanahu wa ta'aala 
berfirman: 



Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. (Qs: 
An-Nisaa': 60) 

Bahkan sebelum menjabat jabatan ini mereka diharuskan untuk bersumpah untuk menghormati 
kekufuran ini, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh para anggota parlemen. 

Dan siapa orangnya yang mengklaim bahwa Yusuf Ibnu Ya'qub Ibnu Ishaq Ibnu Ibrahim 'alaihissalam 
memang melakukan hal itu padahal Allah telah mensucikannya dan mengatakan tentangnya: 

48lAl-Ghuroba 



Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu 
termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih," (Q.S Yusuf:24) 

Sesungguhnya orang yang menjabat jabatan menteri pada pemerintahan kufur, dia wajib tunduk patuh 
kepada undang-undang kafir dan tidak boleh keluar dari relnya atau menyalahinya. Dia itu tidak lain adalah 
hamba yang mukhlis (patuh/setia) kepadanya, pelayan yang taat kepada yang mengangkatnya baik dalam 
yang hak atau yang batil, kefasikan, kedhaliman, dan kekafiran. 

Maka apakah Yusuf Ash Shiddiiq 'alaihissalam seperti itu sehingga perbuatannya bisa dijadikan hujjah 
untuk membolehkan jabatan-jabatan kafir mereka itu..??Sesungguhnya orang yang mengatakan/menuduh 
bahwa Yusuf dengan sebagian tuduhan itu, maka kami tidak meragukan kekafiran orang itu, kezindikannya, 
dan keluarnya dia dari Islam, karena Allah subhaanahu wa ta'aala mengatakan: 

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah 
Allah (saja), danjauhilah Thaghut itu,"(An Nahl : 36) 

Ini adalah pokok segala pokok dan maslahat yang paling agung dalam kehidupan ini bagi Yusuf 
'alaihissalam dan para Rasul lainnya. 

Apakah masuk akal bila Yusuf mengajak orang-orang kepada tauhid itu saat situasi lapang dan sempit 
saat bahaya dan saat berkuasa, kemudian dia melanggarnya sehingga menjadi golongan orang-orang 
musyrik? Bagaimana itu bisa terjadi - Demi Allah - sedangkan Allah telah menggolongkannya dalam 
jajaran hamba-hamba-Nya yang terpilih?? Sebagian ahli tafsir telah menyebutkan bahwa firman Allah 
subhaanahu wa ta'aala: 

Tidaklah patut Yusuj menghukum saudaranya menurut undang-undang raja. " (Yusuf 76) 

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa Yusuf 'alaihissalam tidak pernah 
menerapkan undang-undang raja, tidak pernah tunduk kepadanya, dan tidak diharuskan untuk 
menerapkannya. 

Apakah ada dalam kementerian - kementerian di Indonesia ini atau parlemen-parlemen mereka hal seperti 
ini?? Yaitu keadaan sang menteri di dalamnya seperti pernyataan (Negara dalam Negara). . .??? 

Sesungguhnya Yusuf 'alaihissalam menjabat jabatan menteri itu dengan perlindungan penuh lagi sempurna 
dari sang raja, Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman: 

Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata:" Sesungguhnya kalian (mulai) hari ini 
menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada kami" (Yusuf: 54) 

Si raja memberikan kebebasan penuh tanpa dikurangi kepada Yusuf dalam jabatannya: 

Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi 
menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir ini. " (Yusuf: 56) 

Sehingga tidak ada orang yang protes kepadanya, tidak ada orang yang meminta pertanggung jawabannya, 
dan tidak ada orang yang mengawasi segala bentuk kebijaksanaan dan perbuatannya apapun hasil dan 
bentuknya. 



49lAl-Ghuroba 



Maka apakah kebebasan seperti ini ada di kementerian kafir pada masa sekarang atau yang ada justru 
perlindungan yang dusta lagi palsu. Jabatan itu dicabut dan dicopot dengan cepat bila si menteri berani 
bermain-main dengan ekornya, atau nampak dari dia sedikit penyimpangan atau keluar dari garis amir 
(presiden) atau undang-undang raja?? 

Si menteri di sisi thaghut-thaghut itu tak ubahnya seorang pelayan bagi politik amir (presiden) atau 
raja, dia hanya melaksanakan perintah tuannya itu dan hanya mau berhenti bila tuannya melarang, dan dia 
sama sekali tidak memiliki hak untuk menyalahi sedikitpun dari perintah-perintah raja atau undang-undang 
buatan meskipun itu bertentangan dengan perintah Allah dan hukum-Nya. 

Dan bagi tiap-tiap umat dari kalian, Kami berikan aturan danjalan yang terang (Al Maidah: 48) 

Syari'at-syari'at para nabi itu sangat beragam dalam furuu'ul ahkaam, akan tetapi dalam masalah tauhid 
hanya satu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Kami sekalian para nabi adalah saudara 
sebapak sedangkan agama (tauhid) kami satu, " (HR Al Bukhari dari Abu Hurairah) maksudnya saudara- 
saudara dari ibu-ibu yang berbeda sedangkan ayahnya satu...ini merupakan isyarat akan kesatuan dalam 
pokok tauhid dan beragam dalam furuu' syarii'ah dan hukum-hukumnya. 

Terkadang sesuatu dalam masalah hukum pada syari'at sebelum kita diharamkan kemudian dihalalkan 
dalam syari'at kita, dan terkadang sebaliknya. Bisa jadi dalam syari'at terdahulu dipersulit sedangkan dalam 
syari'at kita dipermudah„,dan seterusnya. Oleh sebab itu tidak setiap syari'at yang ada pada syari'at sebelum 
kita menjadi syari'at bagi kita, apalagi bila bertentangan dengan dalil dalam syari'at kita. 

Sedangkan telah ada dalil yang shahih dalam syari'at kita yang menyelisihi apa yang disyari'atkan 
bagi Yusuf 'alaihissalam, dan mengharamkannya atas kita, Ibnu Hibban telah meriwayatkan dalam 
Shahihnya, juga Abu Ya'Laa dan Ath Thabraniy bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata: 

"Sungguh akan datang kepada kalian para penguasa yang tidak baik, mereka mendekatkanorang-orang 
yang paling jahat dan mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya, maka siapa saja yang mendapatkan 
keadaan itu, janganlah dia menjadi pejabat, janganlah menjadi aparat keamanan, janganlah menjadi 
petugas pengambil harta, danjanganlah menjadi penyimpan perbendarahaan, ". 



50IA1-Ghuroba 



KHA WARIJ 



51lAl-Ghurob 



Aku dipindahkan dari selku di lembaga badan intelejen umum menuju ke kantor jaksa 
penuntut umum MahmuudUbaidaat pada akhir-akhir bulan Ramadhan untuk meminta keterangan 
berkenaan dengan perkara yang dinamakan dengan Tandhim Al Qaa-idah yang masih 
menggantung (belum menentu) hingga sekarang ini, maka aku memasukinya tanpa salam seperti 
kebiasaanku terhadap mereka dan karena untuk membuka borgol ditanganku dan melepaskan 
penutup mataku. 

Segera dia berkata: Apa-apaan ini! Kamu masih tidak mau memberi salam kepada kami, 
kamu masih mengkarirkan kami? 

Maka aku jawab: Apakah diantara kita ada salam hai Ubaidaat? Tinggalkanlah kekariranmu 
dulu, bukankah rumah-rumah kami kamu masuki dengan namamu dan ibu-ibu kami serta anak- 
anak kami setiap malam mendengar tanda tanganmu, dan saudara-saudara kami ditawan selama- 
lamanya dengan keputusanmu. . . .apakah diantara kita ada salam?? 

Lalu pembantunya (Mahmuud Hashaayaat) tiba-tiba masuk dan memotong perkataanku 
dan berkata: Sungguh Allah telah menjanjikan dengan api neraka yang menyala-nyala selama 1000 
tahun hingga menjadi merah kemudian menyala-nyala 1000 tahun lagi sehingga menjadi hitam 
bagi orang-orang seperti mereka yang "khawarij" itu... 

Maka aku langsung berkata: 

dengarkanlah hai Ubaidaat apa yang dikatakan oleh temanmu.... Manakah yang lebih berbahaya 
perkataanku atau perkataan kalian ini, kami ketika mengkarirkan kalian hanya menghukumi kalian 
dengan hukuman di dunia dan kami tidak mengetahui akhir kehidupan kalian, kami juga tidak bisa 
memastikan tempat kembali kalian diakherat nanti karena bisa jadi kalian telah melakukan taubat, 
dan kalian berlepas diri dari kekufuran kalian sebelum meninggal.... Sedangkan kalian telah 
menghukumi kami sebagaimana yang dihukumi oleh orang ini dengan hukuman di akherat yang 
ghaib dan tidak ada yang mengetahui kecuali Allah Swt. . . . Maka manakah yang lebih berbahaya?? 
Hukum kami atau hukum kalian? Manakah diantara kita yang berani melecehkan agama 
Allah...? Dan siapa yang Taktiriyyun (orang yang suka mengkafirkan orang) dan khawarij, 
kami ataukah kalian....? 



Maka dia tidak bisa menjawab. 



Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi 
Penjara Suwaaqah - Urdun - 1416 H 



52lAl-Ghuroba 



KHAWARIJ 

Khawarij, tahukah Anda apa pemahaman Khawarij itu? Pemahaman Khawarij adalah pemahaman 
yang sesat! Yakni memberontak kepada penguasa umat muslim yang sah! Dan pemberontakan itu sangat 
dilarang dalam islam. 

Ulama' telah menjelaskan bahwa kelompok khawarij adalah salah satu yang memberontak melawan 
Imam yang benar (Al-Imam Al Haq) pada masa 'Ali bin Abi Thalib, dan mereka secara terbuka tidak taat 
kepadanya, dan mereka bersekongkol melawannya. Jadi kaum yang memberontak kepada pemimpin umat 
islam yang sah , adalah seorang yang berpaham khawarij, dan para khawarij dapat dengan mudahnya 
mengatakan orang yang tak satu jama'ah dengan mereka adalah orang kafir. 

Lalu apakah mereka yang memberontak terhadap pemerintah yang berhukum demokrasi adalah 
khawarij? Apakah saya termasuk khawarij karena memberontak terhadap pemerintah Indonesia dengan 
mengatakannya bahwa Indonesia adalah negara kuiur? Apakah saya khawarij karena saya mengatakan 
mereka yang berhukum dengan agama demokrasi adalah kafir? 

Jika kami khawarij, maka dimanakah Imam yang benar saat ini, yang bisa (paling berhak) memberikan 
label kepada seseorang yang memberontak melawannya sebagai seorang 'Khawarij'? 

Dimanakah 'Ali bin Abi Thalib hari ini?! 

Dan jika kita Khawarij, maka siapakah kamu (wahai para rezim dan wahai Ulama yang loyal kepada 
mereka)?! Apakah kalian 'Ali dan Shahabat-shahabatnya?! 

Dan apakah 'Ali r.a. mengambil hukum kekuasaannya dari undang-undang orang Persia dan orang- 
orangRoma ?! 

Apakah dia memerintah berdasarkan pada "Sosialisme" dan "demokrasi"? Atau dia adalah seorang 
penyeru "nasionalisme" dan "kedamaian sosial" ? 

Atau pernahkah Ali bersekutu dan mendukung Yahudi?! 

Atau pernahkah Ali meninggalkan Hudud dari Allah dan mengimplementasikan hukuman yang tidak 
pernah Allah kirimkan ke muka bumi ini? Atau dapatkah itu dikatakan, menyeru untuk menerapkan 
Khilafah adalah sebuah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan?! 

Atau pernahkah Ali berperang melawan kesucian dan kemurnian, menyeru kepada "kebebasan" 
wanita dan untuk membiarkan wanita bebas untuk melakukan perjalanan?! 

Atau apakah Ali salah satu orang yang telah memisahkan Al- Qur'an ke dalam bagian-bagian (yaitu 
mengimani sebagian dan mengkufuri sebagian)? Mereka yang mengatakan: "Tidak ada Islam dalam politik, 
dan tidak ada politik dalam Islam"?! 

Ketahuilah! Imam 'Ali r.a., beliau sama sekali tidak pernah melakukan semua itu. Tetapi dia yang 
paling ingin menerapkan hukum Allah, dan memerintah dengan Kitab Allah, serta Sunnah Rasul-Nya Saw.. 
Sehingga tidak ada keraguan, bahwa seseorang yang memberontak melawan Al Imaam Al Adil pada masa 
Imam Ali r.a dia benar-benar seorang Khawarij. 

Maka, seseorang yang memberontak melawan seorang penguasa (yang tidak melaksanakan hukum 
Islam) bukanlah seorang Khawarij; tetapi dia adalah seorang Muslim, seorang Mu'min, seorang Muttagi 
(bertagwa). 

53lAl-Ghuroba 



Ibnu Katsir berkata tentang peristiwa tahun 694 H," Pada tahun itu kaisar Tartar Qazan bin Arghun bin 
Abgha Khan Tuli bin Jengis Khan masuk Islam dan menampakkan keislamannya melalui tangan amir Tuzon 
rahimahullah. Bangsa Tartar atau mayoritas rakyatnya masuk Islam, kaisar Qazan menaburkan emas, perak 
dan permata pada hari ia menyatakan masuk Islam. Ia berganti nama Mahmud. .." 

Namun, kaisar ini menolak untuk menerapkan hukum islam, maka muncullah wacana untuk memerangi 
mereka, Beliau juga mengatakan dalam Bidayah wa Nihayah, "Terjadi perdebatan tentang mekanisme 
memerangi bangsa Tartar, karena mereka menampakkan keislaman dan tidak termasuk pemberontak . 
Mereka bukanlah orang-orang yang menyatakan tunduk kepada imam sebelum itu lalu berkhianat. Maka 
syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Mereka termasuk jenis Khawarij yang keluar dari Ali dan Mu'awiyah 
dan mereka melihat diri mereka lebih berhak memimpin. Mereka mengira lebih berhak menegakkan dien 
dari kaum muslimin lainnya dan mereka mencela kaum muslimin yang terjatuh dalam kemaksiatan dan 
kedzaliman, padahal mereka sendiri melakukan suatu hal yang dosanya lebih besar berlipat kali dari 
kemaksiatan umat Islam lainnyaT 

Jadi, realitanya, negara ini adalah negara YANG MERASA PALING BERHAK MEMIMPIN 
DENGAN HUKUM KUFURNYA, MEREKA MENOLAK PEMIMPIN YANG INGIN BERHUKUM 
DENGAN AL-QUR'AN DAN ASSUNNAH.... dan begitu juga beberapa ulama-ulama dan tokoh-tokoh 
publik, mereka membela-bela dan menolong para pemimpin negara ini untuk terus berkuasa dengan hukum 
kuturnya, dan mereka mengkafirkan, membunuh orang-orang yang ingin menegakkan kepemimpinan 
dibawah naungan Alquran dan Assunnah. Maka kubertanya pada kalian... siapakah yang khawarij? 

Maka, seseorang yang membela kehormatan kaum Muslimin, berjihad di jalanNya, dan berada di front 
terdepan melawan orang-orang kafir, bukanlah seorang Khawarij, tetapi dia adalah seorang Mujahid, 
seorang Muwahhid, seorang yang selalu ada dalam umat ini, Al Firqotun Najiyah, kelompok yang selamat, 
dan At Toifah Al Mansuroh, kelompok yang akan mendapatkan kemenangan dari Allah Swt. 



BOLEH MEMBERONTAK? 

Mentaati penguasa merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim. Allah swt berfirman: 

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kalian. 
Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) 
dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu 
lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya. " [QS. al-Nisaa':59] 

Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan 
kebenaran. Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka. Ketetapan semacam 
ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, "Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada 
Allah.'T HR. Ahmad]. 

Di ayat tersebut juga terkandung rahasia bahwa, yang boleh ditaati hanyalah pemimpin yang beriman, 
u dan ulil amri di antara kalian ", yang dimaksud "kalian" disini ialah orang beriman, sebagaimana tertera 
pada kalimat sebelumnya, "Hai orang-orang yang beriman" ... maka bukankah Allah telah memvonis 
mereka yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah bukan orang-orang yang beriman? 

Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,"Bukankah 
engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, "dan taatlah kepada ulil amri 
diantara kalian.."Ibnu Hazim menjawab, "Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi 
kebenaran, berdasarkan firman Allah,"jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia 
kepada Allah, yakni kepada Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah 
beliau saw wafat.." 



54lAl-Ghuroba 



Tapi tentu kita tahu, Di dalam hadits-hadits shahih juga dituturkan mengenai kewajiban mentaati 
penguasa (ulil amri), baik yang adil maupun fasik. Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Abi 
Salamah bin 'Abdirrahman, bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata: 

"Rasulullah saw telah bersabda, "Siapa saja yang mentaati aku, maka dia telah mentaati Allah swt, 
dan barang siapa bermaksiat kepadaku, sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah. Siapa saja yang 
mentaati pemimpinku, maka dia telah mentaatiku; dan barangsiapa tidak taat kepada pemimpinku, maka 
dia telah berbuat maksiat kepadaku.. " [HR. Bukhari] 

Hisyam bin 'Urwah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia 
menyatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda: 

"Setelahku akan ada para penguasa, maka yang baik akan memimpin kalian dengan kebaikannya, 
sedangkan yang jelek akan memimpin kalian dengan kejelekannya. Untuk itu, dengar dan taatilah mereka 
dalam segala urusan bila sesuai dengan yang haq. Apabila mereka berbuat baik, maka kebaikan itu adalah 
hak bagi kalian. Apabila mereka berbuat jelek maka kejelekan itu hak bagi kalian untuk mengingatkan 
mereka, serta kewajiban mereka untuk melaksanakannya. " 

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari ' Abdullah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepada 
kami: 

u Kalian akan melihat pada masa setelahku, ada suatu keadaan yang tidak disukai serta hal-hal yang 
kalian anggap mungkar. Mereka (para shahabat) bertanya, "Apa yang engkau perintahkan kepada kami, 
wahai Rasulullah? Beliau menjawab, "Tunaikanlah hak mereka, dan memohonlah kepada Allah hak 
kalian. " [HR. Bukhari] 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abu Raja', dari Ibnu 'Abbas, dinyatakan, 
bahwasanya Rasulullah saw bersabda: 

"Barangsiapa membenci sesuatu yang ada pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar. Sebab, tak 
seorangpun boleh memisahkan diri dari jama 'ah, sekalipun hanya sejengkal, kemudian dia mati, maka 
matinya adalah seperti mati jahiliyyahr [HR. Bukhari] 

Hadits-hadits di atas merupakan hujjah yang sangat jelas wajibnya seorang Muslim mentaati 
penguasa meskipun ia terkenal fasik dan dzalim. Bahkan di dalam riwayat-riwayat lain, Rasulullah 
saw telah memberikan penegasan {ta'kid) agar kaum Muslim tetap mentaati penguasa dalam kondisi 
apa pun. 

Meskipun kaum Muslim diperintahkan untuk tetap mentaati penguasa dzalim dan fasiq, dan dilarang 
memerangi dengan pedang, akan tetapi dalam satu kondisi; kaum mukmin wajib memisahkan diri dari 
mereka, tidak memberikan ketaatan kepada mereka, dan diperbolehkan memerangi mereka dengan pedang, 
yaitu, jika mereka telah menampakkan kekumran yang nyata. Ketentuan semacam ini didasarkan pada 
riwayat-riwayat berikut ini. Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw 
bersabda: 

"Akan datang para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrujan dan kemungkarannya, maka 
siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan 
selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka) ". Para shahabat bertanya, "Tidaklah 
kita perangi mereka?" Beliau bersabda, "Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat" Jawab Rasul. " 
[HR. Imam Muslim] 

Dalam hadits 'Auf bin Malik yang diriwayatkan Imam Muslim, juga diceritakan: 



55lAl-Ghuroba 



"Ditanyakan, "Ya Rasulullah, mengapa kita tidak memerangi mereka dengan pedang? V Lalu dijawab, 
"Tidak, selama di tengah kalian masih ditegakkan shalatT [HR. Imam Muslim] 

Dalam riwayat lain, mereka berkata: 

"Kami bertanya, 'Ya Rasulullah, mengapa kita tidak mengumumkan perang terhadap mereka ketika 
itu?. fi Beliau menjawab, 'Tidak, selama mereka masih sholat. " 

Tatkala berkomentar terhadap hadits ini, Imam Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan: 

"Sabda Nabi saw, u (Satukunu umardu fa ta'rifua wa tunkirun faman 'arifa faqad barVa wa man 
ankara salima, wa lakin man radhiya wa tdba'a, qdlu: afald nuqdtiluhum? Qdla: Ld...md shallu)" , hadits 
ini, di dalamnya terkandung mukjizat yang sangat nyata mengenai informasi yang akan terjadi di masa 
mendatang, dan hal ini telah terjadi sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi saw. Adapun sabda Rasulullah 
saw, "(faman 'arafafaqad barVd) dan dalam riwayat lain dituturkan, "(faman kariha faqad barVa). Adapun 
riwayat dari orang yang meriwayatkan, "(faman kariha faqad barVa), maka hal ini sudah sangat jelas. 
Maknanya adalah, "Siapa saja yang membenci kemungkaran tersebut, maka terlepaslah dosa dan siksanya. 
Ini hanya berlaku bagi orang yang tidak mampu mengingkari dengan tangan dan lisannya, lalu ia 
mengingkari kemungkaran itu dengan hati. Dengan demikian, ia telah terbebas (dari dosa dan siksa). 
Adapun orang yang meriwayatkan dengan redaksi "(/aman 'arafa barVa), maknanya adalah -Allah swt 
yang lebih Mengetahui-, "Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, kemudian ia tidak mengikutinya, 
maka ia akan mendapat jalan untuk terlepas dari dosa dan siksanya dengan cara mengubah kemungkaran itu 
dengan tangan dan lisannya. Dan jika tidak mampu, hendaknya ia mengingkari kemungkaran itu dengan 
hatinya. Sedangkan sabda beliau, "(walakin man radhiya wa tdba '«)", maknanya adalah, akan tetapi, dosa 
dan siksa akan dijatuhkan kepada orang yang meridhoi dan mengikuti. Hadits ini merupakan dalil, bahwa 
orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak akan berdosa meskipun hanya sukut 
(mengingkari kemungkaran dengan diam). Namun, ia berdosa jika ridho dengan kemungkaran itu, atau jika 
tidak membenci kemungkaran itu, atau malah mengikutinya. Adapun sabda Rasulullah saw, "(Afala 
nuqdtiluhum? Qdla" Ld, md shalluu), di dalamnya terkandung makna sebagaimana disebutkan sebelumnya, 
yakni tidak boleh memisahkan diri dari para khalifah, jika sekedar dzalim dan fasik, dan selama mereka 
tidak mengubah salah satu dari sendi-sendi Islam ". 

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari 'Ubadah bin Shamit, bahwasanya dia berkata: 

"Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu 
yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untuk selalu mendengarkan dan taat 
[kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami 
dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika 
kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [danj memiliki buktiyang kuat dari Allah. " [HR. Bukhari] 

Hadits-hadits ini telah mengecualikan larangan untuk memisahkan diri dan memerangi penguasa 
dengan pedang pada satu kondisi, yakni "kekuiuran yang nyata". Artinya, jika seorang penguasa telah 
melakukan kekufuran yang nyata, maka kaum Mukmin wajib melepaskan ketaatan dari dan diperbolehkan 
memerangi mereka dengan pedang. 

Sehingga jika kekururan penguasa bisa dibuktikan dengan ayat-ayat, nash-nash, atau berita shahih 
yang tidak memerlukan takwil lagi, maka seorang wajib memisahkan diri darinya. Akan tetapi, jika bukti- 
bukti kekufurannya masih samar dan masih memerlukan takwil, seseorang tetap tidak boleh memisahkan 
diri dari penguasa. 

Maka ketahuilah, larangan memisahkan diri dari penguasa telah dikecualikan oleh potongan 

kalimat berikutnya, yakni," kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata dan memiliki bukti 
yang kuat dari Allah. "[HR. Bukharil. 

56lAl-Ghuroba 



Ini menunjukkan, bahwa seorang Muslim wajib memisahkan diri dari penguasa, bahkan boleh 
memerangi mereka dengan pedang, jika telah terbukti dengan nyata dan pasti, bahwa penguasa tersebut telah 
terjatuh ke dalam "kekufuran yang nyata." 

Bukti-bukti yang membolehkan kaum Muslim memerangi khalifah haruslah bukti yang menyakinkan 
(qath'iy). Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa kekufuran adalah lawan keimanan. Jika keimanan harus 
didasarkan pada bukti-bukti yang menyakinkan (qath'iy), demikian juga mengenai kekufuran. Kekururan 
harus bisa dibuktikan berdasarkan bukti maupun fakta yang pasti, tidak samar, dan tidak memerlukan takwil 
lagi. Misalnya, jika seorang penguasa telah murtad dari Islam, atau mengubah sendi-sendi 'agidah dan 
syariat Islam berdasarkan bukti yang menyakinkan, maka ia tidak boleh ditaati, dan wajib diperangi . 
Sebaliknya, jika bukti-bukti kekufurannya tidak pasti, samar, dan masih mengandung takwil, seorang 
Muslim tidak diperkenankan mengangkat pedang di hadapannya. 

Imam Nawawi, di dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan: 

Imam Qadliy 'Iyadl menyatakan, "Para ulama telah sepakat bahwa imamah (pemerintahan) tidak sah 
diberikan kepada orang kajir. Mereka juga sepakat, seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam 
kekajiran, maka ia wajib dimakiulkan . Beliau juga berpendapat, "Demikian juga jika seorang penguasa 
meninggalkan penegakkan sholat dan seruan untuk sholat...Imam Qadliy 'Iyadl berkata, "Seandainya 
seorang penguasa terjatuh ke dalam kekufuran dan mengubah syariat, atau terjatuh dalam bid 'ah yang 
mengeluarkan dari hukm al-wilayah (tidak sah lagi mengurusi urusan pemerintahan), maka terputuslah 
ketaatan kepadanya, dan wajib atas kaum Muslim untuk memeranginya, memakiulkannya, dan mengangkat 
seorang imam adil,jika hal itu memungkinkan bagi mereka " 

Bagaimana mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang yang 
memerangi agama kita.... bagaimana mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita 
adalah orang yang menjual rahasia dan aset kaum muslimin kepada orang-orang kafir.... bagaimana 
mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang-orang yang melindungi 

dan menolong orang kafir yang memerangi umat muslim bagaimana mungkin kita taat kepada seorang 

pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang yang mencuri (korupsi) harta kaum muslimin... 
bagaimana mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang yang 
mendukung kafir untuk melakukan pembunuhan terhadap seorang muslim! Bagaimana mungkin Allah 
memerintahkan untuk taat kepada pemimpin yang seperti itu?? 

Sayangnya, ketentuan semacam ini telah dikaburkan dan diselewengkan oleh ulama-ulama suu 'yang 
rela berkhianat terhadap umat Islam untuk melanggengkan eksistensi penguasa dan pemerintahan kufur 
melalui fatwa-fatwa culas dan penuh dengan pengkhianatan. Ulama-ulama ini tidak segan-segan dan malu- 
malu menyerukan kepada umat Islam agar mereka tetap mentaati penguasa-penguasa sekarang, padahal para 
penguasa itu telah terjatuh ke dalam u kekufuran yang nyata" .Dan bukankah sudah kutuliskan mengenai 
kekufuran pemerintah indonesia? Sudahkah engkau membacanya? 



57lAl-Ghuroba 



TAKFIR 



58lAl-Ghuroba 



Maka aku katakan: Rasulullah Saw bersabda " Sesungguhnya Allah akan memberikan pertolongan kepada din 
(agama) ini dengan suatu kaum yang mereka tidak punya akhlak sama sekali" sehingga banyak sekali manusia 
yang Allah tundukkan untuk membantu agama dan orang-orangnya ini tanpa ada niat dari mereka untuk 
membela agama Allah, seperti ini sesungguhnya yang dipuji hanya Allah saja, dan mereka tidak 
mendapatkan pahala sama sekali....lihatlah kepada Fahd Bin Abdul Aziiz, dia telah mencetak beratus- 
ratus juta mush-haf Al Qur-aan Asy Syariit. .. dia ini ditundukkan oleh Allah untuk membantu agama 
ini....akan tetapi dengan amalnya dia ini tidak mendapatkan pahala disisi Allah sama sekali selama dia 

masih diatas kesyirikannya dan berwala' dengan orang-orang katir Allah Swt bertirman (Dan barang 

siapa yang berwala' kepada mereka maka dia termasuk diantara mereka) (QS. Al Maa-idah : 51)... 

Dia bertanya: Bagaimana kamu tahu dan dapat memastikan akan hal ini..?? ini yang tahu hanyalah Allah 
saja...!!! 

Aku katakan: Kami telah diberitahu oleh Allah di dalam kitabNya, Allah bertirman tentang perbuatan 
orang-orang musyrik (Lalu kami hadapkan apa-apa yang telah mereka kerjakan dan kami jadikan amalan itu seperti 
debu yang berterbangari) yaitu kadang-kadang orang-orang katir itu membangun rumah sakit-rumah sakit, 
masjid-masjid, dan banyak berbuat kebaikan dan kebajikan, akan tetapi selama itu tidak dibangun diatas 
kaedah iman dan tauhid, yang merupakan salah satu syarat dari syarat-syarat sahnya dan diterimanya 
amal, maka dengan itu apa yang dia lakukan menjadi bathil, tertolak dan tidak diterima, karena barang 
siapa yang syirik kepada Allah dan berwali kepada orang-orang musyrik serta mengikuti undang-undang 
mereka yang bathil atau menjaganya dan memeliharanya juga memerangi orang-orang yang bertauhid 
yang membenci semua itu, maka dia tidak mendapatkan sesuatu sedikitpun dari sisi Allah, dan tidak 
diterima amalnya hingga dia berlepas diri dari kesyirikan dan para thaghut. . . . 

Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi 

Penjara Suwaaqah - Urdun - 1416 H 

Akhir bulan Rabi'ul Awwal tahun 1416 H 



59lAl-Ghurob 



TAKFIR 

Takfir artinya, mengkafirkan orang lain yang berbuat syirik. Ketahuilah wahai saudaraku, saat 
hancurnya tatanan Tauhid di Saudi Arabia dan bercokolnya para thaghut di sana, maka masalah-masalah 
Tauhid ikut tersisihkan bersama para 'ulamanya. Para thaghut membatasi gerak lisan para ulama. Kitab- 
kitab rujukan dalam hal ini sangatlah asing dan yang banyak beredar adalah kitab-kitab yang samar, bersifat 
mujmal dan banyak menguntungkan para thaghut. Namun alhamdulillah kebenaran tidak akan hilang 
apapun upaya thaghut untuk menutupinya. 

Pada masa sekarang, ketika membaca kitab-kitab samar tersebut, masalah takfir seolah-olah menjadi 
tabu untuk dibahas. Bila ada orang yang berani mengangkat kepalanya dalam hal ini, maka serta merta 
tuduhan Khawarij dan Takfiriy menghujaninya. Jadi tidaklah aneh bila banyak orang yang 'phobia' takfir. 
Akan tetapi muslim muwahhid yang lebih mengutamakan ridha Allah atas yang lainnya, maka tidak akan 
peduli terhadap tuduhan-tuduhan murahan yang dialamatkan kepadanya, karena ridha Allah adalah tujuan 
utama. Berkaitan dengan itu, maka marilah kita membahasnya dengan merujuk pada Al-Qur'an , As Sunnah 
dan ijma serta pernyataan para 'ulama. 

Ketahuilah bahwa pelaku syirik akbar sudah Allah kaiirkan dalam banyak ayat Al Qur'an, di 
antaranya yaitu : 

"Dan barangsiapa mengibadahi Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun 
baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang 
yang kajir itu tiada beruntung. " (Al Mu'minuun : 1 17) 

Dan firman-Nya; 

"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manjaat dan tidak (pula) memberi 
mudharat kepadamu selain Allah; sebabjika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kalau 
begitu kamu termasuk orang-orang yang zhalim" '. (Yunus : 106). 

Yang dimaksud orang-orang zhalim di sini adalah orang-orang musyrik, sebagaimana firman-Nya : 

"Dan (ingatlah) ketika Luaman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai 
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar- 
benar kezhaliman yang besar" . (Luqman : 13) 

Yang dimaksud orang-orang zhalim di sini adalah orang-orang kafir sebagaimana dalam ayat : 

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami 
berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi 
syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim. " (Al Baqarah : 254) 

Bila Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memvonis kafir para pelaku syirik, maka wajiblah atas kita 
membenarkan vonis Allah itu dalam bentuk kita mengkafirkan pelaku syirik itu. 

Masih banyak ayat Al Qur'an yang memvonis kafir para pelaku syirik akbar. Allah juga 
memerintahkan kita untuk memvonis kafir para pelaku syirik, Dia Ta'ala beriirman : 

"Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan 
kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan 
kemudharatan yang pernah dia berdo 'a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia 
mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: 

"Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; Sesungguhnya kamu termasuk penghuni 
neraka". 

60IA1-Ghuroba 



(Az Zumar : 8) 

"Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) 
dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah 
neraka". (Ibrahim : 30) 

Allah juga memerintahkan kita untuk mengikuti jejak Ibrahim dan Rasul-Rasul serta para 
pengikutnya saat mereka mengatakan kepada kaumnya : 

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama 
dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan 
dari dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami 
dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.... " 
(Al Mumtahanah : 4) 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman : 

"Katakanlah: "Hai orang-orang kajir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah ". (Al Kaafiruun 
:l-2) 

Adapun sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di antaranya : 

"Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain 
Allah, maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah Subhanahu Wa Ta'ala " 
(HR. Muslim dari Abu Hurairah) 

Mengkafirkan para pelaku syirik adalah bagian dari makna kafir kepada thaghut. Maka bagaimana 
halnya sehingga sebagian orang-orangberani mengatakan itu adalah fitnah Khawarij seraya mereka 
mengingkari kepada muwahhid yang melaksanakan kewajiban kufur kepada thaghut. Kufur kepada thaghut 
adalah kewajiban setiap muwahhid bukan kewajiban 'ulama saja. Apakah kewajiban kufur terhadap thaghut 
adalah atas 'ulama saja? Jawablah dengan dalil, jangan dengan dalih. 

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

"Siapa yang mengganti diennya, maka bunuhlah dia". (HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Macam penggantian dien yang paling dahsyat adalah syirik akbar. Pelakunya divonis bunuh, sedangkan 
vonis itu tidak jatuh, kecuali setelah takfir. 

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengutus seorang sahabat untuk membunuh seorang laki-laki yang 
menikahi bekas ibu tirinya. Ini adalah pengkafiran dari beliau, sedangkan menikahi ibu tiri statusnya jauh di 
bawah syirik akbar, meskipun keduanya adalah bentuk kekafiran. 

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah hendak menyerang Banu Al Mushthaliq, saat ada kabar 
bahwa mereka menolak membayar zakat, tapi ternyata kabar tersebut adalah bohong. 

Adapun ijma sangat banyak, diantaranya : 

Ijma para sahabat pada zaman Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu'anhu atas pengkafiran 
Musailamah Al Kadzdzab dan para pengikutnya. 

Dan di antara orang-orang yang murtad ada yang tetap di atas dua kalimat syahadat, namun dia 
mengakui kenabian Musailamah dengan dugaan darinya bahwa beliau (shalallahu 'alaihi wa sallam ) 

61lAl-Ghuroba 



menyertai dia dalam kenabian, karena dia mengangkat saksi-saksi palsu yang menyaksikan kenabiannya, 
kemudian dia dibenarkan banyak orang. Meskipun demikian, para 'ulama ijma bahwa mereka itu adalah 
orang-orang murtad meskipun mereka jahil akan hal itu. Dan siapa yang meragukan kemurtadan mereka, 
maka dia kafir seperti mereka. 

Ijma para sahabat pada zaman Abu Bakar radliyallahu'anhu atas pengkafiran orang-orang yang menolak 
membayar zakat. 

Ijma para sahabat pada zaman Utsman ibnu 'Affan radliyallahu 'anhu atas pengkafiran jama'ah mesjid di 
Kufah, saat salah seorang di antara mereka melontarkan ungkapan pembenaran akan kenabian Musailamah, 
sedangkan yang lain diam, tidak mengingkari . 

Ijma para sahabat pada zaman Ali radliyallahu'anhu atas pengkafiran Ghulatur Rafidlah yang 
mengkultuskan Ali radliyallahu'anhu, padahal mereka itu adalah orang-orang yang rajin beribadah dan 
merupakan murid-murid para sahabat Rasul. Hukuman bagi mereka adalah dibakar hidup-hidup oleh Ali 
radliyallahu'anhu di Bab (pintu) Kandah dalam parit. 

Ijma para Tabi'in atas pengkafiran Al Ja'd ibnu Dirham, padahal dia adalah seorang ahli ilmu, ahli 
ibadah dan zuhud. 

Ijma para ulama atas pengkaiiran Bani 'Ubaid (para penguasa Mesir pada masa dinasti Fathimiyyah) 
padahal mereka itu mengaku sebagai penguasa Khilafah Islamiyyah. Bani 'Ubaid dan jajarannya yaitu para 
penguasa Mesir. Sesungguhnya mereka mengaku sebagai bagian dari keturunan Ahlul Bait. Mereka selalu 
shalat berjama'ah dan shalat Jum'at. Mereka telah mengangkat para qadli dan mufti. Para 'ulama telah ijma 
bahwa mereka itu kafir, murtad lagi mesti diperangi, negeri mereka adalah negeri kafir harbi. Wajib 
memerangi mereka meskipun mereka (rakyatnya) dipaksa dan benci kepada para penguasa itu." 

Ijma semua 'ulama madzhab dalam kitab-kitab mereka, di mana mereka semua menetapkan bab 
khusus tentang riddah dan mereka memulainya dengan syirik akbar. 

Ijma-ijma ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa takfir itu bukan fitnah, akan tetapi 
dien. . .,apalagi dalam masalah syirik akbar. 

Dan seorang pun dari kalangan ahlul kiblat tidak boleh dikeluarkan dari Islam, sehingga ia menolak 
satu ayat dari kitab Allah atau sesuatu dari atsar-atsar Rasulullah shalallahu 'alaihiwa sallam atau dia shalat 
kepada selain Allah, atau dia menyembelih untuk selain Allah (tumbal). Dan siapa melakukan sesuatu dari 
hal-hal itu, maka WAJIB atas engkau mengeluarkan dia dari Islam. 

Mengkafirkan pelaku syirik itu wajib atas engkau...bukan fitnah! Ini adalah 'aqidah Ahlus Sunnah 
bukan Khawarij. Orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka itu sama 
saja membenarkan ajaran mereka. 

Wahai saudaraku, siapakah yang dalam posisi bahaya, kami yang mengkafirkan pelaku syirik atau 
kalian yang tidak mengkafirkannya ? Apakah pembatal Islam yang satu ini khusus bagi ulama yang tidak 
mengkafirkan pelaku syirik atau bagi semua orang yang tidak mengkafirkan? 

Engkau harus meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah, engkau meninggalkannya, engkau 
membencinya, engkau mengkafirkan para pelakunya, serta engkau memusuhi mereka. 

Mengkafirkan pelaku syirik adalah termasuk makna kufur terhadap thaghut, sedangkan kufur kepada 
thaghut adalah separuh kandungan Laa ilaaha illallaah. Apa komentarmu, wahai saudaraku? Apakah kufur 
kepada thaghut itu adalah kewajiban atas 'ulama saja ? Kalau demikian, Tauhid itu berarti hanya wajib atas 
'ulama saja dan tidak atas yang lainnya. ...??? 

62lAl-Ghuroba 



Subhaanallah... padahal di antara kalian ada orang yang tidak memusuhi pelaku syirik apalagi 
mengkafirkannya, namun yang mereka musuhi adalah para muwahhidin. Ada diantara kalian yang 
membela-bela rezim ini, dan mengatakan orang yang berperang melawannya adalah "teroris"... 

Orang yang paham makna Laa ilaaha illallaah, maka dia paham bahwa takfir pelaku syirik adalah 
bagian dari maknanya. Mungkin kalian berkata : "Itu kan kamu, bukan ulama! Bukan lulusan Al-Azhar! 
Ucapan kamu bukan dalil..." 

Kami jawab : "Ya benar, ini bukan dalil, akan tetapi tanggapan kami itu berdasarkan dalil Al Kitab, As 
Sunnah dan ijma, sedangkan apa dalil kalian bahwa takfir pelaku syirik akbar adalah hak 'ulama? Dan 
haram mengkafirkan pelaku syirik akbar? Mana dalil kalian dari Al Qur'an, As Sunnah atau ijma?" 

Di antara hal yang pelakunya wajib diperangi adalah tidak mau mengkafirkan pelaku syirik atau ragu 
akan kekafiran mereka. Sesungguhnya hal itu tergolong penggugur dan pembatal keislaman. Siapa yang 
memiliki sifat ini, maka dia telah kafir, halal darah dan hartanya serta wajib memeranginya, sedangkan dalil 
atas hal itu adalah sabda Nabi shalallahu 'alaihiwa sallam : 

"Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dia kafir kepada segala sesuatu yang diibadati selain 
Allah, maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah Subhanahu Wa Ta'ala". 

Beliau shalallahu 'alaihi wa sallam menggantungkan keterjagaan darah dan harta terhadap dua hal, hal 
pertama ucapan Laa ilaaha illallaah dan ke dua kufur kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, 
maka darah seorang hamba dan hartanya tidak terjaga sehingga dia mendatangkan dua hal ini. 

Siapa yang membela-bela para pelaku syirik dan para thaghut di negeri ini, kami atau kalian? 

Siapa yang mengingkari kepada yang mengka/irkannya, kami atau kalian ? 

Siapa yang mengatakan bahwa perbuatannya memang syirik, tapi orangnya tidak boleh dikatakan musyrik, 

kami atau kalian wahai ad'iyaa (para pengklaim paling) salajiy ? 

Apakah saya mengada-ada dari diri saya sendiri atau saya mengikuti 'ulama,..? 

Wahai saudaraku... setelah engkau mengetahui hal ini, segeralah berlepas diri daripara thagut Indonesia... 

Karena kurangnya pemahaman terhadap 'aqidah Ahlus Sunnah dan 'aqidah Khawarij, maka tak 
sedikit yang memvonis muwahhid yang mengkafirkan pelaku syirik sebagai Khawarij. Ini adalah vonis dari 
orang jahil, maka tentu tidaklah ada pengaruhnya, tapi realita membuktikan bahwa merekalah yang 
Khawarij, karena mereka beramah-tamah lagi akrab dengan para pelaku syirik, bahkan para thaghut di 
negeri ini, di sisi lain mereka memusuhi lagi menyerang para muwahhid yang sekuat tenaga melawan thagut 
di negeri ini. 

Sesungguhnya mereka orang-orang yang keberatan dengan masalah takfir, bila engkau mengamati 
mereka, ternyata orang-orang muwahhid itu musuh-musuh mereka, mereka membencinya dan dongkol 
dengannya, sedangkan orang-orang musyrik dan orang-orang munafik adalah kawan dekat mereka yang 
mana mereka bercengkrama dengannya.Subhaanallah... Yang Memegang hati ini. Memang mereka sengaja 
mengusir kaum muwahhidin sedangkan orang-orang musyrik dan para thaghut, mereka undang, mereka 
jamu dan dipersilahkan menyampaikan sambutan bahkan diberi bingkisan. 

Sebagian orang berkata saat mendengar muwahhid mengkafirkan pelaku syirik akbar atau thaghut 
yang mengaku Islam, maka dia spontan mengatakan : "Jangan kaiirkan saudaramu, ini bahaya, karena 
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Siapa mengatakan kepada saudaranya 'Wahai kafir...', 
maka tuduhan itu kembali kepada salah satunya (HR. Muslim)". 



63lAl-Ghuroba 



Maasyaa Allah, memang di zaman ini banyak hal serba terbalik.. Mereka mendalili orang kafir dengan dalil 
tentang orang mukmin. Wahai saudaraku..., Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan 
"...kepada saudaranya...", saya bertanya : Apakah para thaghut dan para pelaku syirik akbar itu 
adalah saudaramu sehingga dilarang mengkat irkannya ? 

Akhirnya saya tujukan kepada ikhwan muwahhidin, janganlah antum takut dengan dalih-dalih orang- 
orang seperti itu. Syubhat-syubhat yang mereka lontarkan adalah persis sama dengan syubhat-syubhat 
musuh sebelumnya dan semua itu alhamdulillaah ada jawabannya . 

Teruslah antum berdakwah dan jangan patah semangat. Badan kita jauh, tapi hati kita dekat. 
Perkuatlah silaturrahiim. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan 
para sahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah.. 



64lAl-Ghuroba 



DARUL KUFUR 
DARUL ISLAM 



65lAl-Ghurob 



DARUL KUFUR DAN DARUL ISLAM 

"Indonesia bukan negara sekuler bukan juga negara agama, tapi indonesia adalah negara beragama". 
Demikian argumentasi yang sering dikemukakan pihak pihak yang tidak ingin formalisasi syariat Islam di 
Indonesia baik dari golongan Islam ataupun non muslim. 

Padahal para fuqoha' hanya mengenal dua istilah untuk memberi status sebuah negara (Dar) yaitu 
Darul Islam atau Darul Kufur. Kalau tidak Darul Islam ya berarti Darul Kufur - dan sebaliknya. Tidak ada 
istilah lagi selain dua istilah itu. 

Namun di Indonesia muncul produk "ijtihad" terkait status Negara yaitu Darussalam (Negeri 
Damai) untuk menyebut Indonesia sebab mereka (atau malu) bila negeri mereka disebut Darul Kufur. Istilah 
ini benar benar istilah baru yang tidak pernah dijumpai di kitab-kitab karya fuqoha salaf Andaikan-pun ada, 
maka istilah Darussalam itu biasanya untuk menyebut salah satu nama surga, bukan istilah bagi status 
sebuah negara. 

Untuk menghindari kerancuan dan ketersinggungan, maka umat Islam harus menyadari bahwa ada 
dua istilah terkait status sebuah wilayah dimana mereka tinggal. Dua istilah itu adalah : 

1. Bilad (Negeri, Country) untuk penyebutan wilayah geografi berdasarkan karakteristik demografinya 
(agama, sosial budaya dll) 

2. Dar (Negara, State) untuk penyebutan wilayah geografi berdasarkan karakteristik hukum dan 
sistem pemerintahannya. 

Dari segi komposisi penduduk dan adat istiadatnya, maka Indonesia adalah bilad/negeri Islam 
(Islamic country), demikian juga pakistan, bangladesh Arab Saudi dll. Namun mereka semua bukanlah 
Negara Islam (Darul Islam / Islamic State). Negeri negeri di Eropa dari sisi komposisi serta adat istiadatnya 
kesemuanya adalah bilad/ negeri Kristen namun mereka semua tidak bisa disebut sebagai Negara Kristen 
(Christian State). Hal ini berbeda dengan riwayat sejarah berabad sebelumnya dimana negeri-negeri Islam 
sekarang adalah bagian dari Daulah Islam (Darul Islam) dan negeri negeri Eropa adalah Kerajaan Kristen 
(Christian Kingdom). 

Sebagai ilustrasi, Yastrib awalnya adalah negeri jahiliyah sekaligus darul kufur yang kemudian 
berubah menjadi Darul Islam atau Darul Muhajirin. Istilah Darul Muhajirin adalah istilah yang disematkan 
Baginda Nabi atas wilayah yang dia pimpin. Dalam berbagai sariyah (ekspedisi perang), beliau 
memerintahkan para sahabat sbb : 

"Serulah mereka pada Islam. Jika mereka menyambutnya, terimalah mereka, dan hentikanlah 
peperangan atas mereka, kemudian ajaklah mereka berpindah dari negerinya (Darul Kufur) ke Darul 
Muhajirin (Darul Islam, yang berpusat di Madinah), dan beritahukanlah kepada mereka bahwa jika 
mereka telah melakukan semua itu maka mereka akan mendapatkan hak yang sama sebagaimana yang 
dimiliki kaum muhajirin, dan juga kewajiban yang sama seperti halnya kewajiban kaum Muhajirin " (HR 
Muslim). 

Kesimpulannya, sebuah Negara disebut Negara Islam (Darul Islam) apabila memenuhi 2 syarat : 

(1) Hukum yang diterapkan adalah Hukum Islam 

(2) Keamanan negara tersebut berada di tangan umat Islam. 

Sebaliknya, sebuah Negara disebut sebagai Darul Kafir bila salah satu atau kedua syarat tersebut 
tidak ada 



66lAl-Ghuroba 



Keengganan mengakui bahwa Indonesia adalah Darul Kufur antara lain karena beberapa 
argumentasi, Argumentasi Pertama, hukum Islam di Indonesia masih dijadikan sebagai salah satu sumber 
hukum sebagai bagian dari hukum adat. Argumentasi ini justru menunjukkan bahwa Indonesia bukan Darul 
Islam, disebabkan hukum yang berlaku merupakan hukum kompromi antara hukum Islam dengan hukum 
kufur. Terlebih sudah jelas Indonesia merdeka dengan mewarisi 100% KUHP Belanda walupun kemudian 
secara perlahan konten kebelandaan itu dikurangi/direvisi sehingga tidak persis 100% lagi seperti KUHP 
Belanda . 

Argumentasi Kedua, Undang Undang yang dibuat DPR/Presiden adalah berdasarkan Pancasila dan 
UUD 1945 yang digali atau sudah sesuai dengan aqidah dan syariat Islam. Pengakuan seperti ini jelas 
merupakan bentuk ketidakcermatan dalam menelaah realitas hukum di Indonesia. Pertama, Pancasila dari 
awal pembentukannya disepakati sebagai sebuah filsafat bernegara bukan ideologi kenegaraan yang tentu 
saja sebagai filsafat maka dia hanya berupa unsur nilai yang bisa saja dicocok-cocokkan dengan agama 
apapun baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha ataupun Kong Hu Cu walaupun yang terakhir itu tampak 
sekali dipaksakan. Kedua, UUD1945 bisa saja ada beberapa ayat/pasal ada yang mirip dengan ketentuan 
syariat sebab diantara penyusun UUD 1945 ada juga tokoh Islam. Tapi seperti yang saya jelaskan 
sebelumnya, "mirip hukum islam" bukan berarti dapat dikatakan sebagai hukum islam. 

Ada kekuatiran di masyarakat bahwa bila Indonesia berstatus darul kufur, maka anggota masyarakat 
di dalamnya juga berstatus kafir. Ini juga menjadi sebab penolakkan untuk menyebut Indonesia sebagai 
darul kafir. Kesimpulan ini adalah kesimpulan yang salah, bukan berdasarkan penggalian hukum Islam yang 
benar. 

Kekufuran negara tidak secara langsung merubah status muslim di dalamnya menjadi kafir 
sebagaimana tidak berubahnya status seseorang non muslim menjadi Islam ketika negerinya berubah 
menjadi Darul Islam. Kekufuran individu terkait dengan masalah aqidah yang dianutnya sedangkan status 
Darul Kufur suatu negara semata terkait dengan jenis hukum yang diterapkan di negeri tersebut + keamanan 
yang menguasai negeri tersebut. Rasulullah SAW sendiri 13 tahun dakwahnya adalah menjadi warga Darul 
Kuffur Makkah. 

NKRI DALAM PANDANGAN ISLAM 

Sesungguhnya jika orang kafir ragu atau tidak mengetahui kekafiran dirinya sendiri, maka itu bisa kita 
maklumi. Namun sangatlah tidak wajar kalau orang yang mengaku bara' dari orang kafir, namun tidak 
mengetahui bahwa orang yang di hadapannya adalah kafir, padahal segala tingkah laku, keyakinan dan 
ucapannya sering dia lihat dan dia dengar. 

Banyak orang yang mengaku Islam bahkan mengaku dirinya bertauhid tidak mengetahui bahwa negara 
tempat ia hidup dan pemerintah yang yang bertengger di depannya adalah kufur. Ketahuilah, sesungguhnya 
kelslaman seseorang atau negara bukanlah dengan sekedar pengakuan, tapi dengan keyakinan, ucapan dan 
perbuatannya. 

Sesungguhnya kekufuran Negara Indonesia ini bukanlah hanya terlihat dari satu sisi, yang bisa tersamar bagi 
orang yang rabun. Setelah penjelasan mengenai hakikat demokrasi dan pancasila diatas maka perhatikanlah, 
sesungguhnya kekufuran negara ini dapat terlihat dari berbagai sisi, tentu tidak samar lagi, kecuali atas 
orang-orang kafir. Inilah sisi-sisi kekufuran Negara Indonesia dan pemerintahnya: 

Berhukum dengan selain hukum Allah Subhaanahu Wa Ta'ala 

Indonesia tidak berhukum dengan hukum Allah, tetapi berhukum dengan qawanin wadl'iyyah (undang- 
undang buatan) yang merupakan hasil pemikiran setan-setan berwujud manusia, baik berupa kutipan atau 
jiplakan dari undang-undang penjajah (seperti Belanda, Portugis, dll) maupun undang-undang produk lokal. 



67lAl-Ghuroba 



Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala berfirman: 

"...Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah 
orang-orang kafir." (Al Maaidah: 44) 

Ayat ini sangat nyata, meskipun kalangan Murjiah ingin memalingkannya kepada kufur asghar dengan 
memelintir tafsir sebagian salaf yang mereka tempatkan bukan pada tempatnya. (lihat bab, syubhat 
demokrasi) 

Negara dan pemerintah negeri ini lebih menyukai undang-undang buatan manusia daripada Syari'at Allah, 
maka kekafirannya sangat jelas dan nyata. Kekafiran undang-undang buatan ini sangat berlipat-lipat bila 
dikupas satu per satu, di dalamnya ada bentuk penghalalan yang haram, pengharaman yang halal, perubahan 
hukum/ aturan yang telah Allah tetapkan dan bentuk kekafiran lainnya. 

Syaikhul Islamlbnu Taimiyyah rahimahullah berkata: 

"Seseorang di kala menghalalkan keharaman yang sudah di-ijma-kan, atau mengharamkan kehalalan yang 
sudah di-ijma-kan, maka dia kafir murtad dengan kesepakatan fuqaha". (Majmu Al Fatawa 3/267) 

Bahkan Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah menyebutkan bahwa di antara pentolan 
thaghut adalah: Orang yang memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan. Kemudian beliau 
menyebutkan dalilnya, yaitu Surat Al Maidah: 44 tadi. (Risalah fie Ma'na Thaghut, lihat dalam Majmu'ah 
AtTauhid). 

Bila saja memutuskan dengan hukum Injil yang padahal itu adalah hukum Allah -namun sudah dinasakh-, 
merupakan kekatiran dengan ijma kaum muslimin, maka apa gerangan bila memutuskan perkara dengan 
menggunakan hukum buatan setan (berwujud) manusia, sungguh tentu saja lebih kafir dari itu. . . 

Apakah presiden, wakilnya, para menterinya, para pejabat, para gubernur hingga lurah, para hakim dan 
jaksa, apakah mereka memutuskan dengan hukum Allah atau dengan hukum buatan? Apakah mereka 
mengamalkan amanat Allah dan Rasul-Nya atau amanat undang-undang? Jawabannya sangatlah jelas. Maka 
dari itu tak ragu lagi bahwa mereka itu adalah orang kafir jika mereka tahu bahwa apa yang ditaatinya 
adalah thagut . 

• Apakah RI ini berhukum dengan syari'at Allah? Jawabannya: TIDAK. 

• Apakah RI tunduk pada hukum Allah? Jawabannya: TIDAK. 

Berarti RI adalah negara jahiliyyah, kafir, zhalim dan fasiq, sehingga wajib bagi setiap muslim membenci 
dan memusuhinya, serta haramlah mencintai dan loyal kepadanya. 

Mengadukan kasus persengketaannya kepada thaghut 

Di antara bentuk kekafiran adalah mengadukan perkara kepada thaghut. Saat terjadi persengketaan antara RI 
dan pihak luar, maka sudah menjadi komitmen negara-negara anggota PBB adalah mengadukan kasusnya ke 
Mahkamah Internasional yang berkantor di Den Haag Belanda. Maka inilah yang dilakukan RI, misalnya 
saat terjadi sengketa dengan Malaysia tentang kasus Pulau Sipadan dan Ligitan, mengadulah negara ini ke 
Mahkamah Internasional. Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala berfirman: 

"Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengklaim bahwa dirinya beriman kepada apa 
yang telah Allah turunkan kepadamu dan apa yang telah diturunkan sebelum kamu, seraya mereka ingin 
merujuk hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir terhadapnya. Dan 
syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sangat jauh" . (An Nisaa: 60) 

68lAl-Ghuroba 



Yang jelas sesungguhnya negara ini pasti mengadukan kasus sengketanya dengan negara lain kepada 
Mahkamah Internasional, padahal Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala bertirman: 

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul serta ulil 'amri di antara kalian. Kemudian 
bila kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya bila kalian 
memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu adalah lebih baik dan lebih indah 
akibatnyd\ (An Nisaa: 59) 

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: 

"(Firman Allah) ini menunjukkan bahwa orang yang tidak merujuk hukum dalam kasus persengketaannya 
kepada Al Kitab dan As Sunnah serta tidak kembali kepada keduanya dalam hal itu, maka dia bukan orang 
yang beriman kepada Allah dan hari Akhir." (Tatsir Al Qur'an Al 'Adhim: 346) 

Hukum internasional adalah rujukan negara-negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, 
sedangkan itu adalah salah satu bentuk thaghut dan merujuk kepadanya adalah kekatiran dengan ijma 
'ulama. 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: 

"Siapa yang meninggalkan hukum paten yang diturunkan kepada Muhammad ibnu ' Abdillah -sang penutup 
para Nabi- dan ia justeru merujuk hukum kepada yang lainnya berupa hukum-hukum yang sudah dinasakh 
(dihapus), maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang merujuk hukum kepada ILYASIQ dan ia 
lebih mendahulukannya daripada hukum (yang dibawa Rasulullah). Siapa yang melakukan itu, maka dia 
kafir dengan ijma' kaum muslimin". (Al Bidayah wan Nihayah: 13/119) 

Jadi 'konstruksi'Ilyasiq atau Yasiq tersebut adalah sama persis dengan kitab-kitab hukum yang dipakai di 
negara ini dan yang lainnya 



Negara dan pemerintah ini berloyalitas kepada orang-orang kafir, baik yang duduk di PBB atau yang 
ada di Amerika, Eropa dll, serta membantu mereka dalam rangka membungkam para muwahhidin 

mujahidin 

Bukti atas hal ini sangatlah banyak. Salah satunya yang paling menguntungkan kaum kuffar barat dan timur, 
yang banyak menjebloskan para mujahidin ke dalam sel-sel besi adalah diberlakukannya Undang-undang 
Anti Jihad (menurut bahasa mereka Undang-undang Anti Terorisme), dan tentu saja negara ini pun ikut aktif 
dalam hal itu dengan memberlakukan UU Anti Terorisme. Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala 
berfirman: 

" Dan siapa yang tawalliy (memberikan loyalitas) kepada mereka di antara kalian, maka 

sesungguhnya dia tergolong bagian mereka" .(A\ Maaidah: 51) 

Memberikan atau memalingkan hak dan wewenang membuat hukum dan undang-undang kepada 

selain Allah 

Telah kita ketahui bahwa hak menentukan hukum atau aturan atau undang-undang adalah hak khusus bagi 
Allah Subhaanahu Wa Ta'ala, jika itu dipalingkan kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'ala maka 
menjadi salah satu bentuk dari syirik akbar. Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala berilrman: 

69lAl-Ghuroba 



"Dan Dia tidak menyertakan seorangpun dalam hukum-Nya. "(Al Kahfi: 26) 

"Hukum (keputusan) itu hanyalah milikAllah." (Yusuf: 40) 

Tasyri' (pembuatan hukum) adalah hak khusus Allah Subhaanahu Wa Ta'ala, sehingga pelimpahan 
sesuatu darinya kepada selain Allah adalah syirik akbar, sedangkan di NKRI hak dan wewenang pembuatan 
hukum/ aturan diserahkan kepada banyak sosok dan lembaga, yaitu kepada MPR, DPR, DPD, Presiden dll. 

Inilah bukti-buktinya: 

• UUD 1945 Bab II PasaB ayat 1: "Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan 
menetapkan Undang Undang Dasar". Ini artinya MPR adalah arbab (tuhan-tuhan) selain Allah 
Subhaanahu Wa Ta'ala. Orang-orang yang duduk sebagai anggotanya adalah orang-orang yang 
mengaku sebagai ilah (tuhan), sedangkan orang-orang yang memilihnya dalam Pemilu adalah orang- 
orang yang mengangkat ilah yang mereka ibadati. Sehingga ucapan setiap anggota MPR: "Saya 
adalah anggota MPR" bermakna "Saya adalah tuhan selain Allah". 

• UUD 1945 Bab VII Pasal 20 ayat 1: "Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk 
undang undang". Padahal dalam Tauhid pemegang kekuasaan Undang-undang/hukum/aturan tak lain 
hanyalah Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala. 

• UUD 1945 Bab VII Pasal 21 ayat 1: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak mengajukan usul 
rancangan undang-undang". 

• Bab III PAsal 5 ayat 1: "Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan 
Perwakilan Rakyat". 

Bahkan kekafirannya tidak terbatas pada pelimpahan wewenang hukum kepada para thaghut itu, tapi semua 
diikat dengan hukum yang lebih tinggi, yaitu UUD. Rakyat lewat lembaga MPR-nya boleh berbuat apa saja 
TAPI harus sesuai dengan UUD, sebagaimana dalam UUD 1945 Pasal 1 (2): "Kedaulatan berada di tangan 
rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar". 

Presiden pun kekuasaannya dibatasi oleh UUD sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Bab III Pasal 4 (1): 
"Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar". 

Jadi jelaslah, BUKAN menurut Al Qur'an dan As Sunnah, tetapi menurut Undang-Undang Dasar Thaghut. 
Apakah ini Islam atau kekafiran. . .?! 

Bahkan bila ada perselisihan kewenangan antar lembaga pemerintahan, maka putusan final diserahkan 
kepada Mahkamah Konstitusi, sebagaimana dalam Bab IX Pasal 24c (1): "Mahkamah Konstitusi berwenang 
mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang 
terhadap Undang Undang Dasar, memutuskan pembubaran Partai Politik dan memutus perselisihan tentang 
hasil Pemilihan Umum". 

Perhatikanlah, padahal dalam ajaran Tauhid, semua harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya: 

" Kemudian bila kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, 

bila kalian (memang) beriman kepada Allah dan Hari Akhir". (An Nisaa: 59) 

Dalam tafsir ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "(Ini) menunjukkan bahwa orang yang tidak 
merujuk dalam hal sengketa kepada Al Kitab dan As Sunnah dan tidak kembali kepada keduanya dalam hal 
itu, maka dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir ". (Tafsir Al Qur'an Al ' Adhim 2/346) 

Demikianlah, dalam Islam Al Qur'an dan As Sunnah adalah tempat untuk mencari keadilan, tetapi dalam 
ajaran thaghut RI keadilan ada pada hukum yang mereka buat sendiri. 

70IA1-Ghuroba 



Pemberian hak untuk berbuat syirik, kekatiran dan kemurtadan dengan dalih kebebasan beragama 

danHAM 

Undang Undang Dasar Thaghut memberikan jaminan kemerdekaan penduduk untuk meyakini ajaran apa 
saja, sehingga pintu-pintu kekariran, kemusyrikan dan kemurtadan terbuka lebar dengan jaminan UUD. 
Orang yang murtad dengan masuk agama lain merupakan hak kemerdekaannya dan tak ada sanksi hukum 
atasnya, padahal dalam ajaran Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala orang yang murtad hanya memiliki dua pilihan: 
Kembali pada Islam atau menerima sanksi bunuh, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi 
wasallam: 

"Siapa yang mengganti dien-nya, maka bunuhlah dia". (Muttafaq 'Alaih) 

Berhala-berhala yang disembah baik yang berbentuk batu atau selainnya dan budaya syirik dalam berbagai 
bentuk, seperti meminta-minta ke kuburan, membuat sesajen, memberikan tumbal, mengkultuskan sosok 
dan bentuk-bentuk syirik lainnya mendapatkan jaminan perlindungan sebagaimana tercantum dalam: 

• Bab XI Pasal 28 I (3): "Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan 
perkembangan zaman dan peradaban". 

• Bab XI Pasal 29 (2): "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya 
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu". 

Mengeluarkan pendapat, pikiran dan sikap, meskipun berbentuk kekariran adalah hak yang dilindungi 
negara: 

• Bab X A Pasal 28E (2): "Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan 
pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya". 

• Bab X A Pasal 28E (3): "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan 
mengeluarkan pendapat". 



Menyamakan antara orang kafir dengan orang muslim 

Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala telah membedakan antara orang kafir dengan orang muslim dalam ayat-ayat 
yang sangat banyak. 

"Tidaklah sama (calon) penghuni neraka dengan penghuni surga..." 
(AlHasyr:20) 

Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala berrirman seraya mengingkari orang yang menyamakan antara dua kelompok 
dan membaurkan hukum-hukum mereka: 

• "Apakah Kami menjadikan orang-orang muslim seperti orang-orang mujrim (kafir)". (Al Qalam 35- 
36) 

• "Dan apakah orang-orang yang beriman itu seperti orang-orang yang fasiq? " (As Sajdah: 18) 

• "Katakanlah: Tidak sama orang yang busuk dengan orang yang baik". (Al Maaidah: 100) 

Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala ingin memilah antara orang kafir dengan orang mukmin: 
71lAl-Ghuroba 



"Agar Allah memilah orang yang buruk dari orang yang baik". (Al Anfal : 37) 

Allah Subhaanahu Wa Ta'ala menginginkan adanya garis pemisah syar'i antara para wali-Nya dengan 
musuh-musuh-Nya dalam hukum-hukum dunia dan akhirat. Namun orang-orang yang mengikuti syahwat 
dari kalangan budak undang-undang negeri ini ingin menyamakan antara mereka, sehingga termaktub dalam 
UUD 1945 Bab X Pasal 27 (1): "Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan 
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya". Maka dari 
itu mereka MENGHAPUS segala bentuk pengaruh agama dalam hal pemilahan dan perbedaan di antara 
masyarakat. Mereka sama sekali tidak menerapkan sanksi yang bersifat agama dalam UU mereka. Mereka 
tidak menggunakan sanksi yang telah Allah turunkan, dan yang paling fatal adalah tak ada sanksi bagi orang 
yang murtad. Karena mereka menyamakan semua pemeluk agama dalam hal darah dan kehormatan, 
kemaluan dan harta, serta mereka menghilangkan segala bentuk konsekuensi hukum akibat kekafiran dan 
kemurtadan. 

Renungkanlah, Allah Subhaanahu Wa Ta'ala membedakan antara muslim dan kafir, tapi hukum thaghut 
justeru menyamakannya. Maka siapakah yang lebih baik? Tentulah aturan Allah Yang Maha Esa. 

Sistem yang berjalan adalah demokrasi 

"Kekuasaan (hukum) ada di tangan rakyat" (bukan di Tangan Allah), itulah demokrasi, dan sistem inilah 
yang berjalan di negara ini. Dalam UUD 1945 Bab I Pasal 1(2): "Kedaulatan berada di tangan rakyat dan 
dilaksanakan menurut UUD". Sehingga disebutkan juga dalam Bab X A Pasal 28 1(5): "Untuk menegakkan 
dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka "dll 

Kedaulatan, kekuasaan serta wewenang hukum dalam ajaran dan dien (agama) demokrasi ada di tangan 
rakyat atau mayoritasnya. Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala berfirman: 

"Dan apa yang kalian perselisihkan di dalamnya tentang sesuatu, maka putusannya (diserahkan) kepada 
Allah". (AsySyura: 10) 

( "Kemudian bila kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, bila 
kalian memang beriman kepada Allah dan Hari Akhir". (An Nisaa: 59) 

"(Hukum) putusan itu hanyalah milik Allah" . (Yusuf: 40) 

Namun para budak UUD mengatakan: "Putusan itu hanyalah milik rakyat lewat wakil-wakilnya, apa 
yang ditetapkan oleh Majelis Rakyat 'boleh', maka itulah yang halal, dan apa yang ditetapkan 'tidak 
boleh', maka itulah yang haram" 

Dalam agama demokrasi, keputusan yang benar yang mesti dijalankan adalah hukum atau putusan 
mayoritas, sebagaimana yang dinyatakan UUD 1945 Bab II Pasal 2(3): "Segala putusan Majelis 
Permusyawaratan rakyat ditetapkan dengan suara terbanyak". Padahal Allah Subhaanahu Wa Ta'ala 
menyatakan: 

• "Dan bila kamu mentaati mayoritas orang yang ada di bumi, tentulah mereka menyesatkan kamu 

dari jalan Allah" . (Al An'am: 116) 

'Dan tidaklah mayoritas manusia itu beriman, meskipun kamu menginginkannya ". (Yusuf: 103) 
' ....namun mayoritas manusia tidak mengetahuinya ". (Al Jatsiyah: 26) 
' ....Namun mayoritas manusia itu tidak mensyukurinya" . (Ghafir: 61) 

' Namun mayoritas manusia itu tidak beriman" . (Ghafir: 59) 

'Dan mayoritas manusia tidakmau, kecuali mengingkari ".(Al Furqaan: 50) 

'Dan mayoritas mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan mereka itu menyekutukan(Nya) ". 

(Yusuf: 106) 

72lAl-Ghuroba 



• "Dan mayoritas mereka tidak suka pada kebenaran ". (Al Mu'minuun: 70) 

• "....Bahkan mayoritas mereka tidak memahami" . (Al 'Ankabuut: 63) 

Cobalah bandingkan dengan agama demokrasi yang dianut oleh pemerintah dan Negara Kafir Republik 
Indonesia (NKRI) ! ! 



Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala menyatakan: 

"Dan putuskan di antara mereka dengan apa yang telah Allah turunkan dan jangan ikuti keinginan- 
keinginan mereka, serta hati-hatilah mereka memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah Allah 
turunkan kepadamu" . (Al Maaidah: 49) 

Tetapi dalam agama demokrasi: Putuskanlah di antara mereka dengan apa yang mereka gulirkan dan 
ikutilah keinginan mereka serta hati-hatilah kamu menyelisihi apa yang diinginkan rakyat... 

Allah Subhaanahu Wa Ta 'ala bertirman: 

"Dan Dia tidak menyertakan seorangpun dalam hukum-Nya". (Al Kahti: 26) 

Namun dalam agama demokrasi, bukan sekedar menyekutukan selain Allah dalam hukum, tetapi hak dan 
wewenang membuat hukum itu secara trontal dirampas secara total dari Allah dan dilimpahkan kepada 
rakyat (atau wakilnya).Rakyat atau wakil-wakilnya adalah tuhan dalam agama demokrasi, maka seandainya 
ada orang yang mau menggulirkan hukum Allah (misalnya sebatas pengharaman khamr atau penegakkan 
rajam) tentu saja harus disodorkan dahulu kepada DPR untuk dibahas bersama presiden, demi mendapatkan 
persetujuan bersama. (Betapa mengerikannya hal ini, karena wahyu Allah -Tuhan alam semesta- harus 
terlebih dahulu mendapat persetujuan makhlukbumi yang hina...) 

Dalam realitanya pengguliran hukum Allah itu tak mungkin terwujud, karena setiap peraturan tak boleh 
bertentangan dengan konstitusi negara, yaitu UUD 1945. 

Agama demokrasi menjamin bahwa rakyat memiliki hak untuk bebas memilih, bila rakyat memilih 
kekatiran dan kemusyrikan, maka itulah kebenaran... 

Setelah penjelasan panjang lebar diatas... maka muncullah sebuah pertanyaan... 

"jika kita tidak masuk ke parlemen, bagaimana kita bisa mengubah sistem negara ini? Bagaimana kita bisa 
mendirikan khilatah jika tidak menguasai tampuk kepemimpinan dimana hal tersebut harus melalui proses 
demokrasi" 

Maka saya akan jawab... tahapan dalam mewujudkan khilafah haruslah sesuai dengan Alqur'an dan 
Assunnah., dan berjuang melalui parlemen syirik tidak ada dalilnya, bahkan diharamkan... langkah yang 
sudah jelas dipraktekkan oleh Rasulullah dalam menegakkan khilatah dan agama ini hanya satu, yakni 
BERIMAN, BERHIJRAH, BERTDAD, lalu JIHAD melawan orang-orang kafir! ! ! 

Angkatlah senjatamu wahai pemuda... begitulah para pendahulumu dalam menegakkan khilatah! ! 



73lAl-Ghuroba 



JIHAD 



74lAl-Ghurob 



Ketika aku ditahan, aku katakan kepada salah seorang interogator di lembaga 
keamanan intelejen: "Tidakkah anda berfikir untuk bertaubat dengan apa yang telah kamu 
lakukan ?" 

Lalu dia tertawa terbahak-bahak dan berkata: Aku harus bertaubatlV.il Aku bertaubat dari 
berbuat apa hah??!l! 

Aku jawab: Kamu bertaubat dari memerangi agama dan para dainya....? 

Dia berkata: Aku ini tidak memerangi agama, tapi aku memerangi para teroris seperti anda ini, 
kami telah mendapatkan di rumahmu ada bom dan granat, kamu adalah teroris maka dari itu kami 
menahanmu dan menahan orang-orang sepertimu, kenapa kami tidak menahan julan dan 
julan... ?(Dia menyebut beberapa pemimpin jama'ah murjiah yang tunduk (lemah) dan 
termasuk orang-orang yang memerangi para dai untuk diserahkan kepada para thaghut, 
mereka memerangi orang-orang islam dan berdiam diri terhadap orang-orang penyembah 
berhala) 

Aku katakan: Alasan-alasan yang kamu gunakan untuk membenarkan perbuatanmu ini tidak 
benar, karena kamu telah menemuiku sebelum itu terjadi hanya karena dakwahku dan tulisan- 
tuisanku, lalu kalian masuk ke tengah-tengah rumahku dan merusak pintuku sebanyak tujuh kali, 
lalu kalian mencaci maki buku-buku itu sebelum kalian mencaci maki karena mencium bau bom dan 
granat. 

Dia berkata: Jelas dong!! Karena dakwahmu itu menurut kami lebih berbahaya dari pada bom dan 
granat, karena kamu mengajarkan kepada anak-anak muda untuk berlepas diri dari kami dan 
mengkafirkan kami . . . .kemudian apa? Jelas anak-anak muda itu mengerti bahwa orang-orang kafir 
itu halal darahnya.... Walaupun kamu tidak menyeru mereka untuk membunuh kami, mereka akan 
memikirkannya sendiri dan berusaha untuk membunuh kami, maka dakwahmu itu melahirkan para 
teroris, oleh karena itu dakwahmu itu lebih berbahaya dari pada bom dan granat. ... 

Aku jawab: tidak semuanya seperti itu.... jika salah seorang diantara kalian masuk islam dan 
menjauhi dari memerangi agama maka dia menjadi saudara kami dan teman yang akan kami tebus 
dengan jiwa-jiwa kami, kemudian juga tidak setiap orang kafir itu dibunuh, karena disana ada Al 
Musta'man (Orang kafir yang mendapat jaminan) dan juga orang kafir yang tidak memerangi 
agama islam serta bukan militer, maka kunci apa yang kalian katakan dengan teroris itu ada 
ditangan kalian, kalianlah yang mendorong anak-anak muda untuk berbuat teror karena kalian 
memerangi agama islam, dan permusuhan kalian terhadap orang-orang islam 



Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi 

Penjara Suwaaqah - Urdun - 

4 hari terakhir dari tahun 1420 H 



75lAl-Ghuroba 



Definisi Jihad 

Istilah jihad termasuk sekian pemahaman dan istilah yang dikotori dan dicoreng dari indikasi-indikasi 
dan tujuan-tujuannya yang syar'i, bahkan banyak ulama-ulama yang memelintir makna jihad sebagai alasan 
baginya ketika ditanya, "wahai ustadz, kenapa kamu tidak berjihad?" 

Jihad adalah salah satu jenis ibadah tertentu yang telah disyariatkan Allah kepada umat Islam 
sebagaimana ibadah Sholat, Zakat, Puasa dan Ibadah-Ibadah lainya. Oleh karena itu kata jihad "menurut 
bahasa" tidak tepat jika kita gunakan sebagai makna jihad "menurut syara", seperti ibadah-ibadah lainnya, 
misalnya sholat. Menurut bahasa, Sholat artinya do'a, tetapi jika yang dimaksudkan dengan perkataan sholat 
itu adalah salah satu dari jenis ibadah maka tidaklah dapat dikatakan bahwa setiap do'a itu adalah sholat. 
Demikian pula halnya Siyam (Puasa) menurut bahasa artinya menahan atau mengekang dari makan dan 
minum. Apakah setiap perbuatan menahan dari makan dan minum pada waktu tertentu dapat dikatakan 
Siyam (Puasa) secara Syar'i? Tentu tidak. Maka demikian pula halnya Jihad yang artinya menurut bahasa 
adalah mengerahkan segenap kekuatan dalam perkara apa saja. Tapi karena jihad sudah merupakan satu 
jenis Ibadah maka ia mempunyai makna tersendiri, makna syar'i, lalu apakah jihad itu? 

Rosululloh Sholallahu 'Alaihi wa Sallam padasebuah riwayat dari Imam Ahmad dalam Musnad-nya 
dari'Amru bin 'Abasah ia berkata: 

"Seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh Sholallahu'Alaihi wa Sallam: "Wahai Rosululloh, apakah 
Islam z7w?"beliau bersabda, "Hatimu pasrah kepada Allah 'azza wa jalla dan kaum muslimin selamat dari 
(gangguan) lidah dan tanganmu."Ia berkata lagi, "Bagaimanakah Islam yang paling sempurna?" beliau 
bersabda, "7man."Ia berkata, "apakah iman zYw?"beliau bersabda, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat- 
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rosul-Nya dan hari berbangkit setelah kematian."Ia berkata lagi, "Iman 
bagaimanakah yang paling atama ?"beliau bersabda, "Hijroh."Ia bertanya, "Apakah hijroh itu?" beliau 
bersabda, "Engkau jauhi keburukan", Ia berkata, "Hijroh bagaimana yang paling utama?" beliaubersabda, 
"Jihad."la bertanya, " Apakah jihad itu?" beliau bersabda, "Engkau perangi orang-orang kafir jika 
engkau bertemu dengan mereka ." Ia berkata, "Jihad bagaimanakah yang paling utama?" beliau 
bersabda, "Siapa saja yang kuda terbaiknya terluka dan darahnya tertumpah." Rosululloh Sholallahu 
'Alaihi wa Sallam bersabda, "Kemudian dua amal yang keduanya merupakan amalan terbaik kecuali kalau 
ada yang melakukan yang semisal; hajji mabrur dan umroh. "HR.Ahmad dan Ibnu Majah. 

Dari Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu 
diwajibkan jihad? Beliau menjawab: "Ya, mereka diwajibka n.iihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji 
dan umrah." - HR.Ahmad dan Ibnu Majah. 

Sedangkan di dalam riwayat Bukhori disebutkan: Aisyah berkata: "Kami melihat jihad adalah sebaik- 
baik amalan, lantas mengapa kami (kaum wanita) tidak berjihad?"Jadi, 'Aisyah memahami bahwa jihad 
adalah perang. 

Itulah makna syar'i jihad, yakni perang! Karena hal itulah, para ulama sepakat, jika menemukan kata 
jihad yang disebutkan secara mutlak, atau berdiri sendiri, maka maknanya tidak dibawa kecuali kepada 
makna berjihad melawan orang kafir dengan pedang sampai mereka masuk Islam, atau memberikan jizyah 
dari tangan sementara mereka dalam keadaan hinaldan tidak dibawa kepada makna lainnya kecuali bila ada 
qorinah (bukti pendukung) yang menunjukkan bahwa yang dimaksud bukan itu, contohnya seperti dalam 
dua hadits dibawah ini: 

Rosululloh Sholallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Mujahid adalah yang berjihad melawan nafsunya 
dalam rangka taat kepada Allah,dan muhajir adalah yang meninggalkan semua yang Allah larang." 



76lAl-Ghuroba 



Demikian juga sabda beliau Sholallahu 'Alaihi wa Sallam terhadap orang yang meminta izin kepada 
beliau ikut berjihad, "Apakah kedua orangtuamu masih hidup?" ia berkata, "Masih." Beliau bersabda, 
"Berjihadlah untuk keduanya." 

Itu adalah kata jihad yang ada qorinah dan tidak berdiri sendiri.. 

Sehingga, jika ada kata.. "berjihadlah terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu" 
secara mutlak dan tidak ditunjukan bagaimana cara berjihadnya, maka cara berjihad yang dimaksud adalah 
dengan perang atau mengerahkan segenap kekuatan untuk berperang melawan orang-orang katir dengan 
pedang atau senjata.. bukan berperang melawan orang kafir dengan cara berbakti kepada orangtua, atau 
berpuasa, atau menuntut ilmu, dsb.. sehingga salah jika mengatakan bahwa maksud kata diatas adalah, 
" berbaktilah terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu" atau " tahanlah hawa nafsumu 
terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu" ,.... salah besar... melainkan artinya, 
"PERANGILAH DENGAN PEDANG orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu "... 

Sebagian orang bersikeras untuk mengkaburkan makna jihad ini dengan mengatakan, "Kami juga 
sedang berjihad ini!!" mereka bertujuan membenarkan sikap duduk mereka dari perang. Setelah anda lihat 
kehidupannya, ternyata adayang jadi pegawai untuk menghidupi keluarganya, yang satulagi jadi pedagang, 
yang lain jadi karyawan, yang ini jadi petani, yang itu mengajar di Fakultas Syariah, Kedokteran,Ekonomi, 
Ilmu Politik atau...dst, semuanya mengklaim dirinya sebagai mujahid (orang yang berjihad) dan berarti 
boleh meninggalkan perang...! Benar, mereka menganggap dirinya sebagai mujahid sementara di negerinya 
ia makan minum, mengajar dan bekerja.Bahkan, tanpa malu-malu ada juga yang menganggap apa yang ia 
lakukan sekarang lebih baik daripada perang itu sendiri! 

Orang-orang bertikiran rusak dan biasa menyimpangkan makna seperti mereka mesti diberi penjelasan 
kembali dari Al-Qur'an dan As-Sunnah serta sejarah para tabi'in yangmengikuti para pendahulunya dengan 
kebaikan.Seandainya benar klaim mereka, tentu Allah SWT dan Nabi-Nya Sholallahu 'Alaihi wa Sallam 
tidak akan memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir, tidak akan memotivasi agar 
melaksanakannya, tidak akan ada keterangan tentangwajibnya berperang, tidak ada pengobaran semangat 
kaum muslimin untuk berperang dengan menyebutkan pahala para mujahidin dan para syuhada, tidak ada 
ancaman keras, janji hukuman dan siksa pedih bagi orang yang tidak ikut berjihad. 

Ketahuilah... 
"Diwajibkan atas kalian berpuasa. . ."QS. Al-Baqoroh: 183 
"Diwajibkan atas kalian berperang. . ."QS. Al-Baqoroh: 216 

Lalu... 

"...Apakah kalian beriman dengan sebagian isi kitab dan mengkufuri sebagian yang lain? " QS. Al- 
Baqoroh: 85 



77lAl-Ghuroba 



Fase Turunnya Hukum Jihad 
Memerangi Yang Tidak Memerangi! 

Tadinya, Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Sallam diperintahkanuntuk memberi maaf dan memberi ampun 
serta menahan diri dari orang-orang musyrik selama beliau berada di Mekkah. Sebagaimana rirman Allah 
ta'ala: 

"Maka maa/kanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. "Al-Baqoroh: 109 

Allah ta'ala juga berrirman: 

"Katakanlah kepada orang-orang beriman hendaklah mereka memaajkan orang-orang yang tiada takut 
akan hari-hari Allah. "Al-Jatsiyah: 14 

Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya ' Abdurrohman bin ' Auf dan beberapa shahabat datang kepada Nabi 
Sholallahu 'Alaihiwa Sallam ketika masih di Mekkah, mereka mengatakan,"Wahai Rosululloh, dulu ketika 
kami masih musyrik, kamimerasa mulia; mengapa setelah kami beriman justru kita menjadi hina?" beliau 
bersabda, "Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah kalian berperang..." 

Setelah itu, Allah mengizinkan kaum muslimin untuk berjihad, namun tidak sampai mewajibkannya. 
Ditandai dengan turunnya firman Allah'azza wa jalla: 

"Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi lantaran mereka dizalimi. " Al-Hajj: 39 

Ini merupakan ayat paling pertama turun mengenai perang, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Abbas 
RA.Tahapan selanjutnya, Allah ta'ala mewajibkan mereka memerangi orang yang memerangi, tidak boleh 
memerangi orang yang tidak memerangi. Fase ini seperti yang Allah firman-kan: 

" Tetapi jika mereka membiarkan kamu dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian 

kepadamu, maka Allah tidak memberimu jalan bagimu (untuk memerangi dan menawan) 

mereka.". Karena itu, jika mereka tidak membiarkanmu dan tidak mau mengemukakan perdamaian 

kepadamu sertamenahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah dan bunuhlah mereka di 
mana saja kalian temui mereka. Dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang 
nyata (untuk membunuh dan menawan) mereka. " An-Nisa': 90-91 

Sedangkan tahapan terakhir adalah fase memerangi kaum musyrikin secara total; baik yang 
memerangi kita atau yang tidak, dan menyerang negeri mereka sampai tidak ada fitnah (kesyirikan) 
dan agama semuanya menjadi milik Allah. Padafase inilah hukum jihad berakhir, Rosululloh 
Sholallahu'Alaihi wa Sallam meninggal dunia pada fase ini. Mengenaifase ini pulalah Ayat Pedang turun, 
yaitu firman Allah ta'ala: 

"Jika telah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kalian temui 
mereka, tawanlah mereka, kepunglah mereka dan intailah mereka dari tempat -tempat pengintaian..." At- 
Taubah: 5 

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir serta tidak mengharamkan apa 
yang Allah dan rosul-Nya haramkan dan tidak beragama dengan agama yang benar (Agama Allah; Islam), 
yaitu orang-orang yang diberi kitab sampai mereka membayar jizyah dengan tangan sementara mereka 
dalam keadaan tunduk. "At-Taubah: 29 

Dalam hadits shohih disebutkan, Nabi Sholallahu 'Alaihiwa Sallam bersabda: "Berperanglah dengan 
nama Allah dijalan Allah, perangilah orang yang kujur kepada Allah, berperanglah dan jangan melakukan 
ghulul, jangan berlaku khianat, jangan mencincang danjangan membunuh orang tua... " 

78lAl-Ghuroba 



Para ulama generasi salaf dan setelahnya menetapkan bahwa fase terakhir itu menjadi penghapus fase 
sebelumnya. 

Imam Ibnul Qoyyim meringkaskan fase-fase di atas dalam kata-kata beliau: "Tadinya diharamkan, 
kemudian diiiinkan, kemudian diperintahkan kepada orang yang memulai memerangi terlebih dahulu, 
kemudian diperintahkan terhadap semua kaum musyrikin... " 

"Maka maa/kanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. " Al-Baqoroh: 109 

Dari Ibnu 'Abbas, dikatakan: "Yang menghapus ayat ini adalah firman Allah: u ...faqtulul 
musyrikiina... At-Taubah ayat 5" 

Al-Hafiz Ibnu Katsir di dalam tafsir firman Allah ta'ala: 

"Maka berilah maaf dan biarkanlah mereka sampai Allah datangkan urusan-Nya." Ia menukil pendapat 
terhapusnya ayat ini dari Ibnu ' Abbas. Ia berkata, "AbuPAliyah, Ar-Robi' bin Anas, Qotadah dan As-Suddi 
mengatakan bahwa ayat ini terhapus dengan ayat pedang, ini ditunjukkan juga oleh firman Allah ta'ala: 
". . .sampai Allah datangkan perintah-Nya ." 

Maksudnya, Allah telah mendatangkan perintahNya, yakni at-taubah ayat 5 untuk memerangi orang 
yang kafir, sehingga al-baqaroh ayat 109 mengenai memaafkan orang yang kafir, terhapus syariatnya. 

Ibnu 'Abbas berkata juga mengenai tafsir firman Allah ta'ala: 

"Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munajik serta bersikap keraslah terhadap mereka. " 
At-Taubah:73 

"Ayat ini menghapus semua ayat tentang pemberian maafdan memberi ampun. " Kata Ibnu 'Abbas 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, " ...maka perintah-Nya agar mereka berperang menghapus perintah 
menahan diri... " 

As-Suyuthi berkata: "Firman Allah ta'ala: "...Faqtulul Musyrikiin haitsuwajadtumuuhum...", ini 
adalah ayat pedang yang menghapus ayat-ayat tentang pemberian maaf, membiarkan, berpaling dan 
berdamai. Jumhur Ulama menjadikan keumuman ayat ini sebagai dalil untuk memerangi bangsa Turki dan 
Habasyah." 

Ia juga berkata, "Semua pemberian maaf, berpaling, membiarkan dan menahan diri terhadap orang 
kafir yang tercantum dalam Al-Qur'an telah terhapus dengan ayat pedang." 

Sehingga, hukum jihad pada saat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir diperangi karena kekafiran 
mereka, meski mereka tidak memerangi hingga mereka membayar jizyah dengan keadaan tunduk. Inilah 
yang dinamakan menegakkan kalimatullah.. menegakkan kalimat Allah dimuka bumi ini sehingga tidak ada 
yang lebih tinggi dari kalimat Allah, dan menghinakan dan merendahkan para pelaku kekufuran dibawah 
hukum-hukum islam. 

Sehingga, tidak ada alasan lagi bagi mereka yang mengatakan bahwa dengan orang-orang kafir yang 
tidak memerangi haruslah hidup rukun, damai dan saling toleransi seperti Rasulullah di Mekkah, karena hal 
tersebut telah dinasakh atau dihapus hukumnya. Kecuali ada hal-hal syar'i yang "memaksa" untuk berdamai. 



79lAl-Ghurob 



Jihad Tholab dan Jihad Difa' 

Jihad terbagi menjadi dua jenis, yakni Jihad Tholab, yaitu mencari dan memerangi musuh di 
negerinya. Sedangkan jihad difa' yaitu memerangi musuh yang menyerang kaum mukminin terlebih dahulu. 

Jihad Tholab 

Berdasarkan pada firman Allah Ta'ala: 

"...Maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kalian temui mereka, tawanlah mereka, kepunglah 
mereka dan intailah mereka dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat, dan menegakkan 
sholat serta menunaikan zakat, maka lepaskanlah mereka. sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi 
Mahapenyayang. " At-Taubah:5 

Allah Ta'ala juga berfirman: 

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir serta tidak mengharamkan apa 
yang Allah dan rosul-Nya haramkan dan tidak beragama dengan agama yang benar (Islam), yaitu orang- 
orang yang diberi kitab sampai mereka membayar jiiyah dengan tangan sementara mereka dalam keadaan 
tunduk. " At-Taubah:29 

Di sini, Allah memerintahkan memerangi, mengintai dan mengepung mereka. Ayat-ayat ini termasuk 
ayat-ayat muhkam yang turun di akhir-akhir dan tidak termanshukh. Di atas fase inilah Nabi Sholallahu 
'Alaihi wa Sallam berjalan, demikian juga dengan para shahabat yang menyertai beliau dan orang-orang 
sepeninggalnya, sampai Allah ta'ala taklukkan belahan bumi bagian timur dan baratbagi mereka.Nabi SAW 
sendiri memerangi bangsa Arab kemudian memerangi Romawi di Tabuk, Rosululloh SAW sendiri telah 
melakukan 19 kali perang ghoiwah, 8 diantaranya beliau terjun langsung di dalamnya. Adapun utusan dan 
sariyah-sariyah yang beliau tidak turut di dalamnya, jumlahnya mencapai 36 kali menurut riwayat Ibnu 
Ishaq, sedangkan yang lain berpendapat lebih dari itu.Setelah itu, sepeninggal Rosululloh SAW para sahabat 
berperang menyerang bangsa Rum, Persi, Turki, Mesir, Barbar dan lain sebagainya, sampai-sampai ini 
sudah menjadi perkara yang maklum. 

Dalam hadits Buroidah riwayat Muslim disebutkan: 

Bahwa Rosululloh Sholallahu 'Alaihi wa Sallam apabila mengangkat seorang komandan pasukan atau 
sariyah, beliau memberi wasiat khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah, dan mewasiatkan kebaikan 
kepada kaum muslimin yang menyertainya. Kemudian beliau bersabda, 

"Berperanglah dengan nama Allah, perangilah siapa saja yang kafir kepada Allah, berperanglah dan 
jangan melakukan ghulul, jangan mengkhianati janji, jangan mencincang dan jangan membunuh orang tua. 
Danjika kamu berjumpa dengan orangkajir, ajaklah mereka kepada tiga hal: ...dst. " (Al-Hadits) 

Ini adalah nash-nash yang jelas dan gamblang mengenai keberangkatan dalam memerangi musuh dan 
merencanakan penyerbuan ke negeri mereka. Inilah yang disebut jihad tholabi. 

Maka kepada orang yang berdalil bahwa tidak adanya perang terhadap kafir yang tidak memerangi 
kaum muslimin, kami katakan kepadanya: Sesuaikah pemahaman Anda ini dengan yang dipahami 
Rosululloh SAW dan sahabatnya? 

Jika ia mengatakan: Tidak..., kami katakan kepadanya: Anda mengatakan sesuatu yang tidak mereka 
pahami, berarti Anda hukumi diri Anda sebagai orang sesat dan apa yang Anda pahami berarti bukan bagian 
dari ajaran agama kita, karena agama ini telah sempurna semasa hidup Rosululloh SAW. Allah SWT 
berfirman: "Hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian... " 

80IA1-Ghuroba 



Artinya, pemahaman Anda tadi tertolak dan gugur, "Barangsiapa melakukan amalan yang bukan dari 
ajaran kami, maka amalan itu tertolak. " 

Jihad Difa' 

Berdasarkan pada firman Allah; 

"Hai orang-orang beriman, jika kalian berjumpa dengan musuh dalam keadaan perang maka 
janganlah kalian lari ke belakang. " Al-Anfal:15 

"Dan berperanglah dijalan Allah melawan orang yang memerangi kalian. " Al-Baqoroh: 190 

Perang di sini adalah melawan serangan musuh yang menyerang terlebih dahulu.Syaikhul Islam Ibnu 
Taimiyah rahimahullah mengatakan, 

"Adapun jihad defensif, adalah perlawanan terbesar terhadap serangan ke arah kehormatan dan agama, 
hukumnya adalah wajib berdasarkan ijmak. Ketika kaum agresor datang untuk merusak agama dan dunia, 
maka tidak ada yang lebih wajib setelah iman selain melawannya. Tidak lagi disyaratkan satu syaratpun di 
sana, namun melawan semampunya."kemudian beliau mengatakan: ".. sesungguhnya jihad (difa') lebih di 
dahulukan daripada sholat." 

Jihad Adalah Fardhu Kifayah Dan Berubah Menjadi Fardhu 
'Ain Dalam Beberapa Kondisi 

Makna fardhu kifayah adalah jika tidak cukup dilaksanakan sebagian orang maka semuanya berdosa, 
dan jika sudah cukup dilaksanakan sebagian orang maka gugurlah dosa dari yang lain. Perintah itu pertama 
kali ditujukan kepada semua kaum muslimin sebagai sebuah kewajiban yang fardhu 'ain, kemudian di akhir- 
akhirnya terjadi perbedaan; sebab fardhukifayah itu gugur dengan dilakukannya oleh sebagian orang, 
sementara fardhu ain tidak gugur dari siapapun meski yang lain telah melaksanakan. 

Dalil kami adalah firman Allah ta'ala: 

"Tidaklah sama antara orang yang duduk dari kalangan kaum mukminin yang tidak beruiur dan 
orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan nyawa mereka.Allah lebihkan orang-orang 
yang berjihad dengan harta dannyawa mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat. Dan masing- 
masing Allah janjikan dengan pahala yang baik... " An-Nisa': 95 

Ini menunjukkan bahwa orang yang tidak berperang tidak berdosa ketika sudah ada orang lain yang 
berjihad. 

Allah ta'ala juga beriirman: 

"Tidak seharusnya kaum mukminin semuanya pergi berperang, mengapa tidak ada dari masing- 
masing golongan satu kelompok yang pergi untuk memahami(agama) ... " At-Taubah: 122 

Dikarenakan juga, Rosululloh Sholallahu 'Alaihi wa Sallam pernah mengutus sariyah-sariyah 
sementara beliau serta segenap shahabatnya tidak berangkat.Itu adalah ketika jihad yang hukumnya fardhu 
kifayah, namun beda halnya jika jihad telah berubah menjadi fardhu 'ain, yakni, setiap umat muslim 
dilarang duduk-duduk atau mengelak untuk berjihad, dan berdosa jika tidak berangkat perang.. kecuali 
mereka yang mendapatkan uzur, seperti wanita, anak-anak, dan orang tua..Dan jihad berubah menjadi fardhu 
'ain dalam tiga kondisi: 

Pertama : ketika dua pasukan bertemu dan dua barisan berhadapan, maka haram bagi siapa yang turut 
serta didalamnya untuk melarikan diri, kondisi seperti itu jihad hukumnya fardhu ain, berdasarkan firman 
Allah ta'ala: 



81lAl-Ghuroba 



"Hai orang-orang beriman, jika kalian bertemu dengan satu pasukan perang maka tetap teguhlah dan 
ingatlah Allah banyak-banyak agar kalian beruntung. Dan taatilah Allahdan rosul-Nya dan jangan saling 
bertengkar sehingga kalian gagal dan hilang kekuatan kalian. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah 
bersama orang-orang yang sabar. " Al-Anfal: 45-46 

Dan firman-Nya: 

"Hai orang-orang beriman, jika kalian berjumpa dengan orang-orang kafir dalam ketika perang, 
maka janganlah kalian mundur ke belakang. Dan barangsiapa pada hari itu mundur ke belakang 
menghindari mereka, kecuali orang yang berbelok untuk taktik perang atau bergabung dengan kelompok 
lain, maka ia kembali dengan kemarahan dari Allah. " Al-Anfal: 15-16 

Kedua : Apabila orang-orang kafir datang menduduki sebuah negeri, maka fardhu ain bagi 
penduduknya memerangi dan mengusir mereka. 

Dalil kondisi kedua adalah sama dengan dalil kondisipertama, ["...jika kalian bertemu dengan satu 
pasukan perangmaka tetap teguhlah. . ."] dan [". . .jika kalian berjumpa denganorang-orang kafir dalam ketika 
perang, maka janganlah kalianmundur ke belakang..."] sebab datangnya orang-orang kafir disebuah negeri 
kaum muslimin sama kedudukannya denganbertemunya dua pasukan dan dua barisan. 

Ketiga : Jika imam memerintahkan untuk perang kepada satu kaum (istinfar), maka wajib bagi mereka 
untuk berangkat perang bersamanya. Berdasarkan firman Allah ta'ala: 

"Hai orang-orang beriman, mengapakah jika dikatakankepada kalian, berperanglah di jalan Allah, 
kalian merasa berat dan (condong) kepada dunia? .... " (At-Taubah: 38) 

Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda, 

"Jika kalian diminta berperang, maka berperanglah." 



82lAl-Ghuroba 



HUKUM JIHAD PADA SAAT INI 

Sekarang kita bertanya: Apakah keadaan yang tengah kita alami di Afghanistan, Palestina, 
Iraq,Somalia, Pakistan, Yaman, Kashmir, Patani, Filipina, Chechnya, dan di tempat-tempat lainnya, apakah 
menjadikan jihad fardhu 'ain?... 

Sejauh ini di dalam kitab-kitab hadits, kitab-kitab tafsir, kitab-kitab fikih — sejak dimulainya penulisan 
hadits, fikih dan tafsir — saya tidak pernah melihat sebuah kitab pun, yang ditulis sejak generasi pertama 
sampai hari ini, kecuali pasti menyatakan bahwasanya jihaditu menjadi fardhu 'ain dalam beberapa keadaan, 
yang di antaranya adalah: Apabila musuh memasuki wilayah Islam ... Yahudi telah memasuki Palestina, 
maka jihad hukumnya fardhu 'ain, ... Amerika memasuki Afghanistan dan Iraq, atau orang-orang 
penyembah sapi (hindu) telah memasuki Kashmir. Makajihad hukumnya fardhu 'ain di Afghanistan, 
Kashmir, Iraq, dll. Bahkan jihad itu telah menjadi fardhu 'ain bukan sajasejak Amerika memasuki 
Afghanistan dan Iraq, akan tetapi jihad telah menjadi fardhu 'ain semenjak jatuhnyaAndalusia ke tangan 
orang-orang Nasrani, dan hukumnya belum berubah sampai hari ini. Dengan demikian jihad telah menjadi 
fardhu 'ain sejak tahun (1492 M), tatkala Ghornathoh(Granada) jatuh ke tangan orang-orang kafir — ke 
tangan orang-orang Nasrani — sampai hariini. Dan jihad akan tetap fardhu 'ain sampai kita 
mengembalikan seluruh wilayah yang dahulumerupakan wilayah Islam, ke tangan kaum muslimin. 

Bahkan di dalam kitab Al Bazaziyah disebutkan bahwasanya para ulama' berfatwa: Apabila ada 
seorang wanita muslimah di daerah timur ditawan, maka bagi penduduk di daerah barat wajib untuk 
membebaskannya. Imam Malik berkata: Kaum muslimin wajib menebus saudara-saudara mereka yang 
tertawan meskipun menghabiskan seluruh harta mereka. Lalu bagaimana dengan kehormatan yang sekarang 
diinjak-injak, kaum wanita ditawan, kaum muslimin dibunuh, manusia mati mati kelaparan karena tidak 
mendapatkan sesuap makanan. Apakah Allah 'azza wajalla akan mengijinkan kepada para pedagang untuk 
menyimpan harta mereka?! 

Maka pada saat ini, semua orang wajib berangkat berjihad meskipun harus dengan jalan kaki .. Wajib 
bagi orang Yordan untuk datang dari Amman dengan jalan kaki jika ia tidak memiliki kendaraan.. wajib 
bagi orang Mesir untuk datang dari Kairo meskipun harus dengan jalan kaki .. dan wajib bagi orang 
Indonesia untuk datang .. baik ia kaya maupun miskin .. baik dengan jalan kaki maupun dengan naik 
kendaraan. Ini adalah pernyataan Ibnu Taimiyah terhadap jihad yang fardhu 'ain. 

Beliau mengatakan: "Apabila musuh menyerang dan merusak agama dan dunia, tidak ada sesuatu 
yang lebih wajib setelah beriman selain melawannya." Pertama laailaaha illAllah, Muhammad rosululloh, 
sebelum sholat, puasa, zakat, haji dan yang lainnya. 

Melawan aggressor .. "Apabila musuh menyerang — menyergap dan menyerbu kaum muslimin 
dengan kekuatannya — dan merusak agama dan dunia, tidak ada sesuatu yang lebihwajib setelah iman 
selain melawannya.." kemudian beliau mengatakan: ".. sesungguhnya jihad 
lebih di dahulukan daripada sholat." 

Kenapa saya mengatakan bahwa kita yang tidak berada di wilayah yang diduduki agresor harus 
berangkat kesana? Bukankah jihad itu hanya wajib bagi penduduk yang diduduki daerah agresor tersebut? 

Para fuqoha' telah mengatakan, pertama: Sesungguhnya jihad itu menjadi fardhu 'ain bagi penduduk 
negeri yang diserang, kemudian kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, kemudian kepada orang- 
orang disekitarnya, ketika peperangan itu dapat diselesaikan satu atau dua atau tiga hari. Adapun pada saat 
sekarang ini: peperangan telah berlangsung selama bertahun-tahun, lalu alasan apa yang dapat digunakan 
oleh seseorang di muka bumi ini untuk berlambat-lambatmelaksanakanjihad?! 



83lAl-Ghuroba 



Para fuqoha' itu juga telah mengatakan: Pada awalnya jihad itu fardhu 'ain bagi penduduk negeri yang 
diserang tersebut, kemudian kewajiban itu meluas kepada daerah yang dapat ditempuh dengan bighal, kuda 
dan keledai. 

Adapun pada hari ini, kami tidak berlebihan jika kami katakan bahwa anda dapat datang dari 
ujung dunia ke Afghanistan dengan pesawat terbang dalam tempo satu hari atau dua hari. Bukankah 
begitu? 

Dengan demikian makajihad hukumnya fardhu 'ain bagi muslim di Indonesia, Yordan dan Suriah, 
hukumnya sama persis yang dikenakan bagi orang Afghanistan, maupun daerah pendudukan lainnya. 
Karena sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah:" Dan seluruh wilayah Islam itu ibarat satu negeri 
karena semua negeri Islam itu ibarat satu negeri." 

Ibnu Taimiyah di dalam Majmu' Fatawa jilid XXVIII hal. 853, mengatakan: "Apabila musuh hendak 
menyerang kaum muslimin, maka wajib bagi seluruh orang yang akan diserangdan yang tidak akan 
diserang untuk melawannya. " 

Apabila musuh hendak menyerang, lalu bagaimana jika musuh telah memasuki jantung kota dan 
menduduki masjid Al Aqsho, menduduki seluruh negeri Islam, menduduki negeri Abdur Rohman bin 
Samuroh, menduduki Kabul, menduduki negeri Imam Al Bukhori dan menduduki daerah Balkh, negeri para 
ulama'. 

"Apabila musuh hendak menyerang.." apabila hendak menyerang — yakni mereka belum menyerang - 
— apabila hendak menyerang, "..apabila musuh hendak menyerang kaum muslimin,maka wajib bagi seluruh 
orang yang diserang dan yang tidak diserang untuk melawannya." Dan sebagaimana firman Allah ta'ala: 

Dan jika mereka meminta bantuan kepada kalian atas dasar agama, maka kalian harus menolong 
mereka. (Al Anfal: 27) 

Sehingga, apabila orang-orang kafir menginjak sejengkal wilayah kaum muslimin maka jihad menjadi 
fardhu 'ain bagi setiap muslim yang tinggal di wilayah tersebut, sehingga seorang wanita — bersama 
mahrom — harus berangkat tanpa harus ijin suaminya, seorang budak harus berangkat tanpa harus ijin 
majikannya, orang yang mempunyai tanggungan hutang harus berangkat tanpa harus ijin orang yang 
menghutanginya dan seorang anak harus berangkat tanpa harus ijin orang tuanya, dan jika mereka tidak 
mencukupi atau mereka melalaikan kewajiban ini atau mereka bermalas-malasan atau mereka enggan untuk 
berangkat, fardhu 'ain dalam berjihad meluas kepada orang-orang disekitar mereka dan seterusnya .. sampai 
jihad menjadi fardhu 'ain bagi seluruh penduduk dunia, mereka semua wajib berjihad dan tidak boleh 
meninggalkannya sebagaimana sholat dan puasa. Oleh karena itu, sejak jatuhnya Andalusia sampai hari ini, 
jihad hukumnya fardhu 'ain bagi umat Islam. 

Dahulu tatkala para ulama' mengatakan bahwa jihad itu pada awalnya fardhu 'ain bagi parapenduduk 
negeri yang diserang, kemudian kewajiban itu meluas ke daerah-daerah yang berada disekitarnya, kemudian 
fardhu 'ain itu terus meluas sampai mencakup seluruh penduduk bumi sehingga mereka tidak boleh absen 
darinya sebagaimana kewajiban sholat dan puasa. Ini adalah ketika belum ada pesawat dan tidak ada mobil, 
dan ketika itu peperangan itu selesai dalam tempo dua atau tiga hari. Di dalam sejarah Islam peperangan 
yang paling lama adalah perang Qodisiyah yang berlangsung selama tiga hari. Adapun sekarang, peperangan 
meluas dan pesawat telah menggulung waktu, dan engkau dapat pergi dari ujung timur ke ujung barat dalam 
waktu satu hari hanya dengan tiket. Lalu apa alasanmu di hadapan robbul 'alamin?! Dan apaalasan yang 
akan engkau ajukan pada waktu seluruh manusia berdiri menghadap robbul 'alamin?! Padahal peperangan 
ini telah bertahun-tahun lamanya, Apa alasan para qo'idun (orang-orang yang absen dalam jihad )?! 



84lAl-Ghuroba 



Jika sekarang ini jihad tidak fardhu 'ain, maka kita harus menghapus kata fardhu 'ain dari kamus fikih 
Islam kaum muslimin. Karena jihad tidak akan lagi menjadi fardhu 'ain selamanya jika pada hari ini jihad 
tidak fardhu 'ain. Kaum muslimin belum pernah tertimpa kehinaan, kenistaan dan kerugian melebihi apa 
yang mereka rasakan pada abad ini. 

Kurang dari itu, dahulu pasukan Islam dipimpin oleh amirul mukminin Al Mu'tashim menempuh jarak 
beratus-ratus mil dari Baghdad ke 'Amuriyah hanya lantaran mendengar seorang wanita berteriak meminta 
pertolongan, lantaran ia mendengar ada seorang wanita di 'Amuriyah berteriak: "Waa Mu'tashimaah!" 
meminta pertolongan kepadanya. Ia langsung berangkat memimpin 70 ribu pasukan menuju negara Romawi 
sampai ia membebaskan wanita tersebut dari tawanan musuh. Dan para fuqoha' telah berfatwa bahwasanya: 
Jihad itu fardhu 'ain jika ada seorang wanita atau seorang laki-laki ditawan musuh. 

Dan di dalam Al Fatawa Al Bazaziyah disebutkan: Jika ada seorang wanita di Masyriq(wilayah timur) 
wajib bagi penduduk Maghrib (wilayah barat) untuk membebaskannya.. seorang wanita!! Lalu bagaimana 
halnya, sedangkan kaum wanita dan kaum muslimin seluruhnya berada di dalam genggaman orang-orang 
kafir. 

Bagaimana kita bisa hidup senang sedangkan kaum muslimah diperkosa di dalam penjara, kaum 
wanita yang masih suci dan perawan diperkosa oleh tentara-tentara kafir, sampai wanita-wanita itu hamil 
lantaran tindakan keji penjaga itu. Lalu wanita-wanita itu mengirimkan surat kepada saudara-saudara 
mereka yang berada di luar penjara, yang berisikan: Kemarilah kalian dan hancurkanlah penjara ini 
bersama kami karena kami sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung kehinaan ini . . . 

Sesungguhnya orang-orang yang membantah wajibnya jihad sekarang ini, mereka itu hanyalah orang 
yang bodoh atau orang yang tendensius. Dan mereka itu, Allah tidak berkehendak untuk membersihkan hati 
mereka. Sesungguhnya orang-orang yang membantah wajibnya jihad pada saat sekarang ini, yaitu mereka- 
mereka yang qo'idun (absen dalam jihad),yang pekerjaan mereka tidak lebih hanya sekedar mengkaji Al 
Qur'an lalu mondar-mandir diantara kenikmatan, tidur diatas kasur yang empuk, yang tidak bangun dan 
tidak tidur kecuali dalam kenikmatan, mereka itu adalah orang yang sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 
Taimiyah: "Tidak boleh duduk bersama mereka." 

Ibnu Taimiyah mengatakan di dalam Majmu' Fatawa juz 15: "Para pezina, homoseksual, orang-orang 
yang tidak berjihad, para pelaku bid'ah dan para peminum khomer, mereka itu adalah orang-orang yang 
tidak memiliki nasehat (kesetiaan) kepada diri mereka sendiri dan kepada kaum muslimin, dan wajib 
hukumnya untuk mengisolir dan tidak boleh duduk bersama mereka. " 

Beliau meletakkan kalimat orang-orang yang tidak berjihad di antara para pezina dan homoseksual, 
dan di antara para pelaku bid'ah dan para peminum khomer, karena mereka itu statusnya dalam hukum Islam 
sama. Bahkan tahukah kalian apa perbedaan antara orang yang minum khomer dengan orang yang tidak 
berjihad?! Sesungguhnya orang yang minum khomer itu hanyalah membahayakan dirinya sendiri sedangkan 
orang yang tidak berjihad itu membahayakan umat secara keseluruhan. 

Dan jihad — yang artinya perang — itu hukumnya akan tetap fardhu 'ain sepanjang hidupmu. 
Taruhlah, seandainya engkau berjihad di Palestina atau di Afghanistan kemudian kita dapat membebaskan 
Palestina, bukan berarti fardhu 'ain telah selesai. Engkau wajib berpindah ke daerah lain dan seterusnya. Ke 
Iraq, Chechnya, Kashmir, Somalia, Andalusia, Filipina, ke tempat-tempat dimana kaum muslimin ditindas! 

Belajarmu bukanlah jihad. Ilmumu bukanlah jihad. Dudukmu bersama saudara-saudaramudi dalam 
halaqoh-halaqoh ilmu bukanlah jihad. Jihad adalah perang, selama panji jihad masih berkobar, selama 
tombak-tombak masih terhunus, dan selama engkau dalam keadaan sehat dan memungkinkan untuk 
memanggul senjata. 



85lAl-Ghuroba 



Mengapa? Karena jihad sekarang hukumnya fardhu 'ain! Sehingga, tidak ada yang lebih utama 
dibandingkan berjihad, mengangkat senjata melawan kuffar! Bukan jihad lainnya! 

Sabda Rasulullah ShollAllahu ' Alaihi wa Sallam terhadap orang yang meminta izin kepada beliau ikut 
berjihad, "Apakah kedua orangtuamu masih hidup?" ia berkata, "Masih." Beliau bersabda, "Berjihadlah 
untukkeduanya."... ini adalah ketika jihad fardhu kifayah , tenaga sang pemuda lebih dibutuhkan oleh 
orangtuanya dibandingkan pasukan muslimin yang hendak pergi berperang... 

Begitu juga dengan menuntut ilmu! Dalam hal ini cukuplah bagi Antum sebuah hadits riwayatBukhori 

Rahimahullah dari Al-Barro' RA ia berkata: 

Datang seorang lelaki yang menghunus besinya kepada Nabi ShollAllahu 'Alaihi wa Sallam, ia berkata: 

"Wahai Rosululloh, aku berperang ataukah masuk Islam dulu?" beliau bersabda, "Masuk Islamlah 

kemudian berperang. " Maka iapun masuk Islam, kemudian berperang sampai terbunuh. Maka Nabi 

ShollAllahu 'Alaihi wa Sallam 

bersabda, "Ia beramal sedikit dan diberi pahala banyak. " 

Ini adalah ketika jihad fardhu 'ain , tenaga sang pemuda lebih dibutuhkan oleh pasukan muslimin yang 
hendak menahan serangan kaum kafir di Perang Badar daripada ia belajar dahulu... 

Dari Abu Huroiroh RA ia berkata: 

"Datang seorang lelaki kepada Rosululloh ShollAllahu'Alaihi wa Sallam lalu ia berkata, "Tunjukkan 
kepadaku amalan yang menyamai jihad." Beliau bersabda, "Aku tidak menemukan amalan yang 
menyamai jihad.", lalu lelaki tersebut bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.. lalu Rasulullah 
menjawab, "Mampukah salah seorang dari kalian apabila seorangmujahid keluar pergi berperang, kamu 
masuk ke masjidmu kemudian sholatdan tidak pernah berhenti dan puasa serta tidak berbuka hingga mujahid 
tersebut kembali? Siapa yang mampu melakukannya?" 

Jika Rasulullah bersabda bahwa tidak ada amalan yang dapat menandingi keutamaan berperang di 
jalan Allah, kenapa antum masih mengatakan bahwa menuntut ilmu antum adalah sebuah jihad? insyAllah, 
ketika jihad masih fardhu kifayah, kegiatan antum dalam menuntut ilmu adalah jihad, sholat antum adalah 
jihad, menahan hawa nafsu antum adalah jihad, menyingkirkan duri di jalan adalah sebuah jihad.. tapi kini 
jihad telah fardhu 'ain! Islam mewajibkan jiwa dan raga antum di medan perang! 

Dan jangan sampai antum berdalih dengan membacakan hadits yang berbunyi: "Kita telah kembali 
dari jihad kecil menuju jihad besar (puasa). . ." ini adalah hadits dho'if, bukan ucapan Rasulullah! 

Ketahuilah! jihad itu adalah ibadah seumur hidup. Ibadah yang tidak akan selesai kecuali dengan 
keluarnya nyawa dari badan. Sama persis dengan sholat. Sebagaimana sholat tidak akan gugur dari 
pundakmu kecuali setelah nyawamu keluar. Tidak boleh beralasan dengan angan-angan, dan tidak boleh 
membuat-buat alasan, dan juga tidak boleh memelintir-melintir ayat dan hadits, dan juga tidak boleh 
mempermainkan ayat-ayat Al Qur'an . . . jihad artinya adalah perang. 

Silahkan kalianberperang di Palestina. Palestina terbuka untukmu. Jika engkau dapat berjihad di sana? 
Silahkan kalian berjihad di Afghanistan, jika engkau dapat berjihad di sana? Piliphina tebuka. Adapun 
jikajihad terus berkecamuk dan perang terus berkobar, langit melontarkan baranya dan bumi memuntahkan 
laharnya selama berpuluh-puluh tahun di bumi jihad namun engkau tidak pergi juga ke sana, berarti engkau 
memang tidak pernah berpikir untuk berjihad. 

Dan barang siapa yang mati dan belum pernah berperang, dan tidak pernah terbersit dalam hatinya 
untuk berjihad maka dia mati dalam salah satu cabang kemunajikan. (HR. Muslim) 

Harus terbersit di dalam hatimu untuk berperang.... 
86lAl-Ghuroba 



Seandainya mereka mempunyai keinginan untuk berangkat berperang tentu mereka akan menyiapkan 
persiapan. At-Taubah: 46 

Jika engkau dapat berjihad di Palestina, berjihadlah di Palestina itu lebih baik dan lebih utama, karena 
Palestina adalah bumi yang diberkahi. 

Namun jika engkau tidak dapat masuk kePalestina, lalu engkau duduk sambil mencari-cari alasan 
dengan angan-angan, lalu engkau terusmengulang-ulang: "Palestina ... Palestina." Sebagaimana ... 
seseorang bertanya kepada RosulullohSholallahu 'alaihi wa sallam: Kapan terjadi qiyamat? Beliau 
menjawab: Celaka engkau, apa yangtelah engkau persiapkan untuk menghadapinya? (muttafaqun 'alaihi). 

Apa yang telah engkau persiapkan untuk pergi berjihad wahai saudaraku?!.. apakah engkau telah 
melakukan latihan?! Apakah engkau mengenal senjata?! Apakah engkau pernah mengikuti pertempuran?! 
Apakah engkau pernah satu hari saja kelelahan untuk mempelajari bagaimana menjinakkan ranjau dan 
bagaimana merakitnya ?! pernahkan engkau bersusah-payah untuk meletakkan ranjau rakitan di mobil atau 
yang lainnya?! Bagaimana caranya engkau meletakkan ranjau rakitan di depan pintu rumah salah seorang 
Yahudi atau Amerika, atau di dalam mobilnya atau pintu pabriknya atau yang lainnya?!.. pasti rata-rata 
kalian tidak bisa, tidak pernah melihat dan tidak pernah berfikir untuk itu. 

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi ..." Al-Anfal : 60 

Dari 'Uqbah bin 'Amir RA ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ShollAllahu 'Alaihi wa Sallam 
bersabda — saat itu beliau di atas mimbar — dan membacakan ayat Al-Anfal :60, lalu ia berkata, 
...ketahuilah, kekuatan itu adalah melempar, kekuatan itu adalah melempar, kekuatan itu adalah 
melempar."... sampai 3 kali rasulullah menegaskan kekuatan tersebut.. maka apakah kalian kini percaya 
bahwa kekuatan AK47 lebih kuat dari ijazah universitas kalian dalam membantu kaum muslimin!? 

Kemarilah biar kami ajarkan kepada kalian. Bergabunglah dengan Taliban dan Al-qaida di 
Afghanistan atau dimanapun kalian bisa menemui kami, kami ajarkan kalian kemudian kami akan 
kembalikan kalian ... Kami akan melatihmu dan mengajarimu, lalu engkau terjun ke dalam pertempuran 
beberapa kali supaya menghilangkan rasatakutmu. Kamu belajar kejantanan, lalu jiwamu akan matang 
secara mental, agama, akal dan kejantanan. Kemudian engkau kembali ke negaramu. Jika engkau tidak 
mendapatkan jalan lagi kenegerimu, maka di sana masih ada jalan-jalan yang lainnya. 

Apa gerangan yang terjadi pada umat Islam, sehingga kehinaan dapat merambah keseluruhs endi- 
sendinya dan kegelapan dapat meliputi seluruh sudut kehidupannya, apakah karena jumlah laki-lakinya 
sedikit?! Demi Allah sesungguhnya para pelajar di universitas di negara manapun telah cukup untuk meraih 
kemuliaan selama beberapa abad ke depan ... apa gunanya kedokteran jika yang berkuasa di dalam negeri 
adalah seorang Yahudi atauKomunis atau Munafiqin, atau Kafir yang lain?! ... sungguh perut bumi benar- 
benar lebih baik daripada mukanya bagi kita ... apa gunanya ijazah?!! Apa gunanya harta jika harga diri 
terancam hartabenda dimusnahkan dan darah ditumpahkan?!! Apa gunanya hidup ini?!! Apa gunanya hidup 
ini?! Apa gunanya harta?!! Apa gunanya ijazah?!! Apakah ia adalah hari-hari yang dihitungdan ditulis?!! 
Ataukah ia adalah nafas yang keluar dan dihitung?!! Ataukah ia adalah tindakan yang dapat merubah 
sejarah, ataukah peristiwa yang dapat membangun kejayaan, ataukah darah yang dapat membangun 
kejayaan Islam..?! 

Jangan engkau dengarkan. Sumbatlah telingamu dengan kapas apabila engkau duduk bersama orang- 
orang yang hanya bisa bicara saja, dan teruskanlah langkahmu, dan tanyakanlah kepada dirimu sendiri; Apa 
kewajibanku? Apa kewajibanku di dunia ini? Aku datang untuk satu tujuan saja, yaitu; supaya kalimatulloh 
tinggi, tujuan saya adalah untuk berjihad fi sabilillah, untuk membela agama Allah, untuk membantu kaum 
muslimin yang berperang karena Allah.Dan ini benar-benar ada, maka jangan sampai kalian kembali ke 
belakang dengan membawa kerugian. 

87lAl-Ghuroba 



Di dalam hadits disebutkan: 

Apabila kalian telah berjual beli dengan cara 'inah (riba), kalian telah memegangi ekor-ekor sapi — 
yakni peternakan, memelihara binatang ternak --- dan kalian senang dengan perkebunan ---yakni pertanian 
— dan kalian meninggalkan jihad niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang mana 
kehinaan itu tidak akan dicabut dari kalian sampai kalian kembali kepada Agama kalian . (Shohih Al Jami' 
Ash Shoghir, no. 324) 

Itulah agama kalian, JIHAD! Oleh karena itu ketika terjadi peperangan antara umat Islam dengan 
bangsa lain, haram hukumnya menyibukkan diri dengan pertanian, industri dan peternakan ... haram 
hukumnya meninggalkan jihad kemudian membangun pabrik tekstil atau pabrik sirup atau pabrik biskuit, 
sedangkan di sini, di Afghanistan dan di Palestina orang-orang pada mati. Tidak boleh, kenapa?! Karena 
biskuit kalian tidak berangkat ke sini, kenapa kalian tidak pergi ke Afghanistan?! Kenapa kalian tidak pergi 
ke Palestina?! Kenapa kalian tidak pergi ke Philipina?! Ke Iraq? Ke Chechnya? Ke Somalia? 

Sekarang, siapakah yang datang untuk berjihad, apakah para ulama' telah datang untuk berjihad?! 
Apakah para qodli telah datang untuk berjihad?!Apakah para da'i telah datang untuk berjihad?! Apakah para 
dosen universitas telah datang untuk berjihad? Apakah para pemikir telah datang untuk berjihad?! Apakah 
para ahli bahasa telahdatang untuk berjihad?! Apakah para khothib telah datang untuk berjihad?! Apakah 
para fuqoha'telah datang untuk berjihad? Apakah orang-orang kaya telah datang untuk berjihad?! Apakah 
para saudagar telah datang untuk berjihad?! ... siapakah orang-orang yang telah datang untuk berjihad...? 
Siapa? Apakah Allah, robbul 'alamin, mewajibkan jihad itu hanya kepada para pemuda yang masih belia 
saja? Sedangkan umat Islam yang lainnya dibebaskan semua? Semoga Allah memberi balasan yang baik 
kepada mereka yang telah datang untuk berjihad.. 

WAHAI KAUM MUSLIMIN 

Hidup kalian adalah jihad, kemuliaan kalian adalah jihad, serta wujud dan eksistensi kalian terikat erat 
dengan jihad. 

WAHAI PARA JURU DAKWAH ! 

Tiada nilainya kalian kecuali jika kalian memanggul senjata kalian, untuk membabat parathoghut, 
orang-orang dan orang-orang dholim. Sesungguhnya orang-orang yang mengira bahwalslam ini bisa 
menang tanpa jihad dan perang, tanpa pertumpahan darah dan serpihan-serpihan daging mereka, sebenarnya 
mereka itu dalam kekaburan dan tidak memahami tabiat dari Diin(agama) Islam ini. 

Sesungguhnya wibawa para juru dakwah, kekuatan dakwah dan kejayaan kaum muslimin itu tidak 
bakal terwujud tanpa perang. Rosululloh Sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

" Dan benar-benar Allah akan mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan melemparkan 
penyakit wahn ke dalam hati kalian ! para shahabat bertanya : Apakah penyakit wahn itu ya Rosul Allah ! 
beliau menjawab : " Cinta dunia dan benci dengan kematian ". Dalam riwayat lain, " ...benci dengan 
peperangan ". 



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : 

" Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban 
kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak 
serangan orang-orang yang kajir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya) ". (QS. An 
Nisa' [4]:84). 

" Dan perangilah mereka, supaya jangan adajitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah 
". (QS. Al Anfal : 39). 



88lAl-Ghuroba 



Kejarlah kematian, niscaya kalian akan dikaruniai kehidupan. Janganlah kalian terpedaya oleh angan- 
angan, dan janganlah tertipu oleh apapun dalam mentaati Allah. Janganlah kalian tertipu dengan buku-buku 
yang kalian baca, dan dengan ibadah-ibadah sunnah yang kalian tekuni. Kesibukan kalian dalam urusan- 
urusan kecil yang membuai hati jangan sampai melupakan kalian dari masalah-masalah yang besar dan 
agung, 

...dan kalian menginginkan bahwa yang tanpa senjatalah yang akan kalian hadapi... Al-Anfal : 7 

WAHAI ULAMA ISLAM ! 

Majulah kalian untuk memimpin generasi yang sedang kembali kepada jalan Robbnya ini.Janganlah 
mundur dan jangan gandrung serta cinta kepada dunia. Jauhilah hidangan-hidangandari thoghut, karena hal 
itu akan menjadikan hati kalian gelap dan mati, serta akan menjadi dinding pemisah bagi kalian dari 
generasi ini, serta penutup antara hati kalian dan hati mereka. 



WAHAI KAUM WANITA ! 

Jauhilah kemewahan, karena kemewahan adalah musuh jihad dan kemewahan itu mengkerdilkan jiwa 
manusia. Waspaspadalah terhadap keadaan yang berlebih-lebihan. Cukuplah dengan yang perlu-perlu saja. 
Didiklah anak-anak kalian dengan kesederhanaan, dengan sifat kejantanan dan kepahlawanan serta jihad. 
Jadikanlah rumah kalain sebagai kandang singa,bukannya kandang ayam yang mana setelah gemuk 
dijadikan sembelihan penguasa durhaka. 

Tanamkanlah dalam jiwa anak-anak kalian kecintaan berjihad, mencintai lapangan pacuan kudadan 
medan-medan pertempuran. Ikutlah kalian dalam merasakan segala kesulitan kaummuslimin. Usahakan 
dalam satu minggu sekali minimal untuk merasakan kehidupan kaummuhajirin dan mujahidin, yaitu hanya 
dengan makan sepotong roti kering dengan lauk yang tidakberlebihan dan beberapa teguk air teh. 

WAHAI PARA REMAJA ! 

Tumbuhlah kalian dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbangdan deru 
suara tank. Jauhilah kenikmatan hidup, dendangan musik dan kasur-kasur yang empuk. 

Maukah kalian Aku tunjukkan kepada perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari siksa 
neraka. Yaitu kalian beriman kepada Allah dan Rosulnya, dan kalian berjihad di jalan Allah dengan harta 
danjiwa kalian. (QS. Ash Shoff: 10-11) 

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan 
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau 
terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan 
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang 
telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah : 1 1 1 ) 



89lAl-Ghuroba 



INDONESIA WILAYAH PERANG 



"jika mau ngebom, jangan di indonesia.. tapi di afghanistan sana... pergi ke iraq sana.. disana jelas, wilayah 
perang, kalau indonesia kan bukan! Dimana akalnya orang-orang ini?" begitulah kiranya kita dengar 
penjelasan dari ulama-ulama yang muncul di layar televisi, mereka mengomentari aksi-aksi para mujahidin. 
Tapi kenapa, mereka tidak pernah menjelaskan secara objektif, apa dalil yang dipakai oleh para mujahidin 
sehingga menganggap indonesia wilayah perang. 
Ketahuilah, indonesia adalah wilayah perang, kenapa? 

Kaum muslimin di Indonesia, termasuk antum dan ikhwanmu terkena fardlu 'ain jihad (perang), paling tidak 
karena 2 kondisi : 

Terjajahnya Biq'ah Muslimin oleh Orang-Orang Kafir 

Hukum jihad fardlu 'ain hari ini bukan hanya sejak Baitul Maqdis dikuasai kafir yahudi. Dan bukan hanya 

sejak AS dan sekutunya menjajah Afghanistan dan Irak, bahkan sejak kafir nashoro menjajah Andalusia 

tahun 1492 M. Dan sampai hari ini kaum muslimin di Andalusia dan sekitarnya bahkan seluruh dunia belum 

mampu membebaskannya. Kewajiban ini meluas hingga mengenai kaum muslimin di Indonesia. 

Sebagaimana fatwa Ibnu Taimiyah Rohimahulloh sebagai berikut : 

Artinya : Ibnu Taimiyah Rohimahulloh berkata : Apabila musuh memasuki negeri-negeri Islam maka tidak 

ragu bahwasannya wajib melawannnya atas penduduk terdekat lalu yang terdekat, karena negeri-negeri 

Islam semuanya berposisi sebagai negeri yang satu. (Al Fatawa Al Kubra, Kitabul Jihad) 

Di hadapan mata kita dan kalian terpampang dengan jelas adanya perang atau perang fisik di berbagai 
belahan negeri Islam, di Afghanistan, di Pakistan, di Moro, di negeri-negeri AMka Barat, di Jazirah Arob, di 
Somalia. Terlihat dan terdengar dengan jelas jeritan isak tangis anak-anak Palestin, anak-anak Afghanistan, 
anak-anak Pakistan, anak-anak di negeri AMka Barat dan sebagainya. Terlihat dan terdengar dengan jelas, 
berita dipenjarakannya dan dinodainya kaum muslimah di berbagai negeri Islam. Dan berbagai derita 
nestapa saudara-saudara kita di negeri-negeri Islam akibat penjajahan orang-orang kafir terutama zionis dan 
salibis Internasional yang dikomandoi AS. Dan hingga kini mereka belum sepenuhnya berhasil dibebaskan 
oleh Mujahidin yang siang malam selalu sibuk di medan laga, walaupun sekian banyak yang telah menjadi 
Syuhada, Nahsabuhum Hakadza. Kemudian kita di sini, di Indonesia, menganggap bahwa kita ini tidak ada 
hubungannya dengan saudara-saudara kita tersebut, menyatakan bahwa negeri Indonesia berbeda dengan 
negeri-negeri Islam lainnya. Menyatakan bahwa negeri Indonesia bukan wilayah perang sementara negeri- 
negeri Islam lainnya dilanda peperangan. Apa dasar kita bisa mengatakan bahwa Indonesia tidak sedang 
dalam keadaan perang? Padahal Ibnu Taimiyah telah berkata bahwa negeri-negeri islam itu dibawah satu 
kesatuan! 

Rasulullah telah bersabda: 

Artinya : Tidaklah seorang muslim membiarkan saudaranya dinodai kehormatannya dan dilecehkan 

kemuliannya di suatu negeri melainkan Alloh biarkan dia dinodai kehormatannya dan dilecehkan 

kemuliannya di suatu negeri. (Shohih Jami' Shogir no. 7519) 

Islam itu tidak dipisahkan oleh garis regional sebuah negara! MISALNYA, saat ini kita berada di perbatasan 

sebuah negara, yang mana jarak antara negara tetangga hanya beberapa meter. Lalu antum lihat orang-orang 

kafir menyerang muslim di negara lain tersebut yang hanya berjarak beberapa meter dari antum, bisakah 

antum mengatakan bahwa antum tidak terkena wajibnya jihad untuk menolong mereka, hanya karena antum 

dipisahkan oleh garis regional? Tentu tidak! 

Dan negara ini! Dari segi waqi' fakta realita, pemerintah NKRI yang berkuasa di Indonesia di bawah 
pimpinan SBY dan rezimnya, dengan terang-terangan menyatakan berwala' terhadap AS dan sekutunya, 
dengan menyatakan perang terhadap teroris. (baca: Mujahidin). Mereka, sebagaimana kalian tahu, 
mengerahkan segala kekuatan dan perangkat perangnya untuk bersama-sama dengan zionis dan salibis 
Internasional memerangi Mujahidin. Mereka membuat Undang-Undang Anti Terorisme atas perintah 
George Bush untuk melegalkan aksi brutal mereka, khususnya densus 88 (laknatulloh 'alayhim) terhadap 

90IA1-Ghuroba 



siapapun yang akan melaksanakan perintah Alloh Ta'ala yaitu Jihad fi Sabilillah, yang hukumnya fardlu 'ain. 
Bahkan sekarang, mereka telah memperluas front peperangan tersebut dan menjadi skala prioritas program 
rezim SBY di atas program-program pemerintah yang lain. Mereka juga telah membuat organisasi yang 
baku untuk keperluan itu yaitu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. 

Sebagai konsekuensi dari perwala'an dengan zionis dan salibis Internasional tersebut adalah kebijakan 
mereka yang menggolongkan Terorisme (baca: amaliyah Jihadiyah) sebagai kejahatan transnasional. Akan 
tetapi, kenapa kita masih dengan tenang mengatakan Indonesia bukan wilayah perang melainkan wilayah 
dakwah, dimana berperang hanya dengan lisan. Jika kalian menyanggah dengan berdalil bahwa faktanya 
pasukan militer asing tidak menyerang Indonesia sebagaimana Afghanistan dan Irak, maka saya jawab : 

Pertama: Hendaknya sebagai orang beriman berdalil dengan hukum syar'iy yang bersumber dari kitabulloh 
dan sunnah Nabi SAW, dan penjelasannya dari Ulama Salaf. Hukum syar'iy menetapkan atau menghukumi 
suatu fakta dan bukan fakta yang menetapkan atau menghukumi suatu ketentuan hukum syarl. Fakta dari 
kondisi umat Islam seluruh dunia termasuk Indonesia telah ditetapkan hukum syar'i atasnya bahwa Jihad 
Fardlu Ain sebagaimana keterangan sebelumnya. 

Jika fakta kalian jadikan dalil untuk melahirkan suatu ketentuan hukum berarti tanpa sadar kalian semazhab 
dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang salah satu prinsip (mabda) mereka adalah "kontekstualisasi ajaran 
Islam". Berdasarkan prinsip ini, mereka menolak hukum syar'i yang menyatakan haramnya pernikahan 
muslimah dengan orang kafir, pelarangan perempuan sebagai amir, dan sebagainya. 

Juga bila demikian kalian dapat semazhab dengan al aroiyyun (orang-orang yang mengedepankan ro'yu atas 
syar'iy / taqdimurro'yi 'ala syar'iy), wal 'iyadzubillah, yang dianut oleh ikhwanul muslimin hari ini, 
sebagaimana perkataan salah satu tokoh mereka Muhammad al Ghozali di dalam kitabnya As Sunnah An 
Nabawiyah baina ahlil fiqh wal ahlil hadits: 

Artinya : Bagaimana kita sanggup memaparkan Islam di antaranya hadits ini (yakni : sekali-kali tidak akan 
sukses suatu bangsa yang menyerahkan urusannya kepada perempuan) kepada warga Britania, sebagai 
contoh, padahal mereka telah sanggup merealisasikan sebagian keperluannya di bawah pimpinan Margareth 
Thathcher (seorang perempuan eks PM Inggris) 

Oleh sebab itu, mereka membolehkan seorang perempuan menjadi kepala negara atau kepala pemerintahan, 
menjadi menteri, gubernur dan jabatan-jabatan kepemimpinan lainnya. 

Bukankah kalian mengaku bermanhaj As Salafus Sholih di dalam memahami dan mengamalkan Islam dan 
di antara ciri khasnya adalah Taslimu bi maa jaa'a bihinnash (penyerahan diri sepenuhnya terhadap apa yang 
didatangkan nash). 

Pernyataan kalian menilai Indonesia bukan wilayah perang sama sekali tidak didasarkan pada nash syar'iy. 

Ingatlah bahwa fakta dihukumi oleh nash syar'iy dan bukan menghukumi nash syar'i. 

Kedua : Cukuplah fakta bahwa pemerintahan NKRI di bawah rezim SBY berwala' kepada Amerika Serikat 

dan sekutunya di dalam memerangi Mujahidin sebagai kondisi berlakunya hukum syar'iy yaitu amaliyah 

jihadiyah yang bermakna amaliyah Qitaliyah sebagaimana mereka juga menyatakan perang terhadap 

Mujahidin. Dan tidak harus adanya penyerangan pasukan militer asing ke Indonesia seperti yang terjadi di 

Afghanistan atau Irak. 

Militer asing menyerbu suatu negeri, biasanya, jika pemerintah boneka di negeri tersebut sudah kewalahan 

menghadapi Mujahidin. 

Kondisi kedua yang menjadikan Jihad di Indonesia fardlu 'ain adalah berkuasanya pemerintah murtad yang 
tidak berhukum kepada kitabulloh dan sunnah Nabi SAW. Dalilnya adalah hadits Ubadah bin Shomit r.a. 
berikut ini : 

Artinya : Rosululloh SAW memanggil kami lalu kami membai'atnya. Adapun yang beliau ambil atas kami 
bahwasannya beliau mengambil bai'at atas kami untuk dengar dan taat di dalam hal yang kami sukai maupun 
benci dan di dalam kesulitan maupun kemudahan kami serta di dalam keadaan hak kami di kebelakangkan. 

91lAl-Ghuroba 



Dan tidak boleh kami menyelisihi perintah ahlinya (amir). Beliau SAW bersabda, kecuali kalian melihat 
kufur yang nyata pada kalian terdapat keterangan dari Alloh di dalamnya. (Muttafaqun 'alaih dengan lafadz 
Muslim). 

Artinya : An Nawawiy berkata, AlQodhiy 'iyadh berkata : Ijma' ulama bahwa jika tampak padanya 
kekufuran (setelah menduduki imamah) maka dilengserkan -hingga perkataannya- maka jika tampak 
padanya kekufuran dan perubahan syariah atau bid'ah, dia keluar dari hukum wewenang kekuasaan serta 
ketaatan kepadanya gugur dan wajib atas kaum muslimin bangkit mencopotnya dan mengangkat imam yang 
adil jika memungkinkan. Apabila hal itu tak terlaksana kecuali oleh sekelompok kaum muslimin maka wajib 
atas mereka bangkit mencopot orang-orang kafir dan tidak wajib terhadap pelaku bid'ah kecuali mereka 
beranggapan ada kemampuan untuk itu, jika nyata adanya ketidakberdayaan maka tidak waji bangkit untuk 
mencopotnya danwajib hijrah dari negerinya ke negeri lain menyelamatkan Diennya. (Shohih Muslim Syarh 
An Nawawiy 12/229). 

kedua kondisi tersebut merupakan waqi' atau fakta obyektif yang telah jelas hukum syar'i yang berlaku atas 
waqi' di Indonesia sebagaimana negeri-negeri Islam lainnya yaitu hukum Jihad fardlu 'ain. Konsekuensinya 
adalah Indonesia menjadi wilayah perang yang mana fardlu 'ain atas setiap muslim di Indonesia untuk 
berperan aktif di dalam amaliyah qitaliyah. Dengan adanya nash syar'i serta ijma' maka tidak diperbolehkan 
adanya ijtihad untuk menentukan metode menghadapi thogut kafir yang berkuasa misal dengan alasan 
ijtihad, fardlu 'ain jihad diganti dengan metode parlemen atau dibatasi hanya dakwah saja atau pendidikan 
saja atau usaha ekonomi saja. Ulama ushul sepakat bahwa tidak boleh ijtihad sementara ada nash syar'i. 

WAJIB BERDAKWAH TERLEBIH DAHULU, GUGUR DI DALAM JIHADUDAFI 

Dari keterangan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa jenis jihad fardlu 'ain hari ini adalah jihaduddafi 
bukan jihad tholabiy. Dan di negeri-negeri Islam berlaku jihadudafi sekaligus jihadul murtaddin. Dan 
hukum syarly yang menyertai jihaddud dafi di antaranya gugurnya dakwah sebelum qital. Berikut fatwa 
ulama : 

Artinya : Muhammad bin Al Hasan Asy Syaybaniy r.a. berkata : Jikalau suatu bangsa ahlul harbi yang 
belum sampai kepada mereka Islam dan tidak juga dakwah, mereka mendatangi kaum muslimin di 
negerinya, maka kaum muslimin memerangi mereka tanpa dakwah untuk mempertahankan diri, membunuh 
mereka, menawan mereka, dan mengambil harta mereka maka ini di perbolehkan, (harta yangdiperoleh) 
dipotong seperlimanya dan dibagi sisanya kepada yang ikut berperang. (Assiarul kabir dan syarahnya 
5/2233). 

Artinya : Ibnu Qoyyim Rohimahulloh berkata : Dan di anataranya, kaum muslimin mendakwahi orang- 
orang kafir sebelum memerangi mereka dan ini wajib jika dakwah belum sampai kepada mereka. Ini bila 
kaum muslimin sebagai pihak yang menyerang orang-orang kafir. Adapun bila orang-orang kafir menyerang 
kaum muslimin di negeri-negeri kaum muslimin, maka boleh bagi kaum muslimin memerangi orang-orang 
kafir tanpa dakwah karena mempertahankan diri dan keluarga mereka. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/88). 
Fatwa-fatwa di atas berkenaan dengan hukum dakwah sebelum perang terhadap orang-orang kafir asli 
seperti yahudi dan nashoro menyerang negeri Islam maka wajib atas kaum muslimin Jihaduddafi tanpa 
dakwah. Adapun memerangi orang-orang kafir murtad seperti penguasa negeri-negeri Islam hari ini 
hukumnya seperti memerangi kafir asli harbi yang telah sampai dakwah kepada mereka, sebagaimana di 
dalam Fathul Bari 12/269 berikut ini : 

Artinya : Sungguh, hukum orang yang murtad dari Islam adalah hukum kafir harbi yang telah sampai 
dakwah. 

Keadaan orang-orang murtad terbagi dalam 2 hal : 

Pertama: Golongan Maqduron Alaihim, yaitu ada kemampuan menjatuhkan hukum had atas mereka karena 
bukti atau pengakuan yang tetap serta mereka di dalam genggaman kaum muslimin. Pada keadaan pertama 
ini, jumhur ulama mewajibkan istitab (memberi kesempatan bertaubat) sebelum mereka dibunuh, jika 
bertaubat maka tidak dibunuh. 



92lAl-Ghuroba 



Kedua: Golongan Mumtani'un biquwwah wa syawkah atau di darul harbi, yaitu negeri yang berkuasa di 
atasnya selain hukum Islam. Pada keadaan kedua ini, tidak wajib istitab. Dan waqi' menunjukkan bahwa 
orang-orang murtad termasuk para penguasanya termasuk golongan ini. Berikut fatwa ulama' tentang hukum 
memerangi mereka dan hukum berkenaan dengan diri dan harta mereka. 

Artinya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahulloh berkata : Orang murtad jika dia membangkang 
berada di darul harbi atau mereka memiliki kekuatan bagi pembangkangannya terhadap hukum Islam, maka 
sesungguhnya di dibunuh sebelum istitab tanpa ragu-ragu.(Ashshorimulmaslul, 3/601). 
Perhatikanlah fatwa Ibnu Taimiyah Rohimahulloh dan cermatilah kondisi obyektif di Indonesia! ! ! Bukankah 
Indonesia tergolong darul harbi? Atau, bila berpegang pada sebagian pendapat ulama, Indonesia adalah 
Darul Islam Hukman bukan Haqiqotan atau Darul Islam Mughtashobah (darul Islam yang dirampas atau 
dijajah), sehingga Jihad/perang menjadi Fardlu 'Ain atas setiap muslim yang tinggal di Indonesia untuk 
mengembalikannya. Yang pasti, Indonesia bukanlah darul Islam yang tidak ada alasan berperang di 
dalamnya dan penguasa negeri Indonesia adalah penguasa murtad yang menolak dan membangkang 
terhadap ajakan Tathbiqusy Syariah. Bukankah begitu Akhi? 

Kecuali antum semazhab dengan para penganut Murji'ah yang beraqidah bahwa iman hanya di dalam hati 
sedangkan amal perbuatan tidak termasuk iman! 

Artinya : Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Rohimahulloh berkata : Dan jika orang murtad berpindah mendiami 
suatu darul harbi, pemilikannya tidak hilang, tetapi diperbolehkan membunuhnya bagi setiap orang tanpa 
istitab dan dirampas hartanya bagi yang mampu melakukannya karena dia telah menjadi harbiyun (pelaku 
perang), hukumnya sama dengan hukum Ahlul Harbi. Dan demikian pula jika suatu kelompok telah murtad 
dan membangkang di negeri mereka sendiri terhadap ketaatan Imamul Muslimin maka telah sirna 
keselamatan diri dan harta mereka karena orang-orang kafir asli tidak ada jaminan keselamatan di negeri 
mereka bagi orang murtad lebih pantas (untuk tidak ada jaminan keselamatan). (Al Mughniy : 9/20) 
Artinya : Ibnu Muflih Rohimahulloh berkata : Maka jika dia (orang murtad) berada di darul harbi, maka bagi 
setiap orang boleh membunuhnya tanpa istitab dan mengambil harta yang ada padanya. (Al Mubaddi', 
9/175). 

Artinya : Al Mujid, Ibnu Taimiyah Rohimahulloh berkata : Dan siapa yang membunuh orang murtad tanpa 
ijin imam, dia di ta'zir, kecuali jika orang murtad itu ada di darul harbi maka boleh bagi setiap orang 
membunuhnya tanpa istitab dan mengambil harta yang ada padanya. (Al Muharror fil fiqh, 2/169). 

Keterangan ulama tersebut sangat jelas bahwa diperbolehkan bagi setiap orang untuk membunuh dan 
mengambil harta orang murtad yang ada di darul harbi. Dan tentu saja terhadap kafir asli juga demikian bila 
dakwah telah sampai. Dengan demikian, aplikasi Fa'i tidak terikat dengan apa yang kalian namakan wilayah 
perang. Fa'i dapat dilakukan di darul Islam seperti dialami Bani Nadhir atau kafir dzimmi yang melanggar 
perjanjian atau orang murtad sesudah istitab, dan dapat dilakukan di darul harbi seperti terhadap orang 
murtad sebagaimana keterangan para ulama tersebut tanpa istitab. 

Agar tidak disalahpahami, maka perlu saya uraikan berikut ini beberapa butir peringatan : 
Bila dinyatakan bahwa Indonesia adalah wilayah perang bukan berarti dakwah ditiadakan, akan tetapi 
dakwah hendaknya diposisikan sebagai bagian dari Jihad atau perang tersebut yaitu bagian dari i'dad 
maknawiy (misal dari segi tashihul fikroh) maupun i'dad madiy (misal dari segi penambahan kekuatan 
personel Mujahidin). 

Hendaknya ada pemilahan antara Umat Islam awam sebagai penduduk Indonesia dan pemerintah murtad 
yang berkuasa di Indonesia. Dengan demikian, ada golongan yang patut didakwahi agar memahami dan 
mudah-mudahan menjadi Mujahidin dan ada golongan yang wajib diperangi tanpa harus didakwahi terlebih 
dahulu. 



93lAl-Ghuroba 



THAIFAH MANSHURAH 

Jika kita telaah ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi SAW tentang tipu daya dan makar musuh- 
musuh Islam, kemudian kita sesuaikan dengan kejadian di alam nyata, baik yang kita baca dalam sejarah 
maupun yang kita dengar dan saksikan dengan mata kepala, betapa dahsyat dan hebat permusuhan, tipu 
daya, dan makar mereka terhadap Islam. Sampai-sampai Allah SWT beriirman, "Sehingga gunung-gunung 
pun dapat lenyap karenanya." (Q.S 14: 46). 

Musuh-musuh Islam di sini dari luar maupun dalam. Musuh luar maksudnya orang-orang kafir tulen, 
yaitu Zionis, salibis, komunis, Majusi, dan sebagainya. Sedangkan musuh dalam adalah antek-antek mereka 
dari golongan orang-orang zindik (ingkar), orang-orang munafik, dan para murtaddin dengan segala 
jenisnya. Mereka tidak henti-hentinya menyusun makar jahat dan berusaha keras untuk menghancurkan 
Islam dan kaum muslimin dengan berbagai cara. 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menggambarkan bahwa kaum muslimin akan dikeroyok oeh 
musuh-musuhnya dari segala penjuru bagaikan hidangan makanan yang dikerumuni oleh para 
penyantapnya. Hal ini tampak nyata pada masa kini, dan di antara dampak negatifnya adalah terjadinya 
pemurtadan yang luar biasa, bahkan bisa dikatakan yang terbesar sepanjang sejarah kaum mushmin. 
Gelombang pemurtadan kali ini terjadi dan merebak dalam segala aspek kehidupan umat Islam -kecuali 
yang dirahmati Allah-, baik dalam aspek akidah, syariat, hukum, akhlak, politik, ekonomi, sosial budaya, 
militer, ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun pemikiran dan perilaku. 

Yang menjadi pertanyaan, dalam keadaan Islam sedang digerogoti dari dalam dan dari luar seperti 
sekarang, masih adakah hamba-hamba Allah yang siap menjadi Anshar (penolong)-Nya, siap menjadi 
Hawariyyin, dan siap menjadi mujahid-mujahid-Nya...? 

Namun perlu kita ingat bahwa hal ini adalah bagian dari Sunatullah. Sudah menjadi suratan taqdir dan 
menjadi kehendak-Nya. Allah SWT menentukan keadaan seperti ini semata-mata untuk menguji hamba- 
hamba-Nya. 

Betapapun manusia seisi bumi hendak melakukan tipu daya, memusuhi, dan menyusun makar untuk 
memberangus dan menghancurkan Islam, namun Allah SWT menjamin bahwa agama Islam akan tetap 
tegak sampai hari kiamat. Mekanismenya, Allah SWT menjamin senantiasa eksisnya sekelompok dari 
kaum muslimin yang siap berperang (berjihad) untuk membela agama-Nya, dan mereka pun akan 
mendapatkan pertolongan dari-Nya . Hal tersebut sesuai dengan hadits di bawah ini: 

Sabda Rosululloh ShollAllahu 'Alaihi wa Sallam: 

"Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang hingga 
hari kiamat." (Dikeluarkan oleh Muslim dengan lafadz ini (156), (1923), Ahmad (III7 345), Ibnu Hibban 
(6780 — ihsan) dan Ibnul Jarud di dalam Al-Muntaqo (1031) dari hadits Jabir bin Abdillah.) 

Dari Jabir bin Samurah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda/ Agama ini akan senantiasa tegak, 
yangmana tetap ada sekelompok dari umatku yang berperang membelanya hingga hari kiamat. (HR 
Muslim). 

Di dalam hadits 'Uqbah bin 'Amir disebutkan: 

"Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas perintah Allah, mereka kalahkan 
musuh mereka, mereka tidak terpengaruh dengan orang yang menyelisihi mereka hingga (menjelang) 
datang kepada mereka hari kiamat dan mereka tetap seperti itu. "(HR Muslim) 



94lAl-Ghuroba 



Di dalam hadits 'Imron bin Hushoin disebutkan: 

"Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang atas orang 
yang memusuhi mereka sampai kelompok terakhir dari mereka memerangi Al-Masih Dajjal. " (HR. Ahmad 
dan Dawud) 

Di dalam hadits Mu'awiyah bin Abi Sufyan: 

"Akan selalu ada satu kelompok dari kaum muslimin yang berperang di atas kebenaran, mereka menang 

atas orang yang memusuhi mereka hingga (menjelang) hari kiamat. " (HR.Muslim) 

Dan dari Salamah bin Nufail ia berkata: 

"Aku duduk di sisi Rosululloh ShollAllahu Alaihi wa Sallam, lalu ada seseorang yang berkata, "Wahai 
Rosululloh, manusia tidak lagi mengurus kuda dan telah meletakkan senjata, mereka mengatakan: "Tidak 
ada lagi jihad, perang sudah usai. " Maka Rosululloh ShollAllahu Alaihi wa Sallam menghadapkan 
wajahnya dan bersabda, "Mereka dusta, sekarang, sekarang tiba waktu perang; dan akan senantiasa ada 
sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran; Allah akan simpangkan hati suatu kaum dan 
Dia memberi reieki kelompok tadi dari kaum tersebut hingga (menjelang) tiba hari kiamat dan sampai 
datang janji Allah. " (HR. Imam Nasa'i) 

Dan dari Nawwas bin Sam'an berkata, 

"Usai Rosululloh ShollAllahu Alaihi wa Sallam menaklukkan (Mekkah), aku mendatangi beliau dan 
kukatakan: Wahai Rosululloh, kuda telah dilepas dan senjata telah diletakkan, sungguh perang sudah usai 
dan mereka mengatakan: Tidak ada lagi peperangan. ' Maka Rosululloh ShollAllahu Alaihi wa Sallam 
bersabda, "Mereka dusta, sekarang datang waktu perang, sekarang dating waktu perang. Sesungguhnya 
Allah Jalla wa Ala akan menyimpangkan hati suatu kaum kemudian mereka perangi kaum tersebut dan 
Allah beri mereka rezeki dari kaum tersebut sampai tiba ketetapan Allah kepadanya, dan pusat negeri kaum 
mukminin adalah Syam. " (HR. Ibnu Hibban) 

Nah, kelompok inilah yang disebut Tha'ifah Manshurah! Atau artinya, Kelompok yang pasti menang! 

Benar-benar nikmat dan rahmat yang sangat besar bagi umat Nabi Muhammad SAW! Dan sungguh 
berbahagia serta beruntung orang yang dipilih oleh Allah SWT dapat menyertai kafilah tersebut. Mudah- 
mudahan saya dan Antum semua terdaftar dalam "buku induk keanggotaannya". Amin! Mengapa? Karena 
kita tahu, bahwa pada akhir zaman (saat ini), kelompok muhammad akan terpecah menjadi 72 golongan, dan 
hanya 1 yang dijamin masuk surga dan berdiri diatas kebenaran.. sedangkan, ada hadist mengenai thaifah 
manshurah yakni sebuah kelompok yang tetap diatas kebenaran.. sehingga, ana hanya bermaksud 
mengatakan, thaifah manshurah adalah nama lain dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.. kelompok Rasulullah 
yang diselamatkan dan dimenangkan Allah atas kaum-kaum yang lain.. 

Selanjutnya, marilah kita perhatikan dengan seteliti mungkin siapakah Tha'ifah Manshurah itu? 
Bagaimana sifat-sifatnya? Seperti apa tauhid dan aqidahnya? Dan apa pula program dan aktivitasnya? Dan 
seterusnya. Hal-hal seperti ini sangat penting untuk diketahui, agar kita tidak keliru mengidentifikasi siapa 
sebenarnya yang tergolong dalam kelompok ini. Sebab, pada masa sekarang banyak kelompok mengaku - 
secara lisan maupun sikap- sebagai Tha'ifah Manshurah, Kalau sudah begini, jadinya seperti apa yang 
terkandung dalam sebuah syair arab: 

Semua mengaku sebagai kekasih Laila, 

sedangkan Laila tidak mengakuinya. 

Semua kelompok mengaku sebagai Tha 'ifah Manshurah, 

sedangkan Tha 'ifah Manshurah berlepas diri dari kelompok-kelompok itu. 

Selanjutnya, mari kita perhatikan hadits Rasullullah SAW di bawah ini: 
95lAl-Ghuroba 



Dari Salamah bin Nufail Al-Kindi RA, ia berkata: Saya duduk bersama Rasulullah SAW, lalu ada seorang 
laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang telah meremehkan kuda dan meletakkan senjata, dan 
mereka berkata, 'Tidak ada lagi jihad! Perang telah usai. '. " Maka, Rasulullah menghadapkan wajahnya 
(kepadanya) seraya berkata, "Mereka dusta! Sekarang dan sekarang telah tiba masanya berperang, dan 
akan senantiasa ada dari umatku satu umat yang berperang membela kebenaran. Allah mencenderungkan 
bagi mereka hatinya banyak kaum dan memberi reieki dari mereka (harta benda orang-orang kafir) sampai 
hari kiamat, hingga datang janji Allah. Dan kuda diikat kebaikan pada ubun-ubunnya sampai hari kiamat. 
Dia telah mewahyukan kepadaku bahwa sebentar lagi aku akan diwajatkan, dan kalian akan mengikutiku 
dalam bentuk kelompok-kelompok yang berpecah belah; sebagian akan memukul -dengan pedang- 
tengkuk-tengkuk sebagian yang lain, dan markasnya kaum mukminin ada di Syam...". (HR An-Nasa'i, dan 
di-shahih-kan oleh Syaikh Salman Al-Audah dalam Silsilatul Ghuraba' [11/233]). 

Hadits tersebut secara tegas dan gamblang menjelaskan kepada kita setidaknya dua karakter mendasar 
dari sifat-sifat Tha'ifah Manshurah. Kedua sifat tersebut adalah: 

Sifat Pertama : kalau kita lihat sebab wurud (sampai)-nya hadits tersebut adalah karena adanya 
sekelompok orang yang mengistirahatkan dan mengumumkan akan terhentinya jihad. Mereka menambatkan 
kuda, artinya tidak ambil peduli, tidak berlatih, dan tidak mentadrib kudanya. Mereka telah meletakkan 
senjata dan mengatakan bahwa perang telah selesai dan tiada lagi. Jadi sebab wurud hadits itu adalah adanya 
pengumuman akan hentinya dan tidak adanya perang. 

Kemudian datanglah bantahan dan sanggahan yang jelas lagi nyata -tidak perlu ditakwil-takwil lagi- 
bahwa Rasulullah SAW membantah dengan sabdanya: "Mereka dusta dan sekarang tiba giliran perang." 
Jadi perang tidak terhenti, tidak suatu sebabpun yang mewajibkan berhentinya perang atau pengumuman 
usainya perang. Bagaimana perang berhenti sedangkan di muka bumi masih ada kaum-kaum yang hatinya 
sesat dan menyimpang condong kepada kesesatan. 

Rasulullah SAW juga memuji kaum yang melaksanakan perang, yang tidak meremehkan kuda, tidak 
meletakkan senjata, dan senantiasa menjadi muqatil dan muharib di setiap saat, melalui sabdanya yang 
artinya "dan akan senantiasa ada dari umatku satu umat yang berperang membela kebenaran" . Dengan 
demikian jelaslah bahwa diantara sifat Tha'ifah Manshurah adalah berperang terus menerus untuk membela 
kebenaran.. maka kelompok mana pun juga meskipun mengaku imannya setaraf malaikat Jibril, akidahnya 
seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, akan tetapi jihad dan perang bukan menjadi program utama hidupnya, 
maka dengan demikian batallah pengakuannya sebagai Tha'ifah Manshurah. 

Sifat Kedua : Dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa sumber ekonomi utama Tha'ifah Manshurah - 
baik berupa makanan, harta benda, dan sebagainya- diperoleh dari musuh-musuhnya. Dalam terminologi 
fikih antara lain disebut dengan ghanimah, fa'i, salab, dan sebagainya. 

Mari kita perhatikan sekali lagi penggalan dari hadits di atas: 
Allah mencenderungkan bagi mereka hatinya banyak kaum dan memberi reieki dari mereka (harta benda 
orang-orang kajir) sampai hari kiamat .... 

Coba kita bandingkan hadits tersebut dengan hadits berikut: 

Dari Abdullah bin Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Aku diutus mendekati hari kiamat 
dengan pedang, sehingga Allah satu-satu-Nya yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Dijadikan reiekiku di 
bawah naungan tombakku, dan dijadikan hina serta kerdil atas orang yang menyelisihi perintahku. 
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan merekaT (HR Ahmad) 

Rasulullah SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul bekerja menggembala kambing, berdagang, 
dan sebagainya. Sesudah diangkat menjadi nabi dan rasul tidak sibuk berdagang lagi. Sumber ekonomi 
utamanya adalah dari harta istri beliau, Khadijah RA selama di Makkah. Sesudah berhijrah ke Madinah dan 

96lAl-Ghuroba 



berjihad, sumber ekonomi utama beliau dan keluarganya adalah fa'i dan ghanimah, sehingga sebagian dari 
bagian fa'i beliau yang diperoleh dari Yahudi Bani Nadhir cukup untuk membiayai keperluan-keperluan 
beliau dan keluarga selama setahun. Subhanallah! 

Beliau dan keluarganya diharamkan makan zakat, shadaqah, infak, dan sebagainya. Hadiah dan hibah 
dihalalkan. Begitulah gagahnya Nabi kita. 

Harun Ar-Rasyid, salah seorang khalifah dari Bani Abbasiyah, beliau terkenal dengan kaya rayanya, 
memiliki berkarung-kerung emas, perak, mutiara, dan sejenisnya. Dari mana harta benda itu beliau 
dapatkan? Kebanyakan berasal dari tangan-tangan orang-orang kafir. Sebab kekuasaan beliau terbentang 
luas boleh dikatakan takterhinggapada saat kekhalifahannya, dan program pribadi beliau yang sangat terpuji 
adalah satu tahun pergi haji dan tahun berikutnya pergi berjihad (berperang). Begitu seterusnya dan silih 
berganti setiap tahun. Namun, kalau kita baca dalam sejarah-sejarah yang ditulis oleh musuh-musuh Islam, 
beliau ditampilkan sebagai sosok manusia yang serba tamak, rakus, mengumbar syahwat, dan seterusnya. 

Ingatlah! rezeki umat islam dari naungan tombak! Makanmu dari suapan musuhmu! 

Berpuluh-puluh hadits lebih dari seratus jika kita kumpulkan dari "Kutubut Tis'ah" yang menguatkan 
bahwa syarat yang mesti ada pada Tha'ifah Manshurah adalah qital, antara lain hadits yang diriwayatkan 
oleh Imam Muslim di bawah ini: 

Dari Jabir bin Abdullah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Akan senantiasa ada segolongan dari 
umatku yang berperang membela kebenaran dan mendapat pertolongan Allah hingga datangnya hari 
kiamat. Beliau berkata: Kemudian akan turun Isa putera Maryam, lalu pemimpin mereka berkata: 
kemarilah silakan anda mengimami kami sholat. Lalu Nabi Isa menjawab: Tidak, sesungguhnya sebagian 
kalian adalah pemimpin sebagian yang lain, sebagi penghormatan dari Allah kepada umat ini. " (HR 
Muslim). 

"Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak 
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang 
bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang 
berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, 
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha 
Mengetahui. "(Al-Maidah : 54) 



Adapun kelompok yang mempunyai dua sifat yang ada pada Tha'ifah Manshurah tersebut, menurut ana - 
Wallahu a'lam- ialah jama'ah-jama'ah dan kelompok-kelompok jihad yang ada di manapun juga yang pada 
masa kini oleh musuh-musuh Islam (Zionis, Salibis, Komunis, Majusi dan musyrikin) dikatakan sebagai 
teroris , termasuk di antaranya adalah Al Qaida, Taliban, Jama'ah Islamiyah, As-Shabaab, Mujahidin 
Kavkaz, dll 

Sebuah fenomena yang sangat menarik sekali ialah ciri-ciri Thaifah Manshurah terdapat pada kelompok- 
kelompok Jihad, musuh kelompok ini banyak sekali antara lain sebagai berikut: 

1. Yahudi (Zionis) Internasional (yang wujud negaranya adalah negara Israel). 

2. Nasrani (Salibis) Amerika dan Eropa(Inggris, Prancis, Itali, Yunani, Spanyol, Belanda, Portugis dan lain 
sebaginya) termasuk Australia. 

3. Negara-negara komunis (Rusia, Cina dan sebagainya) 

4. Negara-negara majusi dan musyrikin (India, Jepang dan sebagainya) 

5. Pemerintahan-pemerintahan murtadin. 

97lAl-Ghuroba 



Dahulu setelah Rasulullah SAW berjaya mendirikan pemerintahan Islam di Madinah musuhnya juga banyak 
antara lain: 

1 .Kaum musyrikin Mekah. 
2. Yahudi di sekitar Madinah. 
3.Musyrikin qabilah-qabilah Arab. 

4. Nasrani di Rum. 

5. Majusi di persia. 

Dalam menyikapi musuh yang beragam ini Rasulullah SAW mengambil kebijaksanaan bahwa kaum 
musyrikin Mekah diprioritaskan utama sebagi musuh yang mesti dilawan dan diperangi adapun yang lain 
diusahakan untuk diikat perjanjian sebab kekuatan tidak cukup untuk menghadapi secara keseluruhan. Maka 
di antara yang diikat perjanjian adalah yahudi-yahudi yang ada di sekitar Madinah meskipun akhirnya 
semuanya menghianati perjanjian. Demikian juga beberapa qabilah yang setuju untuk mengadakan 
perjanjian dipenuhi oleh Rasulullah SAW. Musuh nasrani di Rum awal-awal dibiarkan namun akhirnya juga 
diperangi, bahkan kaum muslimin dimobilisasi secara umum untuk memerangi mereka dalam perang Tabuk. 
Adapun musuh majusi di Persia pada masa Rasulullah SAW belum sempat diperangi dan akhirnya 
ditaklukan pada masa Khulafaur Rasyidin 

Kelompok-kelompok Jihad ini semula dalam menentukan skala priositas musuh yang harus dihadapi 
dan diperangi terlebih dahulu terdapat pandangan yang berbeda. Sebagian berpendapat, yang harus 
didahulukan adalah kepala dari seluruh musuh yang ada, dalam hal ini adalah Amerika dan Israel dan 
berikutnya sekutu-sekutunya. Kenapa Amerika yang mesti didahulukan? Alasan syar'inya ia adalah 
pemimpin dan gembong kufur. Alasan setrateginya ibarat seekor ular naga yang jahat dan berbisa, jika 
hendak membunuhnya mestilah dipotong kepalanya terlebih dahulu. Dan terpotongnya kepala akan menjadi 
mudah untuk mengatasi yang lainnya. 

Kemudian perkembangan berikutnya menurut hemat ana - Wallahu a'lam - yaitu pasca kebrutalan 
Amerika dan sekutunya di mana-mana, di pelestina, Irak, Afghanistan dan lain sebagainya, nampaknya 
kelompok-kelompok tersebut sepakat menjadikan Amerika dan sekutu-sekutunya sebagai musuh-musuh 
utama dengan tanpa membiarkan musuh-musuh yang lainnya. 

STATUS AMERIKA DIHADAPAN KAUM MUSLIMIN 

Tidak diragukan lagi oleh seorang muslim yang berakal serta mentauhidkan Allah ta'ala, bahkan tidak akan 
dibantah oleh orang kafir yang menyimpang sekalipun, bahwa Amerika adalah "Induk kejahatan dan 
kerusakan". Sampai-sampai ada penulis Amerika sendiri yang menyebutnya sebagai "Syetan terbesar". 
Maka, ditinjau dari perang yang dilancarkan Amerika melawan Allah, kekufuran mereka terhadap-Nya dan 
bagaimana mereka menyebarluaskan kekururan ini, sebenarnya Amerika telah menyandang "cacat yang 
parah". Hal itu ditempuh dengan menyebarkan ediologi kufurnya secara halus, yaitu dengan menyebarkan 
kerusakan dan perbuatan-perbuatan amoral di muka bumi, memerangi agama Allah melalui media 
informasinya yang jahat yang merupakan sumber lahirnya berbagai kebejatan di seluruh 
penjuru dunia. Amerika adalah produsen terbesar film-film berbau kufur dan menyimpang. 

Demikian juga dengan masalah kebobrokan moral, Amerika adalah negara pemilik jumlah terbesar saluran 
televisi yang menayangkan adegan seks serta situs-situs porno di semua media informasi yang ada. 
Amerika juga merupakan pemilik perusahaan terbesar pengekspor minuman keras dan rokok di seluruh 
dunia. Disaat yang sama, Amerika memusnahkan hasil-hasil pertanian yang melebihi kuota produksi dengan 
cara membakar atau menenggelamkannya di lautan demi melindungi stabilitas ekonomi dan harga hasil- 
hasil pertanian. Padahal, jutaan orang mati kelaparan di India, benua AMka dan Asia. Sistem 
keuangan apakah ini, wahai orang yang berakal?! 



98lAl-Ghuroba 



Mengenai penyebaran kekufuran melalui kekerasan dan intervensi militer, maka silahkan bicara sepuasnya 
mengenai pembunuhan dan pembantaian bangsa-bangsa tanpa alas an kecuali karena ambisi untuk tetap 
menjadi negara superior, mempertahankan ambisi berkuasa dan memaksakan ediologidan prinsip-prinsip 
kufur. 

Anehnya, Amerika lebih cepat -melebihi tiupan angin — dalam membangun pabrik-pabrik senjata pemusnah 
masal.Bahkan, Amerika memproduksi sebuah bom yang berfungsi khusus untuk membunuh manusia, bukan 
makhluk hiduplain. Dan untuk menumpas nilai-nilai peradaban, Amerika telah bunuh jutaan manusia sejak 
dahulu. 

Maka berdasarkan fakta-fakta yang kami sebut berikut,menjadi jelaslah posisi Amerika bagi kaum 
muslimin: apakah status damai ataukah harbi. 

Di kepulauan Maluku (Indonesia), ribuan kaum muslimin dibantai oleh orang-orang Kristen meskipun 
jumlah orang Kristen yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin di sana. Namun, 
semua itu terjadi dengan adanya bantuan Amerika yang diberikan kepada orang-orang Kristen Indonesia! 

Di Bosnia Herzegovina, puluhan ribu orang terbantai ditangan orang-orang Kristen, juga dengan bantuan 
Amerika..!kuburan-kuburan masal menjadi saksi bisu akan hal itu...Di Iraq, lebih dari 1.000.000 anak 
terbunuh karenaserangan udara militer Amerika Serikat terhadap Irak danakibat embargonya yang dzalim 
terhadap Irak selama 10 tahun. Belum termasuk anak-anak dan orang tua yang mati lantaran penyakit yang 
timbul akibat peperangan. 

Adapun Palestina, bicaralah sepuas Anda... Berapa saudara-saudara kita di Palestina yang mati. Berapa 
saudara-saudara kita di Libanon yang mati melalui tangan bangsa Yahudi. . .juga dengan bantuan senjata dan 
biaya dari Amerika,belum berbicara bantuan pasukan dalam banyak kejadian! Di Somalia, kejahatan 
Amerika sangat-sangat jelas dimasa-masa penanaman sisa-sisa pabrik nuklir yang dilarang diproduksi 
negara manapun..! Belum pencaplokan terhadap emas mentah dari Somalia. Belum jumlah orang yang mati 
ditangan militer Amerika, di mana lebih dari 13.000 muslim terbunuh dalam barisan Farh 'Aidid, ini masih 
ditambah lagi dengan direnggutnya kehormatan mereka. 

Di Ethiopia, di Eritrea, di Filiphina, di Kashmir, di SaharaMaroko, di Aljazair, di...di...di...Terakhir yang 
terjadi di Afghanistan, koalisi lebih dari 100 negara...bergabungnya senjata pemusnah yang tidak pernah 
terbayang dalam hati manusia manapun. 

Tetapi, semua ini memang perang terhadap Islam dan kaum muslimin secara umum...setiap hari Amerika 
memberikabar gembira kepada dunia bahwa mereka masih menguasaikawasan udara Afghanistan, mereka 
masih memegang kendali kekuasaan di sana! Ini mengingatkan penulis kepada seseorang yang berhasil 
melukis udara di atas samudera danlautan, kemudian ia berbangga dengan lukisan itu! 

Ringkasnya, tidak ada satu permasalahan yang dihadapi Islam dan kaum muslimin melainkan Amerika turut 
campur dalam -paling tidak — memberi ide pemikiran, memaksakan intervensi militer dan diplomasinya, 
yang bertujuan menghancurkan Islam dan kaum muslimin. 

Contoh memalukan yang bekasnya masih menempel dibenak kita adalah kasus Kuwait. Siapakah yang ikut 
campur menyelesaikan permasalahan ini?! Apakah Islam dan kaum muslimin? Bukan! Bukan! Tak lain 
adalah "Sang pemelihara kekufuran dan kemungkaran", yang menjelma sebagai"tuhan" negara-negara di 
dunia... 

Maka mulailah si busuk Amerika bersekutu dengan 37 negara dan 500.000 tentara -atau bahkan lebih — 
untuk mengusir Irak dari Kuwait. Dan, drama perang dimulai dengan meluluhlantakkan kaum 
muslimin...Sementara itu -yang menyedihkan — , banyak dari kalangan kaum muslimin "bertasbih" memuji 
Amerika, kata mereka: "Jika Bush datang, tidurlah di halaman rumah."Tidak pernah terlintas dalam benak 

99lAl-Ghuroba 



mereka ketika mereka mengulang-ulang kata-kata kufur ini mengenai: kapankahYahudi mulai menjajah 
Palestina dan bertengger di atas hati 

saudara-saudara kita di sana...Kenapa Amerika tidak bersekutu dengan 37 negara untuk mengusir Yahudi 
dariPalestina..?! Benar-benar, sebuah "keluguan" dan kelalaian dari kaum muslimin di masa sekarang - 
kecuali orang-orang yang dirahmati Allah. 

Inilah "Si penjagal jelek", Sharon, aktor pembantaian Shabra dan Shatila. Setali tiga uang, Radovan 
Karadich dan rekannya yang menjadi dua pahlawan drama pembantaian di Bosnia dan Herzegovina. Apa 
yang sudah dilakukan Amerika kepada para penjahat yang telah meluluhlantakkan kaum muslimin seluluh- 
luluhnya itu? Apakah 100 negara sudah bekerjasama untuk membasmi mereka..? Apakah mereka 
melancarkan perang sedemikian sengit dengan jargon "Perang melawan Terorisme"? Apakah negara-negara 
Arab membantu mereka untuk itu? Ataukah mereka cukup menggelar Pengadilan Sandiwara di hadapan 
negara-negara dunia, Mahkamah Lahey? 

Ceritanya akan lain ketika yang menjadi pemimpin perang dari kaum muslimin dan yang terbunuh orang- 
orang kafir. Seluruh masyarakat kafir menyatakan perang, ini masih dibantu lagi oleh negara-negara Arab.. ! ! 
Betapa banyak negara yang hari ini berkumpul di Pakistan..? Apa sebenarnya yang ada di balik gudang 
senjata militer yang sekarang berdiri di negara itu..?! Berapa jumlah rakyat Afghan tak bersenjata dan tidak 
berdosa itu terbunuh dengan dalih memburu Syaikh Usamah bin Ladin, karena telah membunuh beberapa 
gelintir orang Bani Ashfar bermata biru (Amerika), beberapa gelintir orang-orang najis yang tidak sebanding 
jika disejajarkan dengan pembantaian kaum muslimin di bawah komando Amerika..?! 

Kenapa bangsa Serbia tidak diembargo supaya mereka juga merasakan kelaparan dan kemiskinan sampai si 
penjahatitu menyerahkan diri sebagaimana bangsa-bangsa muslim diembargo sampai mereka mati 
kelaparan..?!Kenapa negara Sharon tidak diembargo agar ia merasakan 

apa yang telah dirasakan bangsa-bangsa Muslim sampai ia menyerahkan diri kepada "Pengadilan 
Sandiwara" iru..?! 

Mengapa...?...mengapa...? Apakah setelah ini kami masih wajib bersabar? Apakah kami masih harus 
mengkontrol emosikami? Bukankah kita juga manusia, kita juga memiliki perasaan? Belum berbicara 
mengenai tuntutan iman yang memerintahkan kita mengobarkan semangat perang demi membela agama dan 
saudara-saudara kita. 

Mengapa di saat emosi kita terpancing hingga menggelegak kemudian kita disuruh diam? Mengapa agama 
kita diperangi, di tengah diamnya bangsa muslim Arab yang konon disegani..? Mengapakah para pemimpin 
Muslim di berbagai belahan dunia tidak bergerak melaksanakan perintah Allah jika mereka masih memiliki 
hati, pendengaran dan penglihatan? 

Atau, biarlah kita diam dan cukup menjadi penonton dari orang yang berkhidmad dan membela agama ini! 
Mengapa agama kita diperangi sejak ratusan tahun lamanya, kemudian kita diperintah untuk tertunduk saja 
dan tidak menolongnya..?! 

Apakah setelah kejahatan dan kelakuan Amerika ini kita masih memerlukan dalil yang menetapkan bahwa 
Amerika adalah negara yang memerangi Islam dan kaum muslimin..?! tidak cukupkan pernyataan thoghut 
Bush yang mengatakan semua ini adalah Crusade (perang salib)? 

Apakah kita masih perlu menerima alasan mereka bahwa mereka tidak sengaja melontarkan ucapan itu dan 
kata-kata perang salib dari Bush keluar spontan karena marah sebagaimana pernyataan seorang "syaikh" 
yang mengatakan:"Kami mencoba mencari alasan pembenaran buat kalian terhadapan aksi pemboman besar 
itu, dan berusaha menahan amarah sebuah bangsa (Amerika). tetapi, semua ucapan kalian, bahkan aksi-aksi 
kalian terus muncul beruntun dengan cara yang sama dan memutus semua praduga.Terburu-buru melakukan 
balasan adalah pembantaian yang sebenarnya terhadap bangsa Amerika dan cobaan hakiki terhadap nilai dan 
kedudukannya." 

lOOlAl-Ghuroba 



Setelah semua kejadian dan perbuatan-perbuatan yang menunjukkan betapa rendahnya Amerika dan 
rakyatnya diatas imperium mereka, kedunguan mereka, kesombongan dan keangkuhan mereka, kekotoran 
dan mesumnya kehidupan hewani mereka -yang sebagian hewan saja mungkin merasajijik untuk jadi seperti 
itu — , saya katakan: Apakah kita masih perlu untuk berkomentar tentang mereka seperti yangdilontarkan 
"syaikh" tadi? 

Ia mengatakan: 

"Sebuah bangsa yang mayoritas masih percaya adanya tuhan, bangsa yang telah membelanjakan hartanya 
untuk pembangunan proyek-proyek sosial yang tidak pernah dilakukan bangsa lain di dunia...maka kami 
meyakini bahwa bangsa Amerika -secara umum — memiliki perilaku baik yang menghantarnya menjadi 
negara Barat yang paling dekat dengan kita dan paling layak kalau kita suka mereka mendapatkan kebaikan 
di dunia dan akhirat..!?" 

Maha Suci Engkau Ya Allah, ini adalah kebohongan besar.Sesungguhnya di antara nikmat Allah adalah 
menjadi kanpimpinan dari Koalisi negara kufur ini adalah Amerika, si Bani Ashfar, sehingga Allah pilahkan 
antara yang jelek dan yang baik. Dan supaya jalan ini menjadi jelas serta tidak samar lagi bagi siapapun 
yang menghendaki kebenaran dan ingin mengetahui secara yakin bahwa Amerika adalah negara harbi, tanpa 
diragukan lagi. Ringkasnya, pangkal kerusakan akidah dan moral,kezaliman yang kelewat batas dan 
merajalela di mayoritas masyarakat dunia hari ini adalah Amerika. 

Dari sini nampak secara jelas dan gamblang peperangan Amerika menentang Allah jalla wa 'ala. Maka tidak 
ada lagi kelemah lembutan dan sikap 'rasionalitas', tidak ada lagi agama dan kemuliaan bagi mereka, tidak 
ada proyek-proyek osial atau yang lain seperti klaim sebagian tokoh pergerakan Islam tadi. . . 

Kami tidak suka bangsa kafir Amerika selain menunggu Allah timpakan adzab dari sisi-Nya atau melalui 
tangan-tangan kami.. ! ! 

Yang benar, yang tidak perlu diperdebatkan lagi, bahwa ini adalah perang melawan orang-orang beriman 
secaraumum... 



lOHAl-Ghuroba 



Al-Qaida! 

"Amerika tidak memerangi islam, tapi amerika memerangi Al-Qaida!" (Presiden AS, Obama, 10 September 
2010) 

Siapakah Al-Qaida? Sekali lagi, ia hanya sebuah tandhim atau organisasi atau jamaah yang bernama 
Qo'idatul Jihad yang tumbuh di dataran Atghanistan bersama tandhim Taliban. Amerika, negara superpower 
tunggal dunia dengan segala cerita kehebatan teknologi tempurnya, musuhnya hanya sekumpulan manusia 
yang bersatu dalam ikatan jamaah minal muslimin bernama Al-Qaida. Mereka seolah makhluk asing yang 
datang dari dunia lain. Sejenis 'manusia pra sejarah' yang hidup di goa-goa dan tidak pernah mau tunduk 
kepada Thaghut dunia, dari bangsa manapun. 

Musuh Amerika hanya sebuah organisasi (tandhim atau jamaah) bukan sebentuk negara yang juga super 
power dengan senjata canggih dan jumlah tentara yang menggentarkan. Tapi hanya organisasi kecil, dengan 
senjata ala kadarnya, belum punya tank apalagi pesawat. Andalannya hanya AK-47. 

Obama sebagai pemimpin dunia baru (new world order) pasca rubuhnya Uni Sovyet yang dikalahkan bangsa 
termiskin di dunia (atghan), sedang mendetinisikan musuhnya. Musuh Amerika didetinisikan hanyalah 
'gerombolan anak-anak kampung dan orang gunung' yang jauh dari bau peradaban Barat. Mengejutkan, 
imperium sebesar Amerika yang menepuk dada sebagai polisi dunia ternyata tanpa malu mendefinisikan 
musuhnya hanya sebuah jamaah kecil. Jelas ini merupakan kekalahan moral yang tak bisa dibantah. 

Kalaupun pada akhirnya Amerika menang dalam pertarungan ini, tak ada kebanggaan apapun karena 
memang Amerika lebih banyak tentaranya, lebih canggih senjatanya, lebih kuat ekonominya dan lebih luas 
dukungan negara-negara lain. Tapi jika kalah, akan menjadi sebuah ending cerita yang heroik, betapa 
kelompok kecil mampu menumbangkan kekuatan raksasa, super power dunia. 

"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. 
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. " Al-Baqarah:249 

'Makhluk Halus' Bernama Al-Qaida 

Tak ada yang menyangka, musuh yang paling membuat Amerika panas dingin dan menggigil ketakutan 
hanyalah sesosok jamaah Al-Qaida yang belum punya kantor, pegawai, apalagi negara. Mereka sejenis 
manusia nomaden modern yang tidak jelas kewarga-negaraannya. Di mana langit dijunjung, di situ bumi 
dipijak. Makhluk asing yang tidak jelas suku dan rasnya. 

Jumlah mereka juga tak banyak, hanya ribuan. Mungkin seribu, sepuluh ribu, seratus ribu atau lebih, tapi 
yang pasti di bawah satu juta. Susah menebak jumlah mereka, karena mereka memang 'makhluk halus' yang 
tak terdeteksi meski di tengah keramaian. Tak ada kartu identitas apapun yang bisa menunjukkan mereka 
sebagai warga Al-Qaida. Tak ada kartu anggota, KTP apalagi Pasport. 

Karenanya hati mereka juga tak tersekat oleh lembaran kartu identitas tertentu. Identitasnya tunggal: Hamba 
Allah di muka bumi. Allah ciptakan bumi luas, maka mereka maksimalkan untuk berkelana bebas tanpa 
pernah merasa asing di tanah manapun. Komitmen mereka hanya untuk umat Islam, apapun warna kulitnya. 

Mereka disibukkan dengan pengabdian vertikal kepada Allah, sehingga tak sempat memikirkan untuk 
rebutan dunia dengan sesama manusia. Pandangan mereka lurus menengadah ke langit, sehingga jiwa dan 
raganya ringan laksana kapas terbang dari satu jengkal ke jengkal bumi yang lain dengan tujuan tunggal: 
Memastikan pengabdian kepada Allah semata. Hati mereka sudah digantungkan di langit, obsesinya obsesi 
langit, pikirannya sudah dengan pola langit. Ruhnya sudah di langit, hanya jasadnya yang masih berpijak di 
bumi. Oleh karenanya, tak ada lagi tersisa keluhan yang bersifat duniawi; soal harta, musibah, cercaan, 
intimidasi, penyiksaan, pengusiran bahkan pebunuhan. Semua keluhan duniawi yang bagi manusia dunia 

102IA1-Ghuroba 



(karena mereka manusia langit) terasa berat dan bikin stres, bagi mereka menjadi semacam bumbu penyedap 
atau sejenis alunan tembang manis yang membuat hidup mereka lebih indah. 

Mereka konon terdeteksi di pegunungan Afghanistan dan perbatasan Pakistan, ngumpet di goa-goanya ibarat 
makhluk pra sejarah, hidup dengan perkakas dari batu. Setidaknya itulah gambaran manusia Al-Qaida di 
benak rakyat Amerika. Juga terlihat di Iraq, Cechnya, Somalia bahkan di Palestina. Tapi tiba-tiba bisa 
muncul di London meledakkan kereta yang menjadi sensasi luar biasa. Muncul di Madrid yang membuat 
Spanyol panas dingin karena serangannya yang mematikan. Lalu di Mumbai yang berpenampilan sebagai 
anak ABG penuh gaya tapi dengan percaya diri mengamuk sejadi-jadinya; memuntahkan peluru laksana 
permainan Playstation. Bahkan selentingan kabar menyebutkan bahwa mereka juga mampir di Jakarta untuk 
melakukan beberapa gebrakan mematikan, dan memoles Bali dengan kisah lain bukan hanya soal cerita 
indah pariwisata. 

Jadi berapa sesungguhnya jumlah mereka? Jawabannya gampang; wallahu a'lam!. Apakah mereka sejatinya 
sedikit yang bisa terbang ke sana kemari sesuka hati, ataukah memang sudah beranak-pinak di berbagai 
negara, kota bahkan desa? Ataukah mereka bisa ganti kulit; kalau di Afghanistan berpostur Afghan, di 
Amerika berkulit putih, di Somalia berkulit gelap, dan di Indonesia berkulit sawo matang laksana bunglon?. 

Al-Qaida Mengajukan Diri Sebagai Musuh Amerika 

Kita bicara yang pasti-pasti saja. Bahwa mereka disebut oleh Obama sang presiden Amerika sebagai 
organisasi yang menjadi musuh Amerika. Luar biasa Amerika ini, menjadikan makhluk 'halus' sebagai 
musuh. Sekelas Nabi Sulaiman as yang bisa berinteraksi dengan dunia lain. Berkomunikasi dengan makhluk 
yang tak kasat mata. 

Ini sungguh diluar perkiraan, Tandhim Al-Qaida 'mendaftarkan diri' sebagai musuh Amerika dengan tidak 
melengkapi syarat dan ketentuan yang ditetapkan Amerika. 'Berkas' yang diajukan asal-asalan, tanpa 
dilengkapi akte pendirian organisasi, tak dicantumkan nama pengurusnya, wilayah yang telah dikuasai dan 
daftar senjata yang dimiliki. Amerika awalnya melihat 'berkas' yang diajukan Al-Qaida dengan sebelah 
mata. Hampir didiskualifikasi dari daftar musuh Amerika karena dianggap tidak memenuhi syarat dan 
kriteria yang ditetapkan. Sedangkan 'pendaftar' lain, seperti Iran, Kuba, Korea Utara, Rusia, China, Jepang 
dan lain-lain, seluruh syarat dan ketentuan terpenuhi. Sangat cocok dengan kriteria musuh yang 
direncanakan Amerika. 

Namun ketika masuk pada proses seleksi, semuanya berguguran. Ternyata yang lain hanya ikut-ikutan daftar 
untuk menjadi musuh Amerika, biar keren. Maklum, kalau kita menjadi musuh dari sosok yang hebat, pasti 
akan dianggap hebat juga. Pendaftar yang 'tulus ikhlas' hanya Al-Qaida, oleh karenanya meski secara 
kriteria tidak masuk, karena ketulusannya dan semangatnya yang sangat kuat untuk menjadi musuh, 
Amerika akhirnya mengakui juga. Dan tanggal 10 September 2010 kemarin Obama mengumumkan bahwa 
pendaftar musuh yang lain dinyatakan tidak lulus, dan yang disahkan sebagai musuh yang sesungguhnya 
adalah Al-Qaida. 

Serangan WTC 11 September 2001 menjadi tonggak pengakuan Amerika. Mulai saat itu Al-Qaida 
diperhitungkan namun sekian lama Amerika mencoba untuk menganggap remeh dan kecil. Al-Qaida hanya 
diakui bahwa baunya ada tapi tak jelas sosoknya. Namun kini setelah sembilan tahun berlalu Amerika mulai 
mengakui eksistensi Al-Qaida sebagai musuh yang nyata, melalui pernyataan Obama tersebut. 

Meski selama ini Amerika memerangi Al-Qaida, tapi ia mengabaikan eksistensinya. Kini setelah sembilan 
tahun berlalu, melalui bonekanya di Afghanistan, Amerika mulai mengakui eksistensi Al-Qaida, meski 
dengan nama Taliban, karena memang dua nama ini dianggap satu kesatuan. Terbukti, pada tanggal yang 
sama dengan peryataan Obama, Hamid Karzai - sang boneka - menyeru Taliban untuk mau duduk 
membicarakan perdamaian. Untuk tujuan ini, Karzai sudah membentuk tim yang khusus untuk memulai 
melakukan pembicaraan dengan Taliban. 

103IA1-Ghuroba 



Pengakuan eksistensi ini mengingatkan kita dengan perjanjian Hudaibiyah yang untuk pertama kali pihak 
Ouraisy duduk sederajat dengan umat Islam untuk membicarakan gencatan senjata. Artinya, musuh yang 
selama ini memerangi umat Islam dan tidak mau pengakui eksistensinya secara de jure, mulai menuliskan 
eksistensinya di atas lembar perjanjian. Peristiwa ini disebut sebagai fath (kemenangan) oleh Al-Qur'an 
dengan turunnya surat Al-Fath menyusul peristiwa tersebut. 

Akan dibukanya pembicaraan yang melibatkan dua entitas sosial yang bermusuhan (Taliban + Al-Qaida Vs 
Amerika) bermakna pengakuan eksistensinya secara de jure. Apalagi didukung dengan pernyataan Obama 
bahwa Al-Qaida adalah musuh Amerika. Lengkap sudah kemenangan politik dan militer yang diraih Al- 
Qaida dengan ijin Allah. 

Menjadi Musuh Amerika yang Tidak Biasa 

Sisi menarik dari Al-Qaida adalah ia memposisikan diri sebagai musuh Amerika dengan kategori baru. 
Amerika mempersiapkan diri bertahun-tahun dengan dana nyaris tanpa batas untuk melawan musuh 
berwujud negara super power yang seimbang dengan dirinya. Inilah kategori tunggal calon musuh di mata 
Amerika. Oleh karenanya Amerika sibuk menciptakan senjata nuklir dan begitu takut negara lain 
memilikinya. 

Teori kemengan satu-satunya adalah kemenangan teknologi militer. Dia yakin haqqul yaqin bahwa jika 
Amerika sekian langkah lebih unggul teknologi senjatanya dibanding negara lain, tak akan ada yang bisa 
mengalahkannya. Dahulu populer istilah perang bintang antara Amerika melawan Uni Sovyet. Konon 
katanya, tembakannya tidak lagi menggunakan peluru biasa, tapi sinar. Entahlah. 

Tapi Al-Qaida datang dengan kategori baru yang sama sekali tak diperhitungkan Amerika. Ia hanya 
sekumpulan anak kampung dan orang gunung yang mahir memainkan AK-47. Habitatnya adalah gunung- 
gunung terjal dan hutan belantara. Jumlahnya juga tak seberapa. Bukan negara. Tak memiliki dukungan 
ekonomi, politik dan teknologi. Mereka hanya sekumpulan hamba Allah yang senjata utamanya adalah iman 
dan persaudaraan dalam Islam. Tapi memiliki tekad segarang singa. Belum pernah ada dalam teori 
pertempuran Amerika, sebuah jamaah kecil yang tak kasat mata akan menjadi musuh potensial. Kerangka 
teoritis untuk mengatasinya belum mereka temukan atau siapkan. 

Dalam ilmu militer pertarungan semacam ini disebut sebagai pertempuran asimetris (diluar perkiraan). 
Amerika menginginkan musuhnya dalam kategori yang ia inginkan, tapi musuh berada pada kategori yang 
berbeda. Amerika membidik lurus ke depan, padahal Al-Qaida berada di lobang persembunyian di bawah 
tanah. Amerika laksana petarung pakai pedang tapi dengan mata tertutup. Ia membabat ke kanan dan ke kiri 
tanpa tahu musuhnya dengan jelas. Akhirnya tenaganya terkuras dan sempoyongan. 

Strategi Al-Qaida ini membuat milyaran dolar kekayaan Amerika yang dibelanjakan untuk membuat senjata 
canggih menjadi terasa sia-sia. Karena yang dihadapi Amerika bukan semata pasukan tempur yang 
diorganisir sebuah negara dan punya teritorial yang jelas, tapi kekuatan iman dan gagasan yang dengan cepat 
menyebar laksana virus, apalagi didukung berkembangnya internet. Al-Qaida memang kecil jumlah 
personalnya, tapi ada di mana-mana. 

Al-Qaida Dipisahkan dari Umat Tapi Makin Mewakili Umat 

Pernyataan Obama bahwa musuh Amerika adalah Tandhim Al-Qaida dan bukan Islam atau umat Islam, 
pada sisi lain merupakan strategi untuk memisahkan Al-Qaida dari umat Islam. Tapi makar ini lambat laun 
justru menjadi bumerang bagi Amerika. 

Dengan kemenangan politik dan militer yang diraih Al-Qaida melawan super power yang arogan semacam 
Amerika, semua penduduk dunia yang punya pengalaman panjang dizalimi Amerika akan menjadikan Al- 

104IA1-Ghuroba 



Qaida sebagai hero. Apalagi umat Islam. Tentu saja dukungan akan terus mengalir, apalagi jika Al-Qaida 
dengan akurat mewakili kegelisahan mereka. 

Awalnya Obama, Amerika, Barat dan PBB masih agak rabun untuk membedakan warga Al-Qaida dari 
kerumunan besar umat Islam. Tapi akhirnya mereka berhasil mendeteksi, ada sejumlah perbedaan dan ciri 
khas yang bisa dijadikan alat untuk membedakan Al-Qaida dari umat Islam, meski jelas lebih banyak unsur 
persamaannya. Yakni mereka yang Al-Qaida jenggotnya panjang-panjang, celananya diatas mata kaki, dan 
memakai celak. 

Untuk alasan strategi, Amerika saat ini fokus membidik yang punya genetik Al-Qaida saja. Amerika akan 
menghadapi dilema rumit jika umat Islam dinyatakan sama dengan Al-Qaida. Jumlahnya sudah terlalu 
besar, tak mungkin dilawan. 

Dengan kemenangan Al-Qaida, tinggal menunggu waktu bahwa umat Islam dunia akan merasa menjadi 
bagian dari Al-Qaida. Jika terjadi perang, terminologi yang paling pas saat itu adalah Perang Salib, suatu 
istilah yang pagi-pagi sekali sudah dikumandangkan oleh George W. Bush meski diralat dengan setengah 
hati. Cepat atau lambat kalimat ini akan kembali populer jika Al-Qaida berhasil mewarnai pemikiran umat 
Islam sehingga semuanya menjadi Al-Qaida. 

Saat ini, nyaris tak ada satupun negara yang berani mengklaim bersih dari benih-benih Al-Qaida. Ini 
merupakan bentuk sunnatullah kemenangan Islam gaya baru, bahwa semangat jihad dan iman bisa ditranfer 
melalui jaringan internet laksana virus yang menular. Sesuatu yang tak pernah terpikir sebagai cara 
berkembangnya jihad di masa lalu. Bahkan bukan hanya semangat jihad yang bisa ditransfer, tapi juga 
manual teknis operasi jihad bisa diajarkan melalui internat, sehingga dunia menjadi majlis taklim besar bagi 
mujahidin dengan sarana internat. Secara fisik di goa, tapi majlis taklim maya dihadiri jutaan pemuda di 
seluruh dunia. 

Amerika jelas makin mati gaya menghadapi kenyataan ini. Manusia Al-Qaida ternyata sedang duduk di 
warnet mempelajari manual bombing atau sekedar ngulik berita jihad. Padahal Amerika belum pernah punya 
teori mengalahkan musuh seperti ini. Apalagi sekarang sudah meningkat dengan hadirnya akses internet via 
HP. Terasa sia-sia uang yang dibelanjakan Amerika untuk membuat bom atom jika musuhnya jamaah tak 
kasat mata seperti Al-Qaida. 

Al-Qaida, telah belajar dari pendahulu-pendahulunya bagaimana bersikap di depan amerika, inilah cerita 
syekh hikmatyar, salah satu pemimpin jihad di Afghanistan. Beliau datang ke Amerika untuk memenuhi 
undangan PBB, kemudian Reagan mengundangnya secara khusus melalui duta pakistan : "Jam 11.15 
Presiden Amerika Reagan menunggumu", kemudian Hikmatyar menjawab "Saya tak mau bertemu 
denganmu". Sang duta mengatakan : "Engkau gila? Enampuluh orang pemimpin negara berada dalam daftar 
tunggu minta bertemu dengan Reagan, namun dia menolak bertemu dengan mereka. Apakah benar-benar 
engkau menolak bertemu dengannya?". "Ya benar", jawab Hikmatyar, selanjutnya dia mengatakan : "Jika 
engkau bersikeras memaksaku, maka aku akan segera meninggalkan amerika sekarang juga". Reagan tidak 
berputus asa atas penolakan Hikmatyar, lalu dia menulis surat dan mengutus putrinya Maurine Reagan untuk 
menyampaikan ke Hikmatyar. Setelah menyampaikan surat tersebut dia mengatakan : "Papa menantimu 
malam ini di gedung putih". Reagan beriikir hikmatyar akan melunak sikapnya begitu melihat anak 
gadisnya. Namun ternyata Hikmatyar menjawab : "Saya menyesal tidak dapat menerima undangan ini 
karena saya telah membuat janji dengan mujahidin indiana. Saya akan menghabiskan malam bersama 
mereka." 

Inilah cerita mengenai Ahmad Syah, salah satu komandan mujahidin Afghan.. Ahmad Syah pernah pergi ke 
salah satu negara eropa untuk membeli senjata. Telah beres transaksi pembelian senjata tersebut, uang ada, 
transaksinyapun ada. Pedagang tersebut datang padanya dengan membawa lembaran kertas, "Saya minta 
kamu menandatangani persetujuan untuk tidak menggunakan senjata ini melawan Israel." Dengan enteng 
Ahmad Syah berkata : "Kami batalkan transaksi ini" Pedagang itu bertanya padanya : "Apakah kalian benar- 

105IA1-Ghuroba 



benar akan menggunakan senjata ini untuk memerangi Israel?" Ahmad Syah menjawab : "Kamu tahu, 
bahwa kami tidak akan menggunakannya untuk memerangi Israel oleh karena jarak negara kami dengan 
Israel beribu-ribu mil, akan tetapi kamu menghendaki saya menandatangai dokumen untuk menghentikan 
perang yang telah diperintahkan Allah sejak 1400 tahun yang lalu terhadap orang-orang Yahudi. Kamu 
menghendaki saya menandatangani dokumen yang isinya menentang perintah Allah. Saya tidak mau senjata 
itu, silahkan batalkan transaksi tersebut!" Maka baliklah Ahmad Syah tanpa membawa satu butir pelurupun, 
meski sangat membutuhkan senjata. 

Demikianlah, akhlak mujahid, tidak akan berdamai dan duduk semeja dengan kuffar, tidak akan 
menghentikan perang dan jihad, ciri khas at-thaifah manshurah! 



106IA1-Ghuroba 



TIDAK ADA KHILAFAH, TIDAK ADA KAFIR DZIMMI! 

Semua musuh-musuh Islam pada masa kini tidak ada satupun yang bisa di i'tirafkan atau diakui 
sebagai ahlul 'aqd atau ahlul 'ahd (orang kufur yang ada ikatan perjanjian dengan pemerintahan Islam)dan 
ahludz dzimah (orang kafir yang membayar jizyah sebagai jaminan keamanan darah dan harta mereka dari 
pemerintahan Islam). Seluruhnya adalah kafir harbi, sebab semuanya memerangi Islam dan kaum muslimin 
baik secara langsung maupun tak langsung serta tidak membayar jizyah. 

Menurut syara' asal hubungan orang Islam dengan orang kafir adalah kebencian dan permusuhan 
bukan perdamaian (Q.S 60:4),jika orang kafir mengajak damai orang Islam mesti memenuhinya (Q.S 8:61). 
Tetapi orang Islam dilarang mengajak damai karena merasa hina dan kalah (Q.S 47:35). Orang islam 
diizinkan dan diperbolehkan oleh Allah untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada orang kafiryang tidak 
memusuhi Islam dan kaum muslimin baik secara langsung maupun tak langsung. Dan sebaliknya dilarang 
dan haram hukumnya bagi orang Islam menjadikan orang kafir yang memusuhi Islam dan kaum muslimin 
sebagai teman dan kawan (Q.S 60:8-9) 

Segala aktivitas dan tindakan yang masyru' yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan 
menipakan suatu bencana kepada musuh adalah amal sholeh (9:120). Termasuk ightiyalat, ikhtithaf, 
khathfus syaklis, khathfuth thoirot, tadmir marakizihim asykariyan, siyasiyan, iq tishadiyan, takhrib fasilitas- 
fasilitas fital mereka, menyebarkan propaganda yang membuat mereka takut dan lemah, salbu wa akhdzu 
amwalihim, awwaluhum halalan thayyiba bagi mujahidin (Q.S 8:64) 

Adapun operasi jihad yang sasarannya orang awam dari kalangan musuh yang tidak terlibat dalam 
suatu misi apapun, benar-benar mereka tidak mengerti apa-apa selain sebagai rakyat musuh-musuh Islam, 
maka bentuk jihad seperti ini disebut jihad pembalasan, karena mereka telah dengan biadabnya membantai 
kaum muslimin, maka perlu dibalas yang setimpal agar mereka menghentikan kebiadabannya terhadap 
kaum muslimin atau minimal mereka merasakan penderitaan sebagaimana derita yang dialami kum 
muslimin akibat dari ulah mereka. 

Jihad pembalasan ini didasarkan pada firman Allah (Q.S 16:126), (Q.S 42:40), dan (Q.S 2:194). 

"Danjika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang 
ditimpakan kepadamu. " 

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa " 

"Maka barang siapa yang menyerang kamu , maka seranglah ia seimbang dengan serangannya 
terhadapmu " 

Ayat-ayat tersebut jika kita perhatikan dan kita rujuk dalam tafsir merupakan petunjuk dan panduan 
bagi kaum muslimin dalam hal hhubungan timbal balik dengan orang-orang kafir yaitu memberikan balasan 
yang setimpal dengan perbuatan mereka yang telah mereka lakukan terhadap kaum muslimin. 

Dalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa Allah SWT memerintahkan agar berbuat adil dalam membalas dan 
semisal dalam menuntut dan mengambil hak, jika ada seseorang yang mengambil sesuatu dari kamu, maka 
ambillah sesuatu darinya semisal dengan sesuatu yang diambil dari kamu dan seterusnya dan seterusnya. 

Dari situ bisa kita simpulkan bahwa jika orang-orang kafir telah membunuh orang-orang awam dari 
kaum muslimin termasuk wanita-wanita dan anak-anak tak berdosa, maka kaum mukminin boleh 
memberikan balasan yang setimpal yaitu membunuh orang-orang mereka baik wanita-wanita dan anak. 
Perlu diingat bahwa hukum asalnya darah mereka tidak terpelihara sebab mereka dari kalangan kafir harbi. 
Namun jika tidak ada alasan syara', mereka (wanita dan anak-anak) yang tidak berdosa (tidak terlibat 
memusuhi) tidak boleh dibunuh . 

107IA1-Ghuroba 



Namun, jika anak-anak dan wanita ikut serta dalam peperangan, tentu hukum yg melarang itu tidak berlaku. 
Keikutsertaan ini bisa ikut serta langsung seperti menjadi pasukan melawan kaum muslimin, atau sekedar 
menjadi mata-mata. Kebolehan memerangi wanita dan anak-anak yang terlibat dalam perang didasarkan 
kepada hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Robah bin Robii' ia berkata: 

Kami bersama rasululloh pada suatu peperangan, lalu beliau melihat orang-orang berkumpul pada sesuatu, 
maka rosululloh mengutus seseorang dan bersabda: "Lihatlah, mereka berkumpul pada apa!" Lalu utusan 
itu datang dan mengatakan: "Mereka berkumpul pada seorang wanita yang terbunuh. " Maka Rosululloh 
saw bersabda: "Perempuan ini tidak layak untuk berperang. " Robah mengatakan: "Sedangkan di barisan 
depan terdapat Kholid bin Al-Walid, maka rosululloh mengutus seseorang dan mengatakan 
kepadanya: "Katakan kepada Kholid, jangan sekali-kali ia membunuh perempuan dan buruh. " 

Ibnu Hajar di dalam Fath al-Bari mengatakan: "Pemahaman terhadap hadits tersebut adalah kalau wanita itu 
berperang, dia pun harus dibunuh." An-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim berkata: "Para ulama 
sepakat untuk mengamalkan hadist ini serta pengharaman membunuh wanita dan anak-anak kalau mereka 
tidak ikut berperang. Jika mereka berperang, jumhur ulama mengatakan mereka boleh dibunuh." 

Lebih spesifik lagilbnu Taymiyah rahimahullah dalam pembicaraannya tentang memerangi orang orang 
kafir asli "Dan adapun orang yang tidak tergolong orang orang yang biasa bertempur dan berperang 
seperti para wanita, anak-anak, pendeta, kakek tua renta, orang buta, manula dan yang semisal mereka 
maka tidak boleh dibunuh menurut jumhur ulama kecuali bila mereka ikut perang dengan ucapannya dan 
perbuatannya^im&jmu al Fatawa 28/354) 

Jadi, bahkan dengan ucapan saja, itu termasuk MEMERANGI-. Apalagi pada saat ini, dimana mereka 
memerangiumat islam dengan ucapan dan perbuatan... kantor-kantor berita mereka memutarbalikkan fakta 
dan meluncurkan stigma jelek mengenai islam, maka mereka boleh diperangi, meski seorang perempuan 
ataupun manula! 



108IA1-Ghuroba 



TERORISME DALAM ALQUR'AN 

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia kembali marak membahas masalah terorisme. Banyak cara yang 
dilakukan oleh musuh-musuh Allah untuk menghentikan aksi teror terhadapnya, dan mereka berpendapat 
hanya fatwa dari para ulama saja lah yang bisa meredamnya. Yakni manakala para ulama berfatwa untuk 
menghentikan aksi terorisme tersebut. Setahu isi otak mereka, fatwa seorang ulama berarti benar! 

Sejak saat itu, TV swasta perpanjangan kaum kuffar begitu gencarnya dalam usaha mendatangkan ulama 
baik dari dalam maupun luar negeri yang memberikan fatwa mengenai terorisme. Sampai pada puncaknya 
muncul Fatwa Ulama bahwa "Terorisme" = "Kufur". Hal ini bahkan menyebabkan banyak dari kaum 
muslimin yang kemudian menyeletuk dan mengatakan bahwa tidak pernah Al Qur'an membahas masalah 
terorisme ini. 

Namun seorang muwwahid, selalu mengkaji dan cross check terhadap ucapan-ucapan seseorang, meskipun 
ia seorang ulama.. segala sesuatu yang bertentangan dengan alquran dan assunnah akan ditolak olehnya.. 
sehingga, fatwa-fatwa ulama suu', jahil, bahkan ulama bayaran dapat ditangkisnya dengan ilmu 
pengetahuannya! 

Terorisme sendiri merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris. Berasal dari kata dasar teror 
(terror), kata kerjanya meneror atau menggentarkan (terroriie) dan pelakunya dikenal sebagai teroris 
(terrorist). 

Dalam kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Terorisme dapat diartikan sebagai penggunaan kekerasan 
atau ancaman untuk menurunkan semangat, menakut-nakuti, dan menakutkan, terutama untuk tujuan politik. 
Sedangkan Hafid Abbas, Dirjen Perlindungan HAM Depkeh dan HAM RI. Terorisme adalah pemakaian 
kekuatan atau kekerasan tidak sah melawan orang atau property untuk mengintimidasi atau menekan 
pemerintah, masyarakat sipil, atau bagian-bagiannya, untuk memaksa tujuan sosial, dan politik. 

Menurut Webster's New World College Dictionary (1996), terorisme adalah "the use offorce or threats to 
demoralize, intimidate, and subjugate." Terorisme dibagi kedalam dua macam definisi, yaitu definisi 
tindakan teroris (terrorism act) dan pelaku terorisme (terrorism actor). Disepakati oleh kebanyakan ahli 
bahwa tindakan yang tergolong kedalam tindakan Terorisme adalah tindakan-tindakan yang memiliki 
elemen: kekerasan, tujuan politik, tewr/intended audience. 

Muh. Kurniawan BW,S.Ag.,SH.,MH. menuliskan dalam sebuah artikel bahwa terorisme adalah puncak aksi 
kekerasan, terrorism is the apex ofviolence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror 
tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase 
umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. 

Mengenai fatwa mengenai terorisme itu sendiri, kebanyakan pembuat fatwa bukanlah para ulama yang 
tengah berada di medan jihad dan bukanlah ulama yang pernah berjihad ketika negaranya diserang oleh 
kaum kafir. Para salaf (shabat, tabiin, tabiit tabiin) seringkali menolak memberi fatwa karena 
besarnya masalah ini dan beratnya tanggung-jawab serta rasa takut berbicara atas nama Allah tanpa 
ilmu. Karena seorang pemberi fatwa (mufti) menyampaikan kabar dari Allah dan menjelaskan 
syariat-syariatNya. Jika berbicara atas nama Allah tanpa ilmu, maka telah terjerumus ke dalam 
sesuatu yang mengarah kepada syirik. 

Simaklah firman Allah SWT: "Katakanlah: "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang 
nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, 
(mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu 
dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui'\ (QS. al-A'raf: 

33) 

109IA1-Ghuroba 



Lalu bagaimana bisa para ulama tersebut membuat fatwa bahwa para pelaku terorisme dipukul rata telah 
menyandang gelar KUFUR, suatu gelar yang meliputi para mujahidin yang tengah memperjuangkan hak 
kaum Muslimin di negara mereka saat hak umat Islam diserang? Sementara ulama-ulama pembuat fatwa itu 
sendiri belum pernah mencicipi manisnya iman dengan berjihad dan berada di tengah medan jihad. 

Dan bagaimana bisa fatwa-fatwa yang semacam itu bisa meredam aksi para teroris dari perbuatannya 
meneror; menggentarkan musuh Allah dan musuh Rasulullah sementara hak umat Islam berupa 
kekhilafahan 'ala manhaj Nubuwwah masih belum dikembalikan? 

Benarkah Tidak Ada Satu Ayat pun Dalam Al Qur'an Membahasnya? 

Allah Subhanahu wa Ta'ala beriirman dalam QS Al Anfal ayat 60 

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda 
yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan 
musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. 
apa saja yang kamu najkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu 
tidak akan dianiaya (dirugikan). " 

Yusuf Ali menerjemahkan ayat ini dalam bahasa Inggris sebagai berikut: 

"Against them make ready your strength to the utmost of your power, including steeds of war, to strike 
terror into (the hearts of) theenemies, of Allah and your enemies, and others besides, whom ye may not 
know,but whom Allah doth know. Whatever ye shall spend in the cause of Allah, shallbe repaid unto you, 
and ye shall not be treated unjustly. " 

Ayat tersebut dengan jelas merupakan perintah Allah; seruan Allah pada seluruh kaum Muslimin yang 
masih memiliki iman di hatinya. Dan seruan khusus ini mengalahkan seluruh definisi yang telah dibuat oleh 
para ahli dalam berbagai kamus tersebut di atas. Kata kerja yang disebut dalam QS Al Anfal 60 ini 
"turhibuun " (menggentarkan; to strike terror), maka apabila ada kaum Muslimin yang mengamalkan ayat 
ini mereka akan menyandang gelar "irhabiyyun " (peneror -terhadap objek spesifik yakni para musuh Allah 
dan mereka yang disebut dalam ayat ini; terrorists). 

Perintah ini jelas-jelas berasal dari Allah, lalu apa kemudian seluruh pelaku tindakan meneror objek spesifik 
yakni musuh Allah dan mereka yang tersebut dalam ayat itu, pada saat yang tepat, dengan cara yang tepat 
dan sesuai dengan syari'at, kemudian begitu saja dijuluki sebagai para teroris dan bergelar "KUFUR" juga? 

Sungguh benar firman Allah dalam QS Az Zumar: 9 

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" 
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS 39:9) 

Maka kukatakan kepada para ulama-ulama, khususnya MUI, kenapa fatwa kalian yg melarang mujahidin 
membunuh musuhnya, baru kalian keluarkan tatkala perang jihad sudah berlangsung lebih dari 20 tahun 
ketika mujahidin sudah mulai menimpakan bencana dan kepanikan kepada musuh-musuh mereka? 

Engkau mengatakan kepada mujahidin yang tengah sibuk membidik musuh-musuh mereka bahwa 
membunuh adalah haram, kekerasan itu haram, sementara engkau tidak (mau) melihat di kiri dan kanan 
mujahidin tersebut mayat-mayat saudara-saudara mereka yang telah dibunuh musuh? 

Maka bagaimanakah kami harus membunuh musuh-musuh yang membidik dan menembaki kami, wahai 
yang memiliki pandangan? Apakah engkau ingin kami berdoa saja agar musuh tiba-tiba terbunuh dengan 
sendirinya atau bertobat dengan sendirinya? Atau engkau lebih suka bendera putih di tangan kami dan 

HOIAI-Ghuroba 



kemudian kami menerima dengan damai diri-diri kami, keluarga-keluarga kami, anak-cucu kami dikafirkan 
oleh musuh-musuh kami? 

La hawla wala quwata ila billah!! Semoga antum-antum semua tidak terpengaruh dengan ucapan para 
ulama-ulama suu' tersebut, mungkin saja ia tidak mengerti atas apa yang ia ucapkan! Tetaplah jalankan 
perintah Allah yang jelas-jelas tertera di dalam Al-qur'an, meski diri ini dikatakan teroris, fundamentalis, 
ekstrimis, dan perkataan-perkataan tercela lainnya... 

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak 
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang 
bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang 
berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, 
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha 
Mengetahui. Al-Maidah : 54 



llllAl-Ghuroba 



JANGAN CELA MEREKA! 

Hari ini kita meyaksikan orang yang tidak sholat mengomentari orang yang sholat, kita menyaksikan orang 

yang tidak puasa mengomentari orang yang berpuasa. Kita menyaksikan para pelaku jihad dikomentari oleh 

mereka yang belum pernah menanggung beban separuhpun dari beban yang ditanggung oleh pelaku jihad, 

tahanlah mulut kalian dari mencela mereka! 

Wahai saudaraku... aku bertanya kepadamu, apa yang menyebabkanmu mencela Amrozi, Imam Samudra, 

Ali Gufron, Ibrohim, Osama bin Laden, Dr. Aiman Az Zawahiri, dan seluruh pejuang-pejuang muslim yang 

kalian anggap Teroris, Ekstrimis, Khawarij, atau panggilan-panggilan yang menyakitkan hati lainnya? Apa 

ya akhi? Apa ya ukhti? 

Apa karena mereka melakukan "bom bunuh diri" sehingga kalian mencelanya sebagai bentuk 

menjatuhkan diri kedalam neraka, karena orang yang bunuh diri pasti masuk neraka? Ketahuilah! 

Diriwayatkan dari Aslam bin Imron rodliyAllahu 'anhu, ia berkata: Kami berangkat berperang dari Madinah 
menuju Kostantinopel. Pasukan kami waktuitu dipimpin oleh Abdur Rohman bin Kholid bin Al Walid. 
Sedangkan Romawi melekatkan punggung mereka dengan benteng Madinah. Lalu ada seseorang yang 
menyerang musuh (ia maju seorang diri dan melompat kedalam barisan musuh, hingga terbunuh). Sehingga 
orang-orang pada mengatakan: "Wah, wah! Laa ilaaha illAllah, dia menceburkan diri ke dalam kebinasaan 
(al-baqarah:195)" 

MakaAbu Ayyub berkata: Sesungguhnya ayat tersebut (larang menceburkan diri ke dalam kebinasaan) turun 
mengenai kami, orang-orang anshor. Yaitu tatkala Allah telah memenangkan Nabi-Nya dan menyebarkan 
Islam, kamimengatakan: Marilah kita mengurusi dan memperbaiki harta benda kita. MakaAllah ta'ala 
menurunkan: Belanja kannlah harta kalian di jalan Allah dan janganlah kalian menceburkan diri kalian 
kepada kebinasaan(al-baqarah:195).Maka yang dimaksud dengan menceburkan diri kepada kebinasaan itu 
adalahkami mengurusi dan memperbaiki harta benda kami dan kami tinggalkan jihad. 

Sungguh, apa yang kalian sebut "bom bunuh diri" bukanlah sebuah bunuh diri! Itu adalah amaliyah 
istisyahadiyah! Bom syahid! Itu adalah sebuah bentuk perjuangan menegakkan dien ini! Mereka mencari 
kematian ya ukhti! mereka mencari syahid ya akhi! Orang yang bunuh diri adalah karena putus asa! Ingin 
lari dari masalah yang dihadapi di dunia! Sedangkan mereka, mereka bukan karena putus asa, tapi karena 
mencari keridhaanNya! Mereka bukan pengecut dan lari karena takut amerika, tapi karena mereka tidak 
terkena penyakit wahn! Cinta dunia dan takut mati.. justru karena kita malas berjihad, duduk-duduk di 
rumah, itulah sebuah bentuk "menjatuhkan diri kedalam kebinasaan", bunuh diri! 

Lalu apa karena mereka lebih senang melakukan jihad perang daripada "jihad ekonomi, jihad ilmu, 
jihad nafsu, dan semua jenis jihad yang kalian ciptakan sendiri", sehingga kalian mencela mereka 
sebagai orang yang jahil, gila, ceroboh, dan terburu-buru tanpa memperhitungkan kekuatan? 
Ketahuilah! 

Rosululloh Sholallahu 'Alaihi wa Sallam pada sebuah riwayat dari Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari 
'Amru bin ' Abasah ia berkata: 

"Seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh Sholallahu 'Alaihi wa Sallam: "Wahai Rosululloh, apakah 
Islam itul" beliau bersabda, u Hatimu pasrah kepada Allah 'azza wajalla dan kaum muslimin selamat dari 
(gangguan) lidah dan tanganmu." Ia berkata lagi, "Bagaimanakah Islam yang paling sempurna?" beliau 
bersabda, "Iman." Ia berkata, "apakah iman itul" beliau bersabda, "Engkau beriman kepada Allah, 
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rosul-Nya dan hari berbangkit setelah kematian." Ia berkata 
lagi, "Iman bagaimanakah yang paling utama?" beliau bersabda, "Hijroh." Ia bertanya, "Apakah hijroh 
itu?" beliau bersabda, "Engkau jauhi keburukan", Ia berkata, "Hijroh bagaimana yang paling utamal" 
beliau bersabda, "Jihad." Ia bertanya, " Apakah jihad itu?" b eliau bersabda, "Engkau perangi orang-orang 
kajir jika engkau bertemu dengan mereka ." Ia berkata, "Jihad bagaimanakah yang paling utama?" 
beliau bersabda, "Siapa saja yang kuda terbaiknya terluka dan darahnya tertumpah." 

112lAl-Ghuroba 



Rosululloh Sholallahu ' Alaihi wa Sallam bersabda, "Kemudian dua amal yang keduanya merupakan amalan 
terbaik kecuali kalau ada yang melakukan yang semisal; hajji mabrur dan umroh. " HR.Ahmad dan Ibnu 
Majah. 

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu 
diwajibkan jihad? Beliau menjawab: "Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji 
dan umrah." - HR.Ahmad dan Ibnu Majah. 

Itulah makna syar'i jihad, yakni perang! Karena hal itulah, para ulama sepakat, jika menemukan kata jihad 
yang disebutkan secara mutlak, atau berdiri sendiri, maka maknanya tidak dibawa kecuali kepada makna 
berjihad melawan orang kafir dengan pedang sampai mereka masuk Islam, atau memberikan jizyah dari 
tangan sementara mereka dalam keadaan hina! dan tidak dibawa kepada makna lainnya. Sehingga, jika ada 
kata.. u berjihadlah terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu" secara mutlak dan tidak 
ditunjukan bagaimana cara berjihadnya, maka cara berjihad yang dimaksud adalah dengan perang atau 
mengerahkan segenap kekuatan untuk berperang melawan orang-orang kafir dengan pedang atau senjata.. 
bukan berperang melawan orang kafir dengan cara berbakti kepada orangtua, atau berpuasa, atau menuntut 
ilmu, dsb.. 

sehingga salah jika mengatakan bahwa maksud kata diatas adalah, u berbaktilah terhadap orang-orang kafir 
dan orang-orang munafik itu " atau u tahanlah hawa nafsumu terhadap orang-orang kafir dan orang-orang 
munafik itu" ,.... salah besar... melainkan artinya, "PERANGILAH DENGAN PEDANG orang-orang kafir 
dan orang-orang munafik itu"... Belajar kita bukanlah jihad. Ilmu kita bukanlah jihad. Duduk-duduk 
bersama saudara-saudara kita di dalam halaqoh-halaqoh ilmu bukanlah jihad, berjuang di parlemen- 
parlemen kufur bukanlah jihad. Jihad adalah perang, selama panji jihad masihberkobar, selama tombak- 
tombak masih terhunus, dan selama engkau dalam keadaan sehat danmemungkinkan untuk memanggul 
senjata. 

"Karena Amerika adalah super power maka kita juga perlu super power untuk mengimbanginya, kita juga 
perlu membentuk negara super power untuk mengalahkannya.", kata-kata ini sangat kuat tertanam di benak 
antum yang merasa, HARUS MENGUMPULKAN KEKUATAN BESAR DAHULU BARU 
BERPERANG. Padahal telah nyata runtuhnya Rusia (super power dunia) ditangan bangsa termiskin di dunia 
(afghan). Hendaklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, bukankah dalam pelajaran sejarah yang kita kenal 
adalah kekuatan NATO dan Pakta Warsawa. Dan semua mengatakan kekuatan mereka berimbang. Pakta 
Warsawa telah diruntuhkan oleh bangsa yang dimuliakan Allah ini (Afghan), otomatis kekuatan amerika 
berarti hanya setara dengan Rusia, otomatis lagi Amerika pasti dikalahkan oleh bangsa termiskin di dunia 
ini! Lalu apakah kekuatan senjata yang menjadi parameternya? BUKAN YA AKHI!! YAKNI IMAN! 

Q.S 8:65. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang 
sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus 
orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, 
disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. 

Apa kalian mengerti? Apa kalian yakin? Siapakah yang lebih kuat? antara amerika atau Robbul Alamin? 
apakah kalian percaya bahwa Allahazza wa jalla lebih kuat dari amerika? Apakah kalian betul-betul yakin 
bahwa RobbulIzzati (Tuhan yang Maha Perkasa) lebih kuat dari rudal-rudal amerika dan armada-armada 
tentaranya? Kalian pasti akan menjawab "Itu tak diragukan lagi." Demi Allah, andaikan negeri-negeri islam 
percaya bahwa AllahAzza wa Jalla lebih kuat daripada Israel, maka kita tidak akan pernah mengalami 
kekalahan di semua medan kehidupan kita. Kita tidak akan kembali menelan kehinaan, penyesalan dan 
kerendahan dalam setiap aspek kehidupan . . . sekiranya kita meyakini bahwa Allah swt. lebih tinggi, lebih 
agung dan lebih besar daripada Israel, maka kita tidak akan terjerumus lagi ke dalam lembah kehinaan 
seperti yang pernah menimpa kita 



113lAl-Ghuroba 



Bukankah kita hari ini sedang mengalami kekalahan dan kehinaan di semua lini, kecuali sedikit orang yang 
dirahmati Allah, hari ini kita sedang merasakan pahitnya kerendahan dan penyesalan di semua segi 
kehidupan. Kenapa? Karena jawaban keyakinan bahwa Allah lebih kuat dari Amerika hanya di mulut, tidak 
sampai dihati dan di amal. Keyakinan itu hanya berhenti di kepalan tangan dan di teriakan mulut, tidak 
mengalir bersama aliran darah kita. Apakah kalau kita ditanya : "lebih kuat mana amerika dengan Allah?" 
lantas kita jawab : "Pasti lebih kuat Allah", kemudian sekonyong-konyong keadaan berubah. Atau saat kita 
berdemo sambil teriak dan mengepalkan tangan : "ganyang Amerika, amerika penjahat dsb" lantas keadaan 
langsung berubah? Apakah dengan kata-kata, teriakan dan kepalan tangan lantas keadaan berubah? Tidaklah 
Allah menurunkan pertolongannya hingga kita membuktikannya dengan amal, tauhid uluhiyah adalah 
dengan amal. 

Tidaklah Allah memberikan kemenangan melainkan hanya kepada orang-orang yang telah terbukti 
aqidahnya, telah terbukti tauhidnya dengan perantaraan air mata, keringat dan darahnya. Tidaklah Allah 
memberikan kemenangan kepada orang-orang yang gamang dengan kekuatan amerika atau raksasa-raksasa 
dunia lainnya. Allah tidak akan memberikan kemenangan kepada orang-orang yang takut kepada amerika, 
silau dengan kemegahan militer amerika. Hingga Allah melihat kepada hambanya, bahwa hamba-Nya ini 
telah memberikan segala sesuatu yang dia punya dalam peperangan yang nyata ini karena tidak rela Robb- 
Nya direndahkan oleh makhluk jahat dan fasik yang hina (amerika), saat itulah Dia melihat bukti bahwa 
hamba-Nya ini layak mendapatkan satu dari dua kemenangan. Sementara hari ini kita menjumpai ada 
segolongan manusia (alqaida, amrozi dkk, taliban) yang membuktikan tauhid uluhiyah dengan amal, air 
mata, keringat, darah, bahkan nyawa tetapi segolongan umat islam lainnya malah mencela. 

Sekarang siapa yang lebih kuat, Allah swt atau Rusia? Mana yang lebih kuat, Allah atau Amerika? apa 
kalian yakin, mengerti, dan percaya, bahwa tentara-tentara Allah yang tidak memiliki nuklir mampu 
mengalahkan Amerika?! Lalu kenapa kita harus menunggu harus memiliki senjata yang cukup dan tentara 
yang banyak baru mau maju berperang? Apa karena kita takut kalah? Bukan! Tapi karena kita, takut mati 
dancintadunia! 



114lAl-Ghuroba 



DAN JADILAH TERORIS.... 

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang 
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada 
thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan 
mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. " An-Nisa (60) 

Lihatlah, para penyembah salib telah menajisi kitab Robb kitadan melemparkannya ke dalam kakus-kakus 
mereka dengan diiringi sebuah perencanaan yang matang, membakar Al-qur'an dihadapan umum, merobek- 
robeknya! dalam rangka menghancurkan kesakralan sesuatu yang dianggap suci oleh umat ini. Lihatlah, 
manusia-manusia keturunan kera dan babi, serta kaum Hindu penyembah sapi, telah berani berbuat lancang 
lalu melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka. 

Duhai, menyedihkan kondisi umatku. Jika putera-puteranya tidak bangkit membalas serangan yang 
dilancarkan kepada kitab Robb mereka, lalu kapan mereka bangkit? Kapan mereka bangun? Jika realita dan 
musibah seperti ini tidak membuat mereka tergerak, laluapa yang membuat mereka tergerak? 

Hampir-hampir hujan batu dari langit menimpa kita, kita meminta pertolongan dari Robb kita tapi kita tidak 
marah ketika kesucian kitab-Nya dilanggar. Sesungguhnya para penyembah salib itu telah menganeksasi 
negeri-negeri kita, mereka langgar kesucian-kesucian kita, mereka perkosa kehormatan-kehormatan kita, 
mereka rampas harta kekayaan kita,dalam sebuah batalyon salib terbesar dalam sejarah kita dewasa ini 
(NATO). 

Lantas apakah yang ditunggu oleh putera-putera umat ini? Kapanmereka bangun dari tidur? Duhai, 
menyedihkan...bagaimana semangat umat ini redup -kecuali orang-orang yang dirahmati Allah — , lalu rela 
dengan sikap berpangku tangan daripada membela agama ini dan melindungi kehormatan kaum muslimin? 

Sungguh besar kemelaratan ini, sungguh besar kerugian sepertiini...suatu kaum yang "pasar kesyahidan" 
digelar di negeri mereka,kendaraannya diderumkan di depan pintu mereka, tapi mereka masih saja 
tenggelam dalam tidurnya, mereka tak kunjung berhenti dari perbuatan main-mainnya.Namun demikian, 
sepanjang sejarah Sunnatulloh tetap menentukanadanya hamba-hamba Allah pilihan-Nya yang mengangkat 
panji agama ini, lalu menyampaikannya ke seluruh dunia. Rasulullah bersabda: 

"Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang unggul di atas kebenaran, tidak terpengaruh oleh orang 
yang mentelantarkan mereka, hingga tiba ketetapan Allah. " 

Maka terdengarlah seruan-seruan perang dari sana sini: "Wahai kuda Allah, berangkatlah." "Wahai panji 
Allah, naiklah." "Wahai para pengusung bendera, bangkitlah." 

Seruan ini pun disambut oleh umat Islam yang mau menyambut. Mereka sambut seruan ini, mereka 
berangkat untuk berperang, mereka kibaskan debu kehinaan dan kotoran kenistaan. Mereka bangkit 
meninggalkan dunia dan kemewahannya di belakang mereka, mereka berangkat berperang meninggalkan 
keluarga, kampong halaman dan harta benda. Masing-masing punya cerita sendiri,masing-masing punya 
pengalaman pahit sendiri. Rambut merekakusut. Kepala mereka berdebu. Jumlah mereka sedikit. 
Persenjataan mereka lemah. Tapi...hati mereka dipenuhi rasa cinta kepada agama ini. Jiwa mereka rindu 
bersanding di sis Robbul 'Alamin. Mereka jujur kepada Allah maka Allah pun membenarkan janji-Nya 
kepada mereka. Maka mereka timpakan kekalahan demi kekalahan dan siksa demi siksa kepada para 
penyembah salib itu, mereka luluh lantakkan nama besar mereka, mereka hancurkan kekuatan mereka. Allah 
munculkan karomah-karomah melalui tangan-tangan mujahidin yangsudah bukan menjadi rahasia lagi bagi 
siapa pun yang memiliki mata. 

Ketika orang-orang Bani Ashfar (romawi/kristen/eropa dan amerika) menyadari betapa besar bahayayang 
mereka tengah terperosok di dalamnya saat ini, begitu juga besarnya kerugian dan korban di fihak mereka, 

115lAl-Ghuroba 



mereka punmengambil langkah cepat membentuk "pemerintah-pemerintah boneka beserta bala tentaranya" 
untuk menjadi tameng pelindung kaum salibis sekaligus menjadi tangan untuk memukul mujahidin, dan 
melindungi agama demokrasi ini agar tetap berlangsung di negara ini. Maka pentas ujian dan penyaringan 
kembali digelar, muncullah Densus 88, muncullah Gegana, muncullah Kopassus, dll. Seruan mereka 
ditanggapi oleh mereka yang bersemangat rendah dan rela menjual agama dan akhiratnya, hukum yang 
diberlakukan mujahidin terhadap orang-orang seperti ini sangatlah jelas, tidak ada kesamaran di dalamnya, 
yaitu wajib memerangi dan berjihad melawan mereka karena mereka telah murtad dari Islam dan loyal 
kepada thagut negeri ini. 

Status mereka ini terlihat samar oleh sebagian orang yang digelari ulama, apalagi jika di pandangan orang- 
orang awam. Akibatnya, "ulama"tadi mengeluarkan fatwa tentang tidak bolehnya memerangi mereka demi 
menjaga tertumpahnya darah sesama rakyat negeri ini, sesama "muslim". Dan sungguhini merupakan 
bahaya yang sebenarnya yang menimpa banyak sekali organisasi-organisasi Islam di zaman sekarang. 
Bahaya itu adalah: Pembedaan antara musuh asing dan musuh lokal; kalau musuh asing, maka umat 
boleh bangkit untuk memeranginya, segala kekuatan boleh dihabiskan untuk berjihad melawannya, 
hingga jika musuh itu sudah keluar lalu mengangkat wakilnya dari kalangan orang-orang murtad 
dari bangsa kita sendiri, yang berhukum dengan hukumnya, yang memukul dengan cambuknya, 
maka haram bagi umat untuk memerangi dan berjihad melawan mereka, sekejam apapun mereka. 

Jika musuh itu berambut pirang bermata biru, wajib memeranginya. Adapun jika musuh berkulit 
coklat bermata hitam, maka ini tidak halal untuk diperangi. Demi Allah perang seperti ini adalah 
perang kaum nasionalis, bukan perangnya ahli tauhid. Perang orang yang menginginkan dunia, bukan 
menginginkan akhirat! Kaum murtaddin itu tidak mendasari pembentukan tentara mereka selain untuk 
memerangi agama Allah, agar menjadi pemukul orang-orang ikhlas dari umat ini. Bukti paling riil dari hal 
itu adalah operasi rutin yang mereka lancarkan untuk menghabisi "teroris".. Tentara ini (Densus 88,dkk) 
kami tak pernah mendengar gaungnya selain ketika memerangi orang-orang beriman dan tentara-tentara Ar- 
Rohman. 

Siapakah yang percaya bahwa orang-orang bule, yang sering terlihat mabuk-mabukkan, yang sering terlihat 
dengan aurat terbuka, siapakah yang percaya bahwa mereka adalah orang kafir? Tentu umat muslim akan 
segera percaya.... tapi siapakah yang percaya bahwa orang-orang yang berjenggot, jidat hitam, ishbal, 
berpakaian gamis, siapakah yang percaya bahwa mereka adalah orang kafir??? Siapa yang percaya? 
Begitulah pintarnya yahudi dan nasrani dalam menyusupkan agen nya... 

Kami tegaskan: Sesungguhnya tentara-tentara negara demokrasi adalah tentara murtaddan pengkhianat 
yang setia kepada orang-orang salibis. Tentara inilahir untuk menghancurkan Islam dan memerangi kaum 
Muslimin.Maka kami akan memeranginya seperti ketika umat Islam memerangi pasukan Tartar yang datang 
dengan pasukan berkudadan pejalan kakinya meskipun mereka menyatakan dua kalimat syahadat. Bahkan di 
tengah pasukan mereka ada imam-imam masjiddan para muadzin, di antara mereka ada yang sholat dan 
puasa, di mana ini membuat manusia ragu-ragu, membuat para ulama kebingungan, bagaimana 
mereka diperangi sementara mereka mengaku umat Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat? 

Hingga akhirnya Allah munculkan di tengah badai ujian ini seorang"mentari penerang" Umat, yang menjadi 
salah satu menara pemberi petunjuknya: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengeluarkan fatwa tentang 
murtadnya pasukan Tartar, wajibnya memerangi mereka karena keengganan mereka berhukum dengans 
yariat Allah dan penyimpangan mereka dari Al-Quran kepada hukum Ilyasiq karangan Jengis Khan, hukum 
yang di dalamnya ia menggabungkan antara hukum-hukum Taurat, Injil dan Quran,ditambah dengan tradisi- 
tradisi bangsa Tartar, persis seperti undang-undang negara ini di zaman sekarang. 

Di antara ucapan Syaikhul Islam adalah: "Orang-orang yang ditanyakan dalam soal, bala tentara mereka 
terdiri dari orang-orang kafir baik kristen maupun kaum musyrik, begitu juga orang-orang yang masih 
mengaku Islam dan ini mayoritas; mereka mengucapkan dua kalimat syahadat jika diminta untuk itu, 
mereka menghormati Rosululloh, namun yang sholat di antara mereka hanyalah sedikit, yang puasa 

116lAl-Ghuroba 



jumlahnya agak lebih banyak daripada yang sholat, orang Muslim dalam pandangan mereka lebih dihormati 
daripada nonmuslim, orang muslim yang sholeh pun lain kedudukannya di sisi mereka...dst" hingga beliau 
mengatakan: "...memerangi kelompok jenis ini adalah wajib berdasarkan ijma' kaum Muslimin; 
orang yang mengerti Islam dan mengerti hakikat mereka tidak akan meragukan hal ini, sebab 
kedamaian yang mereka anut dan agama Islam ada dua hal yang tidak mungkin bertemu sampai 
kapanpun." 

Beliau berkata lagi: "Jika para salaf menyebut orang-orang yang tidak mau membayar zakat sebagai kaum 
murtaddin -padahal mereka jelas puasa dan sholat — dan mereka tidak memerangi kesatuan kaum Muslimin, 
lalu bagaimana dengan orang yang telah menjadi musuh Allah dan Rosul-Nya, dan memerangi kaum 
Muslimin?!" demikian perkataan beliau Kami sudah memprediksi sebelumnya dengan yakin bahwa ketika 
kami memerangi tentara murtad (Densus 88,dkk) dan negara ini, kami akan menuai protes bahkan 
kemarahan yang besar dari para umat Islam yang tidak faham. Sebab dengan pandangan sempitnya mereka 
mengatakan: bagaimana seorang mujahid memerangi saudaranya sendiri, keponakannya dan orang yang 
masih sedarah dengannya? 

Mereka tidak menyadari bahwa Nabi dulu pertama-tama memerangi orang yang menjadi batu penghalang 
Islam dari kalangan kaumnya sendiri, sebelum beliau memerangi Bani Ashfar (Romawi).Jalan ini juga 
ditapaki oleh para shahabat sepeninggal beliau. 

Abu Ubaidah bin Jarroh, ia membunuh bapaknya sendiri dalam perang Uhud. 

Mushab bin Umair, ia membunuh saudaranya, Ubaid bin Umair, juga dalam perang Uhud. 

Umar bin Khothob, ia membunuh pamannya, Al-'Ash bin Hisyam, dalam perang Badar. 

Ali, Hamzah dan Ubaidah bin Harits, mereka membunuh Utbah-Syaibah putera Robi'ah dan Walid bin 

Utbah, dalam perang Badar. 

Tentang mereka inilah kemudian turun firman Allah Ta'ala: 

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang 
dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau 
anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. " (QS. Al-Mujadilah: 22). 

Orang-orang yang mereka bilang sebagai para "teroris" itu, justru merekalah yang berjihad di jalan Allah. 
Mereka telah mengorbankan segala yang berharga yang mereka miliki demi terangkatnya kemuliaan agama 
ini. Mereka lah orang-orang yang asing, orang-orang yang tidak dipahami manhajnya kecuali 
sebagian kecil kaum muslimin, merekalah orang-orang asing, orang-orang yang istiqomah dengan 
ajaran islam yang murni, menegakkan hal yang makrui dan memerangi yang mungkar, namun 
hanya sebagian kecil kaum muslimin yang memahami fiqroh mereka. Merekalah Al-Ghuroba.. 

Di atas bahu siapakah pertempuran di Qo'im bisa tegak? Darah siapakah yang mengalir di Rammadi, 
Fallujah, dan Haditsah? Leher siapa yang terpenggal di Talla'far dan Moushil? Nyawa siapa yang tercabut 
dalam pertempuran-pertempuran Baghdad, Diyala dan Saamirro'? siapa yang berperang di somalia melawan 
kristen radikal? Siapa yang berperang di filipina melawan pemerintahan salibis? Siapa yang berperang di 
kashmir? Pakistan? Afghanistan? Aljazair? Yaman? Uzbekistan? Chechnya? Bahkan menyerang ke negeri 
kafir amerika, perancis, inggris, spanyol?? Apakah negara ini!? Bukan!!! 

Siapa yang melaksanakan semua ini kalau bukan anggota-anggota Tandzim Al-Qaeda, Taliban, baik yang 
Muhajirin maupun Anshor dan mujahid-mujahid lain yang jujur, para pemegang manhaj yang bersih,yang 
bertekad untuk tak menanggalkan senjata selagi masih ada pada mereka mata yang berkedip dan nadi yang 
berdetak. Mereka yang berperang disana... MEREKA!! Jika mereka beperang dijalan Allah dalam 
memerangi kawan-kawan syaitan... maka kita dimana???? Apakah kita berada di satu jalan yang sama 
dengan mereka.. atau menjadi wali syaitan dengan memerangi mereka (mujahidin al-qaida)? 



117lAl-Ghuroba 



Kemudian, salah satu yang membuat hati ini semakin sedih dan pilu; adalah adanya sebagian ulama yang 
menurut kami adalah orang-orang jujur dan cinta kepada jihad dan mujahidin. Ada di antara mereka yang 
meminta agar tidak "mencari mati" dengan terus berperang, dan jangan mengkonsentrasikan energy umat 
Islam untuk perang ini saja, lebih baik membangun infrastruktur, lebih baik belajar, lebih baik duduk-duduk 
dan bercanda dengan istri dan anak dirumah ketimbang berperang. . . 

Allah Maha Tahu, betapa aku sangat sedih dan pilu mendengar perkataan mereka ini. Inikah keadaan yang 
telah dialami umat kita? Inikah ketulusan ulama kita yang diberikan kepada kita? Sampai kapan para ulama 
berpaling dari front-front jihad? Mereka menyampaikan hukum-hukumnya, mengeluarkan nasihat- 
nasihatnya, tapi jauh dari kehidupan nyata yang dialami umat. Sebab, penilaian yang benar itu harus didasari 
oleh, tidak hanya ilmu syar'i, tapi juga pengetahuan tentang realita. 



Sayyid Quthub berkata: 

"Sesungguhnya pemahaman mengenai agama ini tidak muncul melainkan dari dunia pergerakan, ia tidak 
diambil dari orang fakih yang berpangku tangan ketika pergerakan menjadi keharusan, yang hanya berkutat 
pada buku dan lembaran-lembaran kitab di zaman sekarang untuk menyimpulkan berbagai hukum fikih, 
mereka memperbarui fikih Islam dengan simpulan tersebut atau mengembangkannya namun mereka jauh 
dari pergerakan yang bertujuan membebaskan umat manusia dari penghambaan kepada sesama manusia 
menuju penghambaan kepada Allah saja, dengan menjadikan syariat Allah saja sebagai hukum dan menolak 
semua undang-undang thoghut. Mereka itu tidak memahami tabiat agama ini. Sehingga, mereka tidak 
memiliki kelayakan untuk menentukan fikih agama ini." 

Jika jihad yang kita alami sekarang ini jihad tholab dan benteng-benteng negeri amerika dan inggris yang 
membahayakan mujahidin tak kunjung mampu kita taklukkan, tentu kita katakan: ada kelonggaran dalam 
hal ini. Namun, kita sekarang sedang melancarkan perang pembelaan (difa') terhadap umat kita, terhadap 
agama kita, dari musuh yang paling berbahaya yang pernah menyerang negeri kaum Muslimin di zaman 
sekarang. Mereka melanggar kesucian-kesucian, menjajah negeri, merampas harta kekayaan dan sumber 
kekayaan alam, penjara mereka penuh dengan kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan, 
bahkan. . .rahim-rahim muslimat telah dipenuhi oleh sperma-sperma kotor mereka. 

Sesungguhnya, selagi umat ini masih mau mengorbankan orang-orang yang dicintainya, menumpahkan 
darah putera-puteranya, demi membela agama ini, maka umat ini masih dalam keadaan baik. Namun jika 
umat ini sudah mulai "bakhil" mengorbankan darah putera-puteranya dalam rangka meninggikan kalimat 
Allah, maka bangsa-bangsa lain akan mengeroyoknya, ia akan tertimpa kenistaan dan kehinaan dan dikuasai 
oleh manusia-manusia yang paling hina.Sejauh mana mujahidin maju memerangi musuh mereka dan 
menggapai kemenangan-kemenangan nyata, sejauh itu pulalah kedzaliman dan kabut ini tersingkirkan dari 
umat. Jika sebaliknya, maka sebaliknya juga.Kapankah kita pernah "mencari mati" dalam rangka membela 
kehormatan kaum muslimin dan muslimat? 

Apakah ketika tentara penyembah Salib nanti sudah memasuki Syam? Atau ke Mekkah dan Madinah, lalu 
mereka langgar kehormatan kita, lalu ketika itu kita baru berperang mencari mati?! Bagaimana dengan 
saudari-saudari kita yang tadinya terjaga dan suci kehormatannya, meminta perlindungan kepada Allah dari 
kezaliman musuh-musuh-Nya di dalam sel-sel penjara mereka? 

Rasulullah bersabda, "Bebaskanlah tawanan." Bagaimana jika tawanan itu wanita yang tak berdaya? 

Bagaimana jika itu tawanan wanita yang diperkosa kehormatannya setiap pagi dan sore? Sungguh, 
menyesalkan sekali kondisi umat kita. Jika kita tidak mencari mati untuk keadaan-keadaan seperti ini, tolong 
jawablah aku-dengan nama Robbmu — : Kapan dan di mana kita hendak mencari mati?! 

Sebagian ulama itu ada yang menginginkan agar kami menghentikan jihad kami di negeri ini dengan 
menyatakan bahwa jihad di negara-negara ini adalah jihad nikayah, bukan jihad tamkin (jihad membebaskan 
tanah kaum muslimin dari kuffar). Mereka berkata lebih baik mendakwahi thagut dahulu daripada 

118lAl-Ghuroba 



menumpahkan darah dan terbunuh sia-sia.. Sebab dengan jihad seperti itu, siapa yang akan memetik buah 
dari jihad penuh berkah ini, dan siapa yangakan naik ke panggung kekuasaan yang dihantarkan oleh darah- 
darah mujahidin? 

Bukankah sudah saya jelaskan, bahwa jihad sekarang hukumnya fardhu 'ain? Jadi kita diperintah untuk 
mengusir musuh yang menyerang ini. Bahkan, berdasarkan perkataan para imam kita tadi, kami 
berkeyakinan bahwa seluruh umat Islam -baik dari ulamanya, para dainya hingga orang awamnya — 
berdosa ketika mereka tidak ikut dan berpangku tangan dari menolong mujahidin. 

Jika semua orang Islam mengikuti isi dari syubhat seperti ini (yakni menghentikan jihad karena itu hanya 
jihad Nikayah, yakni berjihad hanya untuk memukul mundur pasukan kuffar), tentu Islam tidak tegak, tidak 
ada panji yang terangkat bagi kaum muslimin. Apa tujuan dari menggunakan perkataan tadi kalau bukan 
menghalangi dan menghentikan perang dan jihad di jalan Allah, menyerahkan negeri-negeri Islam dan 
rakyatnya ke tangan kaum salibis dan kaum murtaddin yang membantunya, sehingga mereka bias berbuat 
kepada kaum muslimin semau mereka? 

Bukankah perkataan bahwa yang akan memetik buah jihad adalah selain mujahidin, itu tak lain adalah 
mengira-ngira sesuatu yang masih ghoib dan sekedar praduga? Dan sejak kapankah memetik buah itu 
menjadi bukti benar tidaknya suatu perbuatan? 

Yang kami ketahui dari agama Allah adalah: bahwasanya kita diperintahkan untuk melaksanakan perintah- 
Nya dan berangkat berperang baik dalam keadaan ringan maupun berat, di jalan Allah. Setelah itu mengenai 
hasil, dikembalikan kepada Allah, itu bukan urusan kita. 

Tugasmu adalah menebar benih, bukan memetik hasil... Allah adalah sebaik-baik penolong bagi orang- 
orang yang mau berusaha. Dulu kekuataan jahat dan kafir berkoalisi untuk menggempur Madinah, mereka 
ingin membabat habis kaum muslimin dalam perang Ahzab. Kaum muslimin mengalami ketakutan yang 
luar biasa, sampai-sampai Nabi bersabda: "Siapa yang mau mencari berita tentang mereka, ia akan menjadi 
temanku di Surga?", beliau terus mengulang-ulang sabdanya tapi tidak ada seorang pun yang sanggup 
memenuhinya. Dan ketika itu, di tengah suasana yang sedemikian, Nabi memberi kabar gembira kepada 
para sahabatnya akan ditaklukkannya istana-istana hiroh dan Madain Kisra, maka orang-orang munafik 
berkata: "Tidakkah kalian heran?! Ia berkata kepada kalian, memberi janji kepada kalian dan memberi 
angan-angan kosong kepada kalian. Ia memberitahu bahwa ia bisa melihat istana-istanahairoh dan Madain 
Kisro dari Madinah lalu kota-kota itu akan kalian taklukkan, padahal kalian sedang menggali parit dan untuk 
menampakkan diri saja tidak bisa!" 

Sungguh, siapa pun kita, tidak bisa terlepas dari kehidupan para pendahulunya. Sejarah kita yang cemerlang 
telah memuat untuk kita peristiwa-peristiwa gemilang dan lembaran-lembaran bercahaya, dimana sejarah itu 
turut membantu kita -setelah Allah Ta'ala — sehingga kita tetap teguh di atas jalan kita ini. Sebagaimana 
firmanAllah Ta'ala: 

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang -orang yang mempunyai 
akal..."(QS.Yusuf: 111). 

Duhai, kalau lah para ulama-ulama kita itu tidak mau berangkat sendiri untuk membela kaum tertindas, dan 
tidak mau berjihad dengan lisan mereka terhadap musuh-musuh Islam, dan tidak mau menolong para 
pengikut tauhid walau dengan doa, mengapakah mereka tidak mau menahan lisannya dari menjelekkan 
mujahidin dan tidak menjadi pembantu bagi kaum salib dan murtaddin? 

Demi Allah, umat yang berdoa dan memanjatkan qunut untuk keburukan bagi putera-puteranya yang 
berjihad melawan pemerintah ini dan kuffar, sungguh itu adalah umat yang buruk. Sesungguhnya umat yang 
berdoa dan memanjatkan qunut untuk keburukan bagi orang seperti Usamah Bin Laden, Mullah Umar, 
Syekh Aiman Az Zawahiri, Anwar al Awlaki, Yusuf Al-'Uyairi, Abdul Aziz Al-Muqrin, Turki Ad-Dandani, 

119lAl-Ghuroba 



Hamd Al-Humaidi, Isa Al-'Ausyan, 'Abdulloh Ar-Rusyud, Sholih Al-'Aufi dan mujahid-mujahid lainnya, 
benar-benar umat yang buruk. 

Sungguh musuh-musuh Allah dari kalangan para thaghut dan bala tentaranya telah mengira bahwa apa yang 
dilakukan terhadap para muwahhidin mujahidin oleh mereka berupa pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan 
dan penganiayaan serta pengejaran akan bisa mematikan dan memadamkan cahaya tauhid dan semangat 
jihad yang sudah menyatu di dalam jiwa, dan mereka menyangka bahwa tindakan tadi akan membuat yang 
lain urung diri dari meniti jalan tauhid dan jihad ini. . . .sungguh tidak mungkin. . . . 

"Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan (ucapan) mulut-mulut mereka, sedangkan Allah 
tetap akan menyempurnakan cahaya (agama)-Nya walaupun orang-orang kajir itu benci. " [Ash Shaff : 8] 

Walaupun mereka mengerahkan semua setan-setannya dari kalangan tentara dan polisi yang mengarahkan 
moncong senjatanya dan kalangan ulama suu' bayaran yang telah menjual ayat-ayat Allah dengan dunia 
yang fana yang menipu umat dan membiusnya agar tetap manut kepada thaghut dan melabeli para pembela 
Islam hakiki dengan gelar-gelar buruk yang menakutkan atau menjijikkan. Tapi tindakan itu semuanya tidak 
bisa melenyapkan cahaya kebenaran walaupun bisa saja sesaat menghalanginya, ibarat kabut yang hanya 
sesaat menghalangi cahaya matahari dan tidak lama berselang kabut akan sirna dan cahaya matahari kembali 
kelihatan sinarnya. Katakan kepada mereka, silahkan lakukan apa yang ingin kalian lakukan, tapi ingatlah 
bahwa yang kalian lawan itu bukanlah kekuatan makhluk yang lemah, namun yang kalian tantang itu adalah 
kekuatan Penguasa langit dan bumi. . . . 

Suruh mereka bercermin dengan para thaghut masa lampau. . . Ini dia kaum ' Aad yang angkuh menolak 
dakwah tauhid dan malah angkuh mengatakan: 

"Siapayang lebih dasyat kekuatannya dari kami?. " [Fushshilat : 15] 

mereka tidak tahu bahwa Allah ta'ala lebih kuat dari mereka. 

"Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang telah menciptakan mereka, Dia 

lebih hebat kekuatannya dari mereka?. " [Fushshilat : 15] 

Maka Allah ta'ala kirimkan adzab yang mematikan: 

"Maka Kami tiupkan angin yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, 
karena Kami ingin agar mereka itu merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. 
Sedangkan adzab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan. " [Fushshilat : 16] 

Ini juga Fir'aun dan bala tentaranya yang angkuh dan aniaya yang membunuhi kaum pria Bani Israel, 
memperbudak para wanitanya dan memenjarakan dan membunuhi orang-orang yang beriman yang menolak 
tunduk kepada aturannya, apa yang Allah ta'ala timpakan di dunia kepada mereka dan yang disiapkan di 
akhirat: 

"Dan dia (Fir 'aun) dan bala tentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka 
mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami siksa dia (Fir'aun) dan bala 
tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang- 
orang yang zalim. Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka dan pada 
hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami susulkan laknat kepada mereka di dunia ini sedangkan 
pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah). " [Al Qashash : 39-42] 

Ini juga Abu Jahl dan para pembesar Quraisy lainnya yang merasa berkuasa di Mekkah, angkuh dan 
menghina serta menindas Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, pada akhirnya 

120IA1-Ghuroba 



setelah kaum muslimin bersabar dan memiliki kekuatan, mereka terbunuh di perang Badar dan dilemparkan 
ke dalam sumur Badar [shahih Al Bukhari, Bab melemparkan bangkai kaum musyrikin ke dalam sumur] 

Begitulah nasib semua para thaghut, akan ada masanya bagi keberakhiran, namun hanya orang berakallah 
yang mengambil pelajaran. 

Puncak kebahagiaan mereka (thaghut) adalah kekuasaan, dan itu akan berakhir baik digantikan oleh yang 
lain ataupun dengan kematian. Sedangkan harta maka akan ditinggal mati pula dan begitu juga isteri yang 
cantik, maka bagaimana kalau fisik sudah lemah lagi tua? Kebahagiaan dunia ada batasnya dan bahkan akan 
menjadi sumber kesengsaraan batin bila tidak didasari tauhid dan amal saleh, karena yang menjamin 
kebahagiaan jiwa hanyalah iman (tauhid) dan amal saleh, sebagaimana firman-Nya ta'ala: 

"Barangsiapa beramal saleh baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia itu mu 'min maka sungguh 
Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh Kami akan memberikan kepada 
mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. " [An Nahl : 97] 

Kehidupan yang baik itu adalah kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat, Allah ta'ala 
menjanjikannya kepada hamba-Nya yang bertauhid dan beramal saleh. Sedangkan kehidupan yang bahagia 
di dunia ini adalah kenikmatan hati dan ketenangan jiwa yang dirasakan oleh orang yang menghambakan 
dirinya dan berserah diri kepada Pencipta-Nya, apapun dan bagaimanapun kondisi yang dialaminya, apakah 
penindasan atau penyiksaan atau pemenjaraan bahkan pembunuhan sekalipun. Semakin dekat seorang 
hamba muwahhid kepada Allah dan semakin tunduk dan taat kepada perintah-perintah-Nya, maka semakin 
besar pula kebahagiaan hidup yang dia rasakan. 

Semakin besar pengorbanan yang dia ikhlaskan kepada Allah ta'ala demi tegaknya ajaran Islam di muka 
bumi ini, maka semakin besar pula kenikmatan hidup yang dia rasakan dan semakin besar pula keinginannya 
untuk berkorban lebih besar dan lebih banyak di jalan Allah ta'ala, agar semakin besar pula kebahagiaan 
jiwa yang dia rasakan dan semakin tinggi pula tingkatan surga yang dijanjikan untuknya. 

Maka tidaklah aneh bila Yusuf 'alaihissalam lebih memilih di penjara daripada mengikuti ajaran berbuat 

maksiat. 

"Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada mengikuti ajakan mereka. " [Yusuf : 33] 

Begitu pula si Ghulam di dalam kisah Ashhabul Ukhdud dengan senang hati dirinya di bunuh demi tegaknya 
kalimat Allah ta'ala...Dan kaum muwahhidien yang menerima dakwah tauhid yang dibawa si ghulam itu 
lebih merelakan diri mereka di bakar hidup-hidup sampai mati daripada meninggalkan prinsip mereka yang 
benar. 

"Binasalah orang-orang yang membuat parit (yaitu pembesar-pembesar Najran di Yaman), yang berapi 
(yang memiliki) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang 
mereka perbuat terhadap orang-orang mumin. Dan mereka menyiksa orang-orang mumin itu hanya 
karena (orang-orang mu 'min itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji. " [Al Buruj : 
4-8] 

Itu terjadi karena merasakan kebahagiaan hidup di atas tauhid dan keyakinan kebahagiaan yang lebih besar 
yang akan mereka raih bila komitmen terus di atas prinsip, sehingga penderitaan sesaat di dunia tidak 
mereka hiraukan. 

Manisnya keimanan yang sudah menyatu di dalam jiwa mampu mengalahkan pahitnya penyiksaan yang 
dialami Bilal Ibnu Rabah Radliallahu 'anhu, sehingga semakin dasyat penyiksaan yang dilakukan maka 

121lAl-Ghuroba 



semakin nikmat iman yang ia rasakan, sehingga serta merta terlontar dari lisannya padahal ia di tengah 

penyiksaan: 

"Esa, Esa, Andaikata ada ucapan lain yang lebih membuat kalian geram darinya, tentu aku 

mengatakannya, " 

Subhanallah .... Sungguh rugi orang yang tidak pernah merasakan manisnya iman . . . .Mantapnya keyakinan 
tauhid dan keyakinan bahwa manfaat dan madlarat itu hanya di Tangan Allah bukan di tangan makhluk 
walaupun mereka itu para penguasa negeri, keyakinan ini yang mendorong Nabi Nuh 'alaihissalam 
mengatakan: 

"Wahai kaumkul Jika terasa berat bagi kalian keberadaanku (di tengah kalian) dan peringatanku dengan 
ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakkal, karena itu bulatkan keputusan kalian dan kumpulkan 
sekutu-sekutu kalian (untuk membinasakanku), dan janganlah kalian ini dirahasiakan, kemudian 
bertindaklah terhadap diriku danjanganlah kalian tunda lagi. " [Yunus : 71] 

Sehingga kematian di jalan Allah ta'ala bukanlah kelelahan, tapi justru merupakan kemenangan. Itulah yang 

diyakini para sahabat Radliallahu 'anhu, dimana salah seorang dari mereka mengatakan saat dikhianati dan 

dibunuh musuh: 

"Saya menang, demi Rab ka 'bah. " 

Kenapa menang padahal dia teerbunuh? Ya, menang karena dengan tauhid dan amalnya inidia mendapatkan 

surga dan dijauhkan dari neraka, menang meninggalkan kekeruhan dunia ke alam surga yang penuh 

kenikmatan, dan menang mendapatkan fisik yang sempurna di alam sana. 

"Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah menang. Dan 
kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. " [Ali Imran : 185] 

Bahkan luka yang didapatkan di jalan Allah akibat serangan musuh atau penyiksaannya akan menjadi nilai 
pahala dan diharapkan balasannya. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam berkata di dalam hadits yang 
tsabit: 

"Tidak seorang pun yang terluka di jalan Allah —dan Allah lebih mengetahui akan orang yang terluka di 
jalan-Nya- melainkan ia datang di hari kiamat sedangkan lukanya mengalirkan darah, warnanya warna 
darah dan baunya bau kasturi. " 

Katakan kepada mereka, Kalau kalian para thagut mengisolasi kami dan menjauhkan kami dari manusia, 
maka akan kami gunakan untuk belajar dan mengkaji ilmu-ilmu Islam dan me\ringkasnya buat bekal di 
masa mendatang, sedangkan sebaik-baiknya teman di dalam kesendirian adalah buku, dan kalian bisa 
melihat bahwa mayoritas buku yang ditulis atau diterjemahkan aktivis Islam yang tersebar di tengah 
masyarakat adalah hasil pekerjaan di penjara. 

Dan andaikata kalian menjauhkan kami dari buku dan tulisan, tapi kalian tidak bisa menjauhkan diri kami 
dari Al Qur'an dan dzikrullah, dimana Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam telah menamakan majelis 
dzikir sebagai taman surga: 

"Bila kalian melewati taman-taman surga, maka bersenang-senanglah. " Mereka bertanya: Apakah taman- 
taman surga itu? Beliau menjawab: Halaqah-halaqah dzikir. " 

Yang jelas apapun yang kami alami di jalan Allah ini adalah kebaikan semuanya, dimana bila kami dibunuh, 
maka itu kesyahidan yang di cita-citakan, bila kami di penjara maka itu adalah khalwat dan munajat yang 
mendekatkan kepada Allah ta'ala dan menjauhkan dari dosa, dan bila kami diasingkan ke negeri lain, maka 
itu wisata dalam rangka tafakkur penciptaan. 

122lAl-Ghuroba 



Segala yang kami alami di jalan Allah ini baik berupa kesulitan, kesengsaraan dan kepedihan bahkan sikap 
kami yang membuat kalian para thaghut makin geram dan jengkel terhadap kami adalah bernilai amal saleh: 

"Yang demikian itu, karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan dijalan Allah, dan 
tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak 
menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal 
kebajikan. Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan tidaklah 
mereka memberikan infaq, baik kecil maupun yang besar dan tidak (pula) melintasi suatu lembah 
(berjihad), kecuali akan dituliskan bagi mereka (sebagai amal kebajikan), untuk diberi balasan oleh Allah 
(dengan) yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan. " [At Taubah : 120-121] 

Juga kepada ulama-ulama yang selalu menasehati kami seraya berkata, "jangan lupakan beramal (karena 
sibuk perang). . .". . . duh.. apakah mereka tidak mengetahui bahwa peperangan ini adalah ladang amal?? 

Sedangkan bagi kalian wahai para thaghut negeri ini dan bala tentaranya yang berjuang dan bertugas di jalan 
thaghut (hukum buatan/wahyu syaitan), bukankah yang kalian cari itu adalah keberkuasaan di dunia, 
penghormatan manusia dan kejayaan serta kebanggaan dengan dinas saat kalian ini mempertuhankan selain 
Allah ta'ala yaitu para pemimpin kalian dan hukumnya yang lebih kalian taati daripada hukum Allah? Dan 
bukankah yang kalian harapkan di balik itu adalah gaji bulanan dan kesejahteraan hidup dunia? 
Apakah kalian bercita-cita mati tertembak kami saat kalian sedang memerangi kami di dalam 
melaksanakan tugas pimpinan (thaghut) kalian, sebagaimana cita-cita kami mati tertembak kalian? 
Bukankah kata ulama-ulama be.jat kalian bahwa tugas kalian ini .jihad.juga? 

"maka berharaplah untuk mati jika kalian memang orang-orang yang benar!" [Al Bagarah : 941 

Kami yakin kalian takut mati dan tidak akan bercita-cita mati di dalam tugas ini apalagi yang masih 
muda dan baru berpangkat Briptu atau Bripda, belum kembali modal... 

"Dan mereka tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali, dengan sebab dosa-dosa yang telah 
dilakukan tangan-tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim. " [Al Bagarah : 951 

Bagaimana kalau kalian terluka di jalan tugas dan cacat seumur hidup, apakah kalian yakin bahwa 
luka itu disisi Allah berbau kasturi dan kalian bersyukur kepada Allah karena dicatat sebagai yang 
terluka di jalan Allah? Ataukah kalian khawatir bahwa tuhan kalian (thaghut) tidak bisa 
memberikan kese.jahteraan di masa tua sebagaimana banyak kaum yeteran yang terlantar? 

Kalau kalian memang benar dengan tugas kalian ini dan pemerintah ini adalah ulil amri kalian, 
apakah kalian rela dan mau bertugas tanpa diga.ji dan tanpa dibayar padahal taruhannya adalah 
nyawa? Dan apakah kalian mau menginfaqkan harta pribadi kalian yang ada di rumah atau dapat 
warisan dari orang tua kalian, terus kalian berbondong-bondong dengan ikhlas menyerahkannya 
kepada ulil amri kalian (yaitu thaghut atau tuhan kalian) sebagai dana intag lillahi ta'ala untuk 
memerangi kami yang di cap teroris? 

Adapun kami, maka bukan sekedar harta yang kami miliki bahkan nyawa yang kami miliki, kami 
relakan dan ikhlaskan di jalan yang kami tempuh ini yaitu tauhid dan jihad. Kami tidak diga.ji 
sebagaimana kalian, tapi kami mengharapkan balasan surga di sisi Allah ta'ala. 

Bila kami mengalami derita maka kalian juga mengalami, bila kami terancam terbunuh dan terluka maka 
kalian juga sama terancam. Bila kami lama berpisah dengan keluarga maka kalian juga sering berpisah 
dengan mereka, bila kami begadang menahan kantuk maka kalian pun saat menjaga kami begadang 
menahan kantuk, namun kami mengharapkan dari Allah ta'ala apa yang tidak kalian harapkan. Kami 

123lAl-Ghuroba 



mengharapkan surga dan keridlaan-Nya, sedangkan kalian mengharapkan gaji bulanan serta menunggu 
neraka dan murka-Nya: 

"Bila kalian (kaum mu 'minin) menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan 
sebagaimana kalian menderita kesakitan, sedang kalian mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat 
mereka harapkan. " [An Nisa : 104] 

Oleh sebab itu mari kalian bergabung di barisan pembela hukum Allah ta'ala dan tinggalkan barisan hukum 
thaghut yang menggiring kalian ke jurang neraka. Tinggalkanlah tuhan-tuhan yang selama ini kalian berikan 
loyalitas kepadanya, karena di akhirat para pemimpin yang kalian pertuhankan (dengan loyalitas) itu akan 
berbalik mengingkari dan memusuhi kalian: 

"Dan mereka telah menjadikan tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung bagi 
mereka, sama sekali tidak! Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan 
mereka terhadapnya, dan akan menjadi musuh bagi mereka. " [Maryam : 81-82] 

Kalian kelak akan saling melaknat dengan para pemimpin dan komandan kalian di dalam api neraka: 
"Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Wahai, kiranya 
dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. " Dan mereka berkata: Ya Tuhan kami, 
sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpn dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami 
dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah 
mereka dengan laknat yang besar. " [Al Ahzab : 66-68] 

Begitulah realita kalian dan atasan kalian nanti, karena kalian adalah orang-orang kafir 

Sebagian kalian sewot dan marah seraya mengatakan: saya kafir?!!! Saya ini muslim, rajin shalat bahkan 
sudah naik haji, jangan sembarangan kalian berbicara. . . ! ! ! 

Kami katakan: Mengaku muslim dan mengerjakan amalan orang Islam tidak menjamin orang itu muslim, 
kalau dia tidak terdaftar atau tercantum di dalam prosedur pokok keislaman, sebagaimana orang umum yang 
mengaku polisi dan memakai seragam polisi serta melakukan sebagian apa yang menjadi tugas polisi, 
tidaklah dijamin bahwa dia itu polisi kalau dia tidak terdaftar di dalam prosedur kepolisian, bukankah 
demikian? 

Ketahuilah bahwa orang tidak disebut muslim kecuali memenuhi dua hal: iman kepada Allah dan kafir 
kepada thaghut, "kalian memang shalat, shaum dan haji yang mana ini adalah sebagian konsekuensi iman 
kepada Allah ta'ala, tapi kalian tidak kafir kepada thaghut, yaitu undang-undang buatan manusia, tapi malah 
kalian loyal kepadanya dan menjadi penegaknya dan menangkap orang-orang yang ingin menggantinya 
dengan hukum islam saja. 

Kami jujur kepada kalian, dan kami tidak seperti ulama bejat yang menipu kalian yang mendukung 
pekerjaan kalian. . . .tapi ketulusan kami kepada kalian malah kalian balas dengan keburukan. . .Perumpamaan 
pemerintah thaghut beserta aparatur yang loyal kepadanya ibarat kereta api yang melaju diatas rel yang akan 
menuju jurang yang membinasakan, sedangkan kami beserta para penyeru tauhid adalah ibarat orang-orang 
yang mencegat kereta kalian di depannya seraya berteriak meminta agar kereta direm karena akan menuju 
jurang yang dalam, tapi kalian bukan menghentikan kereta dan berterima kasih kepada kami, namun kalian 
malah melempari kami, membodoh-bodohi kami dan mengencangkan laju kereta serta menggilas kami. . . . 

Kami tulus kepada kalian walau dengan mengorbankan diri kami sendiri, tapi ahli agama yang dibayar 
pemerintah kalian atau yang menjilat kalian malah menipu diri kalian dengan membenarkan tugas kalian dan 
menyalahkan kami. . . . 

124lAl-Ghuroba 



Allah ta'ala telah menjelaskan di dalam ayat-ayat Qur'aniyyah peerihal kebenaran tauhid dan jihad ini, 
bahkan Dia-pun sesuai janji-Nya selalu menampakkan kepada kami dan kalian ayat-ayat kauniyyah-Nya ini: 
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada 
diri mereka sendiri, sehinggajelas bagi mereka bahwa Al Qur'an itu benar. " [Fushshilat : 53] 

Kalian menyaksikan dan manusia pun menyaksikan karamah yang Allah ta'ala tampakkan pada diri 
saudara-saudara kami yang kalian eksekusi mati atau kalian tembak mati, dimana mereka tersenyum, berbau 
wangi dan tidak membusuk padahal sudah berhari-hari, padahal perhatikan mayat-mayat kawan-kawan 
kalian, apakah seperti itu? Apakah itu tidak menggugah kalian, ataukah hati sudah membatu sehingga tidak 
bisa memahami dan mata menjadi buta tidak melihat keajaiban itu? 

"Sebenarnya bukan mata ituyang buta, namun yang buta ialah hati yang ada di dada. ' [Al Hajj : 46] 



125lAl-Ghuroba 



PENUTUP 

Dan kepada para penguasa murtad yang memerangi para "teroris", memerangi kaum muslimin, kami 
katakan! Sungguh kamu telah terbuai oleh pasukanmu, dadamu dipenuhi oleh kebatilan, sehingga kamu 
nekat terjun dalam "war on terorism" yang digagas oleh kaum katir amerika. Engkau mengklaim telah 
menjalankan perang suci berdasarkan fatwa ulama-ulama bayaranmu, dan bahwa tuhanmu lah yang 
menyuruhmu melancarkan perang ini. Kamu mengira semua akan berjalan sesuai rencanamu dan keinginan 
nafsumu, tak pernah terlintas dalam pikiranmu bahwa Allah telah menyiapkan sesuatu yang akan 
membuatmu celaka melalui tangan-tangan sekelompok kecil para pengikut dan tentara akidah tauhid, dari 
kalangan muhajirin dan anshor, yang menenggelamkan hidung tentaramu di tanah dengan disaksikan dan 
didengarkan oleh seluruh masyarakat dunia.Mana tuhan yang kau yakini itu? Suruh dia menyelamatkanmu 
dan tentaramu dari kubangan yang kalian tengah tenggelam di dalamnya, jika kamu memang orang yang 
benar. 

Dulu kamu mengatakan: "Tuhan yang disembah kaum jihadis adalah tuhan patung yang rusak, apa yang 
dilakukan oleh kaum jihadis adalah bukan bagian dari islam." Beginilah klaim kamu. Kamu tidak 
mengetahui bahwa ilah yang kami ibadahi, yang kami berlindung dan bertawakkal kepada-Nya adalah Yang 
melemparkan rasa takut kedalam hati tentara-tentaramu dan menyatukan hati orang-orang yang tergabung 
dalam kelompok kecil yang sabar ini. 

Jika tidak demikian, coba jawablah pertanyaanku: Siapa yang memunculkan orang-orang yang berambut 
kusut dan berdebu itu,yang jumlahnya sedikit, yang lemah persenjataannya, melawan tentaramu yang 
banyak jumlahnya dan besar persenjataanya? Bahkan berani meledakkan dirinya hanya untuk membunuh 
seorang diantara kamu? Sesungguhnya, Dia lah Allah yang telah membinasakan tentara gajah di hari ketika 
mereka datang dengan balatentaranya untuk menghancurkan Ka'bah, kemudian Dia mengirim kawanan 
burung yang melempari mereka dan batu sijjil. 

Jihad kami ini adalah demi membela Islam dan menerapkan hokum Syariat Allah, Robb semesta alam, dan 
untuk mengusir serangan pasukan salib juga para pemerintah bonekanya. Dan sungguh kami sedang 
berperang membelas ebuah agama yang agung, yaitu agama Robb semesta alam. Maka,Dzat Yang telah 
Melindungi dari makar-makar salibis di masa lampau, juga Maha Kuasa untuk melindungi kami dari makar 
kalian,menguak kedok kalian dan membongkar kebusukan kalian. 

Celakalah kalian, wahai para penjahat; sungguh jika kalian berjumpa Allah dengan dosa sebesar gunung 
Tihamah itu lebih baik bagi kalian daripada kalian berjumpa dengan-Nya dengan membawa dosa yang 
teramat sangat besar, yaitu dosa berkonspirasi untu kmenghabisi jihad dan mujahidin. 

"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang 
yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat... " (An-Nur: 19). 

Adakah perbuatan keji yang lebih besar daripada menghentikan jihad? Di mana jika jihad berhenti, 
kehormatan diperkosa dan negeri dijajah? 

Lihatlah, kalian dengan senang hati ikut serta dalam penulisan undang-undang negara, ikut serta dalam 
menyeret manusia untuk menghamba kepada selain Robb manusia, bersama orang-orang kristen yang kafir 
itu. Sungguh, itu adalah dosa yang membuat bulu kuduk ini berdiri dan membuat hati ini jijik. 

Hendaknya semua yang jauh dan dekat mendengar: kami menyatakan dengan sangat jelas dan gamblang, 
bahwa kami tidakakan menyerahkan panji jihad dan negeri kepada orang-orang yang tidak bisa dipercaya 
dalam urusan duniawi, apalagi dalam urusan Din. Bahkan, mereka tidaklah mampu mencapai puncak 
kekuasaan dan tidaklah musuh terpaksa duduk bersanding bersama mereka, melainkan karena darah-darah 
mujahidin. Demi Allah! Kami tidak akan berhenti memerangi orang-orang salib dan pembantu-pembantunya 
yang murtad kecuali jika kami terkubur di dalam tanah, bukan ketika kami masih berdiri di 
atasnya. 

126lAl-Ghuroba 



Adapun kalian, wahai para mujahid...wahai macan-macan perang dan singa-singa pertempuran... 
Sesungguhnya musuh sedang mengalami hari-hari terburuknya. Kerugian mereka membengkak, luka 
mereka semakin parah, moral tentaranya sedang jatuh pada titik nadir. Itu bisa terlihat jelas dari statemen- 
statemen dari komandan dan tokoh-tokoh mereka. Sampai-sampai sebagian anggota Konggres Amerika 
menyatakan bahwa Amerika menelan kerugian dalam perang. Semua itu tak lain adalah berkat karunia 
Allah, kemudian berkat pukulan-pukulan telak dan menyakitkan yang kalian lancarkan, yang membuat 
mereka mencari bantuan ke timur dan barat, serta berusaha dengan segala cara dan tipu daya untuk 
menghabisi jihad dan mujahidin. 

Maka, semoga Allah merahmati kalian semua, selalulah kalian dalam keadaan waspada. Sabarlah 
menghadapi apa yang Allah berlakukan pada kalian. Karena sesungguhnya hari-hari ini dan setelahnya akan 
terjadi titik-titik menentukan yang cemerlang dalam sejarah jihad. Ketahuilah, kemenangan itu bersama 
kesabaran. Jalan keluar itu bersama kegoncangan. Dan bersama kesulitan, pasti ada kemudahan.Janganlah 
kalian gentar dengan jumlah personel dan senjata musuh kalian. Sungguh, demi Dzat Yang jiwaku ada di 
Tangan-Nya, kaum muslimin tidak pernah menang dalam pertempuran-pertempuran Islam karena jumlah 
pasukan yang banyak dan persenjataan yang kuat. Namun mereka menang karena tulusnya tawakkal 
mereka. 

Janganlah kalian merasa kesepian dengan banyaknya jumlah musuh dan sedikitnya jumlah kalian. Betapa 
banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah, dan Allah 
beserta orang-orang yang sabar. Nabi kalian, Rasulullah, dan para sahabatnya, dulu menang dalam perang 
Badar sementara jumlah mereka lebih sedikit dari jumlah kalian. Begitu juga dalam perang Mu'tah, 
Qodisiyah dan lain-lain.Ketahuilah, kalian tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit, akan tetapi 
kalian dikalahkan oleh karena dosa dan maksiat. Makajaga diri kalian -semoga Allah merahmati kalian 
semua — dari maksiat melebihi kahan menjaga diri dari musuh-musuh kalian.Kaum muslimin bisa menang 
tak lain karena maksiat musuh mereka, kalau bukan karena itu kita tidak kuat melawan dan mengalahkan 
mereka. 

Berusahalah sekuat mungkin untuk menjadi bagian dari kafilah muliaitu; katilah Muhammad dan para 
sahabatnya. Bukakan rumah-rumah dan hati-hati kalian untuk menerima saudara-saudara kalian yang 
berhijrah, yang pergi meninggalkan kesenangan dunia dan berangkat dalam rangka membela agama dan 
kehormatan kalian. Jadilah kaum Anshor terbaik bagi kaum muhajirin terbaik. Jangan pernah kalian 
kenyang sementara mereka lapar. Jangan pernah kalian tidur sementara mereka ketakutan. Dan jangan 
pedulikan kata-kata para mukhadz-dzilun (pelemah semangat), yang menghias sikap lepas tanggung 
jawabnya dan pelemahan semangatnya dengan tampilan yang seolah syar'i. Jika ada yang datang kepada 
kalian untuk meyakinkan perlunya melakukan perundingan dengan musuh, atau bergabung bersama dinas 
ketentaraan atau kepolisian, dengan alas an mashlahat, maka buatlah tuli telinga kalian dari kata-kata 
mereka, sapu bersihlah pintu rumah kalian dari jejak-jejak mereka, lalu ucapkanlah: Yd Muqolliba al-qulub, 
tsabbit qolbi 'ald dinika,wahai DzatYang Maha Membolak-balikkan hati teguhkanlah hati kami di atas 
Agama-Mu. Karena, sungguh, demi Allah jika mereka bisa laris ecepat apapun, kehinaan maksiat tetap tidak 
akan terlepas dari mereka. Allah tidak menghendaki selain menghinakan siapapun yang bermaksiat kepada- 
Nya, setinggi apapun gelar mereka, sebanyak apapun ijazah mereka, dan semenjulang apapun nama 
mereka.Karena Allah tidak menghendaki selain menghinakan siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Allah 
menjauhkan orang yang Dia jauhkan...Allah menjauhkan orang yang Dia jauhkan. 

Wahai kalian yang sedang terlelap dalam kelalaian...Sungguh memalukan keadaan kalian, wahai orang- 
orang yang menyerah dengan keadaan, Islam dilecehkan, umat digiring bakkawanan domba, sementara 
kalian terlelap dalam tidur?!Bagaimana kalian membiarkan serigala tidur di tengah kawanan domba, 
sementara kalian merasa aman-aman saja? 

Ke manakah orang-orang yang berkendaraan lari? Ke manakah para saudagar menghilang? Dan, ke 
manakah orang-orang yang kabur itu lari? Ya Allah, siapa saja yang melakukan konspirasi untuk 

127lAl-Ghuroba 



menghancurkan jihad ini, baik sembunyi-sembunyi atau terang-terangan,dan membantu menghancurkannya 
baik dengan sengaja,atau karena takwil, atau karena menyerah, ya Allah timpakan kepadanya siksaan Dzat 
Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa dan permalukanlah dia di hadapan segenap makhluk.Ya Allah, siapa 
saja dari mereka yang berdiri untuk menghalangi dariagama-Mu karena riya', dan berusaha menghalangi 
bersatunya mujahidin dan kaum muslimin, ya Allah panjangkanlah umurnya dan panjangkan pula 
kemiskinannya, dan timpakan kepadanya berbagai fitnah. 



Ya Allah, timpakan doanya Sa'ad bin Abi Waqqosh kepadanya. 
Ya Allah, timpakan doanya Sa'ad bin Abi Waqqosh kepadanya. 
Ya Allah, timpakan doanya Sa'ad bin Abi Waqqosh kepadanya. 



Al-Ghuraba. 



Saudara Antum Abu IsroHel 
Jumadil Ula 1432 H - April 2011 




128lAl-Ghuroba